
Alula keluar dari dalam kelasnya setelah beberapa saat lalu bel tanda pelajaran terakhir berbunyi dengan nyaring. suara riuh siswa yang keluar dari kelas masing-masing membuatnya sampai menutup telinga.
"Biasa aja kali gak usah teriak-teriak." ucap Marsha dengan mata mendelik sinis menatap siswa laki-laki yang baru saja menyenggol bahunya sambil berteriak.
"TUNGGUIN WOY... " namun siswa laki-laki itu malah sengaja berteriak lagi.
"Emang adik kelas gak ada akhlak!" umpat Marsha.
"Udah Sa," Alula mencoba menenangkan. sedangkan Mulan hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada layar handphone.
"Heran, adik kelas jaman sekarang makin gak hormat sama kakak kelas. gak ada sopan-sopannya. minta maaf kek." gerutu Marsha, rupanya ia masih kesal pada siswa laki-laki yang menyenggolnya tadi.
"Kamu dijemput gak La?" tanyanya kemudian. Marsha tahu, hubungan Alula dengan sang abang kini sedang tidak baik-baik saja.
Alula mengangkat bahunya, "gak tahu." ucapnya setengah ragu. apakah Mirza akan menjemputnya atau tidak.
"Awas nabrak!" seru Marsha, dengan tangan refleks menarik baju Mulan dari belakang. karena Mulan hampir saja menabrak tempat sampah.
"Kamu kalo jalan jangan sambil main HP dong Mulan!" Alula mengingatkan.
"Sorry ..." Mulan meringis malu.
"Tapi gak usah narik baju juga kali." gerutu Mulan pada Marsha sambil membetulkan kancing baju yang hampir saja terbuka.
"Ya kamu jalan yang bener kenapa sih!" seru Marsha.
Mereka berjalan menuju gerbang sekolah, bersisian dengan siswa-siswi lain yang juga bersiap pulang kerumah. ada yang berlari menuju parkiran, terburu-buru keluar gerbang sekolah, bahkan ada juga yang masih asik mengobrol diarea lapangan.
"Bareng aku aja yuk La, aku takut kamu gak dijemput." ajak Marsha ketika ia melihat mobil yang menjemputnya telah terparkir dibahu jalan.
Alula hanya diam membisu, tatapan matanya tertuju pada motor hitam yang sangat familiar.
Mulan menggeser dirinya mendekati Marsha, lalu menuntun Marsha untuk melihat kearah pandangan Alula.
"La, you okay?" Marsha menyentuh bahu Alula, meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
Alula tertunduk, lalu mengangguk pelan. sudut bibirnya tersenyum getir, bahkan wajah riangnya sudah kembali mendung.
Lagi-lagi ia harus menahan sesak ketika menyaksikan pria yang dicintainya tengah berboncengan dengan wanita lain. bahkan kali ini Mirza lewat begitu saja, seperti tak menghiraukan keberadaannya.
Mereka masih terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. bahkan lalu lalang murid lain yang hendak pulang pun tak mereka hiraukan.
Mulan baru saja pamit, meninggalkan Marsha yang masih setia menemani Alula disamping pintu gerbang.
"Kamu pulang aja Sa!" seru Alula, tak enak rasanya membuat supir yang menjemput Marsha harus ikut menunggunya.
"Tapi ... " belum sempat Marsha menjawab suara klakson motor terdengar nyaring mengagetkan keduanya.
"Abang?" dahi Marsha mengernyit.
__ADS_1
"Ngapain kesini?" tanyanya pada pria yang kini tengah membuka helm dikepalanya. lalu tersenyum pada Marsha dan Alula yang berdiri dihadapannya.
"Gak boleh?" tanya Dito yang masih memasang senyum diwajah rupawannya.
"Tapi kan aku udah ... " tiba-tiba saja muncul ide di dalam pikiran Marsha.
"Abang, anterin Lala pulang yah!" seru Marsha dengan antusias.
"Sa," terdengar nada protes dari Alula.
"Yuk naik!" ajak Dito dengan senang hati.
Alula terdiam, sebenarnya ia belum mau pulang. terlebih, bagaimana ia harus bersikap dihadapan Mirza nanti. ia harus menghindar sementara waktu, untuk menata hatinya.
"Udah jangan kebanyakan mikir." Marsha menarik tangan Alula dan menuntunnya untuk naik keatas motor.
"Duluan ya adek cantik." pamit Dito pada Marsha. Marsha hanya mencibir. giliran ada maunya manis bener...
Dito melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. setelah lumayan jauh, Alula tersadar, bahwa Dito melajukan sepeda motornya berlawanan arah dengan jalan pulang menuju kediaman Mahesa.
"Kita mau kemana?" tanya Alula dengan dahi yang mengernyit.
"Nyulik anak orang, dosa gak sih?" namun Dito malah berseloroh kemudian terkekeh pelan.
"Kamu baru sadar kalo aku bawa motornya berlawanan arah? pasti melamun nih." ujarnya dengan tepat.
Karena sejak Alula naik keatas motor, pikirannya dipenuhi wajah cantik Gweny yang tersenyum senang dibelakang punggung sang abang. sebahagia itukah hingga Gweny tak melepaskan senyumnya. ia tak bisa melihat wajah Mirza yang tertutup helm, namun didalam pikirannya, Mirza pun pasti sangat bahagia.
Udara siang hari terasa tidak terlalu panas, karena sinar matahari terhalang daun ketapang yang rindang. angin yang berhembus kencang terasa menyejukkan hati yang tengah patah didalam sana.
Alula menengadahkan kepalanya, menatap nanar sinar matahari pada celah-celah daun ketapang yang meliuk-liuk tertiup hembusan angin.
Perlahan matanya mulai menutup, ia menghembuskan napasnya dengan pelan, mencoba merelakan hatinya yang terlanjur patah.
"Sudah enakkan?" tiba-tiba saja Dito sudah duduk disampingnya. dahi Alula mengernyit, matanya nampak mengerjap.
"Minum dulu!" seru Dito sambil menyodorkan sebotol air mineral.
"Patah hati juga butuh energi." imbuh Dito. membuat Alula refleks menoleh, namun tanpa mengatakan apapun.
"Kenapa ... tebakkan aku bener kan?" Dito kemudian terkekeh melihat ekspresi Alula yang menatap bingung.
sebelum Dito sampai di SMA PuBa tadi, ia sempat melihat Mirza tengah berboncengan dengan perempuan, ia tidak mengenalnya, dan yang pasti itu bukan Alula.
Beberapa kali Dito melihat kebersamaan Alula dengan Mirza, membuatnya yakin bahwa Alula memiliki perasaan pada pria yang ia panggil abang itu. tapi, ia tetap bersikap biasa saja. toh, ia tidak bisa mengendalikan perasaan seseorang bukan. termasuk perasaannya pada Alula. ia tak menampik, setiap kali bertemu dengan Alula, selalu ada perasaan menyenangkan yang dirasakannya.
"Kamu mau tahu gak, hal paling konyol yang pernah aku lakukan?"
"Apa?" tanya Alula yang nampak penasaran.
__ADS_1
"Ketika aku, dengan sengaja tinggal di Panti Asuhan." ucap Dito.
Alula menatap lekat wajah Dito "Abang, kenapa bisa tinggal dipanti?" satu hal yang Alula ingin tanyakan, dulu ia sempat mendengar cerita dari Jeni dan Tata, bahwa Dodit alias Dito pernah tinggal disana.
"Itu ... adalah hal paling konyol yang pernah aku lakukan." Dito terkekeh.
"Kamu tau gak?" Dito nampak menerawang, mengingat kembali cerita dimasa lalunya.
"Dulu saat umur aku 7 tahun, aku pernah suka sama anak perempuan." Alula mendengarkan dengan dahi yang mengkerut.
"Dia bawel banget." Dito tersenyum membayangkan anak perempuan dimasa lalunya. "Dia juga periang, cantik, dan juga baik."
"Belakangan aku tahu, kalau dia suka berkunjung ke Panti."
"Aku yang sok pengen kenal, kabur dari rumah. pura-pura amnesia, lalu dengan sedikit memaksa minta tinggal di Panti." kini Alula mulai tersenyum, memperhatikan Dito yang sesekali bercerita sambil tertawa.
"Namanya Nara." senyum Alula tiba-tiba saja menghilang saat Dito menyebutkan nama Nara.
"Aku suka sama dia." Dito tersenyum.
"Tapi ... setelah hari itu ... Nara tidak pernah datang lagi ke Panti. aku sedih, merasa kehilangan sosok yang bawel dan periang itu." wajah Dito berubah murung.
"Dan aku benar-benar kehilangan dia, saat mengetahui kabar kalau Nara meninggal karena kecelakaan." Dito tersenyum getir, merasakan kembali kehilangan sosok yang ia sayangi.
"Apa Nara itu ... "
Dito mengangguk-anggukan kepalanya, seakan telah mengetahui apa yang akan Alula tanyakan.
"Inara, adik kandung Bang Emir." Alula terhenyak, ternyata Dito mengenal Inara.
"Aku lihat foto keluarga di ruang tamu waktu itu. aku juga gak nyangka, ternyata Bang Emir kakak kandung Inara." ujar Dito ketika melihat perubahan raut wajah Alula.
"Tapi, yang penting adalah .. kamu seharusnya bisa memperjuangkan perasaanmu. apapun itu, seberat apapun yang menghalangi kamu. termasuk nyalib gebetan orang." Dito kemudian terkekeh, membuat Alula ikut tersenyum.
"Seperti aku yang rela kabur dari rumah, pura-pura amnesia, terus maksa tinggal diPanti cuma buat ketemu sama Nara." walaupun itu semua Dito lakukan diusia yang masih kecil, namun Dito masih mengingatnya hingga ia beranjak dewasa.
"Inget La, kita akan merasa benar-benar kehilangan setelah dia jauh dari kita."
.
.
.
Happy Reading... 😊
Gimana nih, kalo Alula sama Dito ajah..
Biar bang Emir sama otor.. 🤔😂
__ADS_1
Jangan lupa like and comment nya ditinggal ya !