
Disalah satu sudut kafe, tiga orang pemuda berparas tampan sedang asik menikmati malam mereka. sesuai dengan kesepakatan tadi pagi, ralat ! lebih tepatnya permintaan paksa dari Mirza, kini mereka menghabiskan malam di kafe langganan mereka.
Ketiga pria jomblo itu tengah asik haha hihi menertawakan nasib mereka. Martin si jomblo yang susah move on dari pacar sebulannya. sebulan? aneh memang. tapi entah mengapa susah sekali baginya melupakan hubungan itu.
bagaimana tidak, ia sudah menyukainya sejak lama. dan berhasil memacarinya membuatnya merasa bangga. tapi entah kenapa harus kandas begitu saja.
Marko, si jomlo dengan ketampanan yang lumayan dan kekayaan orang tua yang melimpah, tapi entah mengapa susah sekali menaklukan hati wanita. apa yang kurang menarik darinya? mungkin ia terlalu percaya diri bahwa ia akan sangat mudah menaklukan hati wanita. nyatanya tidak seperti itu mbangggg... ia sering dicap sebagai pria buaya yang suka gonta ganti pasangan, padahal satupun tak ada yang berhasil dia pacari. aneh memang...
Sedangkan Mirza, ia lebih suka menyebut dirinya jomblo berkualitas dengan ketampanan diatas rata-rata. ia tidak mudah ditaklukan para wanita. ia selalu dingin, cuek bahkan bersikap acuh ketika para wanita mengejarnya. baginya pacaran hanya akan membuang-buang waktu saja. ia hanya akan memberikan cintanya pada wanita yang mampu membuat detak jantungnya berdetak lebih cepat. begitu menurutnya.
Diluar hujan sangat deras, udarapun semakin malam semakin dingin. hingga pengunjung cafe malam ini bertambah banyak. sebagian dari mereka hanya sekedar memesan minuman hangat untuk menghangatkan tubuh mereka sambil menunggu hujan reda. diluar kafe juga tak kalah ramai banyak para pengendara motor yang menepi untuk berteduh dari derasnya hujan.
"Tumben pake mobil, gak takut nongkrong di bengkel lagi?" sambil melirik ke arah parkiran Martin bertanya setengah menyindir pada Mirza.
"Yaa gimana yah, emak gue terlanjur sayang sama anak satu-satunya ini" Mirza menepuk-nepuk dadanya bangga.
"Emak gue tau, sekarang musim hujan. jadinya gue disuruh bawa mobil, biar ga ke ujanan." jawab Mirza lagi dengan membanggakan perlakuan sang Ibunda.
meskipun sebenarnya ia lebih suka dan lebih leluasa memakai motornya dibandingkan memakai mobil.
"Anak emaaaak.. "ledek Marko.
"Diem lu !" jawab Mirza ketus, lalu kembali menyeruput kopinya.
"Kenapa gak elu minta uang jajan lu kembali nambah aja, kan anak kesayangan." saran Martin sambil menyuapkan camilannya.
"Bilang aja lu gak mau bayarin makanan gue!" Mirza melirik sinis.
"Elahhh ni bocah. lu lagi dateng bulan yah? sensitif amat." tanya Martin setengah kesal.
"Tau ! bawaannya emosiii mulu." Marko gemas sambil menggerutu tanpa berhenti mengunyah potongan kentang goreng.
"Gatau, Gue lagi kesel aja." Mirza menaikan bahunya.
"Kesel kenapa?" tanya Martin.
"Kenapa cewe-cewe ga ada hentinya sih deketin gue ! udah tau gue ga suka cewe !" jawab Mirza tegas.
reflek Martin dan Marko menjauh dari Mirza
__ADS_1
"Jangan bilang kalo lu hoo.... " belum sempat Marko melanjutkan ucapannya Mirza membungkam mulut Marko dengan potongan kentang.
"Mulut luuuuu... ya engga lah, lu meragukan adek kecil gue hahh?" tanya Mirza kesal.
"Lahh siapa coba yang tadi bilang ga suka cewe?" Marko balik bertanya.
"Ya bukan gitu juga markonah... kesel kesel gue telen lu !"
"Kenapa sih, lu ga nyoba buat buka hati lu sama satu cewe aja ? jatuh cinta itu indah broo.. " Martin menyikut tangan Mirza.
"Iya saking indahnya sampe lu ga bisa lupain mantan lu ?"cibir Mirza pada Martin.
"heuh pria gagal move on." lanjutnya dengan menyunggingkan senyum penuh ledekan.
"Gweny? kenapa lu ga nyoba pacaran aja sama dia? gue tau dari dulu dia tuh suka sama lu.." ucap Martin yang lebih memilih acuh pada ledekan Mirza.
"Lu gak lagi bantuin dia buat deketin gue kan?" tanya Mirza menyelidik. tangannya menunjuk tepat didepan wajah Martin.
"Heyyy.." Martin menepis tangan Mirza "engga lah.." jawabnya kemudian.
"Bilang aja kalo lu juga takut patah hati?" cibir Marko.
"Gue cuma takut lu kalah saing sama gue Ko."jawab Mirza dengan santai.
"Menurut gue pacaran cuman buang buang waktu . mending gue fokus kuliah." jawab Mirza lalu kembali menyesap kopinya.
"Biar nambah semangat tau Mir, lu butuh penyemangat buat meraih mimipi lu." Martin kembali meyakinkan.
"Semangat?? Bro, penyemangat itu gak harus pacar ! lu bayangin wajah nyokap lu tiap kuliah aja lu bisa semangat !" ucap Mirza sambil menatap kedua sahabatnya itu bergantian.
"Itumah beda lagi ! gue juga tiap mau nyontek kebayang terus wajah nyokap. gak jadi deh gue nyontek."Marko membanggakan diri seolah itu hal yang paling benar.
"Nyontek kaga buka buku iya ..." lanjutnya dan mendapat lemparan potongan kentang dari Mirza "belum lima menit" ucapnya lalu memakan potongan kentang tersebut. mereka pun tertawa dengan kekonyolan Marko.
"Tapi bener deh, gue malah gak mau waktu kuliah gue keganggu buat dengerin ocehan cewe karena telat jemputlah, gak ngasih kabarlah, minta anter inilah itulah, temenin kesini temenin kesana. hehhh buang waktu." Mirza menghela nafas kasar.
"Lu ga pernah tau sih gimana rasanya jatuh cinta ! gue sumpahin lu kalo jatuh cinta ga bakal bisa move on !" kali ini Marko yang mencibir Mirza.
"heh Onta !" geram Mirza.
__ADS_1
"Bukannya gue ga mau di deketin cewe-cewe gitu, gue cuma gamau mereka nangis-nagis bombay pas gue tolak ! jadi, sebelum banjir bandang lebih baik gue menghadang." ucapnya.
"Maksudnya lu mau bikin bendungan, biar ga banjir? lu tau aja akhir-akhir ini Jakarta sering banjir!" Marko yang sedang menyesap kopinya mendapatkan jitakkan dari Mirza. tampang tampan tak menjamin otak manusia selalu singkron memang.
"Bukan banjir itu Bambanggg..!"
"Maksunya lu gak mau ngasih perhatiam sama cewe-cewe karna lo takut mereka patah hati sebelum berkembang? " tebak Martin.
"Daebakkk!" Mirza menjentikan jarinya mendengar pernyataan Martin
"Punya hati juga lu, gue pikir cuma punya jantung."
"Emang gue pohon pisang yang punya jantung tapi ga punya hati?"
"Lebih tepatnya tiang listrik. lempenggg... " mereka pun tertawa kembali dengan obrolan absurd selanjutnya..
Waktu menunjukan pukul 22.00 malam ketika para pemuda itu memutuskan untuk kembali pulang. belum terlalu malam untuk ukuran para pemuda itu. tapi panggilan telepon dari sang ibunda Mirza yang meminta dibelikan martabak manis memaksa mereka untuk pulang. hujan diluar sudah reda, hanya menyisakan rintik gerimis saja.
Martin dan Marko berada disatu mobil yang sama, karena rumah mereka searah jadi mereka memutuskan membawa satu mobil saja. sedangkan Mirza mengendarai mobil putih sang mama. namun ditengah perjalanan Mirza menghentikan mobilnya tepat didepan kedai Martabak manis yang sedang ramai-ramainya.
"Jangan lupa martabak manis rasa cokelat, keju, kacang. cokelatnya dibanyakin kejunya sedeng aja, inget kacangnya dikit aja, gak enak kalo kebanyakan dikacangin."
tuttt tuttt tutt
panggilan telpon dari sang Mama berakhir.
"Udah motong uang jajan, minta gratisan lagi. udah gitu pesenannya ngeribetin pula. " Mirza hanya bisa menggerutu dibalik telpon yang sudah terputus.
.
.
.
Haii riders,,
yang gak readding gak haii..😀
maafin aku yah updetannya tak menentu...
__ADS_1
syekali lagi monmaap...
jangan lupa jempulnya ditinggalin, satu aja ! gapapa aku ikhlas lahir dan bathhhin... 🙄