
Suara deru mesin mobil yang masuk kepalataran rumahnya menghentikan langkah Mama Indri yang hendak menuju dapur, ia membuka tirai di balik kaca jendela. mobil Pajero sport keluaran terbaru dan mobil Toyota starlet keluaran tahun 90an terparkir disana. siapa lagi jika bukan suami dan anak tercintanya yang pulang bersamaan.
Mama Indri memutar badannya melangkah menuju ruang tamu yang sudah kembali rapi setelah acara pengajian tadi. dengan berdecak kemudian membuka pintu utama rumahnya.
Nampaklah dua orang laki-laki dibalik pintu, Pa Sanjaya dan Mirza. sang suami berpura-pura sibuk mengotak-atik handphone sedangkan sang anak menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal sama sekali dan ia mengedarkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari tatapan tajam sang Mama.
"Wa'alaikumsalam." ucap Mama Indri dengan nada menyindir ketika melihat dua orang laki-laki dihadapannya pura-pura sibuk.
"Hehe.. Assalamualaikum Mama." jawab keduanya dengan cengengesan.
"Kebalik ma, Assalamualaikum dulu." ucap Pa Sanjaya. Mama Indri hanya melirik tanpa bersuara. Pa Sanjaya tau jika istrinya akan marah karena ia terlambat pulang dari luar kota.
"Udah beres urusannya?" Mama Indri melipat tangannya didada. menoleh bergantian pada anak dan suaminya. ia merasa kesal, karena keduanya tidak bisa hadir diacara pengajian tadi sore.
"Maaf ma, tadi kan Papa udah jelasin kalo client papa ini malah mengulur waktu. katanya dia pengen melihat lokasi pabrik kita, mama tau kan kalo lokasi pabrik yang satu dengan yang lainnya agak berjauhan. jadi memakan waktu banyak, papa juga cape ini."panjang kali lebar Pa Sanjaya mencoba menjelaskan keadaan pertemuannya dengan clientnya tadi agar istrinya tak merajuk.
"Kamu alasannya apa?" mama Indri melirik Mirza, kali ini Mirza yang jadi sasaran sang mama.
"Emir kan udah bilang dari dulu mobil mama tuh diganti jadi ga mogok-mogok mulu ma, emir dari tadi nongkrong di bengkel nungguin mobil mama."gerutunya.
"Alesan aja kamu, bisa kan naik ojol." jawabnya tak mau kalah.
"Pas tadi abis telpon mama, Hape Emir mati ma ga sempet mesen. Emir juga lupa tadi ga telpon Martin dulu. yaudah Emir nunggu aja nyampe beres." Mama Indri berdecak, kedua laki-laki itu selalu bisa memberi alasan. ia beranjak masuk kedalam rumah diikuti Mirza dan Pa Sanjaya.
"Tau ngga Mir" tiba-tiba Mama Indri membalikan badannya, ia duduk disofa ruang tamu dan mengajak Mirza berbincang.
"si Marko tadi dapet kenalan gadis masa, geulisss pisan. ketikung kamu mah Mir !" dengan nada mengejek Mama Indri memanas-manasi anaknya.
"Elaah, palingan juga anaknya Bu Indah kan ma, yang punya Yayasan Anugerah." Mirza dan Pa Sanjaya ikut mendudukan dirinya disofa.
"So' tau banget kamu, bukan! dia aja nyampe manggil Neng peri. saking geulisna, manis tau Mir anaknya. Mama aja suka."
__ADS_1
Mirza terkikik sebelum berkata "Mama tau ngga, kemaren nih dia juga manggil bidadari sama cewe dikantin, namanya Merry."ucap Mirza yang tampak menahan tawanya.
"Masa? cantik emang cewenya?" Mama Indri yang duduk diapit oleh Mirza dan Pa Sanjaya menoleh dan mencondongkan wajahnya pada anaknya ia mulai penasaran dengan cerita anaknya.
"Banci ma. hahaa.." tawanya pecah mengingat kejadian dikantin kampus kemarin. Mama Indri dan Pa Sanjaya saling menatap kemudian ikut tertawa membayangkan kelakuan Marko.
Sudah tak heran jika mereka selalu menertawakan sifat Marko yang terlalu percaya diri itu. ia juga bahkan tak pernah malu jika menceritakan pengalamannya yang berulang kali ditolak oleh para gadis. padahal apa yang kurang darinya, ganteng, baik, horang kaya lagi pikirnya. tetap saja kalah saing dengan Mirza.
"Terus gimana reaksinya pas tau itu si Merry banci?" tanya Pa Sanjaya sambil mengusap ujung matanya yang berair karena tertawa.
"Dia ampir ngejengkang dari kursi Pa." mereka kembali tertawa.
"Eh tapi bener tau si Marko kali ini. cewe yang tadi cantik loh Mir, baik lagi. ya cuman nasibnya aja yang kurang beruntung." Mama Indri mengingat kembali cerita tentang gadis itu.
"Setiap orang kan punya cerita kehidupan yang berbeda-beda ma. makanya kita harus selalu bersyukur ! kita masih bisa berkumpul seperti ini. papa yakin mereka yang tinggal dipanti sangat merindukan kehadiran keluarga mereka. walaupun mereka tidak tau masih ada atau tidaknya keluarga mereka."Pa Sanjaya mengusap pelan bahu Mama Indri.
"Kita punya rumah yang bagus, mereka mungkin lebih bersyukur hidup bersama dipanti, tidak hidup luntang lantung dijalanan tak punya tempat tinggal dan kita punya pekerjaan yang baik, mudah-mudahan juga berkah. makanya Papa semangat kerja Ma, dan tidak lupa Papa juga selalu bersyukur dengan apa yang sudah Papa miliki saat ini." Pa Sanjaya tersenyum kearah Mama dan Mirza.
"Kan semuanya juga buat Mama sama anak Mama itu." ia menunjuk Mirza dengan dagunya yang duduk disebelah sang istri.
"Enak aja, anak Papa juga."protes Mama Indri.
"Iyaa iyaa anak Papa juga."ralatnya.
"Iya ma, biar Emir nanti bisa beli mobil. ga minjem punya mama terus,udah butut. iya kan Pa?" Mirza menaik turunkan alisnya meminta dukungan sang Papa.
"Ga ada yah . Mama ga setuju ."
"Papa juga engga." elak Pa Sanjaya.
"Yahhh.. ngapain banyak duit, sama anak aja pelit"Mirza terkulai lemas disofanya.
__ADS_1
"Baru juga dinasehatin biar banyak bersyukur, pake aja mobil Mama. atau tuker tambah motor kamu." ucap Pa Sanjaya.
"Mobil udah tua gitu, sama kaya yang punyanya." jawab Mirza sambil merintil-merintil ujung bantal sofa.
"Apa kamu bilang, tua? mulai besok uang jajan kamu mama potong LIMA PULUH persen!" ucap mama Indri dengan penuh penekanan sambil mengacungkan lima jari kanannya.
Mirza bangkit menegakkan kembali duduknya "Loh ko'?" protesnya.
"Ya karna kamu udah telat pulang, bikin mobil Mama masuk bengkel,ngatain Mama tua lagi. jadi Mama potong uang jajan kamu."
"Tapi ma_"
"Ga ada tapi-tapian ya." potong Mama Indri dan beranjak pergi ke dapur.
"Ma, becanda ma elahhh " mama Indri tak mengindahkan ucapan anaknya, ia pergi meninggalkan sepasang anak dan papa itu.
"aku yang bayar bengkel aku juga yang dipotong uang jajan, rugi banget dah."gerutunya pelan.
Mama Indri melirik Pa Sanjaya yang cekikikan menertawakan hukuman untuk anaknya. kemudian ia berbalik berjalan menuju suaminya.
"Papa juga.. gak ada jatah buat malam ini."
"Loh ??? "
seketika wajah Pa Sanjaya berubah muram, disusul tawa dari Mirza sang anak durhaka. beraninya ia menertawakan penderitaan Papanya.
"Diem kamu." Pa Sanjaya melempar bantal sofa disampingnya. ia berlari kecil menyusul sang istri.
.
.
__ADS_1
Ada-ada saja memang keluarga ini, tapi apapun situasi dan kondisi kita, tetep harus bersyukur ya gaes ! aku juga tetep bersyukur meskipun ga ada yang kasih like 🙄