
"Ka.." Alula terperanjat, ia dikagetkan oleh tepukan seseorang dipundaknya. Alula menolehkan kepalanya ke belakang.
"Kakak suka sama bunga mawar ?"tanyanya kemudian. rupanya orang itu Jeni yang sedari tadi memperhatikan Alula ketika sedang menyiram bunga dihalaman rumah.
"Eh, emmm iya." jawab Alula.
"Bagus sih, tapi kan itu ada durinya, gak takut ketusuk ?" Jeni menyondongkan kepalanya, ia memperhatikan pot yang berisi pohon bunga mawar itu.
"Kata Ibu Kakak dulu, bunga mawar itu berduri bukan untuk melukai, tapi untuk melindungi diri. bungan mawar kan indah banyak orang yang mau memetiknya." Jeni mengerutkan dahi, dari raut wajahnya, anak itu seperti nya memang tidak mengerti.
"Gini deh, eum.." Alula nampak berpikir "kamu punya temen yang suka ganggu engga disekolah ?" Jeni menjawab dengan menganggukan kepalanya. jangankan disekolah, ditempat tinggalnya saja ada, pikirnya. raut wajahnya berubah serius, ia jadi teringat satu orang temannya yang memang menyebalkan.
"Kadang kita harus bersikap tegas atau bahkan galak menghadapinya demi melindungi diri kita. jangan perlihatkan kalo kita lemah. kata Ibu, kalo kita cengeng, orang lain bakal lebih suka ganggu kita."
"Oyah ? terus gimana kalo dia mukul ?" Jeni yang penasaran semakin merapatkan dirinya disamping Alula.
"Jangan dibales ! kekerasan ga boleh dibales sama kekerasan. biarin aja. nanti juga dia sendiri yang bakalan dapet akibatnya." tuturnya.
"Coba kamu kalo ketusuk duri sakit nggak ?" tambah Alula.
"Sakitlah Ka." jawab Jeni dengan bibir yang mengerucut kesal.
"Itu cara bunga mawar melindungi dirinya, supaya orang-orang tidak mudah memetiknya. coba kalo bunga mawar ga punya duri, orang-orang dengan mudah bisa memetik bunga itu." Alula memberikan jeda pada kalimatnya agar Jeni sedikit mengerti.
"Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk melindungi dirinya. melindungi hatinya, melindungi harga dirinya supaya tidak diganggu orang lain. Intinya jangan terlihat lemah didepan orang lain, tunjukin kalo kita itu kuat dan tidak cengeng."
Begitu juga dengan dirinya, Alula selalu ingat pesan ibu tercintanya dulu "Lula harus kuat, lula ga boleh lemah. Ibu ga suka kalo liat lula nangis apalagi didepan orang lain."kata-kata itu selalu ia ingat kapanpun,dimanapun.
__ADS_1
Dan sampai sekarang, Alula tidak pernah terlihat sedih, ia tidak mau orang-orang merasa kasihan padanya. Bohong, jika ia begitu saja melupakan kejadian malam itu, kenyataannya hampir setiap malam Alula menahan tangisannya ditempat tidur.
Bahkan bayangan ketika sang adik meregang nyawa, dan tersiksanya Ibu tercinta selalu membuat tubuh Alula meringis gemetar ketakutan. semakin Alula mengingat kejadian-kejadian itu, semakin berat sesak yang dirasakannya. dan menjadikan semua itu trauma hanya akan memperburuk keadaannya, pikirnya. sekuat mungkin Alula mencoba tegar. ia tidak ingin terlihat menyedihkan didepan orang lain. ia selalu menunjukan bahwa ia tidak apa-apa.
Alula memilih ikut tinggal di rumah ini karena Jeni dan Tata bilang disini sebagian besar dihuni oleh wanita, ia sedikit lega akan hal itu, setidaknya ia terjauh dari orang-orang yang berniat jahat , terlebih itu laki-laki.
Jeni mengangguk-anggukan kepala ditempatnya.
"Jeni ngerti ?"tanya Alula
"apanya ?" rupanya otaknya belum singkron.
"Iyaa itulah kira-kira kenapa Kakak suka bunga mawar, dulu Ibu Kakak juga suka sama bunga mawar, beliau bilang Kakak harus seperti bunga mawar merah yang cantik, tapi juga bisa menjaga diri." Alula memejamkan matanya mengenang saat-saat bersama sang ibu.
"oh, iyaa iyaa Jeni ngerti, dikit.." Alula hanya cekikikan melihat raut wajah Jeni, usia mereka hanya terpaut 3 tahun, kedekatannya dengan Jeni dan Tata salalu mengingatkannya pada Dwi adiknya yang sudah tiada.
"Kalian lagi apa ?" bu Indah tiba-tiba saja sudah ada dibelakang keduanya.
"Nyiramnya sih bentar, ngobrolnya yang lama." ternyata Risma mengikuti bu Indah dibelakang. ia melirik tak suka pada Alula.
"Ibu dari mana?" Alula memilih mengabaikan perkataan Risma.
"Abis dari pasar." jawabnya sambil mengacungkan beberapa kantong plastik berisi belanjaan ditangannya.
Alula menyimpan alat menyiram bunganya kemudian beralih mengambil kantong belanjaan bu Indah "aku bantu ya bu."
"Biar aku aja," tukas Risma yang kemudian mengambil kantong plastik dari tangan Alula, lalu ia masuk kedalam rumah. bu Indah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa ga dari tadi pikirnya.
__ADS_1
"Oh iya Lula, besok ikut yah, bu Indri mengundang kita semua ke acara pengajian dirumahnya besok." bu Indah memegang bahu alula.
"Apa boleh bu ?" tanya nya kemudian.
"Boleh dong, kamu kan sudah jadi bagian dari keluarga kami, jangan sungkan-sungkan yah." bu Indah mengulas senyum. Alula tertegun, kali ini ia merasakan hatinya menghangat. entah mengapa Alula seperti melihat sosok sang Ibu ada pada diri bu Indah.ia begitu lembut, penyayang, dan tidak pernah membedakan anak yang satu dengan yang lain.
"Yasudah Ibu kedalam dulu yah, beresin dulu belanjaan yang tadi." bu Indah melangkah menuju rumah setelah Alula menganggukan kepalanya.
Tak lama Tata datang dengan menenteng sebuah gitar.
"Kalian masih suka ngamen ?"tanya Alula penuh selidik. ia melirikan matanya pada Jeni dan Tata secara bergantian.
"Ssstttt.."Jeni menempelkan telunjuknya dibibir "Kakak, jangan bilang Ibu yah." ucapnya memohon.
"Kenapa kalian masih ngamen, Ibu kan sudah melarangnya."
"Kita butuh uang jajan Ka." kali ini Tata yang menjawab.
"Diem kamu mah ah. bukan gitu Ka, kalo kita punya uang sendiri kan ga harus minta sama ibu, malu Kak minta terus. apalagi Kak Risma keliatannya ga suka banget sama kita, depan Ibu aja baiknya." Jeni mencoba menjelaskan. ia merasa kesal pada sifat Risma yang selalu ketus jika berbicara pada mereka.
"Bener tuh."Tata menyahut.
"Eh ga boleh gitu, harus hormat sama yang lebih tua, gimana pun juga Risma anak kandungnya Ibu. dia lebih berhak atas semuanya." tutur Alula. Tata malah mengangkat tangannya ke atas pelipis. lalu menghadap Alula dengan posisi hormat seperti saat upacara.
"Kenapa kamu ?"tanya nya kemudian.
"Kan kata Kakak harus hormat sama yang lebih tua, ini aku lagi hormat. Jeni hormat juga!" perintahnya. Tata tersenyum lebar menunjukan deretan gigi putihnya. Jeni dan Alula hanya cekikikan melihat tingkah Tata, mereka tahu jika Tata hanya bercanda.
__ADS_1
"Bukan hormat gitu oneng."Jeni menanggapi Tata.lalu mereka tertawa.
"Ah yasudah terserah kalian saja, tapi nanti kalo ketahuan, Ibu pasti akan kecewa sama kalian." Alula memperingatkan kedua sahabat nya yang sudah dianggapnya adik ini. Jeni dan Tata saling berhadapan kemudian mengangguk-anggukan kepalanya.