
Malam semakin larut ketika hujan diluar turun dengan derasnya . membuat siapapun betah berbenam diri dibawah selimut karena udara yang begitu menusuk.
Tapi tidak untuk Alula, ia terbangun dari tidurnya, karena tenggorokannya yang terasa kering. sedangkan air didalam gelas yang ada diatas nakas telah tandas tak bersisa.
Dengan terpaksa Alula keluar dari kamarnya, ia berdiri didepan pintu sambil mengedarkan pandangannya. suasana rumah begitu sepi. ya jelas, mungkin saat ini seluruh penghuni rumah tengah terlelap. ia sedikit bergidik ketika melewati ruangan yang gelap. hanya beberapa lampu berwarna temaram yang menyala.
Alula menarik nafas panjang kemudian dengan tergesa ia berjalan menuju dapur, langkahnya langsung tertuju pada teko berbahan kaca yang berisi air minum. ia segera menuangkan air kedalam gelas, dan meminumnya sekilas. setelah rasa hausnya hilang, ia kembali mengisi gelasnya untuk ia bawa kedalam kamar. setelah berhasil memenuhi gelasnya, Alula segera berbalik. namun ia terkejut ketika tiba-tiba lampu menyala dengan sendirinya.
"Lagi ngapain?" Alula terperanjat ketika seseorang tiba-tiba saja ada dihadapannya.
Pyarrr...
Suara dari gelas ditangan Alula yang kini telah hancur menghantam lantai. dengan gugup, Alula berjongkok dan segera membersihkan lantai dari pecahan gelasnya.
"Udah biar gua eja, lu diem aja dipojokkan !" Mirza berjongkok menggantikan Alula yang tengah membersihkan lantai dari serpihan gelas.
Alula menelan ludahnya "eum.. biar aku aja Kak !" sanggahnya dengan gugup. ia benar-benar terkejut dengan kehadiran Mirza secara tiba-tiba.
"Udah dibilangin diem aja, entar kena tangan Lu !" serunya kesal.
Dengan terpaksa Alula berdiri, ia memperhatikan Mirza yang dengan telaten membersihkan serpihan gelas. tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik menghiasi wajah terkejutnya.
"Udah beres" ucap Mirza ketika ia berdiri. kemudian berjalan menuju tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kenapa belum tidur?" Tanyanya ketika ia telah kembali.
"Aku haus." ucap Alula dengan kepala menunduk.
"Kak Emir kenapa belum tidur?" tanyanya sambil mendongak kan kepala. membuat tatapan keduanya bertemu sepersekian detik, namun Alula buru-buru menundukan kepalanya lagi.
"Gue laper" jawabnya. suasana malam yang dingin disertai hujan deras diluar membuat perut Mirza terasa kosong.
"eum.. mau makan apa? bi.. biar aku bikinin." tawarnya sedikit ragu.
"Gak apa-apa nih?" tanya Mirza. Alula mengangguk sebagai jawaban.
"Mie kuah boleh deh." ucap Mirza setelah Alula mengiyakan.
Alula berjalan menuju kitcen set. Ia membuka lemari berisi stok makanan siap saji. ia sedikit kebingungan, pasalnya disana banyak tersimpan mie instan dengan berbagai rasa. Mama Indri sengaja menyimpan banyak stok makanan siap saji untuk berjaga-jaga jika ada yang tiba-tiba merasa lapar dimalam hari. seperti Mirza sekarang.
"Mau rasa apa? soto, kari, bakso, " ia menyebutkan semua rasa yang ada disana. terkecuali 'rasa yang pernah ada'.
"Apa aja yang penting kenyang." jawab Mirza sambil mendudukan diri diatas kursi yang ada disana.
Alula menyiapkan panci untuk merebus air, lalu ia membuka kulkas untuk mengambil sayuran. dan ternyata hanya ada sawi disana. tak lupa ia juga mengambil satu butir telur.
__ADS_1
Setelah air mendidih, Alula memecahkan satu butir telur dan memasukannya terlebih dahulu.
"Jangan terlalu mateng !" seru Mirza ketika Alula hendak memasukan mie kedalam panci. Alula hanya mengangguk, terakhir ia memasukan sayuran yang telah ia potong kedalam panci.
"Bumbunya dulu, apa mie nya dulu yang dituang ?"tanya Alula dengan tangan yang membawa gunting dan bumbu mie.
"Emang ngaruh ya?" Mirza balik bertanya.
Namun Alula tidak mendengarkan, karena tengah sibuk menuangkan bumbu kedalam mangkuk. disusul dengan matang nya mie didalam panci. Dan , mie kuah dengan toping telur dan sayur pun kini telah tersaji dihadapan Mirza.
"Ko' cuma satu?" ucapnya sebelum menyantap mie kuah yang masih mengepulkan asap itu.
"Lu gak makan?" tanyanya kemudian.
"Aku gak laper" jawab Alula sambil menggelengkan kepalanya.
"Mau kemana? Sini ,temenin gue makan !" serunya ketika melihat Alula pergi. Alula duduk dihadapan Mirza sambil memainkan gelas yang telah ia ganti. entah mengapa suasana menjadi canggung saat ini.
"Emang beda ya rasanya, kalo masak mie dituang bumbu dulu atau mie nya dulu?" Mirza mengulang pertanyaan yang belum sempat terjawab oleh Alula tadi.
Alula menggeleng "Gak tau, cuman pernah denger aja. ada yang nuangin bumbu dulu terus mie nya. ada juga yang mie nya dulu terus bumbunya." ujarnya.
"Padahal sama aja rasanya gitu. kayak yang makan bubur. ada yang diaduk, ada yang enggak. aneh kan?" tanya Mirza tanpa menghentikan makannya.
"Mungkin. tapi kalau bubur, aku gak suka diaduk. kayaaaa..." namun ucapannya terhenti karena Mirza menyelanya.
Alula menunduk "Maaf" ia menahan senyumnya.
"Lu kenapa sih kalo ngomong sama gue nunduk terus ? lu takut sama gue?" pertanyaan yang ingin sekali Mirza tanyakan sejak pertama kali ia bertemu dengan Alula.
Alula mendongak membuat pandangan mereka kembali bertemu, kemudian ia kembali menunduk. merasa gugup.
"tuh kan, emang muka gue nyeremin gitu? Lu takut sama gue?" Mirza menatap Alula yang hanya diam.
Takut? entahlah, yang jelas aku tidak bisa menatap wajahnya berlama-lama. batinnya.
"Lu masih kepikiran sama kejadian malam lalu?" sebuah pertanyaan kembali Mirza lontarkan. namun Alula tetap tak bergeming. membuat Mirza mendesah kesal.
Hening..
Tak ada yang bersuara, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. sampai akhirnya Mirza menghabiskan makanannya. ia menatap tajam kearah Alula yang masih menundukan kepalanya.
"Udah lu gak usah takut lagi, ada gue yang bakal jagain lu." ucapnya setelah menghabiskan satu porsi mie kuah.
Alula kembali mendongak, dahinya mengernyit mendengar apa yang dikatakan Mirza.
__ADS_1
"Gue tau lu masih trauma sama kejadian malam itukan? Makanya lu nunduk terus kalo ngomong sama orang."
Ya, Alula membenarkan hal itu, tapi dengan Mirza ? entah mengapa perasaannya berbeda.
"Mulai sekarang Lu anggap gue sebagai abang lu !" Lagi-lagi dahi Alula mengernyit tak mengerti.
"Dan sekarang, lu panggil gue abang!" serunya.
"Mana ada abang kasar gitu." gumam Alula yang terdengar samar ditelinga Mirza.
"apa?"
"eh, eumm... engga." sanggahnya.
"Tapi bisa ngga ngomongnya gak usah gue-lu gue-lu, aku kayak ngomong sama preman." ucap Alula sedikit ragu.
Mirza tersenyum mendengarnya, senyum pertama yang ditujukan untuk Alula. membuat Alula menelan ludahnya karena wajah tampan Mirza bertambah berkali lipat dengan lesung pipit yang timbul disana.
Mirza merapikan mangkuk bekas makannya,
"Oke.. jadi, mulai sekarang lu, maksud gue eh aku. elaah ribet amat sih ni mulut." gerutunya kesal.
"Jadi mulai sekarang, kamu jadi adik aku?" Mirza mengulurkan tangannya.
Alula tersenyum menyambut uluran tangan Mirza, yang kemudian secara paksa Mirza menempelkannya di dahi Alula.
"Salim sama Abang !" serunya sambil berlalu menuju wastafel dengan mangkuk yang telah kosong ditangannya.
"Biar aku aja yang bersihin." Alula mengekori Mirza kearah wastafel.
"Udah lu tidur sana !"
"Udah malem, kamu tidur aja !" ralatnya. membuat Alula mematung ditempatnya. benar, ia tidak salah dengar, Mirza berbicara dengan lembut padanya.
"Malah bengong, udah tidur sana !" tanpa sadar Mirza mengacak rambut Alula, membuatnya terperanjat dari lamunannya. ia tersenyum canggung sebelum pergi meninggalkan Mirza yang tengah mencuci mangkuknya.
Benar yang dikatakan Mama tentang Mirza, ia adalah laki-laki baik, perhatian dan penyayang. kehilangan yang mendalam serta rasa bersalah yang bertahun-tahun ia pendam, membuatnya menjadi seseorang yang dingin dan acuh terhadap perempuan. mungkin setelah kehadiran Alula sebagai pengganti Inara, akan membuat Mirza kembali seperti dulu lagi.
Begitu pula dengan kehadiran Mirza yang berkali-kali menolongnya. entah mengapa ia merasa nyaman berada didekatnya. mungkin hanya Mirza yang bisa membuatnya berani menghadapi traumanya.
.
.
.
__ADS_1
Happy readding ☺