
Gweny POV
Dulu, Papah tidak mau memiliki banyak anak. dua anak lebih baik, begitu seperti selogan program pemerintah.
Tapi, semenjak Mamah meninggal setelah melahirkan. dan adik bayi yang juga menyusul setelah Mamah pergi. membuat Papah tiba-tiba berkeinginan untuk memiliki banyak anak. entahlah, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Papah.
Dan itu terbukti, saat Papah bertemu dengan Tante Dewi yang memiliki tiga orang anak. awalnya Papah terlihat sangat dekat dan menyayangi mereka, sampai Papah mengesampingkan aku. tapi akhirnya, Papah sadar bahwa ia hanya dijadikan mesin penghasil uang oleh Tante Dewi dan ketiga anaknya.
Bahkan Tante Dewi sampai meminta Papah untuk memberikan semua penghasilannya pada mereka, tanpa mempedulikan aku sebagai anak kandung Papah.
Ini menjadi kesalahan terbesar Papah, karena Papah telah salah memilih pendamping hidup. dan Papah begitu menyesal karena telah egois, dan mementingkan dirinya sendiri dibanding aku anak semata wayangnya.
Dan sejak pernikahan Papah yang kedua dengan Tante Dewi berakhir, Papah jadi sering memperhatikan aku. mengajakku keluar jika Papah ada waktu. mungkin Papah merasa bersalah karena telah mengabaikan aku.
Seperti sore ini, Papah tiba-tiba sudah ada didalam kamarku saat aku tengah mengerjakan tugas kampus.
"Nanti malam ada acara ?" tanya Papah saat aku masih sibuk didepan layar laptop.
"Eh pah," bahkan aku tidak sadar jika Papah sudah berdiri disampingku.
"Gak ada, kenapa memangnya Pah ?" aku balas bertanya dengan dahi yang mengkerut.
"Ikut Papah yah, kita makan malam."
Aku iya kan saja, meski sebenarnya aku sedikit malas untuk keluar rumah. tapi saat melihat wajah ceria Papah, aku jadi tidak tega untuk menolak.
"Dimana ?"
"Bersiap saja, jangan lupa dandan yang cantik." Papah mengelus puncak kepalaku dengan pelan, lalu beranjak keluar dari kamar.
Awalnya aku tidak tahu Papah akan mengajakku makan malam dimana. dan apa Papah bilang tadi, dandan yang cantik ? untuk apa aku repot-repot dandan cantik, paling Papah hanya mengajakku makan direstaurant biasa.
Tapi, lagi-lagi aku menurut saja apa kata Papah, padahal aku hanya ingin terlihat cantik didepan Mirza. ah ya, Mirza laki-laki yang aku cintai. senyumku tiba-tiba mengembang, teringat wajah Mirza yang belakangan ini tidak sedingin kulkas dua pintu.
Malam ini, aku memakai minidress berwarna tosca dengan motif bunga-bunga kecil dibagian dada. tak lupa, aku memakai flat shoes berwarna hitam, warna kesukaanku.
Aku masih sibuk memainkan handphone ketika Papah menghentikan mobilnya. tapi aku dibuat terkesiap saat menyadari Papah memarkirkan mobilnya di halaman rumah kediaman Mahesa.
Selama berteman dengan Mirza dulu, aku memang tidak pernah berkunjung kerumahnya. tapi aku tahu pasti, jika ini adalah rumah Mirza, anak satu-satunya pengusaha sukses bernama Sanjaya Mahesa.
Dan itu artinya ... aku akan makan malam dirumah Mirza ?
Ya tuhan ... bagaimana ini ?
Tiba-tiba aku merasa bingung, harus melakukan apa. bahkan sampai tidak sadar Papah telah membuka pintu disampingku, lalu menarik tanganku untuk keluar dari mobil.
"Malah bengong, ayo keluar ." ajak Papah sambil menggandeng tanganku.
Dan aku semakin gelisah, gugup tak berkesudahan. bahkan rasanya ingin pingsan saja. saat Papah memperkenalkan aku pada Om Sanjaya dan Tante Indri, orang tua Mirza.
__ADS_1
"Ini Gweny anak gadisku satu-satunya. cantik kan ?" Papah meraih bahuku lalu tersenyum seolah bangga memiliki anak seperti aku. dan aku baru tahu jika Om Sanjaya adalah teman baik Papah saat kuliah dulu.
Sebenarnya, aku sangat mengharapkan kehadiran Mirza pada pertemuan ini, namun saat aku bertanya pada Tante Indri dimana Mirza sekarang, jawabannya justru membuat hatiku mendadak terasa panas.
"Oh si Emir lagi pergi sama adeknya. mau hepi-hepi katanya."
Tante Indri terkekeh sebelum kembali berkata,
"Mereka tuh gitu kalau lagi akur, kemana-mana nempeeel terus."
"Tapi kalau lagi gak akur, duh Tante sampai pusing denger mereka ribut." Tante Indri terkikik sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin merasa bahagia karena Mirza begitu akrab dengan Alula.
Setelah makan malam selesai, aku duduk diruang tamu bersama Tante Indri. obrolan kami mengalir begitu saja, Tante Indri banyak bertanya tentang aku. seperti ingin tahu apa saja yang aku lakukan, dan bagaimana keseharianku. aku hanya menjawab seperlunya saja, tapi sedikit dilebihkan agar Tante Indri terkesan padaku.
Papah juga masih asik berbincang dengan Om sanjaya di ruang kerjanya, apalagi jika bukan membahas masalah bisnis yang mereka jalankan.
Malam semakin larut ketika Papah keluar dari ruang kerja Pa Sanjaya, lalu mengajakku pulang. namun entah mengapa perasaanku tidak tenang, karena Mirza dan Alula belum juga datang.
Suara deru mesin motor memasuki halaman rumah terdengar sampai ruang tamu.
"Nah, itu si anak bujang sama anak gadis Mama udah pulang." ujar Tante Indri dengan senyum diwajah ayunya.
Dan benar saja, saat aku membuka pintu, aku melihat Mirza tengah memiting leher Alula sambil tertawa-tawa begitu riangnya.
Tawa yang tidak pernah Mirza lakukan bersama perempuan lain, tawa yang hanya aku lihat ketika dia bercanda dengan Marko dan Martin. sungguh, pemandangan yang tidak ingin aku lihat sama sekali.
"Hai La," Alula tak menjawab, dia hanya tersenyum dengan kikuk.
"Abis pada jalan yah ?" lagi-lagi Alula tak menjawab, dia hanya mengangguk saja.
Mereka seperti terkejut melihat keberadaanku ada disini, sampai aku berpamitan pulangpun mereka hanya diam, tak banyak bicara.
"Terima kasih makan malamnya Pah." ucapku dengan tulus pada Papah yang duduk dibalik kemudi. aku benar-benar bahagia bisa mengenal orang tua Mirza, yang sepertinya juga menyukaiku.
Papah hanya menoleh dan tersenyum, lalu kembali fokus pada jalanan didepannya.
Namun pertanyaan Papah saat aku baru saja duduk diatas sofa setelah menutup pintu membuat dadaku tiba-tiba bergemuruh.
"Bagaimana anaknya Pa Sanjaya ?" aku menoleh pada Papah yang tengah tersenyum menatapku.
"Gimana ... gimana maksudnya Pah ?" tanyaku dengan gugup, lalu menunduk berpura-pura memainkan handphone.
"Gwen, dengarkan Papah !" aku meyimpan kembali handphoneku kedalam tas.
Jika Papah sudah memanggilku dengan nama 'Gwen' itu artinya Papah benar- benar ingin didengarkan.
"Kenapa Pah ?" tanyaku dengan dahi yang mengkerut, sebab wajah Papah kini berubah serius.
"Sebenarnya Papah sudah berencana menjodohkan kamu dengan Mirza, anaknya Om Sanjaya."
__ADS_1
Aku hanya diam, mencerna setiap kata yang diucapkan Papah. namun rasanya telingaku mendadak tidak mendengar apapun yang Papah ucapkan.
"Gwen, kamu dengerin Papah gak sih ?"
"A.. apa Pah ?" rasanya aku semakin gugup, bahkan keringat dingin terasa mengucur.
"Papah sudah berencana untuk menjodohkan kamu dengan anaknya Om Sanjaya."
"APA ?" aku tak sadar sudah berteriak.
"Pasti kamu senangkan ?"
Benarkah ? telingaku tidak salah mendengar bukan ?
Pipiku tiba-tiba terasa panas, bisa dipastikan warnanya berubah merah.
Tapi bagaimana bisa Papah menjodohkan aku dengan Mirza ? Mirza loh.
Apakah Papah memang sudah tahu kalau aku menyukai Mirza sejak lama, tapi bukankah Papah dan Om Sanjaya baru bertemu kembali setelah sekian lama.
Jika ditanya aku senang atau tidak dijodohkan dengan Mirza, maka jawabanku sudah pasti senang bukan main.
Siapa yang tidak mau dijodohkan dengan pria yang ku cintai ?
Tapi, apakah Mirza akan menerima perjodohan ini ?
bukankah cinta bisa datang kapan saja. dan aku yakin, perlahan Mirza akan menerima kehadiranku.
Aku hanya perlu memenangkan hati orang tuanya, karena aku tahu Mirza sangat menyayangi mereka, terutama Tante Indri. dan apapun yang mereka mau, Mirza pasti akan menurutinya.
.
.
Happy reading... 😊
Jangan pada protes yah, otor Up POV nya Gweny.
karena nulis ini tuh perjuangan banget. 😅
Sebenernya kemaren mau Up, tinggal diedit dikit. tapi malah kehapus dong file nya..
Alhasil,harus ngetik dari awal lagi.. 😭
nyesek hati otor, se nyesek hatinya dedek Lula pas tau bang Emir dijodohin.. 😂
curhat dikitlah 😂
Jangan lupa like and comment nya ya ... 👍
__ADS_1