
Setelah sempat beristirahat beberapa jam, akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju makam alm.Ibu dan juga Dwi.
Awalnya hanya Ayah dan Alula saja yang akan pergi. namun Marsha bersikukuh ingin ikut, begitupun dengan Mirza. dan akhirnya semuanya ikut menemani Ayah dan Alula berangkat menuju tempat pemakaman.
Alula yang tahu dimana tempat pemakamannya kini duduk dikursi kedua bersama Mulan juga Marsha. Mirza, Martin dan Marko duduk dikursi paling belakang. sedangkan Ayah duduk didepan bersama supir. sedikit aneh memang, ayah yang biasanya duduk dibalik kemudi, kini justru duduk disamping pengemudi.
"Ini benar jalannya kan dek?" tanya Mirza ketika melewati jalanan yang sedikit berbatu. mereka kini telah jauh meninggalkan Villa.
Alula mengangguk "seingatku jalan menuju rumah yang dulu kesini." ucapnya ragu-ragu. karena selama tinggal disana Alula jarang sekali keluar rumah. hanya pergi ke sekolah, itupun tak luput dari pengawasan anak buah Paman Leon.
"Iya benar ini jalannya, belok kanan Pa." seru Alula ketika mereka tengah berada dipersimpangan jalan.
"Kalau yang ke kiri tadi itu jalan menuju rumah. ralat, bukan rumah tapi neraka dunia." ucapnya dengan penuh penekanan.
"Itu sekolah ku yang dulu." tunjuknya pada bangunan sekolah bercat hijau muda. gerbang yang menjulang tinggi menandakan jika sekolah tersebut bukanlah sekolah biasa.
"Ayah bersyukur, kamu tetap bersekolah ditempat yang bagus nak." ucap Ayah ketika melihat Alula yang antusias menunjukan tempat-tempat yang menjadi saksi penderitaannya.
Setelah melewati bangunan sekolah dan pemukiman warga, mereka kini tiba didepan gapura TPU.
"Kalian mau tunggu disini apa mau ikut kedalam?" tanya Ayah pada yang lainnya.
"Aku ikut," Marsha turun dari mobil.
"Aku juga," Mulan mengikuti Marsha.
"Kita juga ikut." ucap Mirza, yang disusul Marko dan Martin yang turun dari mobil.
Hamparan ratusan gundukan tanah yang ditumbuhi rumput hijau memenuhi pandangan mereka. ukiran nama pada batu nisan yang berwarna-warni menghiasi salah satu sisi gundukan tersebut. sebagai pembeda, juga tanda bahwa gundukan tersebut ada pemiliknya.
Ditempat ini, kesedihan karena kehilangan akan tertumpahkan. karena semua orang benar-benar merelakan raga orang terkasihnya terkubur dalam keabadian. tidak akan pernah kembali. mereka telah menghadap sang pencipta dengan damai.
"Gue suka ngeri datang ke tempat beginian." bisik Martin pada Marko yang berjalan disampingnya.
"Gue lebih ngeri dateng ke acara nikahan. apalagi pas pertanyaan sakti dilontarkan." ucap Marko dengan nada tak kalah berbisik.
"Kapan nyusul?"
"Kapan nyusul?" tebak Martin dan Mirza bersamaan.
__ADS_1
"Lebih horor kan?" tanya Marko dengan dahi yang mengernyit. Martin dan Marko nampak menahan tawanya. tidak mungkin mereka tertawa-tawa ditempat seperti ini bukan?
"Nah, kalo sampe ditempat ginian ada yang nanya 'kapan nyusul' gue timpuk aja pala nya, biar dia yang nyusul duluan." sebuah jitakan mendarat didahinya. Martin pelakunya.
"Emang somplak Lu." ucap Martin lalu berjalan lebih cepat mendahului Marko.
Alula yang bergandengan dengan Ayah berjalan melewati deretan gundukan tanah tersebut, ada rasa pedih yang tiba-tiba saja menusuk hatinya. ia teringat kembali bagaimana dulu ia mengantarkan Ibu untuk sampai ketempat ini. ia mengikuti langkah para pembawa keranda dengan hati yang hampa. tidak ada usapan menenangkan dari orang terdekat, tidak ada tangan yang merangkul tubuhnya yang merasa terpukul. hanya dirinya, dan perasaan kehilangan yang sangat mendalam.
Setelah berjalan cukup jauh melewati deretan gundukan tanah yang ditumbuhi penuh rumput hijau, Kini mereka telah sampai pada dua gundukan tanah yang saling bersisian. dimana dalam batu nisan tertulis nama Indira Pratiwi dan dalam nisan lain tertulis nama Dwi Rania Sofyan serta tanggal lahir dan tanggal wafat dari kedua pemilik gundukan tanah tersebut.
Ayah mematung ditempatnya, ia menatap nyalang kedua nama yang sangat dikenalinya. Ayah menoleh pada Alula dengan mata yang mulai memanas, yang siap meluncurkan cairan bening dipelupuknya. Alula mengangguk, melihat sorot mata ayah yang seolah bertanya 'benarkah?'
Ayah duduk berlutut diantara kedua nisan dalam gundukan tanah tersebut. tidak ada kata yang terucap, hanya suara isak tangis yang terdengar. Alula ikut mendudukan diri disamping Ayah, sedangkan yang lain duduk memutari kedua gundukan tanah tersebut.
Ayah mengusap kedua batu nisan itu secara bersamaan.
"Maafkan Ayah," Lirih ayah dengan suara parau dan hampir tak terdengar. bahkan kata maaf saja rasanya tidak akan cukup untuk menghilangkan rasa bersalah pada diri Ayah.
Hening..
Tidak ada satupun yang membuka suara. mereka larut dalam suasana pilu, membiarkan Ayah dan Alula menumpahkan kerinduan mereka. hingga akhirnya suara parau bercampur isakan keluar dari mulut Alula.
"Maafkan Lula Bu," ucapnya ditengah isakan.
Alula menelan ludahnya yang tiba-tiba saja terasa pahit dikerongkongan.
"Lula baru datang setelah sekian lama ibu pergi. hari ini Lula datang bersama Ayah, dan teman-teman Lula." Alula menatap satu persatu orang yang duduk disana. lalu kembali menunduk menatap batu nisan dihadapannya.
"Ibu istirahat yang tenang yah, sekarang Lula dikelilingi oleh orang-orang yang sayang sama Lula. Lula bahagia bu." Alula tersenyum, mencoba menegarkan hatinya yang terasa rapuh.
Ia kini mengusap batu nisan bertuliskan nama Dwi.
"Dwi.." Lirihnya dengan suara yang tercekat.
"Lihatlah, aku berhasil menemukan ayah." sesekali Alula mengusap air matanya.
"Sekarang, aku lebih hebat dari kamu Dwi. aku senang, sekarang aku bisa bikin ayah bangga sama aku." Alula tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu juga bahagia kan sama ibu disana? aku titip Ibu sama kamu, dan aku jagain ayah disini." entah mengapa Ayah semakin terisak mendengar ucapan Alula tersebut. bahkan, Marsha dan Mulanpun ikut menangis mendengar penuturan Alula.
__ADS_1
Ucapan Alula berhasil menyadarkan ayah, bahwa mereka kini berada didunia yang berbeda. Ayah benar-benar telah kehilangan dua orang yang dicintainya. Ayah merangkul bahu Alula dengan erat, seolah saling memberi kekuatan.
"Dira.." setelah sekian lama ayah terdiam dalam isakan, akhirnya ia membuka suara.
"Aku tidak tahu harus berkata apa. sejujurnya aku malu bertemu denganmu, walaupun dunia kita kini berbeda. entah mengapa aku tidak punya keberanian untuk bertemu denganmu. mungkin aku terlalu banyak dosa padamu. maafkan aku Dira, maafkan aku." Ayah tertunduk, sedangkan air mata terus saja keluar dari pelupuk mata tuanya.
"Dwi putriku.. maafkan ayah, karena ayah tidak ada disaat kamu membutuhkan ayah. ayah tidak ada disaat kamu merasa kesakitan. maafkan ayah nak. maafkan ayah karena ayah tidak ada disaat terakhir kalian meninggalkan dunia ini. maafkan ayah."
Alula memeluk tubuh ayah yang semakin merunduk. tidak ingin ayah sampai berlarut-larut dalam kepedihannya.
"Sudah ayah, ayah tidak pernah salah." Alula mengusap punggung Ayah yang nampak naik turun menandakan tangisan ayah belum mereda.
"Mir, Lu ngerasa gak sih, kalo sekarang kita lagi diliatin orang." bisik Martin pada Mirza yang duduk disampingnya.
Dahi Mirza mengernyit "Maksudnya?"
"Tuh..." Martin memberi isyarat dengan lirikkan matanya, ia menunjuk pohon beringin besar yang tumbuh tak jauh dari tempat mereka duduk.
Mirza mengikuti arah tatapan Martin. dilihatnya, seseorang yang berpakaian serba hitam dengan menggunakan topi dikepalanya tengah berdiri dan menatap lurus pada mereka. namun saat tersadar, seseorang itu langsung menundukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari tempatnya berdiri.
"Maaf Pa." potong Mirza ditengah suasana haru yang masih menyelimuti mereka.
"Apa sebaiknya kita cepat berdo'a dan langsung pulang, hari sudah semakin sore." sebenarnya ia merasa tidak enak hati telah memotong suasana penuh haru itu, namun ia juga tidak ingin sesuatu terjadi pada mereka. sehingga dengan terpaksa Mirza harus segera mengajak mereka pulang.
"Ya sudah, mari kita bacakan do'a dulu." Ayah memimpin do'a
"Allahummaghfirlahu war hamhu wa 'aafihii wa'fu anhu....."
Setelah pembacaan do'a selesai, mereka beranjak meninggalkan pemakaman. Mirza yang berjalan dibelakang Alula sesekali mengusap kepalanya. memberikan semangat juga meyakinkan Alula bahwa ia tidak sendirian. Alula hanya menoleh lalu tersenyum padanya.
sedangkan Martin dan Marko yang melihat interaksi keduanya hanya saling pandang, lalu menaikkan bahu mereka.
.
.
.
Happy readdding.. 😊
__ADS_1
Hari ini otor lagi soleh, up nya dua kali.. 😁😁