Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Jika Itu tentang Ibu


__ADS_3

Malam ini Ayah duduk ditepian ranjang menemani Alula didalam kamarnya. entah mengapa ia rindu pada anak perempuannya yang semakin hari semakin tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Ayah seolah tidak ingin kehilangan moment pertumbuhan anak gadisnya lagi. sudah cukup ia kehilangan kebersamaannya beberapa tahun kemarin.


Diusapnya kepala Alula dengan sayang, senyuman terus mengembang diwajah teduh Ayah. Ayah bersyukur bisa kembali dipertemukan dengan putri sulungnya. meskipun tak menampik Ayah juga rindu pada mendiang putri bungsu dan istrinya.


Namun apa yang bisa Ayah lakukan? menitipkan do'a pada sang pemilik nyawa, tentu saja menjadi hal selalu Ayah lakukan. bagaimanapun, rasa cinta yang begitu besar untuk kedua bidadarinya itu mengalahkan rasa kecewanya.


Bicara masalah mereka, tentu saja banyak sekali pertanyaan yang ingin Ayah tanyakan pada Alula. seperti, kemana saja mereka pergi selama ini ? bagaimana kehidupan mereka setelah kepergian Ayah? dan yang paling penting adalah penyebab meninggalnya Dwi dan Dira yang tak lain adalah putri bungsu dan istrinya?-bukan mantan istri, karena Ayah tidak pernah menjatuhkan talak pada Ibu. Apakah ini ada kaitannya dengan Leon? apa sebenarnya hubungan Leon dengan istrinya.


Ingin sekali Ayah menanyakan hal itu pada Alula. Tapi Ayah takut jika hal itu memicu kembali rasa takut yang sudah berhasil ia sembuhkan beberapa hari ini. pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berputar dikepala Ayah. Hanya Alula yang bisa menjawab dan menjelaskan semuanya.


Ayah masih mengusap lembut kepala putri sulungnya, lalu mengecup keningnya dengan penuh rasa sayang. hingga suara panggilan Alula mengalihkan perhatian Ayah.


"Ayah.. " Alula mengangkat kepalanya, mengarahkan pandangannya pada Ayah yang sedang mengusap lembut kepalanya.


"Iya sayang.." jawab Ayah dengan suara lembutnya.


"Apa Lula boleh tanya sesuatu?" Ayah mengangguk sebagai jawaban.


"Apa ayah membenci Ibu?" meski ragu, Alula tetap ingin mendengar jawaban Ayah.


Ayah menggelengkan kepalanya "Ayah tidak benci, Ayah hanya kecewa." jawab Ayah. lalu menatap nyalang langit-langit kamar putri nya.


"Ayah, apa Lula boleh bicara sesuatu?" Ayah kembali menunduk. ia memperhatikan wajah putrinya yang berubah serius.


"Jika itu tentang Ibu dan Dwi, Lula harus janji dulu ! Lula gak akan sedih ataupun nangis." ucapa Ayah dengan wajah khawatir, takut-takut jika nanti Alula kembali ketakutan.meskipun Ayah juga sangat penasaran dengan cerita Alula.


Alula mengangguk, lalu ia mendudukan dirinya dan bersandar dikepala ranjang. "Lula janji Ayah. tapi Ayah juga janji jangan sedih ya ?"


Ayah hanya tersenyum "Ya udah, apa yang mau Lula bicarakan?"


"Dulu... mungkin, dua bulan setelah Ayah pergi.." Alula menjeda ucapannya. ia melirik wajah Ayah yang sesaat berubah sendu.


"Ayah?" Alula merasa jika raut wajah Ayah berubah sendu. namun Ayah menggelengkan kepalanya "tidak apa-apa" ucapnya demi mendengarkan cerita Alula kembali.


"Setelah Ayah pergi.. ada beberapa laki-laki yang membawa paksa kami pergi dari rumah." Ayah mengerutkan dahi, rahangnya nampak mengeras.menandakan ada kemarahan dalam diri Ayah.


"Lula gak tau bagaimana kejadiannya, karena Lula baru pulang main sama sasa. Lula melihat sebuah mobil terparkir dihalaman rumah. lalu Lula berlari kedalam rumah, karena Lula pikir Ayah sudah pulang. tapi ternyata itu bukan Ayah. dan Lula juga gak tau apa yang sudah terjadi sebelumnya , tiba-tiba saja salah seorang dari mereka mengaku sudah menjadi Ayah tiri Lula."

__ADS_1


Ah iya, Ayah ingat dengan cerita Bu Indri, tentang Alula dan Ayah tirinya. ini menjadi salah satu yang ingin sekali Ayah tanyakan.


"Siapa ?" tanya Ayah, mendesak sebuah jawaban.


"Paman Leon" Lagi-lagi rahang Ayah mengeras, matanya memerah menahan amarah.


"Kemana mereka membawa kalian?"


"Salah satu rumah di daerah Bogor Ayah. disana Lula tinggal berjauhan dengan rumah warga. tidak ada satupun warga yang berani pada Paman Leon."


"Setiap hari Lula selalu menunggu, berharap Ayah membawa kami kembali." Alula menghela nafas panjang.


"Ayah pergi karena Ayah kecewa pada Ibumu. Ayah hanya butuh waktu untuk menenangkan hati Ayah. setelah Ayah memaafkan Ibu, Ayah pulang Lula. bahkan setiap minggu Ayah pulang kerumah kita. tapi kalian tidak pernah ada dirumah." Alula menatap haru wajah Ayah.


"Ayah juga menunggu kalian pulang, hingga Ayah bertemu dengan Sasa. dia bilang kalian pergi dengan beberapa pria. bahkan Ayah juga mendengar dari beberapa tetangga bahwa kalian pergi bersama suami baru Ibumu. tapi Ayah tidak tahu jika dia adalah Leon. orang yang sama dengan orang yang menghancurkan usaha Ayah. Ayah marah saat itu, Ayah kecewa. hingga Ayah memutuskan untuk tidak pernah kembali."


Mereka terdiam sesaat, hingga pertanyaan Ayah membuyarkan keheningan.


"Bagaimana perlakuan dia selama ini pada kalian ?"


"Dan sejak saat itu, Dwi mulai anfal. sering bolak-balik rumah sakit, karena nafasnya kembali sesak. Lula liat Ibu begitu tegar ngurusin Dwi, meskipun Lula tau Ibu sangat tersiksa dengan semuanya. beberapa bulan setelah itu... " Alula kembali menjeda ucapannya.ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semuanya.


"Dwi meninggal Ayah... " Alula menghela nafas panjang, tidak ada air mata. hanya raut wajah nya yang berubah mendung, begitupun dengan ayah. Ayah merangkul bahu Alula dan mengusapnya dengan lembut. mencoba saling membagi kekuatan.


"Sejak Dwi pergi, setiap malam Ibu selalu menangis dikamar Lula. lula gak tega liat Ibu. Lula suka pura-pura tidur cuma buat dengerin keluh kesah Ibu. Ibu selalu meminta maaf setiap hari Ayah. Ibu bilang.."


"Lula sayang, Ibu minta maaf. Ibu sudah bawa kalian pada situasi seperti ini. semua Ibu lakukan karena terpaksa. Ibu hanya ingin melindungi kalian dan juga Ayah.." Ibu mengusap kepala Alula yang tertidur dengan posisi memunggunginya.


"Lula, apa Lula tau? " Ibu terdiam sejenak, ia mengusap air matanya yang sejak tadi mengalir begitu deras.


"Ibu sangat mencintai kalian. Ibu rela menyerahkan semuanya hanya demi kalian. Ibu percaya pada Ayah, Ayah tidak pernah mengkhianati Ibu. Ibulah yang justru mengkhianati kepercayaan Ayah."


"Semua karena Pria b*jingan itu. lihatlah! dia menghancurkan Ibu hanya karena dia ingin memiliki seorang anak."


"Lula.. apapun yang terjadi, jangan pernah membenci Ayah. karena Ayah tidak pernah salah. Dia pria paling baik yang pernah Ibu temui."


Kata-kata Ibu terus berputar dikepala Alula. ia mencoba mencerna setiap kalimat yang Ibu ucapkan setiap malamnya. dan dari situ ia bisa menarik kesimpulan bahwa yang menjadi dalang utamanya adalah Pria jahat yang bernama Leon. Alula sempat merasa benci pada Ayah, karena Ayah tega membiarkan mereka hidup seperti ini. tapi akhirnya ia sadar, jika Ayah tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Dari situ Lula yakin jika Paman Leon berbuat kasar karena Ibu sering menolak permintaan Paman Leon untuk memiliki seorang anak." ucap Alula.


Ayah masih mendengarkan semua yang Alula ceritakan.


"Apa ayah tau? Ibu juga pernah mengalami keguguran." Ayah terlihat syok, ada rasa nyeri dalam hatinya. bagaimana bisa didalam rahim wanita yang begitu dicintainya tumbuh benih dari laki-laki b*jingan seperti Leon.


"Sejak saat itu, perlakuan Paman Leon pada Ibu semakin buruk, dia mengira Ibu sengaja menggugurkan kandungannya. tidak hanya pada ibu, bahkan pada Lula juga. Dia pernah beberapa kali ingin menghancurkan masa depan Lula. tapi Ibu selalu menghalanginya." meskipun Ayah sudah mewanti-wanti untuk tidak menangis, nyatanya keduanya kini tak tahan untuk tidak menangis. bulir-bulir cairan beningpun kini menganak sungai dikedua pipi Alula dan Ayah.


"Apa Ayah juga tau ? tanpa sepengetahuan Paman Leon diam-diam Ibu mengkonsumsi pil penunda kehamilan.Ibu menyuruh asisten rumah tangga yang membelinya. dan itu membuat kondisi Ibu memburuk. Ibu sering mengalami pusing, kadang mual-mual bahkan tekanan darah ibu juga sering naik. karena terlalu sering mengkonsumsi obat-obatan itu. dan suatu hari akhirnya Paman Leon mengetahui semuanya. dia semakin murka, dia tidak segan menyiksa Ibu. bahkan sampai Ibu menghembuskan nafas terakhirnya." Ayah memeluk tubuh putrinya erat, seolah sedang memeluk tiga bidadarinya sekaligus. menumpahkan rasa sesal, sesak, sakit hati dan amarah yang kini dirasakan Ayah.


"Ayah.." Alula mencoba melepaskan pelukan Ayah. ia menatap dalam mata Ayah dengan penuh kasih sayang.


"Percayalah.. Ibu melakukan semua itu demi melindungi kita, Ibu sangat mencintai kita. Paman Leon sering mengancam jika Ibu tidak mau menuruti kemauannya, dia akan menghancurkan Ayah bahkan Lula dan Dwi juga." Ayah mengannguk lemah, tak bisa lagi berkata apapun. betapa hancur hatinya mengetahui sebuah kenyataan yang selama ini ditutupi oleh wanita yang dicintainya.


"Lula yang menjadi saksi penderitaan Ibu. Lula pun ikut merasakannya. bahkan Lula juga tidak bisa leluasa pergi sekolah, karena Lula sering di ikuti orang suruhan Paman Leon. setiap hari Lula sendirian Ayah, tidak punya teman. karena teman-teman Lula terlebih dulu takut sama orang suruhan Paman Leon."


"Ibu pernah bilang, alasan paman Leon melakukan semua ini hanya ingin memiliki keturunan dari ibu. lucu kan yah? kenapa harus Ibu ? kenapa tidak perempuan lain? kenapa dia harus menghancurkan keluarga kita ayah?" Alula kembali menangis dalam pelukan Ayah.


Ayah terdiam. ada sesuatu yang mengusik pikirannya. sesuatu yang pernah terjadi dimasa lalunya. mungkinkah hal itu menjadi penyebab Leon melakukan semuanya pada keluarga nya. apakah ini adalah sebuah dendam pada istrinya.


Setelah saling mengungkapkan, Ayah menyuruh putrinya untuk tidur.


"Lula sekarang tidur yah ! sudah malam, besok kita kan harus mencari sekolah buat Lula." Alula mengangguk. ia mulai merebahkan dirinya diatas kasur, kemudian tertidur. Ayah mengecup kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. air mata Ayah kembali mengalir begitu saja.


"Maafkan aku Dira... aku berjanji padamu, aku akan menjaga putri sulung kita ini. semoga kamu tenang bersama Dwi disana."


.


.


.


Happy readding 😊


*ko'updatenya lama?


#Mohon dimaafkeun. apalah dayaku yang seorang emak-emak dengan seorang balita. Riweuh gaes.. 😀

__ADS_1


__ADS_2