Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Kenyataan


__ADS_3

Alula POV


"Ayah... "lirihku.


Tempat itu mendadak hening. empat orang disana kemudian menoleh ke arahku. ada satu orang pemuda, satu orang wanita paruh baya dan dua orang laki-laki paruh baya menatapku dengan tatapan tak terbaca.


Aku tidak mempedulikan tiga orang disana. mataku hanya tertuju pada Ayah. mata ayah membulat, terlihat jelas tatapan terkejut dari Ayah. tubuh Ayah mematung ditempatnya. mulutnya sedikit menganga dan bisa ku lihat tangannya bergetar menandakan keterkejutannya. sorot matanya berubah sendu, jelas tergambar ada sebuah kerinduan yang mendalam disana.


Plukk...


Suara sebuah kunci yang terjatuh dari tangan Ayah, setelah ia menyadari kehadiranku disana.


"Alula.. " ucapnya lirih hampir tak terdengar. tatapan mata sendunya menarikku untuk segera mendekat padanya.


Aku berlari, berhamburan memeluk tubuh Ayah. memeluknya erat. sangat erat. seakan tidak mau kehilangannya lagi. Ayah membalas pelukanku tak kalah erat. seolah sedang menumpahkan segala macam rasa rindu yang telah tertumpu begitu lama.


"Ayah... huu.. huu... "


Aku menangis tersedu-sedu, tak mampu berkata-kata.


"Alula sayang.. "Ayah mengusap punggungku dengan lembut. ia mengecup puncak kepalaku berkali-kali. seolah sedang mencurahkan kasih sayangnya.


"Ayaah... huuaa.... "


Aku meraung-raung dalam pelukan Ayah. menumpahkan segala rasa yang selama ini bersarang didalam dada. rasa sesak ketika dirundung rindu untuk bertemu. juga rasa sakit ketika ditinggalkan dan kehilangan orang-orang yang ku sayang.perasaan haru dan pilu begitu menggebu.


"Alula, tenang sayang. "


Ayah mencoba menenangkanku. meski aku merasakan tetesan cairan bening di pundakku. Yah, Ayah pun menangis melepaskan rasa rindu.


"Jangan tinggalin Lula ayah, jangan tinggalin Lula !" pintaku, tak ingin melepaskan pelukan eratku pada Ayah.


Ayah menggeleng "Ayah disini sayang, Ayah gak akan pergi lagi." Ayah mengecup lembut puncak kepalaku.

__ADS_1


Perlahan Ayah melepaskan pelukanku dan meraup kedua pipiku dengan tangannya. seolah mengatakan semua baik-baik saja. Ayah menciumi wajahku dengan penuh kasih sayang. Yah, kasih sayang yang sempat hilang.


"Lula takut Ayah, jangan pergi! " Aku kembali memeluk Ayah.


Entah mengapa lidah ku kelu. aku tidak bisa mengatakan apapun. aku hanya takut kehilangan Ayah untuk yang kedua kalinya.


Ayah masih terus menenangkanku dalam pelukannya, tidak ada kalimat apapun yang keluar dari mulutnya. Ayah hanya mengelus punggungku sesekali mengecup puncak kepalaku.


Lama aku berada dalam pelukan Ayah, tubuhku mulai melemah, energiku seakan habis setelah menangis cukup lama. tiba-tiba saja pandanganku kabur. dan aku tak sadarkan diri.


...****************...


Entah sudah berapa lama aku tertidur. rasanya begitu lemas, tidak ada tenaga. kurasakan gerakan tanganku terhambat sesuatu.selang infus? entahlah apa yang terjadi setelah aku tak sadarkan diri. aku tidak ingat apapun. tiba-tiba saja aku kembali berada dikamar semula dengan selang infus ditangan ku.


Aku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi, namun tiba-tiba kepalaku terasa pusing. dan satu hal yang ku ingat. aku sedang berada dipelukan Ayah.


Ayah? dimana Ayah ? aku mulai panik. aku takut jika yang terjadi tadi hanyalah halusinasi ku saja. aku mengedarkan pandanganku, tak ada siapapun disini. diruangan yang cukup luas ini, aku sendirian.


"AYAH... "aku berteriak, menangis histeris saat ayah tak ada disampingku.


Aku duduk memeluk erat lututku dan menenggelamkan kepalaku diantara kedua kakiku.tubuhku kembali gemetar.entah kenapa bayangan-bayangan ayah tiriku tak lepas dari ingatanku.


Tak lama suara pintu kamar terbuka, Ayah masuk dan langsung memelukku.ia mencoba menenangkanku kembali.


Aku rindu pelukan ini. pelukan hangat yang begitu menenangkan. jika aku menangis, pelukan ini yang selalu meredakan tangisanku. dibanding Ibu, aku memang paling dekat dengan ayah. aku sering berbagi kesedihan ketika Ibu atau bahkan Ayah sendiri lebih perhatian pada Dwi adikku.


Dibanding ibu, ayah bahkan tau aku sering diam-diam menangis dikamar jika merasa sedih. Yah, mungkin aku terlalu khawatir jika Ibu melihatku menangis. karena dari kecil Ibu selalu mendoktrin ku untuk selalu kuat. kata Ibu ataupun Ayah, aku anak yang kuat, aku anak yang mandiri. aku berbeda dengan Dwi. meski begitu, tetap saja aku selalu merasa cemburu pada Dwi. dan Ayah yanh selalu tau jika aku sedang sedih ataupun cemburu.


Aku kehilangan Ayah beberapa tahun ini, aku sempat sedih. Akupun merasa kesal, marah dan kecewa pada Ayah yang tiba-tiba saja pergi. meski begitu aku tidak pernah bisa membenci ayah.


Setelah kepergian ayah, kehidupanku berubah. dan aku


kehilangan tempat untukku berbagi. setiap hari Aku menunggu waktu dan selalu berharap jika Ayah akan datang membawa kami kembali. tapi sampai Dwi dan Ibu pergi, ayah tak pernah kembali.

__ADS_1


Aku masih sesegukan dipelukan ayah. sementara Ayah tak henti mengelus punggung dan kepalaku.


"Lula, jangan nangis lagi! Ayah gak akan pergi lagi." ucapan Ayah berhasil membuatku sedikit tenang.


Pelan-pelan Aku melepaskan pelukan Ayah. ayah memandangku penuh haru lalu menyeka air mataku. bisa ku lihat sorot mata Ayah penuh rasa rindu.


"Lula, dimana Ibu? kenapa kamu sendirian?" pertanyaan Ayah kini membuatku sesak.


Aku kembali merengkuh tubuh Ayah, mencoba mendapatkan kekuatan untuk mengatakan semuanya. namun diluar kendaliku, aku kembali menangis histeris. aku mengingat kembali perlakuan ayah tiriku pada Ibu, pada Dwi juga pada diriku sendiri.


Tubuhku kembali gemetar, rasa takut itu tiba-tiba muncul begitu saja. padahal dulu,aku selalu bisa menyembunyikannya didepan orang lain.tapi tidak untuk saat ini.


"Ayah.. Ibu, yah.. " Aku tidak bisa melanjutkan kata-kata ku. Ayah menjauhkan sedikit tubuhku. melihat penuh selidik wajah sedihku. aku menggenggam erat tangan ayah.


"Kenapa Nak, Ibu kenapa?" Ayah terlihat gusar, ada kekhawatiran dari nada bicaranya. entah kenapa, Ayah seperti tau jika semua tidak baik-baik saja.


"Ibu, yah.. Ibu pergi. Dwi pergi. semua pergi ninggalin Lula sendiri. Semua pergi ayah." Aku kembali menangis meraung . Ayah nampak mengerutkan dahinya. ia berusaha mencerna apa yang ku bicarakan.


"Apa maksudmu nak?"


"Dwi dan Ibu.. mereka udah meninggal Ayaah... huaa..." tangisku kembali pecah. sedangkan ayah seperti kehilangan jiwanya. ia syok, tatapan matanya kosong. tubuhnya mematung.


Ayah menggelengkan kepalanya "Tidak mungkin. Dwi.. Dira.. mereka?" Ayah kemudian menangis dan kembali memelukku.


Aku tau. Ayah pasti sangat terpukul dengan kenyataan ini. bukan tanpa alasan, beberapa tahun kami terpisah penyebabnya adalah karena kesalah pahaman. Aku yakin saat ini Ayah sangat menyesal. bahkan ia belum sempat meminta maaf dan mendengarkan penjelasan apapun dari Ibu. namun takdir lebih dulu merebut kekasih hatinya. hingga saat ini kami tidak bisa kembali berkumpul bersama dalam satu keluarga.


Dulu Ayah pernah berkata, jika ditakdirkan Ayah ingin meninggal lebih dulu. agar Ayah tidak pernah merasakan sakitnya ditinggalkan. namun pada kenyataannya sekarang ayah kehilangan dua orang yang paling ia sayang. betapa hancurnya hati Ayah mendengar kenyataan ini.


Ayah mengeratkan pelukanku, mencoba berbagi kekuatan, jika kita mampu melewati hari esok berdua. Yah, Aku dan Ayah.


.


.

__ADS_1


.Happy readding gaess.. ☺


jangan lupa tinggalkan jejak.. 👍🤗


__ADS_2