Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Rumah Singgah


__ADS_3

"Besok, Lula mau ajak Ayah bertemu dengan seseorang." ucap Alula saat telah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dahi ayah mengernyit "Siapa ?"


"Orang yang pernah menolong Lula Ayah. tanpa bantuan beliau, Lula mungkin tidak bisa sampai disini."


"Kenapa baru sekarang mau dikenalkan sama Ayah?"


"Sekalian pamitan yah." ujar Alula seraya tersenyum.


"Lula juga belum minta maaf secara langsung, atas kesalahan Lula dulu."


"Ya sudah, sekarang tidur. besok pagi kita kesana." ucap ayah sambil menyelimuti tubuh putri satu-satunya itu.


Dan pagi hari, setelah mereka menghabiskan sarapan yang diantarkan oleh Mbak Sri ke paviliun, mereka berangkat menuju tempat yang dimaksudkan oleh Alula.


Rumah singgah Anugerah milik Bu Indah kini menjadi tujuan mereka. Alula turun dari taksi terlebih dahulu, karena ia melihat Ibu Indah dihalaman depan, yang tengah memetik daun-daun kering pada tanaman bunganya.


"Selamat pagi Bu." sapa Alula ketika sudah berdiri dihadapan Bu Indah. senyumnya merekah, senang sekali rasanya bisa bertemu kembali dengan sosok yang pernah membantunya itu.


Bu Indah mendongak, ia terpaku menatap seseorang yang tiba-tiba berdiri dihadapannya.


"Alula?" mata Bu Indah membelalak, terkejut akan kehadiran Alula disana.


"Ya Alloh nak, kamu kemana saja ?" Bu Indah menangkup kedua pipi Alula, lalu merengkuh tubuhnya kedalam pelukan.


"Maafkan aku Bu." sesalnya pada Bu Indah atas kejadian melarikan diri yang ia lakukan tiga tahun yang lalu. juga karena ia tidak pernah memberi kabar setelah ia pergi.


"Kenapa baru kesini sekarang, kemana saja ?" Bu Indah masih merengkuhnya dalam pelukan.


Sebenarnya sudah sejak lama ia ingin menemui Bu Indah, namun sikap Risma yang tidak pernah ramah padanya membuatnya merasa sungkan untuk berkunjung kesana.


Ia pernah berjanji didalam surat yang ia tulis waktu itu, bahwa ia akan mengenalkan ayah pada Bu Indah jika sudah menemukannya. dan mungkin, inilah waktunya.


Bu Indah melepaskan pelukannya, ia menatap lekat pada Alula yang kini menundukkan kepalanya.


"Tinggal dimana sekarang ?" rupanya Bu Indah sangat mengkhawatirkannya. perasaan bersalah tiba-tiba saja muncul didalam hatinya.


"Aku, tinggal sama Ayah." ucapnya.


Bersamaan itu, ayah muncul dibalik punggungnya dengan menjinjing beberapa kantong plastik, oleh-oleh untuk anak-anak di panti.


"Ini hampir saja ketinggalan, kamu sih buru-buru turun ... " ucapan ayah Abhi terhenti saat ia menatap seseorang dihadapannya. Ayah Abhi terpaku, lidahnya mendadak kelu, sulit rasanya untuk meneruskan ucapannya.


"Abhi?" lirih Bu Indah, menatap tak percaya.


"Laras?" dahi ayah Abhi nampak mengernyit.


"Kamu ... Kamu Abhi Sofyan kan ?" tanya Bu Indah kembali meyakinkan.


Namun ayah hanya diam, tak menjawab meski hanya satu kata.


Alula terkesiap saat tiba-tiba Ibu Indah meraih kedua bahu ayah.


"Jawab, kamu Abhi Sofyan kan ?" Bu Indah nampak mengguncang bahu ayah.


Alula menatap keduanya dengan tatapan bingung, lalu ia melihat Risma keluar dari rumah.

__ADS_1


"Ada apa ini ?" tanya Risma yang juga terlihat kebingungan dengan Bu Indah yang tiba-tiba menjadi histeris.


Alula menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia benar-benar tidak tahu apapun.


Dan ia semakin terkesiap, saat melihat Ibu Indah duduk bersimpuh dibawah kaki ayah sambil berteriak,


"DIMANA INDIRA ?" teriak Bu Indah disusul cairan bening yang meluruh dari pelupuk matanya.


"Ibu, tolong jangan seperti ini." pinta Alula seraya menuntun Ibu Indah untuk berdiri.


Untung saja tidak ada anak panti yang bermain diluar rumah. Sehingga mereka tidak melihat keributan yang tengah terjadi sekarang.


"Ibu, ayo bangun. Ayah, ada apa ini ayah ?" Alula bergantian menatap ayah, yang sekarang wajahnya terlihat lebih dingin. Bahkan rahang ayah nampak mengeras, menandakan amarah yang kini melandanya.


Risma menuntun Ibu Indah masuk kedalam rumah, disusul Alula yang menuntun ayah untuk ikut masuk bersama mereka.


Ayah Abhi duduk di sofa yang berada diruang tamu bersama Bu Indah yang baru saja terlihat tenang, usai Risma memberinya minum.


"Dimana dia Abhi ?" pertanyaan Bu Indah memecah keheningan diantara mereka.


"Ibu .. mengenali Ayah ?" namun justru Alula yang balik bertanya pada Bu Indah.


"Jadi ... Abhi ini adalah ayah kamu ?" Bu Indah menatap tak percaya pada Alula yang berdiri tak jauh darinya bersama Risma.


Alula mengangguk sebagai jawaban. ia melirik ayah Abhi terlihat masih memendam amarah.


"Ya Tuhan ...." pekik Bu Indah, seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan. ia kembali terisak.


"Apa kamu ... anaknya Indira ?" lagi-lagi Alula hanya mengangguk.


Saat itu, Alula datang dengan kondisi yang mengkhawatirkan. matanya terlihat sembab, seperti habis menangis sepanjang malam. Dibeberapa titik wajahnya terdapat luka memar, seperti luka bekas pukulan.


Tak tega rasanya Ibu Indah membiarkan Alula hidup luntang lantung dijalanan. Ia menerima Alula dengan tangan terbuka.


Apalagi saat Alula berkata,


"Ibuku baru saja meninggal, seminggu yang lalu." ada rasa nyeri yang tiba-tiba menyerang hati Bu Indah.


"Luka ini ... ayah tiriku ..." Alula nampak ragu untuk mengatakan penyebab memar diwajahnya ketika Bu Indah bertanya, mengapa wajahnya penuh luka.


Namun yang keluar dari mulutnya justru,


"Aku sedang mencari ayah disini. bolehkah aku menumpang tinggal disini bersama yang lain sampai aku menemukan ayahku ?" ia mengalihkan pembicaraan, tak mau sampai Bu Indah tahu masalah pribadinya.


Dan Bu Indah mengambil kesimpulan bahwa ayah tiri Alula adalah penyebab luka nya itu.


Ibu Indah tersadar dari lamunannya, ia kini mendekat pada Ayah yang masih terdiam.


"Katakan kalau Indira masih hidup Abhi !" seru Bu Indah dengan air mata yang kembali meluruh, ia duduk bersimpuh dibawah kaki ayah.


"Katakan Abhi, katakan!" ulang Bu Indah karena ayah hanya dia saja.


"Kamu melakukan kesalahan, karena telah mengusir adikmu sendiri Laras." suara ayah Abhi terdengar menyeramkan ditelinga Alula. Ayah menatap tajam Bu Indah yang kini terisak dibawah kakinya.


Yah, ia lah Indah Larasati. yang dulu sering dipanggil Laras oleh orang-orang terdekatnya. Rasa cinta yang mendalam pada sang suami, membuatnya tidak mempercayai Indira, adik kandungnya sendiri.


Beberapa kali Indira mengatakan bahwa suami dari kakaknya itu sering sekali merayunya. Namun Laras tak mempercayai apa yang dikatakan adiknya itu. ia lebih percaya pada suaminya.

__ADS_1


Hingga pada suatu hari, Laras melakukan kesalahan besar karena telah mengusir adiknya sendiri. Ia lebih mempercayai sang suami, yang jelas-jelas sering melakukan hal yang tidak terpuji pada adiknya itu.


Masih teringat dengan jelas di pikiran Abhi, hari dimana Indira mendatangi kost tempat tinggalnya, ia menangis terisak-isak didalam pelukannya.


Hatinya begitu terluka, saat sang kakak yang ia hormati setengah mati tidak mempercayainya lagi. ia mengajak Abhi pergi sejauh mungkin, untuk mengobati luka dihatinya, hingga akhirnya mereka menikah dan melupakan semuanya.


"Maafkan aku Abhi." lirih Bu Indah yang kini sudah kembali duduk di atas sofa. Risma yang menuntun Ibu Indah untuk kembali duduk.


"Kata maafmu tidak akan membuat Indira dan putriku hidup kembali Laras." tersirat kekecewaan dan kepedihan dari tatapan mata ayah.


Alula mengusap lengan ayah, mencoba memberikan ketenangan. Meski ia sendiri masih dibuat bingung dengan arah pembicaraan ayah dan Bu Indah.


Bu Indah menangis tersedu-sedu mendengar perkataan ayah, rasa bersalahnya semakin besar untuk sang adik. harapannya untuk bertemu kembali dengan Indira kini pupus sudah.


"Ayah?" Alula menatap dalam manik mata hitam milik sang ayah. seolah bertanya, apa hubungan Ibu dengan Bu Indah.


Ayah nampak menarik napas dalam sebelum berkata,


"Dia ... adalah kakak kandung ibumu Lula." ucap ayah Abhi dengan enggan.


"Juga istri dari orang yang telah menghancurkan keluarga kita." lanjut ayah dengan menekankan kata 'istri', dan kembali menatap tajam pada Bu Indah.


Alula terkesiap, mendengar kenyataan yang ayah ucapkan. Jadi, Bu Indah adalah istri dari Paman Leon ? benarkah ?


Ia teringat dengan selembar foto pernikahan didalam dompet Leon. yah benar, foto itu sama dengan foto yang ia lihat dikamar Bu Indah. mengapa ia baru menyadarinya sekarang?


"Ma.. maksud kamu apa Abhi ?" dahi Bu Indah nampak mengkerut. ia memandangi ayah dan Alula yang memasang wajah bingung secara bergantian.


"Leon." lirih ayah.


Satu nama yang kembali membuat hati Bu Indah berdenyut nyeri.


"Jadi, ayah tiri yang Alula maksud itu adalah ... " Bu Indah tak kuasa melanjutkan perkataanya.


"Ya, Leon. suami tercintamu." ayah Abhi tersenyum sinis.


Hancur rasanya hati Bu Indah, saat mengetahui laki-laki yang dicintainya sepenuh hati, melakukan hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


Mengapa Leon sampai hati melakukan itu padanya. menelantarkan dirinya juga anak yang tengah ia kandung, dan memilih hidup pada jalan yang salah.


Dan yang tidak ia sangka, mengapa harus Indira. adik satu-satunya yang telah ia usir hanya karena cinta butanya pada Leon.


"Maafkan Ibu nak," Bu Indah menarik Alula kedalam pelukannya. Alula terdiam, ia masih mencerna informasi yang baru saja ia dengar.


"Dimana dia sekarang Abhi ?" Bu Indah beralih menatap ayah.


"Ditempat yang seharusnya dia berada. mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri."


.


.


.


Happy Reading... 😊


Jangan lupa like and comment nya yess 👍

__ADS_1


__ADS_2