Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Yang benar Saja


__ADS_3

"Kakak, sering kesini juga?" tanya Alula pada Gweny yang kini tengah menatap Mirza penuh damba.


"Eh, engga juga. kebetulan tadi liat kalian dijalan. jadi langsung kesini, ternyata semuanya pada ngumpul disini juga." jawabnya dengan gugup. tanpa sadar ia mengakui bahwa dirinya telah mengikuti mereka sejak dari PuBa tadi.


Seberapa besarkah perasaan Gweny untuk Mirza, sampai ia rela membuntuti Alula dan Mirza kemanapun mereka pergi.


Apa memang Gweny benar-benar begitu penasaran pada sosok perempuan yang kini akrab dengan Mirza.


"Udah akrab aja kalian."ujar Marko ketika ia mendudukan dirinya dipinggir lapangan. Pertandingan telah usai beberapa menit yang lalu. namun Mirza masih berada ditengah lapangan, saling bertukar canda dengan para pemain yang lain.


Gweny hanya tersenyum canggung lalu menghela napasnya. sedangkan Alula hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"Neng peri, masih belum ingat juga sama abang?" tanya Marko dengan mata memelas, berharap Alula mengingat pertemuan mereka.


Ingin sekali Gweny memuntahkan seluruh isi perutnya mendengar pernyataan Marko yang terdengar begitu menggelikan.


"Iya, aku ingat." ucap Alula pelan, namun Marko yang mendengarnya begitu bersemangat.


"Benarkah, dimana coba?" tanya Marko seperti tengah menguji ingatan Alula.


"Pasti dipinggir jalan lagi bawa botol akua." Mirza tiba-tiba saja sudah berada diantara mereka. ia duduk di samping Alula yang kini tengah tertunduk mencoba mengingat pertemuannya dengan Marko si buaya yang selalu ditolak. aneh memang.


"Lu pikir gue kang dagang cangcimen."sergah Marko tak terima.


"Mantan." jawab Mirza dengan santai.


"Sialan." gerutunya.


"Diluar hujan, kita tunggu reda dulu. baru pulang." Ujar Mirza pada Alula.


Mirza tidak sedikitpun berniat menyapa Gweny, bahkan ia hanya melirik sekilas, seperti biasa nampak dingin dan acuh. seakan tidak pernah melihat keberadaan Gweny disana.


"Iya neng peri, jangan hujan-hujanan. biar abang Marko nanti yang anterin."


"Abang dia cuma gue!" sergah Mirza.


Namun Marko tak mendengar perkataan Mirza.


"Diluar pasti dingin, beruang kutub aja kayaknya lagi pada selimutan."


"ba cot lu." ucap Martin ketika mendengar perkataan Marko. membuat semua tak bisa menahan tawa. tak terkecuali Alula yang terkekeh pelan mendengar lelucon Marko.


"Eh neng peri bisa senyum juga, makin cantik aja."Ucap Marko dengan mata berbinar, membuat semua ingin muntah melihatnya.


"Balik yuk!" seru Martin.


"Hujan elah." elak Marko "Lu mau gue berubah jadi duyung ?"


"Sejak kapan duyung bentukannya kek gini." Martin menunjuk tepat didahi Marko.


"Eh Gwen, dari tadi?" tanya Martin basa-basi. padahal ia tau, sejak dari tadi Gweny sudah berada disana.


"Iya." Jawab Gweny singkat. "Kayaknya hujannya udah reda, aku duluan ya." ucapnya kemudian, Gweny beranjak dari tempat duduknya hendak pergi.

__ADS_1


"Gwen," panggil Martin.


Seketika Gweny menoleh kearahnya "Mau dianterin?" tawarnya.


Gweny menggelengkan kepalanya "Aku bawa mobil." ucapnya sambil mengacungkan sebuah kunci.


"Aku duluan semuanya." pamitnya pada yang lain.


"Oke,"


"Sip."


"Hati-hati."


"See you."


Begitu jawaban dari yang lainnya kecuali Mirza yang entah mengapa dari tadi hanya diam.


"Kita pulang sekarang?" tanya Mirza . Alula menoleh kemudian mengangguk sebagai jawaban. entah mengapa berada diantara para pria, dirinya tak bisa berkata-kata.


"Neng peri, pake jaket abang aja biar gak kedinginan." Marko menyodorkan sebuah jaket berwarna cokelat yang tadi dikenakannya.


"Jangan ! dia lagi korengan." sergah Mirza sambil menjauhkan tangan Marko yang menyodorkan jaketnya pada Alula.


"Enak aja lu, kulit mulus kek perosotan anak TK gini lu bilang korengan."


Namun Mirza tak menjawab, ia tengah berusaha memakaikan jaket navy kesayangannya pada Alula.


"Pake ini aja !" serunya.


"Gue duluan ya." pamitnya pada yang lain setelah Alula berhasil memakai jaketnya. tak lupa Mirza merampas jaket Marko yang masih berada digenggamannya.


"Gue sumpahin gatel-gatel lu pake jaket gue !" gerutu Marko sesaat setelah Mirza pergi.


...****************...


Marko dan Martin kini berada didalam mobil, memecah jalanan ibukota disore hari, menjelang malam. mereka memang selalu pergi berdua, karena jarak rumah Marko dan Martin yang berdekatan. sehingga jika salah satu dari mereka membawa kendaraan, maka yang satunya menjadi penumpang.


"Ngomong-ngomong nih. lu pernah ketemu emang sebelumnya sama... "Martin menjeda ucapannya. "Siapa namanya tadi, Alula ?"tanya Martin dibalik kemudi mobil.


"Pernah lah." ucap Marko "Lu pikir gue bohong?"


"Bukan gitu bambang, emang pernah ketemu dimana?" tanyanya penasaran.


"Dirumah si siluman spion, pas waktu acara pengajian itu. inget kan?"


Martin mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kenapa lu tanya-tanya, mau jadi tukang tikung juga? "


"Enak aja lu." sergah Martin sebelum berkata "Gue cuma heran aja. lu liat gak sih tadi, sikapnya si Emir ke Alula tuh beda banget sama sikapnya dia ke Gweny." Ucap Martin dengan mata tetap fokus ke depan.


"Beda gimana?" Dahi Marko mengernyit.

__ADS_1


"Elah, lu udah temenan berapa lama sih sama si Emir?"tanya Martin yang kini kesal, karena ternyata selain dicap buaya darat sahabatnya ini lebih pantas dicap pria kelamaan mikir.


"Gue temenan sama dia?" dahi Marko mengernyit memikirkan sesuatu "kalo ada maunya aja."lanjutnya. membuat sebuah jitakan mendarat didahinya.


"Sakit be go, lu mau gue geger otak dari tadi kena jitakan mulu." ucapnya kesal.


"Serius makanya !" seru Martin.


Marko diam, sesaat pikirannya kembali pada pertemuan pertamanya dengan Alula. bukankah dulu Alula anak yang tinggal dirumah singgah? dulu ia datang sebagai tamu dari salah satu rumah singgah yang Mama Indri undang.


"Mungkin dia cuma kasihan. soalnya dulu si Alula datang bersama anak-anak panti asuhan." ucap Marko yang mendadak memasang wajah serius.


Dahi Martin mengernyit "Terus ko' bisa si Emir bilang dia adeknya?"


"Ya mana gue tahu, lu pikir gue mama loreng."Kini Marko berubah kembali ke wujud semula.


"Lu tuh gak bisa serius dikit napa." Martin kembali kesal.


"Ya mungkin orang tua si Emir yang ngadopsi si neng peri. atau apalah itu bahasanya gue gak paham."


"Gue jadi penasaran, kenapa sikapnya dia bisa beda gitu sama Alula."


"Mungkin juga, dengan kehadiran Alula, si emir jadi ngerasa punya adek lagi. lu gak liat tadi perhatiannya udah kayak Kakak yang me-ne-mukan adek baru." ucap Marko dengan bersungut-sungut, seperti tengah mengeluhkan kekesalannya.


Mobil yang mereka kendarai tiba-tiba saja terhenti di sebuah swalayan, Marko yang memintanya. ia ingin membeli makanan ringan untuk ia bawa kerumah.


Namun saat Marko membuka pintu yang terbuat dari kaca yang cukup tebal itu, ia dikejutkan dengan suara cempreng seorang gadis yang berlari kearahnya.


"Ini Mba, ini pacar aku. dia yang akan membayar semua belanjaan aku. iya kan sayang?" gadis itu menggelayuti tangan Marko begitu manja.


"Apaan sih?"Marko mencoba melepaskan tangannya dari gadis yang kini menempel padanya.


"Tolongin aku, bayarin dulu belanjaan aku sekarang plisss... dompet aku ketinggalan."gadis itu berbisik ditelinganya. sekilas Marko menatap wajah gadis itu, nampak memohon dan penuh pengharapan.


Marko tak tega melihat raut wajah gadis yang masih memakai seragam sekolah itu. ia mendekati meja kasir lalu membayar belanjaan si gadis.


"Berapa mbak?" tanyanya pada kasir yang bertugas.


Marko mengambil kantong keresek putih dimeja kasir. dahi Marko mengernyit saat membukanya, "Kiranti ? Hey, apa-apaan ini." batinnya merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.


Dahinya semakin berlipat saat ia menemukan sesuatu disana,


"Pembalut? yang benar saja!" matanya hampir keluar melihat bungkusan disalam kantong plastik.


.


.


.


Happy readding.. 😊


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankankannya. 🙏

__ADS_1


Tetap jaga kesehatan oke.. 👍


Jangan lupa tinggalkan jejak....


__ADS_2