Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Bayangannya


__ADS_3

Oxford University, dikenal dengan universitas paling tua di Inggris. tempat dimana Mirza menghabiskan waktunya selama satu tahun terakhir disana.


Seharusnya ia sudah kembali ke Indonesia, namun entah mengapa ia memilih untuk tinggal beberapa hari disana.


Mirza duduk diatas bangku didekat tembok pembatas, ia memainkan kamera digital yang kini dalam genggaman. ia mendongak, menatap nanar bangunan megah yang berdiri kokoh dihadapannya.


Bangunan bergaya Victoria yang mampu menarik jutaan mata untuk menjadikannya sebagai tempat wisata ataupun tempat berswafoto. Bentuk bangunan juga eksistensi kampus Oxford menjadi daya tarik para wisatawan yang datang kesana. Bahkan, universitas Oxford juga dikenal sebagai lokasi syuting film Harry Potter.


Seperti halnya para wisatawan lain, hari ini Mirza yang telah menyelesaikan S2 nya selama satu tahun. Memilih untuk menghabiskan waktu disana, sebelum beberapa hari ke depan ia akan kembali ke Indonesia. menyusul Mama Indri, Pa Sanjaya, juga Gweny yang telah kembali sejak kemarin, usai dilaksanakannya acara wisuda.


Mirza memfokuskan lensa kameranya pada objek yang menarik perhatian. Perpustakaan paling besar di Britania Raya, perpustakaan dengan koleksi buku lebih dari 11 juta eksemplar itu kini menjadi objek bidikan kameranya.


Mirza kembali memfokuskan kameranya pada sudut-sudut bangunan lain yang menarik perhatiannya. Saat ia tengah melihat hasil bidikannya, seseorang datang menepuk bahu Mirza.


"Bro, belum balik?" tanya seseorang itu.


Ia adalah Niko, satu-satunya teman satu fakultas Mirza yang juga berkewarganegaraan Indonesia. Mirza hanya melirik sekilas pada Niko lalu tersenyum getir.


"Kenapa ? Betah disini ?" tanya Niko sambil mendudukkan diri disamping Mirza.


"Lah, lu sendiri kenapa belum balik gue tanya ?" Mirza mendengus kesal.


"Orang tua gue kan sekarang tinggal disini, lupa lu ?"


Mirza tak acuh, ia kembali sibuk mengotak-atik kamera ditangannya, menangkap satu persatu objek yang terlihat menarik.


"Buy the way, cewek yang kemaren dateng sama orang tua lu siapa ? cantik juga." puji Niko pada Gweny, yang pada saat acara wisuda kemarin memakai gaun brokat berwarna biru pastel dengan motif renda di bagian dada. sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih dan rambut yang tergerai. Gweny terlihat lebih anggun dan lebih cantik dari sebelumnya.


"Tunangan gue." jawab Mirza dengan malas. entah mengapa ia seolah enggan memperkenalkan Gweny sebagai tunjangannya.


"WHAT," Niko terkejut, matanya nampak membeliak.


"Are you serious ?" Niko tertawa, lalu meninju pelan lengan Mirza.


"Hmmm," jawab Mirza yang hanya melirik dengan sekilas.


"Pantesan aja lu dingin banget sama cewek-cewek sini, tunangan lu cakep gitu." ujar Niko sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Udah dari orok sifat gue kayak gitu." elak Mirza.

__ADS_1


"Lu dari orok udah dingin ? Kasian dong emak lu gendong kulkas tiap malem."


"Breng sek." maki Mirza, namun ia dan Niko tergelak bersama.


"Gue tunggu di Jakarta Bro," ujar Mirza pada Niko yang masih tertawa.


"Entar kalo elu nikah gue dateng."


Mirza tersenyum dengan malas, entah mengapa ia merasa tak tertarik mendengar kata pernikahan. Karena seperti yang ia tahu, Pa Sanjaya sudah merencanakan pernikahan dirinya dengan Gweny, setelah ia menyelesaikan pendidikannya. Dan ia rasa, waktunya akan semakin dekat.


Mirza dan Niko masih menikmati suasana ramainya wisatawan disekitar mereka, ketika tiba-tiba dering telepon mengalihkan perhatian keduanya.


"Nyokap," ujar Niko saat melihat nama kontak dilayar handphone nya. Niko mengangkat panggilan itu, sedangkan Mirza kembali memfokuskan lensa kameranya.


Mirza terpana saat melihat pemandangan didepan sana, seorang perempuan dengan rambut panjang tergerai, tengah tersenyum lembut padanya. Senyuman itu membuat Mirza terdiam. Ia merindukannya, perempuan cantik dengan mata sendu itu kini melambaikan tangannya.


Mirza ingin bangkit, dan berlari kearah perempuan itu. merengkuhnya dengan erat, tak ingin melepaskannya begitu saja. Namun tubuhnya tertahan, kakinya terasa berat untuk melangkah.


Hingga sebuah tepukan di bahu membuatnya tersadar, bahwa itu semua hanya angan-angan.


"Gue balik duluan, nyokap manggil." ujar Niko setelah ia menepuk bahu Mirza.


...****************...


Mirza kini berjalan diatas jembatan Magdalen yang membentang diatas sungai Cherwell. Suasana siang menjelang sore itu masih terlihat ramai, namun entah mengapa hatinya tetap merasa sepi.


Banyak dari beberapa wisatawan yang memilih bersepeda saat mengelilingi tempat-tempat yang menyuguhkan pemandangan indah disekitar jembatan Magdalen.


Ada juga yang berjalan bersama tour guide dan fotografer profesional untuk mengambil beberapa foto saat mereka berhenti di tempat yang menarik. Namun ada pula yang berjalan berdampingan saling bergandengan tangan, membuat Mirza tersenyum getir saat melihatnya.


Selain itu, terlihat pula wisatawan yang tengah naik perahu dibawah jembatan Magdalen, menikmati indahnya sungai Cherwell di sore hari. Mirza berdiri ditepian pembatas jembatan, memandangi beberapa perahu kecil yang tidak beroperasi dibawah sana. menatap dedaunan yang berjatuhan di musim gugur.


Mirza bersiap mengambil gambar dari kamera ditangannya. Ia mulai memfokuskan lensa kameranya pada jejeran perahu kecil dibawah sana, lagi-lagi ia terpana saat melihat sosok perempuan tengah duduk diatas perahu sambil tersenyum kearahnya.


Mirza terdiam, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, mengenyahkan bayangan perempuan yang selama ini ia coba lupakan.


"La, harus dengan cara apalagi aku melupakanmu." lirih Mirza.


Mata sendunya menatap langit sore di atas jembatan Magdalen. melukiskan wajah cantik yang selama ini menganggu pikirannya. Mirza menghirup napas dalam-dalam, ia menyerah.

__ADS_1


Ia pergi menjauh untuk menenangkan diri, namun ia justru terikat dengan bayangannya sendiri.


"Bantu aku melupakanmu La."


"Satu tahun terasa begitu cepat berlalu, namun melupakanmu terasa begitu lambat bagiku."


Mirza kembali ke tempat tinggalnya selama menimba ilmu di sana. ia merapikan satu persatu barang-barang miliknya. Besok, ia akan kembali ke tanah air. memulai hubungannya kembali bersama orang yang belum bisa ia terima kehadirannya, Gweny.


Mirza masih mengingat pembicaraannya dengan Mama Indri, sebelum ia berangkat ke Inggris malam itu.


"Apa kamu pergi buat menghindar dari Gweny, Mir ?" tanya Mama Indri saat ia tengah mengecek ulang barang-barangnya.


"Mama ini ngomong apa sih." elak Mirza.


"Mir, kalau kamu terpaksa menerima perjodohan ini, Mama akan bicara sama Papa buat membatalkannya."


"Ma, Emir cuma butuh waktu." Mirza duduk disamping Mama Indri yang saat itu tengah duduk ditepian ranjang.


"Emir tahu, Papa punya hutang nyawa sama Om Handoko. karena Om Handoko pernah menolong Papa yang hampir meninggal karena kekurangan darah waktu itu, iya kan Ma ?"


"Emir akan berusaha untuk menjaga Gweny, demi menunaikan janji Papa sama Om Handoko." ujar Mirza, lalu ia tersenyum pada Mama Indri yang memandang haru pada putera satu-satunya itu.


"Kamu ... yakin ?" tanya Mama Indri yang masih merasa ragu.


Mirza mengangguk "Emir cuma butuh waktu."


Dan waktu yang Mirza butuhkan, ternyata tidak semudah yang ia ucapkan. karena sampai saat inipun ia masih belum bisa melupakan perasaannya kepada perempuan yang sudah ia cintai selama belasan tahun.


.


.


.


Happy Reading.. 😊


Mohon maaf sekali untuk semua readers, karena otor lama sekali upnya 😭 semoga readers semua dalam keadaan sehat 🙏


Terima kasih untuk yang masih setia menunggu bang Emir pulang dari pertapaan. 😍

__ADS_1


__ADS_2