
Balakangan ini, Mirza merasa ada sesuatu yang aneh. entah mengapa, ia merasa tengah di awasi seseorang. pernah suatu hari ia pulang dari kampus, hendak pulang kerumah setelah sebelumnya mampir ke endorsemart untuk membeli pesanan Mama Indri. tiba-tiba saja ban motornya kempes, padahal dari kampus keadaan motornya baik-baik saja.
Pernah lagi, ketika Marko dan Martin mengajaknya bermain basket. ia pulang saat malam hari, sendirian. ia melewati jalan sepi -tempatnya menemukan Alula- ia diserempet motor lain dari arah belakang oleh orang tak dikenal. untung saja, ia bisa mengendalikan motornya dengan baik. jika tidak, mungkin saja Mirza akan jatuh tersungkur bersama sepeda motornya.
Sebenarnya sudah lama, sejak mereka pulang dari Bogor waktu itu. Mirza selalu marasa ada yang mengikuti. namun ia selalu menampik dan berpikir positif. mungkin saja kejadian akhir-akhir ini hanyalah sebuah kebetulan. tapi, ia tetaplah harus waspada. bukankah sesuatu bisa saja terjadi, kapanpun, dimanapun. tanpa kita duga.
Seketika ia teringat kembali, percakapannya dengan Martin dikamarnya ketika masih berada diVilla.
"Sebenarnya mereka punya masalah apa sih Mir, ko' gue jadi ikut terharu melihat mereka nangis pas dimakam." ujar Martin yang tengah duduk dijendela kamar, manatap nanar ribuan bintang dalam gelapnya malam.
"Gue juga gak tahu pasti sih," Mirza yang tengah merebahkan tubuhnya dikasur tiba-tiba saja terduduk. sementara Marko, sejak tadi ia tengah berada di dapur mengambil cemilan didalam kulkas.
"Tapi yang gue dengar, Ibunya Alula nikah lagi sama orang lain. dan dia sering diperlakukan buruk sama bokap tirinya." terangnya lagi.
Martin mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti.
"Elu liat gak sih orang yang berdiri dibawah pohon beringin tadi? gue curiga, dia lagi mata-matain kita."
Mirza terdiam, saat menolong Alula waktu itu, ia memang tidak melihat secara jelas wajah pria itu seperti apa. karena pencahayaan yang temaram, juga guyuran air hujan yang deras membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas. tapi, dari postur tubuh, pria yang berdiri dibawah pohon itu, sama seperti pria yang dulu ia pukuli saat menolong Alula.
"Sepertinya kita harus hati-hati Mir, terlebih Alula. takutnya itu emang bokap tirinya sih." Mirza termenung, benar apa yang dikatakan Martin. terlebih ia tahu, malam itu, Ayah tiri Alula berhasil melarikan diri.
Saat mereka masih berbincang, Ayah Abhi yang saat itu hendak pergi ke dapur untuk mengambil minum, tiba-tiba masuk, kemudian berkata.
"Kalian jangan khawatir, do'akan saja semua baik-baik saja." ucap Ayah Abhi sambil tersenyum, merasa tenang karena Alula dikelilingi oleh orang-orang baik.
Suara dering telepon meleburkan lamunannya, Mirza saat ini tengah berada dibengkel, memperbaiki motornya yang tiba-tiba saja mati.
"Abang dimana?" suara Alula diseberang telepon.
"Duh, lagi dibengkel nih. Lu masih lama kan dek?" tanya Mirza.
Siang tadi, Alula meminta izin padanya akan pergi kerumah Marsha, bertemu dengan Bunda Iren sekaligus mengerjakan tugas Fisikanya. ya, duduk dibangku kelas XII nyatanya membuat nya sedikit kewalahan. karena setiap hari ia harus dihadapi dengan soal, latihan, dan tugas. belum lagi hapalan yang membuatnya otaknya terasa penat. membuatnya mau tak mau harus meminta izin pada Bu Nuning untuk memberinya waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya dilain hari.
"Aku sebentar lagi pulang. kalau abang masih lama, aku naik ojek aja yah." ucapnya sambil melirik jam dipergelangan tangannya.
"Yaudah, tapi Lu hati-hati ya dek! langsung pulang, inget." entah mengapa Mirza menjadi khawatir jika sesuatu akan terjadi pada Alula. setelah mengiyakan, Alula menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Abang gak bisa jemput." ucap Alula pada Marsha yang sejak tadi menunggu sebuah jawaban. ia menghela napas, itu artinya ia harus memberanikan diri pulang sendirian.
"Diantar Dito saja gimana?" tawar Bunda yang kini menatapnya lekat. seolah tidak mengizinkannya pulang sendirian.
"Apa tidak merepotkan Bunda?" Alula merasa sungkan, karena ia tidak sedekat itu dengan Dito.
"Abang mah pasti seneng lah bisa anterin kamu pulang, iya kan bang?"
Dito yang saat itu hendak kembali ke kamar menoleh,
"Kenapa?" tanyanya dengan dahi mengernyit.
"Abang mau kan anterin Alula pulang?" tanya Marsha dengan nada menggoda.
"Boleh." jawab Dito dengan cepat.
Dan saat ini mereka tengah berada diatas motor, membelah macetnya jalanan ibukota. ada yang berbeda dengan apa yang dirasakan Alula, ia yang biasanya duduk berboncengan dengan Mirza, kini duduk dengan orang lain. terasa tidak nyaman, namun ia berusaha biasa saja.
"Mau ikut aku sebentar gak?" ini bukan pertanyaan, namun sebuah keharusan. karena mau tak mau ia harus ikut kemanapun Dito pergi.
"Mau kemana?" tanyanya penasaran.
Dito menghentikan motornya diarea parkir sebuah taman, terasa tidak asing. Alula pikir sepertinya ia pernah mengunjungi taman ini.
"Ikutin aku!" seru Dito saat mereka turun dari motornya.
Alula mengekori Dito yang berjalan didepannya. mereka berjalan melewati beberapa bangku taman, pohon-pohon yang rindang hingga terasa menyejukkan. hingga akhirnya ia dikejutkan dengan dua orang yang berteriak memanggil namanya.
"Kak Lulaaaa.. " teriak dua orang anak perempuan dengan suara yang hampir memekakkan telinganya.
Alula menoleh pada asal suara yang ternyata.
"Jeni.. Tata.."
"Kak Lula.. " riang Jeni dan Tata melihat kedatangan Alula.
"Bang Dodit.. " Jeni dan Tata menyapa Dito. membuat Alula menoleh pada Dito dengan dahi yang mengkerut juga tatapan keheranan.
__ADS_1
Jeni dan Tata memeluk Alula dengan erat, sudah 2 tahun berlalu dan mereka tidak pernah sekalipun bertemu.
"Kita kangen Kakak." lirih Tata dengan derai air mata, pun dengan Jeni yang sekarang bahkan tengah sesegukan.
"Kakak juga kangen kalian." Alula mengusap punggung kedua anak perempuan yang kini memeluknya erat.
"Bang Dodit kenapa lama sekali bawa Kak Lula kesini?"
"Jadi, Bang Dodit yang dimaksud Jeni dan Tata waktu itu Bang Dito?" Alula menatap tak percaya.
Dito menggaruk tengkuknya sambil mengangguk
"Maaf.. maaf. Bang Dodit baru punya kesempatan hari ini."
"Aku pernah liat kamu disini, waktu nyanyi bareng mereka. makanya pas kamu masuk ke PuBa aku ngerasa gak asing." tutur Dito menjelaskan.
"Aku bilang ke mereka kalo aku tahu kamu dimana. tapi aku belum punya kesempatan, buat ngajak kamu ketemuan sama mereka. kamu tiap hari diantar jemput sama abangmu."
Mereka pun menghabiskan waktu dengan bertukar cerita, Alula menceritakan bahwa ia telah kembali bertemu dengan ayahnya, sekolah ditempat yang sama dengan Risma, juga pekerjaanya. tak lupa, ia pun bertanya pada Jeni dan Tata dari mulai kabar Bu Indah yang ingin sekali Alula temui, kabar anak-anak diPanti, juga keseharian mereka disana. informasi yang tidak pernah ia terima dari Risma. ah iya, jika saja Risma tahu mereka telah bertemu, mungkinkah ia akan marah pada anak-anak ini. semoga saja tidak.
Waktu hampir menunjukkan pukul 3 sore, Alulapun mengajak Dito untuk mengantarkannya pulang, bukannya ia tidak ingin berlama-lama dengan Jeni dan Tata, tapi ia takut, orang rumah akan mengkhawatirkannya.
Dan, kekhawatirannya ternyata benar adanya, setelah sampai dihalaman rumah, ia disambut dengan wajah muram Mirza yang menatapnya dengan tajam, seolah melihatnya tengah melakukan kesalahan. sungguh menakutkan. ini pertama kalinya ia melihat wajah Mirza yang dingin seperti itu.
"Abang.. maaf aku telat." ucapnya dengan menunduk, tak berani menatap wajah Mirza. namun Mirza tak menjawab, lebih memilih masuk kedalam rumah meninggalkan Alula dan Dito yang masih duduk diatas jok motor.
Alula hendak mengikuti Mirza, namun ia tersadar, Dito masih menunggunya. ia menoleh pada Dito,
Dito tersenyum kearahnya "Aku duluan." ucap Dito sambil berlalu, melajukan sepeda motornya keluar halaman. karena ia merasa bukan saat yang tepat untuknya mampir kedalam rumah.
.
.
.Happy reading gaess.. 😊
terima kasih banyak atas suport dari teman-teman readers semua. tetap ikutin cerita Dedek Lula sama Abang kesayangan yah... 😁
__ADS_1
jangan lupa like and comment nya....