
Yang terjadi sebelumnya ...
"Nah itu pasti Papa yang dateng." Mama Indri dan Mirza yang sedang duduk di meja makan berjalan ke arah pintu utama.
"Assalamualaikum Mama sayang." sapa Pa Sanjaya dibalik pintu dengan senyum merekahnya.
"Wa'alaikumsalam. " jawab Mama Indri dan Mirza bersamaan. ia mencium tangan sang suami bergantian dengan Mirza.
"Kamu sakit Mir? pucet gitu muka nya." sang Papa menempelkan punggung tangannya di kening Mirza.
"Demam dikit Pa, abis ujan-ujanan." jawabnya sambil menggaruk-garuk kepalanya meskipun tidak terasa gatal. karena ia takut jika sang Papa memarahinya. bukan perihal hujan-hujanannya, tapi perihal ia membawa seseorang pulang bersamanya.
"Iya, ini si bujang ujan-ujanan tengah malem, udah gitu pulang-pulang bawa gadis lagi."ketus Mama Indri pada sang anak dengan melipat tangannya didada.
"Bawa gadis?" Pa Sanjaya membulatkan matanya meminta penjelasan.
"Ih jangan marah dulu Pa !" pintanya "Ma, jelasinnya jangan setengah-setengah napa! " rengeknya pada sang mama.
Mama Indri tersenyum melihat wajah anaknya yang terlihat memelas, begitu menggemaskan.
"Dia abis nolongin gadis Pa. untung dia cantik, mau deh Mama jadiin mantu." ucap Mama Indri dengan senyum jahilnya.
"Paan sih Ma. kuliah baru masuk juga udah ngomongin mantu." sergahnya.
"Cirian heula Emir !"
"Gak ngerti deh Mama ngomong apaan sih."
"Iyaa maksudnya diceklist dulu itu gadis buat jadi calon mantu." Mama Indri mengedip-ngedipkan matanya meminta persetujuan.
"Terserah deh. Mama suka aneh kalo kangen sama Papa."
"Dihh dia ngeles."
"Udah-udah kalian ini. Papa baru pulang ko disambut keributan." Pa Sanjaya melerai perdebatan ibu dan anak itu.
Tak lama Pa Abhi supir pribadi Pa Sanjaya menghampiri mereka dengan membawa beberapa barang milik tuannya.
"Seneng nya Pa, diajakin jalan terus sama suami saya." sindir mama Indri pada sang supir. bagaimana tidak, setiap hari Pa Abhi selalu menemani Pa Sanjaya kemanapun ia pergi. termasuk jika ada kepentingan ke luar kota. dibanding dirumah, Pa Sanjaya lebih sering berada diluar karena kesibukannya mengurus perusahaan.
"Iya dong Bu, kapan lagi diajakin jalan-jalan sama Bapak." Pa Abhi memanas-manasi Mama Indri yang sedang cemburu, atau lebih tepatnya iri karena sang suami lebih sering berada diluar.
"Seneng yah jadi yang kedua?" ketusnya. dengan mata yang mendelik tajam.
__ADS_1
"Yah gimana lagi bu, Bapak lebih nyaman pergi sama saya dibanding Ibu." Pa Abhi tak henti menggoda istri majikannya itu.
"Iihhhh Papa jahat..! " rengeknya pada sang suami sambil memukul pelan lengan sang suami.
Kebaikan keluarga Sanjaya memang membuat mereka dekat dengan siapapun.sifat mereka yang ramah selalu menghadirkan kehangatan didalam rumah. meskipun itu dengan supir atau dengan asisten rumah tangga sekalipun. kedekatan itu membuat para pekerja dirumahnya tak sungkan untuk sekedar berbagi candaan. Yah, mereka selalu menganggap para perkerja mereka sebagai saudara.
"Ini lagi, dateng-dateng bikin ribut juga." Pa Sanjaya mengomel pada Pa Abhi yang tak henti menggoda sang istri.
Pa Abhi hanya tersenyum menanggapi ucapan dari majikannya.
"Ini barangnya Pak, mau ditaruh dimana?" tanya pak Abhi dengan menunjuk koper dan paper bag ditangannya.
"Taruh di situ saja gak apa-apa pak!" Pa Sanjaya menunjuk salah satu sudut ruangan. "biar nanti bibi yang beresin." lanjutnya.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang harus saya kerjakan, setelah ini saya permisi mau menyimpan kunci mobil Pa."
Setelah mengiyakan, Pa Abhi hendak pergi ketempat penyimpanan kunci. namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara yang tak asing ditelinganya. suara salah seorang yang ia rindukan.
"Ayah.. " lirihnya.
Semua mata tertuju pada asal suara itu. Mama Indri dan Mirza yang tau kejadiannya terlihat terkejut mendengar suara itu. Ayah? siapa yang dipanggilnya ayah? pikir mereka.
Sedangkan Pa Sanjaya terlihat mengerutkan dahi, siapa dia? mereka melihat seorang gadis cantik berdiri diambang pintu. Pa Abhi lebih terkejut, ia membulatkan matanya, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. tubuhnya mematung ditempatnya. sorot matanya berubah sendu ketika ia menyadari anak gadisnya berdiri disana.
Suasana diruangan itu mendadak hening. sedang sepasang anak dan ayah itu berhamburan saling memeluk. menumpahkan kerinduan yang telah tertumpu begitu lama. bagaimana tidak, jarak dan waktu membuat mereka terpisah bertahun-tahun.
Semua mata memperhatikan pertemuan itu dengan penuh haru, Mama Indri tidak menyangka, jika sosok ayah yang gadis itu cari adalah Pa Abhi, supir pribadi suaminya.
Ia menyeka air matanya yang tiba-tiba saja meluncur sangat deras. orang tua mana yang senang berjauhan dengan buah hatinya. sesak, itulah pasti yang dirasakan pak Abhi ketika kembali bertemu dengan putrinya.
Tak terkecuali Mirza, pun dengan pak Sanjaya mereka menatap penuh kehangatan, betapa ayah dan anak itu saling melepaskan perasaan masing-masing.
Lama mereka saling melepaskan rindu, tiba-tiba saja Alula jatuh tak sadarkan diri. wajah cantiknya begitu pucat. tubuhnya lemas tak berdaya. Pa Abhi panik, melihat putrinya yang tiba-tiba pingsan.
"Bawa saja ke kamar lagi Pa ! Dokter Iwan sedang dalam perjalanan kesini ko." Mama Indri menenangkan Pa Abhi yang terlihat panik.
Setelah mengiyakan, mereka membawa Alula ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya diatas kasur. Dokter Iwan yang baru saja datang, langsung diarahkan ke kamar tamu.
Setelah selesai memeriksa Alula, Dokter Iwan menutup pintu kamar dan kembali ke ruang tamu.
"Dia hanya kelelahan." Dokter Iwan menjawab tatapan semua orang yang seolah sedang menanyakan keadaan Alula.
" Saya sudah memasangkan infus, gadis itu kekurangan banyak cairan." Dokter Iwan memaparkan hasil memeriksannya.
__ADS_1
Pa Abhi merasa lega, mendengar penuturan Dokter Iwan.
"Sebenarnya siapa dia Ndri? " Dokter Iwan, Dokter keluarga Sanjaya dan juga adalah teman semasa sekolah Mama Indri merasa tidak pernah melihat orang yang baru saja diperiksanya.
"Dia anak saya Dok." Pa Abhi menjawab dengan pelan.
"Maaf sebelumnya, Apa sudah terjadi sesuatu?" tanyanya kemudian.
"Saya baru bertemu dengannya setelah bertahun-tahun, saya tidak tau apa saja yang sudah dia lalui." terdengar nada sedih dari suara Pa Abhi.
"Memangnya ada apa Wan?" Mama Indri tidak tahan untuk bertanya.
"Ini hanya prediksi aku aja sih Ndri, tapi sepertinya anak itu sangat ketakutan, bahkan saat matanya terpejampun tubuhnya gemeratan." tuturnya.
"Tapi jangan khawatir, kondisinya baik-baik saja Pa . kita lihat saja nanti setelah dia sadar." Dokter Iwan menepuk pelan pundak Pa Abhi. ia mencoba menenangkan.
Setelah memeriksa Alula, Dokter Iwan diminta memeriksa Mirza yang juga sedang demam. pemuda itu mengeluhkan pusing dikepalanya. tak lama setelah memeriksa Mirza, terdengar teriakan dari arah kamar. 'ayah' suara teriakannya begitu histeris.
Semua orang teralihkan pada teriakan Alula, tak terkecuali Pa Abhi yang dengan sigap berlari menghampiri anaknya didalam kamar.
Entah apa yang dibicarakan mereka, suara yang terdengar dibalik pintu kamar begitu pilu dan menyakitkan.karena khawatir melihat kondisi anaknya, Dokter Iwan diminta kembali masuk dan memeriksa Alula.
"Saya rasa Alula mengalami trauma. sebenarnya apa yang sudah terjadi sebelumnya? kenapa dia terlihat begitu tertekan?" Dokter Iwan dan Pa Abhi yang sudah menenangkan Alula kembali ke ruang tamu.
Mirza angkat bicara, ia menceritakan bagaimana pertemuannya dengan gadis itu, kejadian semalam ketika gadis itu diseret-seret oleh seorang pria di tempat yang sepi saat tengah malam dan dalam keadaan hujan deras. meski Mirza berhasil menyelamatkannya, mungkinkah hal itu yang memacu Alula mengalami trauma ?
Pa Abhi yang mendengar kabar itu langsung terlihat syok.
ia tidak mengetahui apa saja yang sudah keluarganya lewati tanpanya beberapa tahun ini. ia merasa telah gagal menjadi seorang kepala keluarga.
Rasa kecewa dan juga keegoisannya dimasa lalu telah membawa kehancuran dalam rumah tangganya. ia tidak bisa menjaga istri dan anak-anak nya dengan baik. sekali lagi, hatinya hancur mendapati kenyataan yang begitu menyakitkan.
"Yang tabah ya Pa ! Alula membutuhkan suport dari orang-orang terdekatnya. perlahan rasa takutnya akan hilang. insyaalloh semua akan baik-baik saja." Dokter Iwan menepuk pelan bahu Pa Abhi.
.
.
.
Happy readding mentemen... ☺
Jangan lupa Like dan komentar nya yahhh... 🤗
__ADS_1