
Melihat keceriaan anak-anak di rumah singgah, hati Alula semakin menghangat. setidaknya disini ia menemukan ketenangan yang sudah lama tidak ia temukan. semakin hari Alula semakin dekat dengan anak-anak yang lain terlebih Jeni dan Tata, dua anak yang seperti kembar tapi ternyata tidak itu selalu mengingatkan Alula pada sahabat kecilnya, Marsha. ia memang lebih dekat dengan Marsha dari pada adiknya Dwi.
Keusilan Tata selalu mengingatkannya pada Marsha dan Jeni layaknya dirinya sendiri yang lebih kalem. ia ingat pertemuan terakhirnya dengan Marsha.
"Cukup La ! aku udah gakuat, ni kaki udah lembek siga (kaya) tahu.." dengan nafas ngos-ngosan Marsha memunduk memegang lututnya. kala itu mereka sedang berlari menghindari omelan Pa Tatang pemilik pohon Jambu.
"Kamu sih, udah tau punya orang masih diambil". gerutu Alula pada Marsha.
"Hahaa abis aku suka liat muka keselnya Pa Tatang, lucu. liat gak tadi kumisnya kaya kumis lele dumboooo". Marsha tidak bisa menghentikan tawanya mengingat ekspresi pemilik pohon Jambu yang dicurinya tadi.
"Emang lele punya kumis ya Sa?" tanya Alula dengan wajah polosnya.
"Noh empang, kamu nyebur terus tangkep lele ! perhatiin deh baik-baik" ucap Marsha sambil menunjuk empang yang tak jauh dari mereka.
"Ish apaan sih Sa" Alula mencebikan bibirnya.
Tidak ada hari tanpa Alula, begitu juga tidak ada hari tanpa Marsha. mereka berdua bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda tapi tetap dalam satu bentuk. baik Alula maupun Marsha tidak pernah terpisahkan.
Kala itu mereka hendak pulang kerumah masing-masing setelah tragedi pengambilan buah Jambu yang berakhir dengan lari-larian dua anak perempuan itu.
"Lala" panggilan khusus Marsha pada Alula.
"Apa ?"Alula membalikan badannya kearah Marsha, ia tau jika Marsha sudah memanggilnya seperti itu, pasti ada maunya.
"Besok pasar malem yang dilapangan udah dibuka, kita kesana yuk ! kali aja ada promo arumanis beli satu dapet dua, kan bisa ditraktir sama kamu." mata Marsha nampak berbinar membayangkan dirinya makan arumanis dengan harga promo.
"Oke"jawab Alula singkat dengan mengangkat jari jempolnya "tapi pake uang kamu yah."tambahnya.
__ADS_1
"Itusih bukan ditraktir namanya." Alula hanya terkekeh
"Oh iyaa ajak Dwi juga yah nanti kita naik kora-kora."
"Aku gak yakin Dwi mau ikut"adiknya itu memang berbeda. ia lebih pendiam dari pada Alula. ia lebih suka dikamar menyendiri sambil membaca buku atau komik. sedangkan Alula, ia anak periang didepan teman-teman akrabnya. tapi tidak didepan orang yang baru dikenalnya.
"Yaa nanti coba ajak saja" Alula hanya mengangguk.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang, rumah Alula dan Marsha hanya berjarak beberapa meter saja.
Saat tiba dihalaman rumah, Alula melihat sebuah mobil hitam terparkir dihalaman rumahnya, siapa yang bertamu? pikirnya. apa itu ayah ? iya, yang ia tau ayahnya sekarang bekerja sebagai supir pribadi seorang pengusaha kaya di Jakarta. sudah lama ayahnya tidak pulang. ingin segera melepas rindu Alula berlari kedalam rumah dan meninggalkan Marsha di luar sendirian.
"Ayahhh...." teriak Alula saat sudah didalam rumah, ia hendak berhamburan memeluk ayah tercintanya. tapi langkahnya terhenti saat melihat Ibu dan Dwi menangis dengan bersimpuh diatas lantai.
Alula melihat beberapa orang laki-laki bertubuh tinggi besar sedang mengelilingi Ibu dan Dwi, koper dan beberapa tas milik Ibu, Dwi dan juga miliknya disana. Ada apa ini? Apa yang terjadi? pertanyaan yang ingin sekali Alula lontarkan namun ia melihat Ibunya menggelengkan kepala, dan melebarkan tangannya tertanda ia ingin memeluk putri sulungnya itu.
"Cepat bawa mereka !" ucap salah seorang yang Alula yakini adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan kejadian ini.
"Baik" jawab mereka kompak. beberapa dari mereka membawa koper dan tas , dan memasukannya kedalam bagasi mobil, dan beberapa yang lainnya menggiring Alula,Ibu dan Dwi masuk kedalam mobil.
"Hapus air mata kalian. jangan biarkan orang-orang disini berprasangka buruk" ucap Pria itu, pria yang tiba-tiba mengaku menjadi ayah tiri Alula dan Dwi. Ibu menatap kedua putrinya kemudian ia tersenyum seolah menyuruh kedua putrinya melakukan hal yang sama.
Diluar Marsha masih berdiri ditempat awal, tadinya ia juga berniat ikut masuk. tapi ia urungkan dan lebih memilih menunggu Alula mengajaknya, tapi Alula tak juga keluar.
Marsha melihat Alula,Ibu dan Dwi dikawal dua orang berkaos hitam, dan juga celana hitam. nampak seperti seorang penculik dimata Marsha yang masih anak-anak. mereka membawa Alula,Ibu dan Dwi masuk kedalam mobil. dengan reflek Marsha memundurkan langkahnya ia bergidik ketakutan melihat pemandangan ini. mau kemana mereka pikirnya. sama seperti ekspresi Alula tadi, Marsha hanya diam tak sepatah katapun terucap suaranya seakan tercekat ditenggorokan hingga mobil itu pergi dan mulai menjauh dari pandangannya.
Marsha mulai tersadar saat Alula telah pergi, tapi kemana ? kemana mereka akan pergi ?
__ADS_1
"Lalaaa.." teriak Marsha yang melihat mobil itu mulai menjauh.
"Lalaaa kamu mau kemana ? Lalaaa besok kan kita mau ke pasar malam. Lalaa." Marsha tak berhenti berteriak memanggil Alula sambil berlari mengejar mobil itu, namun gagal. mobil itu berlalu begitu cepat.
Didalam mobim Alula memperhatikan sahabatnya itu, ia menangis tanpa tau arti dari tangisan itu apa, apakah ini tangisan sebagai tanda perpisahan ? tapi kenapa ? kenapa ia tidak bisa berbicara apapun. suaranya pun seakan tercekat ditenggorokan.
"Sasa..." ucapnya lirih. satu kata yang berhasil keluar dari mulutnya.
Alula tersadar dari lamunannya saat tiba-tiba seseorang menarik bajunya.
"Ka, Kakaa kenapa sih dari tadi bengoong mulu" ucap Tata yang merasa diabaikan oleh Alula.
"Eh iya, ada apa Ta?"Alula dengan wajah tanpa ekspersinya.
"Udah ah, Kakak ngeselin. kalo ngantuk tidur sana !"artinya.
"Maaf ya Tata, besok janji deh Kakak bakalan ngajarin kamu lagi." Alula menyeringai, sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
"Bener yah ! awas ga ada bengong-bengong lagi." ancamnya.
Alula pun menjawab...
.
.
.
__ADS_1
Aku ga bakalan bengong kalo readers ngasih jempolnya satu aja ! "🙄