
Setelah hari itu, Alula kembali seperti biasa. ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.ia benar-benar mencoba merelakan Mirza dan melupakan perasaannya begitu saja.
Ia tak lagi menjauh, bahkan kini bersikap selayaknya adik untuk Mirza. saat ini ia tengah menemani Mirza mengikuti acara wisudanya.
Alula yang hari ini mengenakan dress berwarna soft pink dengan panjang dibawah lutut terlihat lebih cantik dan lehih segar dari biasanya.
Rambut panjangnya ia ikat sedikit dibagikan atas, lalu sisanya dibiarkan terurai sampai ke punggung, membentuk gaya half up do yang sederhana namun terlihat mewah.
Mirza dibuat tak berkedip saat Alula keluar dari kamarnya, ia terpaku melihat penampilan Alula hari ini.
"She is beautiful." batinnya. dan ia baru menyadarinya.
Bahkan ia hampir saja lupa, bahwa hubungan mereka hanya sebatas adik dan kakak.
Begitupun Alula, ia sempat terkesima saat melihat Mirza yang berdiri menjulang dihadapannya dengan mengenakan setelan jas hitamnya. Mirza terlihat gagah dan jauh lebih dewasa dari biasanya.
Sadar saling memperhatikan, keduanya sama-sama mengalihkan pandangan. bahkan Mirza sampai merutuki dirinya yang hampir saja dibuat khilaf oleh kecantikan Alula.
Dan sepanjang perjalanan menuju gedung tempat dilaksanakannya acara wisuda, Mirza sesekali memandangi Alula yang duduk di bangku belakang bersama Mama Indri melalui rear vission mirror.
Sudut bibirnya melengkung menampakkan senyum. entah mengapa melihat penampilan Alula hari ini membuat dadanya berdebar tak menentu.
Alula pun beberapa kali sempat menoleh pada Mirza yang duduk disamping Pa Sanjaya yang tengah mengemudi. ia tersenyum getir, lalu menghela napas panjang.
Hari ini, ia akan memberikan kesan terbaik untuk Mirza.melakukan apapun yang Mirza mau, dan menemaninya kemanapun ia pergi.
...****************...
Mirza tak menyangka, jika acara wisudanya akan disaksikan langsung oleh kedua orang tuanya. terlebih tak menyangka jika saat ini Alula hadir ditengah meraka.
Ia tak henti menebarkan senyum, ini adalah pencapaian terbaik dihari bahagianya. ia telah menyelesaikan pendidikannya selama tiga setengah tahun, lebih cepat dari yang ia bayangkan.
"Woh dicariin dari tadi, Keman aja lu." Martin dan Marko menghampiri Mirza. hal yang juga tak pernah ia duga, kedua sahabatnya pun menepati janji mereka.
Yah janji bahwa mereka akan menyelesaikan pendidikan secara bersamaan, ternyata berjalan sesuai harapan. setelah sebelumnya mengalami berbagai macam kendala yang luar biasa.
"Foto dulu yuk !" seru Alula sambil mengangkat kamera ditangannya, kamera milik sang Abang yang dengan sengaja dibawanya.
Dan ketiga pria itu berpose dengan gaya formal saat mengenakan baju toga mereka. pose selanjutnya Mirza berdiri dengan gaya cool diantara Martin dan Marko yang bergaya nyeleneh.
Alula tersenyum dibalik kamera, ia membidik gambar berkali-kali karena ulah Marko yang tak pernah serius dalam pengambilan gambar.
"Bang Marko yang bener dong !" bahkan Alula sampai kesal karena gaya Marko yang semakin aneh.
"Bang Martin deketan dikit dong, kalian kok kayak yang musuhan." seru Alula pada Martin yang berdiri berjauhan dengan Mirza.
"Takut gatel gue foto deket dia." ujar Martin sambil melirik Mirza, dan sebuah toyoran mendarat di kepalanya.
"Bang," Alula ingin kembali memprotes namun Mirza memotongnya.
"Bawel amat sih lu dek, cepetan! Gigi gue kering ini lama-lama nyengir mulu." Alula hanya tertawa melihat wajah Mirza yang kesal.
Setelah itu, Alula mengambil gambar Mirza bersama Mama Indri dan juga Pa Sanjaya. Mirza berdiri dengan gagah dan tersenyum dengan bangga diantara kedua orang tuanya.
Garis wajah Mirza yang tegas rupanya diturunkan dari sang Papa, sedangkan senyum manis beserta lesung pipit diturunkan dari Mama Indri. perpaduan yang sempurna.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Marko mengambil kamera dari tangannya, membuatnya menoleh dengan dahi yang mengkerut.
"Ayo neng peri ikut foto juga." seru Marko. dan Alula menghampiri Mirza, ia berdiri disebelah Mirza dan diapit oleh kedua orang tua angkatnya.
Ia tersenyum senang, benar-benar merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya. ia jadi teringat Ayah yang menolak untuk ikut ke acara, terlebih teringat pada Ibu dan Dwi yang telah lama tiada.
Setelah sesi foto keluarga bersama fotografer yang telah pihak kampus sediakan selesai, tiba-tiba Mirza menarik tangannya hingga ia terhuyung dan menubruk tubuh tegap Mirza.
"Kita belum foto berdua." ujar Mirza sambil tersenyum jahil. ia meraih pinggang Alula dan mendekapnya.
Dan momen itupun berhasil diabadikan oleh Marko, sang fotografer amatir.
"Cocok lu berdua, udah jadian aja !" Marko terkekeh sambil meninju lengan Mirza, sementara Alula merasa pipinya mulai memerah menahan malu.
"Tahu, saling suka tapi gak mau terbuka." ada nada kesal yang terdengar dari suara Martin. ia sudah tahu perihal perjodohan Mirza dengan Gweny, tapi ia kesal mengapa Mirza tak menolak. ia tahu jika Mirza hanya akan mempermainkan hati Gweny, tentu ia tidak terima itu.
"Apaan sih lu berdua." elak Mirza.
...****************...
Rentetan acara telah selesai, Pa Sanjaya mengajak Mama Indri untuk pulang lebih dulu. ada pekerjaan penting yang harus ia urus katanya. mereka meninggalkan Mirza dan Alula bersama teman-temannya.
Hari sudah menjelang sore saat Mirza membawa Alula pergi ke suatu tempat, restauran seafood bergaya modern yang berada diatas rooftop sebuah hotel.
Ia sengaja mengajak Alula kesana, ini adalah hari spesial untuknya, dan ia jelas tidak ingin melewatkan hari ini begitu saja.
"Abang ngapain bawa aku kesini ?" tanya Alula saat mereka sampai dilahan parkir hotel.
"Ada restauran bagus dilantai atas, makanannya juga enak. kita kesana." jawab Mirza sambil menggandeng tangan Alula.
"kenapa harus seperti ini." batinnya lirih.
Alula mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Mirza, namun Mirza semakin mengeratkan genggamannya. tak membiarkan Alula menjauh sedikitpun.
Mereka masuk kedalam lift menuju roof top hotel, dimana restauran yang Mirza maksud berada disana.
Benar apa yang dikatakan Mirza, restauran ini tak hanya bagus, tapi juga terlihat romantis.
Disekeliling restauran terpasang lampu kecil berwarna-warni dengan nyala yang kelap-kelip, lampu-lampu berwarna temaram nampak menggantung menerangi setiap meja. juga bunga mawar segar yang bermekaran terdapat disemua sudut, suara penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu cinta begitu mendayu-dayu menambah romantis suasana sore hari. restauran seromantis ini lebih cocok dikunjungi bersama pasangan.
Mirza melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Kita ini makan siang apa makan malam nih ?" seloroh Mirza seraya terkekeh.
Mereka menikmati makanan mereka dengan saling diam, entah mengapa Mirza mendadak gugup dan kehilangan kata-kata, sampai ia tidak tahu harus bicara apa.
Sementara Alula merasakan suasana canggung dengan hati yang bertanya-tanya, mengapa sikap Mirza sedikit berbeda.
"Ehm," Mirza berdehem untuk mengusir keheningan yang beberapa saat lalu menyelimuti mereka.
"Dek," Alula mendongak, mendapati Mirza yang menatapnya dengan lekat. ia kembali menunduk, tatapan Mirza membuatnya salah tingkah.
"Ayo ikut !" seru Mirza dengan tangan menggandeng Alula, Alula mengikutinya dengan dahi yang mengkerut.
Mirza membawa Alula berjalan melewati beberapa meja pengunjung, menuju pagar besi yang menjadi pembatas gedung.
__ADS_1
Mereka berdiri ditepian gedung sambil menikmati suasana senja diatas ketinggian. angin yang berhembus kencang menerpa rambut panjang Alula yang tergerai. Alula terkesiap, saat Mirza menyelipkan anak rambut pada telinganya. bahkan napasnya terasa berhenti saat itu juga.
Mereka saling menatap, namun tak saling bicara. Mirza menatap Alula dengan tatapan yang tak terbaca, membuatnya keheranan akan sikap Mirza.
"Dek, lu pernah gak sih ngerasain jantung lu tiba-tiba berdebar dengan hebat ?" dahi Alula mengernyit tak mengerti.
"Apa lu juga pernah merasa bahagia saat melihat seseorang tertawa?" dahi Alula semakin mengkerut, apa sebenarnya yang abangnya maksud.
Tiba-tiba saja Mirza mendekap tubuh Alula, membuat Alula terkesiap bahkan hampir saja terjatuh jika Mirza tidak menahannya.
Mirza merasakan tubuh Alula yang kaku saat ia peluk, ia semakin mengeratkan pelukannya karena Alula berusaha melepaskannya.
"Biarin dek, biarin dulu kayak gin!" seru Mirza. ia memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang tiba-tiba saja merasuk kedalam hatinya.
Malu rasanya jika dilihat oleh pengunjung yang lain, walupun mereka kini berdiri jauh dari meja pengunjung "Bang," Alula memprotes, namun Mirza tak sedikitpun bergeming.
Dan ucapan Mirza selanjutnya membuat Alula terpaku.
"Tolong bantu aku untuk mengartikan perasaan ini dek." bahkan Mirza sampai tak sadar menyebut dirinya sebagai aku.
"Mungkin benar apa yang Marko dan Martin bilang. aku gak peka, aku terlalu bodoh untuk bisa menyadari perasaan sendiri."
Mirza melepaskan pelukannya, ia meraup wajah Alula dengan kedua tangannya. matanya lekat memandangi wajah putih bersih yang kini bersemu karena pelukan yang Mirza berikan.
"Dek, aku gak tahu sebenarnya perasaan apa ini, tapi aku merasa nyaman saat berada di samping lu."
"Gue takut kehilangan elu, saat lu jauhin gue dek."
"Dek ... jangan menjauh lagi ! gue gak suka. jangan jalan bareng cowok lain lagi, hati gue sakit lihat lu jalan bareng cowok lain."
"Gue ngerasa jadi orang be go karena gak peka sama perasaan gue sendiri."
"Gue selalu bersembunyi dibalik status kita sebagai adek dan abang."
"Tapi sekarang ... aku tidak menganggap kamu sebagai adik, tapi sebagai perempuan bawel yang setiap hari gangguin gue terus." Mirza tersenyum lembut, ia mengusap puncak kepala Alula dengan pelan.
"Bantu aku untuk bisa mengartikan perasaan apa yang saat ini aku rasakan." lirih Mirza tepat ditelinganya, karena Mirza kembali merengkuhnya kedalam dekapan.
Alula hanya diam, ia merasakan matanya mulai memanas.
Apakah saat ini, Mirza tengah menyatakan perasaannya?
Tanpa terasa, air matanya mulai meluruh. ia menghela napas panjang, mengapa baru sekarang ? disaat ia mulai merelakan Mirza untuk orang lain.
.
.
.
Happy Reading... 😊
Chapter terpanjang yang otor tulis... 😅
Jangan lupa like and comment nya yah... 👍
__ADS_1