Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Hangat dan Rukun


__ADS_3

Malam ini Alula kembali menempati paviliun belakang bersama Ayah. karena tadi siang Ayah telah kembali dari luar kota setelah menemani Pa Sanjaya selama beberapa hari.


Meskipun Mama Indri sudah beberapa kali memintanya untuk tetap tinggal di rumah utama, Alula tetap menolak. dengan alasan ia hanya akan tinggal disana saat Ayah pergi bersama Pa Sanjaya.


"Ayah, kenapa ayah lama sekali diluar kota?" keluhnya ketika melihat Ayah masuk kedalam paviliun dengan membawa sebuah kantong plastik ditangannya lalu ayah menyimpannya diatas meja.


"Lula masih kangen sama Ayah, tapi Ayah malah pergi lama sekali."lanjutnya dengan bibir mengerucut.


"Ayah kan harus nemenin Pa Sanjaya kemanapun." ucap ayah sambil mendudukan diri diatas kursi mencoba memberi pengertian pada putri tersayangnya.


"Benar apa yang dikatakan Bu Indri, Lula harus terbiasa kalau ayah jarang dirumah." lanjut ayah dengan wajah menyesalnya.


Mata Alula membulat, "Jadi, ayah benar-benar istri kedua Pa Sanjaya?" pertanyaan polos itu terucap begitu saja.


Membuat Ayah tertawa "Ya bukan lah, masa ayah jadi istri kedua, ayah kan laki-laki." elak Ayah.


"Hah, berarti suami kedua?" tanyanya tak percaya. "Eh, Gimana sih yah" Alula merasa bingung sendiri dengan ucapannya.


Membuat Ayah semakin tergelak, sedangkan ia masih mengernyit tak mengerti.


"Pa Sanjaya itu jarang sekali berada dirumah, beliau sibuk terus. sering keluar kota, dan ayah pasti selalu ikut. yah jelaslah, ayah kan supirnya. otomatis ayah akan ikut kemanapun beliau pergi." ucapan Ayah terjeda sebelum berkata


"Makanya Bu Indri sering bilang kalau ayah istri keduanya." Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Istri majikannya itu memang selalu asal jika bercanda.membuatnya merasa konyol.


"Mama Indri pasti iri sama ayah, iya kan?"


Ayah kembali menggelengkan kepalanya "cemburu, karena Pa Sanjaya lebih sering bersama ayah."


"Pantas saja, dulu Lula gak liat Ayah dan Pa Sanjaya disini pas acara pengajian. pasti lagi keluar kota juga."


Ayah hanya tersenyum getir.


jika saja dulu Ayah bisa pulang lebih cepat dari jadwalnya mungkin mereka juga akan lebih cepat bertemu. dan mungkin, Alula juga tidak akan pernah kembali bertemu dengan ayah tirinya lagi. Tapi takdir berkata lain, mereka harus bertemu dengan Mirza sebagai perantara.


"Ini dari Bu Indri," Ayah menyodorkan kantong keresek yang dibawanya tadi.


"Apa ini yah?" ucapnya sambil membuka kantong keresek tersebut.


"Buka saja." jawab ayah sambil menyandarkan punggungnya.


"Wahhh, bronies." ucapnya dengan mata berbinar.


"Kue kesukaan ayah kan?" lanjutnya,


"Dulu, ibu sering banget kan buatin... " ucapannya terhenti ketika ia teringat tentang Ibu. wajah ceria Alula berubah sendu, ia memandangi ayah yang tengah tertunduk lesu.


"Ayah.. "panggilnya, Alula menggenggam erat tangan Ayah. membuat ayah mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"Eum.. Lula kangen Ibu, yah." gumamnya lirih hampir tak terdengar. Kini Alula tertunduk tak berani menatap ayah.


Ayah tersenyum sambil mengusap pelan puncak kepala Alula "nanti kapan-kapan kita tengokin Ibu dan Dwi disana sama-sama yah!" seru ayah.


Alula menggelengkan kepalanya "Lula takut ayah, Lula gak berani kesana lagi."


"Ada ayah, jangan takut!"


Alula memeluk tubuh Ayah yang kini duduk disampingnya.


"Sasa beruntung ya Ayah, Bunda Iren menikah dengan orang yang baik. Ayahnya Sasa sangat bertanggung jawab. sedangkan Ayah Tiri Lula.. " Alula menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Kenapa hidup kita harus seperti ini Ayah, Lula rindu kehidupan kita yang dulu." Alula menatap Ayah, matanya nampak berkaca-kaca.


"Semua sudah takdir sayang. kita tidak bisa memilih hidup kita seperti apa." Alula mengangguk mencoba mengerti.


"Kehidupan itu berputar nak." Ayah mengusap kepala putri tersayangnya.


"Setiap orang pernah merasa bahagia dan terluka."


"Begitupun kita, meskipun kehidupan kita dulu sangat sederhana, tapi kita bahagia dengan utuhnya keluarga."


"Dan sekarang, mungkin Tuhan sedang menguji kita dengan hilangnya orang-orang yang kita sayang. agar kita saling menguatkan."


Alula mendongakkan kepalanya lalu tersenyum


"Hanya saja, Lula masih belum bisa menerima dan memaafkan perlakuan paman Leon pada Ibu."


Ayah tertegun mendengar perkataan putrinya.


Ayahpun mengerti apa yang Alula rasakan saat ini, tidak mudah menerima dan memaafkan orang yang telah merusak kebahagiaan keluarga nya. apalagi mereka kini telah kehilangan orang-orang yang mereka sayangi untuk selamanya.


"Kalaupun suatu saat paman Leon berubah, Lula tidak yakin akan sanggup memaafkan dia Ayah." Ayah hanya terdiam tak mengatakan sepatah katapun. Ayah hanya menjadi pendengar keluh kesah putrinya.


"Sekarang hanya Ayah yang Lula punya, Lula tidak ingin kehilangan ayah lagi. Lula akan menjaga dan membahagiakan Ayah, sampai ayah tua nanti." ucapnya sungguh-sungguh.


Ayah mengulas senyum "Melihat Lula tumbuh menjadi gadis yang kuat seperti ini pun Ayah sudah bahagia."


Alula kembali memeluk ayah, "Terima kasih ayah." ayah hanya tersenyum kemudian mengangguk pelan.


...****************...


"Ayah mau ke bengkel buat periksa mesin mobil, sepertinya ada yang harus diganti." ucap Ayah pada Alula, ketika Ayah berpamitan beberapa menit yang lalu.


Hingga Alula memilih berdiam diri didalam kamar. dan seperti biasa, ia selalu menyibukkan diri berkutat dengan pensil dan kertas. kali ini ia mencoba menggambar sketsa wajah seseorang.


Seseorang yang telah menjadi malaikat penyelamat untuknya, seseorang yang akhir-akhir ini menjadi orang yang spesial dihatinya.

__ADS_1


Namun konsentrasinya tiba-tiba saja terganggu, ketika ia mendengar suara deburan air dan gelak tawa dari arah kolam renang.


Hey, siapa yang berenang pagi-pagi seperti ini?


Dengan rasa penasaran ia melangkahkan kakinya keluar paviliun.dan ia sempat tertegun saat melihat kearah gazebo, ketika Mama Indri tengah bercanda dan tertawa begitu riangnya bersama Pa Sanjaya.Tawa yang renyah dan lepas, menggambarkan dengan jelas kebahagiaan yang mereka rasakan.


Alula tersenyum, merasa sangat beruntung bisa berada ditengah-tengah keluarga yang hangat dan rukun seperti ini. apalagi perlakuan mereka sangat baik padanya. terlebih mereka sudah menganggap Alula seperti keluarga.


"Lulaa," Mama Indri melambaikan tangan ke arahnya.


"Sini !" serunya kemudian.


Tanpa sadar Alula melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mama Indri dan Pa Sanjaya yang tengah tersenyum kearahnya.


Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba ia tersadar jika Mirza tengah berada di tepian kolam sambil menikmati jus mangga buatan Mbak Sri.


Ia harus menelan ludahnya demi mendapati Mirza dengan dada telan jang dan hanya mengenakan celana boxer.


Hey, apa-apaan ini, bisakah dia lebih sopan sedikit. eh tapi, dia kan sedang berenang bukan jum'atan. batinnya geli.


"Mau renang?" tawar Mirza padanya.


"Enggak bang, makasih." jawabnya dengan gugup.


"Ayo renang, nanti Mama ajarin kamu gaya batu." seloroh Mirza sambil terkekeh.


"Kelelep dong nanti mereka."ujar Pa Sanjaya membuat mereka tertawa.


"Apaan sih Papa." sergah Mama Indri.


"Jangan diajakin renang ! nanti dia berubah jadi mermaid." seloroh Mama Indri yang membuat semuanya kembali tertawa, termasuk Alula sendiri.


"Aku udah mandi Ma." ujarnya.


"Kamu, udah mandi?" tanya Mama kembali meyakinkan. ia hanya menganggukan kepalanya.


"Pantesan cantiknya nambah."ucapan Mama Indri kini membuat Alula menundukan kepalanya karena merasa pipinya mulai memerah.


"Kalo Alula jadi putri duyung , Mama jadi apa dong, putri dugong?" kelakar Pa Sanjaya yang dibalas cubitan diperut oleh Mama Indri.


.


.


Happy readding.. 😊


jangan lupa like and comment..

__ADS_1


__ADS_2