
Mirza POV
Sudah beberapa hari ini entah mengapa perasaanku sedikit tenang. apa mungkin karena kehadiran Alula, yang kini mulai dekat dengan Mama?
Melihat gadis itu tersenyum ceria dan tertawa bersama Mama dan Mbak Sri. entah mengapa aku ikut merasa senang. padahal diawal kedatangannya kerumah ini, dia selalu terlihat murung, sedih, kadang juga terlihat ketakutan. apalagi saat bicara denganku, gadis itu selalu saja menunduk. apa itu memang kebiasaannya? atau cara bicaraku yang salah? entahlah. tapi aku lega dia baik-baik saja.
Yang jelas, kehadiran Alula dirumah ini membuat suasana rumah menjadi hangat, dan Mama terlihat semakin bahagia. dan aku, sedikitnya aku bisa melupakan rasa bersalahku pada Inara.
Dulu, aku selalu berjanji pada diriku sendiri, akan menjaga permata hati keluarga besar, Inara. ia adalah satu-satunya cucu perempuan dikeluarga besarku. ia bagaikan permata kecil yang cantik dan berkilau. selalu dimanja dan dicinta.
Gadis kecil itu sangat aktif dan pintar, membuat seluruh keluarga gemas dengan tingkahnya. mereka sangat menyayangi Inara. terlebih aku, Kakak laki-kaki yang harus menjaga adik semata wayangnya dengan baik. kehilangan Inara membuat seluruh keluarga dilanda kesedihan yang mendalam.
Masih ku ingat dengan jelas, hari itu Inara menangis memelukku dengan erat. seakan ia tak mau melepaskan kepergianku dan Papa yang akan berangkat ke Bandung. hari itu, Papa mengajakku untuk menemaninya pergi mengunjungi rekan kerjanya di Bandung.
"Abaaang, Nala mau ikut abang." Nara menangis dipelukanku
"Iya, tapi nanti ya dek. kapan-kapan kita jalan bareng ke Bandung." ucapku sambil terus menenangkan Inara yang terus menangis.
"Tapi Nala mau ikut syama abang."
"Kalau mau ikut, adek harus sehat dulu."waktu itu Inara sedikit demam , sehingga Mama tidak mengizinkannya untuk ikut bersama kami.
"Adek sama Mama aja dirumah ya, abang besok atau lusa juga pulang." ujar Mama dengan tetap membujuk Inara.
Namun Inara menggeleng dengan cepat, malah semakin memelukku dengan erat.
"Nala mau ikut, Nala mau ikut." ucapnya dengan berderai air mata.
"Nanti abang cariin Nara boneka yang bagus ya, iyakan Pa?"bujukku sambil menengok ke arah Papa. Papa mengangguk dan tersenyum.
"Gak mau, Nala gak mau."
"Yang bisa bicara?"tawarku kemudian.
"Gak mau, Nala mau ikut abang." Inara tetap menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalo dua? ditambah rumahnya?"
Inara berhenti menangis, ia mengendurkan pelukannya. lalu sedikit menjauh dariku. tentu aku tidak bisa melewatkan kesempatan untuk membujuk Inara.
"Boneka barbie, kembar, plus rumahnya mau?" Inara tersenyum dan mengangguk antusias. aku menoleh kearah Papa, Papa tersenyum dengan lega. akhirnya aku bisa pergi dengan tenang bersama Papa.
...****************...
Namun dengan terpaksa aku memberikan satu boneka barbie yang telah kujanjikan pada Inara, ketika aku melihat seorang anak perempuan tengah menangis sesegukan ditengah rintik hujan.
Setelah melihat Inara menangis kemarin, aku jadi tidak tega melihat anak perempuan seusia Inara itu juga menangis. Aku mendekati anak perempuan itu, ku lihat lututnya berdarah. sepertinya ia baru saja terjatuh.
"Kenapa nangis?" tanyaku, setelah aku membawa anak perempuan itu berteduh. anak perempuan yang tengah tertunduk itu mendongak.
"Sakit," jawabnya sambil meringis memegangi lututnya yang terluka.
"Udah jangan nangis lagi ! kamu kuat. lihat aku punya hadiah untukmu." Aku mengeluarkan satu boneka barbie dari paperbag yang ku bawa, sebenarnya barbie itu untuk Inara. tanpa berpikir panjang aku memberikannya begitu saja.
"Buat aku?" Matanya membulat. entah mengapa terlihat menggemaskan dimataku. aku hanya mengangguk.
"Iya sama-sama," aku mengacak rambut anak perempuan itu dengan pelan. "Dasar ompong. Jangan nangis lagi ya ! kamu jelek kalo nangis."dan entah mengapa tanganku begitu refleks mencubit pipi cubby nya.
"Oh iya, mana Papamu?" tanyaku kemudian
Anak itu menggeleng "aku gak punya Papa, aku cuma punya ayah." jawabnya dengan polos.
Aku terkekeh mendengarnya "Iya, maksudku ayahmu dimana?" belum sempat anak itu menjawab, Papa sudah lebih dulu memanggilku untuk segera masuk kedalam mobil.
"Namamu siapa?" tanyaku sebelum benar-benar meninggalkan anak perempuan itu.
Namun anak itu terlihat berpikir "hey, ayo jawab ! namamu siapa?" desakku menuntut jawaban.
"Nak, cepat sayang ! Mama membutuhkan kita." namun teriakan Papa membuatku cepat-cepat membalikan badan. aku berlari ke arah mobil, dimana Papa telah menungguku dengan wajah pucat.
"KAK, " anak itu berteriak memanggilku. membuatku detik itu juga menoleh "Rlrrain.. panggil aku Rlrain (Rain)." dengan susah payah anak perempuan itu menyebutkan namanya. aku hanya tersenyum sambil melambaikan tangan padanya lalu masuk kedalam mobil.
__ADS_1
...****************...
Sepanjang perjalanan aku terus saja tersenyum mengingat wajah anak perempuan yang kutemui tadi. namun berbeda dengan Papa, sejak aku masuk kedalam mobil, ku lihat wajah Papa sangat cemas, ia sangat gusar. dan apa tadi Papa bilang, 'Mama membutuhkan kita?' apa sebenarnya maksud Papa.
Meski dalam hati aku penasaran, ingin sekali rasanya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Papa buru-buru mengajakku pulang? bukankah Papa akan menemui rekan kerjanya? tapi aku memilih diam. aku memilih berpura-pura memejamkan mataku, berharap semuanya baik-baik saja.
Tapi rasa penasaranku rupanya tidak bisa dipendam lagi, saat Papa tidak membawaku pulang ke rumah, melainkan membelokkan mobilnya kehalaman rumah sakit.
"Papa, siapa yang sakit? ko' kesini." setelah Papa memberhentikan mobilnya diarea parkir rumah sakit, perasaanku mulai tidak enak. aku benar-benar tidak bisa memendam rasa keinginan tahuanku. namun Papa tak menjawab. lebih memilih diam dan menuntunku masuk kedalam rumah sakit.
Tubuhku mematung ketika sampai diruang UGD, dimana aku melihat sesosok tubuh kecil seseorang terbaring diatas blankar, dengan kain putih menutupi seluruh tubuh kecil itu. tubuhku seketika bergetar melihat Papa dan semua orang yang berada diruangan itu menangis. dan semakin bergetar ketika melihat Mama yang duduk dikursi roda dengan selang infus ditangannya. Mama menangis meraung-raung. dan Papa memeluk Mama dengan erat.
Dari semua orang yang ada disana, hanya Inara yang tidak ku lihat, dimana dia? kenapa dia tidak ada disini? dengan gemetar, ku dekati blankar itu. aku melihat wajah seseorang disana. wajah yang kini terlihat pucat, tanpa senyum ceria yang biasanya selalu menghiasi seluruh wajah cantiknya.
"Dek, abang udah pulang, adek kenapa bobo disini?" ucapku dengan gemetar dan hampir tak terdengar.
"Ayo bangun dek ! abang udah bawa boneka yang adek mau." aku mengangkat paperbag yang ku bawa.
"Tapi abang minta maaf, abang cuma bawa satu. yang satunya abang kasih sama temen abang." kudengar tangis orang-orang semakin pecah, terlebih Mama yang telah tak sadarkan diri.
Ku raih tangan mungil yang sekarang terasa dingin itu. menggenggamnya dengan erat. Ya, Inaraku, permata hatiku, adik tersayangku. ia telah tiada.
Seketika hatiku terasa kosong, pandanganku mulai buram, bersamaan dengan air mata yang mengalir dipipiku. pikiranku kembali mengingat tangisannya kemarin. ketika ia meminta ikut bersamaku, ketika ia ingin berada dekat denganku, dan ketika senyumnya tiba-tiba mengembang hanya karena janjiku yang akan memberinya boneka. yang ternyata itu adalah senyuman terakhir yang bisa kulihat.
Aku terpukul, betapa egoisnya aku hingga aku mengabaikannya, dan memilih pergi bersama Papa. aku menyesal, sungguh-sungguh menyesal.
Sejak kehilangan Inara saat itu, aku mulai menjaga jarak. bersikap acuh, bahkan selalu menjauh dari teman-teman perempuanku. karena aku selalu merasa takut, jika apa yang terjadi pada Inara akan terulang lagi. Aku menyesal, tidak seharusnya aku bersikap egois, meninggalkan Inara yang ingin tetap bersamaku. aku selalu mengutuk diriku, aku bukan laki-laki yang bertanggung jawab. dan sejak saat itu, aku tidak mau berhubungan dengan sosok perempuan. aku mengunci diriku dalam rasa penyesalan yang mendalam, rasa bersalah yang berkepanjangan dan juga marah pada diriku sendiri.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy readding.. 😊