
Brakkk
Suara seseorang melempar ransel tepat diatas meja, Mirza pelakunya. pagi ini wajahnya terlihat ditekuk namun tak sedikitpun mengurangi ketampanannya, pria yang menyebut dirinya maha karya terbaik itu sedang berada dikantin kampus menghampiri kedua sahabat yang sedang menunggunya.
"Ngapa lu? ampir aja ni kacang ketelen sebelum gue kunyah" Marko yang kaget melempar kulit kacang yang baru saja dimakannya.
Mirza mendengus kesal.
"Gue gak mau tau hari ini lu harus bayarin gue makan !" ucapnya pada Martin dan kemudian mendudukan dirinya dikursi sebrang Martin. ia tak menghiraukan pertanyaan Marko.
Martin yang sedang menyantap roti mengerut kan dahi.
"Gue ketinggalan berita apa nih? bokap lu bangkrut Mir? sejak kapan?" tanya Martin beruntun.
"Otak luuuu.. amit-amit, amit-amit" Mirza mengetuk-ngetuk kepalanya dengan kepalan tangan bergantian pada meja.
"Lu kalo ngomong difilter napa !" ucapnya kemudian.
"Nah elu kenapa dateng-dateng minta bayarin makan ke gue, kan elu yang lebih tajir." ucapnya setengah kesal.
"Gara-gara mau jemput lu pas acara pengajian, gue harus nongkrong di bengkel berjam-jam nungguin mobil emak gue. kesel gue" Mirza menggerutu dengan nada kesalnya, ia merebut bungkusan kacang ditangan Marko.
"Kesel sih kesel, kacang gue lu embat juga." Marko merebut kembali bungkusan kacangnya.
"Elahhh, lu kapan hari makan baso gue juga biasa aja, ga suruh muntahin lagi kan gue." mereka malah berebut kacang satu bungkus, keduanya tak mau kalah.
"Woy ngapa jadi ributin kacang sih!" Martin mulai kesal dengan tingkah kedua sahabatnya ini.
"Terus ngapa gue harus bayarin lo makan hah ? udah gak mampu bayar?" Martin mulai tak terima dengan permintaan Mirza.
"Ini juga gara-gara jemput lu kapan hari, gue harus nunggu dibengkel, ga ikut pengajian, dipotong lah uang jajan gue sekarang. Lima puluh persen Tin, Ko." ia menatap Martin dan Marko bergantian. "lima puluh persen !" ulangnya sambil mengacungkan lima jari tangan kanannya.
ppffttt..
keduanya menahan tawa.
"Miskin dong lu hari ini?" goda Martin.
"Sorry gue gak temenan sama orang miskin" ejek Marko.
"Sialan.." Mirza mengumpat kesal pada temannya.
__ADS_1
"Lu sama temen ga ada prihatin-prihatinnya banget !"
"Terus ngapain baru minta traktiran hari ini? kemaren-kemaren masih mampu lu?" tanya Martin
"Ya gue nahan harga diri gue lah, masa iya gue jatohin harga diri gue terus minta sama lu." jawab Mirza dengan santainya.
"Lahh ni bocah, ga sadar dia hari ini minta ditraktir ?"
"Ya gue gamau tau lah, pokoknya ntar malem gue tunggu di kafe biasa, kita nongkrong. dan lu bayarin makanan gue!" seakan tak pernah peduli jika teman-temannya akan menolak.
Melihat ekspresi wajah Mirza yang kesal, membuat Martin dan Marko senang sekali,mereka berulang kali menggodanya, menertawakan nasib sahabatnya yang jatuh miskin hari ini.
"Lagi ngetawain apa sih kalian? seru banget kayanya. boleh gabung ga? " tiba-tiba seorang perempuan menghampiri trio M itu. tanpa dipersilahkan ia duduk dikursi samping Mirza yang masih kosong.
"Pagi Gwen, makin cantik aja." goda Marko. Gweny hanya melirik sekilas pada Marko.
"Jawab sapaan orang bayar gak sih?" pertanyaan berupa sindiran keluar dari mulut Marko.
"Pagi juga."jawab Gweny.
"Kalian lagi ngomongin apa sih ?"tanyanya Kemudian.
"Ini Kang semir... " belum sempat Martin memeruskan kalimatnya ia sudah mendapat tendangan dibawah meja, Mirza pelakunya.
"Iyaa kang semir ditempat gue kapan hari kena begal, miskin dah dia hari ini" Marko melirik sekilas pada Mirza sambil menahan senyum.
"Masa ? kapan sih? Kasian yah dia. terus gimana dia sekarang?" tanya Gweny wajahnya nampak prihatin. ia tak tau saja jika yang sedang mereka bicarakan adalah Mirza.
"Sekarang dia minta traktir sama tetangganya, gara-gara dia jatoh miskin" Martin yang sekarang melirik sekilas pada Mirza.
"Ga jelas lu pada, udah gue masuk aja." Mirza bergegas pergi meninggalkan kedua sahabat sengkleknya termasuk Gweny yang dari tadi mengharapkan sapaan dari Mirza.
Gweny, teman satu kelas Mirza, Martin, dan Marko saat SMA. wanita idaman para pria di kampus, tak seorang pun meragukan kecantikannya yang natural meski tanpa polesan makeup tebal parasnya tetap saja cantik.
Dengan rambut yang panjang terurai dipunggungnya menambah anggun penampilannya. pria manapun tak akan menolak jika menjadi pasangannya. tapi tidak bagi Mirza, baginya Gweny sama saja dengan wanita-wanita lainnya yang hanya mengharapkan perhatian darinya. belum pernah ada seorangpun yang berhasil menarik perhatiannya.
Seketika raut wajah Mirza berubah dingin setelah kedatangan Gweny. sisi lain dari seorang Mirza adalah sikap dinginnya pada perempuan, meskipun begitu ia tetap tak pernah tega melihat seorang perempun menangis.
Gweny menyadari perubahan sikap Mirza saat ini.entah cara apalagi yang harus dia lakukan untuk kembali dekat dengan Mirza.
Gweny menatapi kepergian Mirza hingga dirinya menghilang dibalik penghalang.
__ADS_1
"Temen kalian kenapa sih, ga pernah lirik aku sekali aja, bawaannya ketus mulu." Gweny menggerutu pada Martin dan juga Marko.
"Gak heran dia kaya gitu,"jawab Martin dengan santai, padahal hatinya sedang menahan sesak.
"Apa mungkin tiap hari dia bawa kulkas" tutur Gweny
"Maksunya?" tanya Martin yang tak paham dengan bahasa Gweny.
"Dingin... "ucapnya lirih yang menimbulkan gelak tawa Martin dan Marko.
"Iya dia emang kaya gitu kalo sama cewe, bawaannya ambekan, ketus banget. kaya cewe tuh kalo lagi PMS." tambah Marko.
"Emang lu tau gimana kalo cewe lagi PMS? " tanya Martin.
"Tau lah, baperan ! tiba-tiba manja, tiba-tiba ngambekan."jawab marko.
"Ditanya kenapa? dia jawab gak apa-apa. didiemin dikira kita gak peka. gue gak ngerti maunya cewe tuh apa." tambah Martin yang menggerutu sambil menggerakkan tangan kanannya.
"Iya makanya aku ga suka sama cewe!" celetuk Gweny.
"Lahhh elu kan cewe !" jawab Marko, kemudin mereka kembali tertawa. menertawakan apa saja yang ada dipikiran mereka.
"Oke stop yah ! sekarang aku merasa tersinggung sebagai cewe satu-satunya disini." Gweny tak terima kaumnya terpojokkan.
"Lagian kalian so tau banget tentang perempuan, emang kalian punya pacar ?" entah pertanyaan entah sebuah ledekan, yang pasti ucapan Gweny kali ini seperti menusuk kedalam hati mereka.
"Engga ." jawab Martin dan Marko kompak dan berhasil membuat tawa mereka kembali pecah.
Tanpa mereka sadari Mirza menatap kesal dari kejauhan, ia hendak kembali untuk menemui Martin namun ia urungkan setelah melihat mereka tertawa lepas bersama Gweny.
"sial, gue lagi kesusahan mereka malah haha hihi.. " umpatnya kesal.
.
.
Hallo riders,,
maaf ya updatenya ga menentu, soalnya ko aku kaya ga semangat gitu yah, sepertinya aku butuh asupan jempol dari kelean..
So, mohon bantuannya ya buat klik like nya biar aku syemangat gitu... ☺
__ADS_1
#happy ridding manteman...