
"Neng peri, neng peri. mata lu." protes Mirza ketika Marko bersikukuh memanggil Alula sebagai neng peri.
"Neng peri, ko' disini?" namun Marko tak menanggapi protes Mirza. ia pun masih belum menyadari perubahan sikap Alula.
Alula mundur satu langkah namun ia masih mengeratkan tangannya dilengan Mirza.
"Ko' bisa sama si Emir?" tanyanya lagi semakin penasaran.
"Jangan bilang, lu bulak-balik ke PuBa buat jemput neng peri." tunjuknya pada Mirza.
"Jangan bilang, lu juga lagi pedekate sama neng perinya gue." ucapnya dengan yakin. namun Alula semakin mengeratkan tangannya pada Mirza.
"Diem elah, lu bikin dia gak nyaman!" seru Mirza pada Marko.
"Gak apa-apa, dia bukan orang jahat, dia cuma sedikit kurang kasih sayang." ucapnya sedikit berbisik pada Alula. namun masih terdengar jelas ditelinga yang lain. membuat semuanya menertawakan Marko.
"Heh siluman spion, gue denger yah lu ngomong apaan." sembur Marko tak terima jika dirinya dijelek-jelekan dihadapan sang pujaan hati.
"Siluman spion?" dahi para pemuda yang berkerumun nampak mengernyit, mulai bertanya-tanya.
"Iya, tukang tikung. dia nih udah kayak siluman spion. suka nikung temen sendiri." sebuah jitakan mendarat didahi Marko. Mirza pelakunya, ia merasa gemas dengan sahabatnya yang satu ini.
"Sakit be go." ucap Marko sambil mengelus dahinya.
"Ngomong apaan sih lu, ini adek gue." seru mirza dengan menunjuk pada Alula.
Semua terkejut mendengar ucapan Mirza. yang mereka tahu, Adik kandung Mirza telah lama tiada. namun tiba-tiba saja Mirza memperkenalkan seseorang yang datang bersamanya sebagai adik. bagaimana bisa.
"Ko'bisa ?" Marko terperangah mendengar ucapan Mirza, namun sejurus kemudian ia berkata,
"Oke kalo gitu, kenalin gue calon adek ipar lu." ujar Marko begitu yakin. ia mengulurkan tangannya pada Mirza. Membuat semua orang menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan si pria jomblo dengan sejuta rayuan yang selalu gagal itu.
"Ogah gue punya adek ipar buaya darat macam lu." Mirza menepis tangan Marko.
"Buaya darat yang sering ditolak." celetuk salah seorang pemuda yang berkerumun. membuat Marko berjalan ke arah pemuda itu seperti hendak mengajak berkelahi. kekanak-kanakan memang.
"Kamu duduk disana dulu" Tunjuk Mirza pada deretan kursi penonton yang tak jauh dari mereka. mereka berjalan menjauh dari yang lain, namun telinganya sempat menangkap Marko yang berteriak,
__ADS_1
"Gue ditolak gara-gara si siluman spion suka tebar-tebar pesona yah." gerutu Marko yang kesal pada salah satu temannya itu.
"Sialan," gerutu Mirza ketika mendengar gerutuan Marko.
"Kita mau latihan bentaran." lanjutnya pada Alula yang sedari tadi masih menundukkan kepala.
Setelah duduk dikursi yang kosong, Alula menatap Mirza seakan ia tidak mau ditinggalkan.
"Gak apa-apa." ucapnya meyakinkan.
Martin hanya diam memperhatikan interaksi antara Mirza dan Alula. ia sedikit merasa aneh, melihat perlakuan Mirza pada Alula yang tak biasa. Mirza yang selalu bersikap dingin terhadap perempuan, kini terlihat penuh perhatian.
Bahkan, bertahun-tahun Mirza berteman dengan Gweny tidak pernah sekalipun ia melihat Mirza bersentuhan secara fisik dengan Gweny. tapi dengan Alula, gadis yang baru saja Mirza kenal, sikap dan sifat Mirza jelas jauh berbeda. bahkan ia terlihat tidak risih sama sekali, ketika Alula berpegangan begitu erat pada lengan Mirza.aneh memang.
Dan ini pertama kalinya untuk Alula, melihat Mirza bermain bola basket secara langsung dilapangan . dengan wajah putih bersihnya yang berubah kemerahan seperti kepiting rebus, serta baju yang hampir basah karena keringat. membuatnya menelan ludah berkali-kali. entah mengapa menjadi terlihat semakin menarik dimatanya.
Bahkan ia tak mampu menundukkan kepala saat Mirza tersenyum penuh kemenangan kearahnya, setelah berhasil mencetak poin. Alula membalas tersenyum ke arah Mirza yang lagi-lagi berhasil mencetak poin.
Alula mengedarkan pandangannya, tidak banyak orang yang menonton pertandingan tersebut. namun tiba-tiba saja seorang perempuan berparas cantik dan anggun menghampirinya. Alula menganggukan kepalanya kemudian tersenyum ketika perempuan tersebut kini duduk disampingnya.
"Hay," sapa perempuan tersebut yang kini berada disampingnya.
"Namaku Gweny," ucapnya sambil mengulurkan tangan hendak berkenalan.
"Alula." ia membalas uluran tangan dan senyuman Gweny
"Udah lama?" tanya Gweny kemudian.
"Apa?" dahi Alula mengernyit tak mengerti dengan apa yang Gweny tanyakan.
"Dengan Emir?" Matanya mengerling ke arah lapangan, dimana Mirza tengah asik merebut bola basket dari tangan lawan.
"Abang?" Dahinya semakin mengernyit karena lagi-lagi Gweny menggantung pertanyaannya.
Betapa perihnya hati Gweny ketika mendengar Alula memanggil Mirza dengan sebutan 'Abang'. apakah tidak ada kesempatan untuknya sekali saja untuk mendapatkan hati Mirza.
"Yah, sudah berapa lama? kamu beruntung bisa dapetin dia, pria yang susah sekali buat dideketin." Gweny tersenyum getir, entah mengapa sakit sekali rasanya berkata seperti itu pada gadis yang saat ini ia anggap sebagai seseorang yang dekat dengan Mirza.
__ADS_1
"Kita berteman sejak SMA. dulu, aku satu-satunya teman perempuan yang dekat dengan dia. walaupun tidak se intens dengan Marko dan Martin, tapi Mirza juga tidak terlalu menjaga jarak. di beberapa kesempatan kita selalu menjadi teman satu kelompok." tanpa sadar Gweny menceritakan kedekatannya dengan Mirza.
"Dia pria yang selalu bersikap dingin, acuh pada lawan jenisnya. tapi dibalik itu semua Emir memiliki sifat yang baik, peduli pada orang lain." kali ini tatapan mata Gweny berubah hangat, diselingi dengan senyum kecil dibibirnya.
Alula terdiam, entah mengapa ia merasa jika perempuan yang baru saja memperkenalkan diri sebagai Gweny ini terlihat menyukai Mirza.
Alula meneliti penampilan Gweny dari ujung rambut sampai ujung kaki, perempuan perparas cantik dan anggun, dengan rambut tergerai panjang dipunggungnya.tutur kata yang lemah lembut, dan sikapnya yang begitu humble. pria mana yang tidak akan tertarik padanya. apalagi penampilannya menggambarkan bahwa ia adalah perempuan terpelajar dengan masa depan yang sangat cerah.
Sementara Alula melihat dirinya sendiri, ia adalah seorang anak supir yang hidup menumpang dikeluarga kaya yang baik hati. dan dengan bantuan keluarga Mahesa ia bisa bersekolah di tempat elite seperti PuBa. apa yang bisa dibanggakan darinya. sungguh, perbedaan yang jauh luar biasa. definisi langit dan bumi.
"Kakak suka sama Abang?" tanya Alula terus terang, ia tidak tahan ingin sekali menanyakan hal yang sejak tadi ingin ia ungkapkan.
Gweny terkekeh kecil, sebelum berkata "Apa sih, kan udah punya kamu." meskipun ia tertawa, namun Alula tahu itu hanyalah tawa yang dibuat-buat. jelas sekali, siapa yang tidak menyukai Mirza. meskipun terkadang sikapnya sedingin es batu dan se kaku kanebo, tetap saja pesona nya tidak terbantahkan.
"Aku adeknya Ka." meski berat, namun Alula mengakui dirinya kini hanya sebatas adik untuk Mirza, tidak lebih. never ever.
Gweny membulatkan matanya, ia terkejut mendengar pengakuan Alula.
"Adek? ko' bisa?" tanyanya tak percaya.
"Panjang ceritanya." ucap Alula singkat.
Tepat seperti yang Marko katakan waktu itu, namun hati Gweny sedikitnya merasa lega. karena nyatanya apa yang ia khawatirkan tidak terjadi. dan ia masih berharap jika Mirza akan menyukainya, meskipun itu hal yang tidak mungkin.
.
.
.
Happy readding.. 😊
jangan lup tinggalkan jejak.
like and comment yess !
jangan pernah merasa bosan menunggu dedek Lula Up yaa..
__ADS_1
*Salam halu dari author..