
Udara dipagi hari memang selalu menyegarkan, sinar matahari yang perlahan meninggi meninggalkan rasa hangat ditubuh. Alula kini berada dihalaman belakang, ia duduk diatas Gazebo -tempat pavoritnya- dengan memangku sebuah buku. ia menyibak rambutnya yang tergerai setiap kali angin menerpanya.
Alula menyandarkan punggung dan kepalanya dengan nyaman pada tiang penyangga, matanya fokus pada garis tegak lurus, yang ia gores didalam kertas. kali ini Alula akan menggambar sketsa sebuah mini dress. ia menentukan pose tubuh yang akan ia gambar, atau biasa disebut dengan Choquis.
Alula mulai menggambar bentuk oval sebagai bentuk kepala, lalu bahu, tangan, hingga seluruh tubuh sampai ke kaki sesuai dengan pose yang ia inginkan. terakhir ia membuat rancangan busananya sendiri. baju tanpa lengan, dengan panjang selutut. tak banyak yang ia gambar disana, hanya mutiara kecil disepanjang leher, juga aksen rempel-rempel kecil yang mengelilingi pinggang, tak lupa pita kecil dibagian pinggang belakang. dan mini dress dengan bentuk sederhana namun elegan kini ia pilih sebagai bentuk sketsa.
Sudah beberapa hari berlalu sejak pertemuannya dengan Gweny dicafe waktu itu, Alula belum juga menerima kabar dari Gweny. apakah pemilik butik yang disebut Gweny itu menyukai hasil desainnya atau tidak.
Sebenarnya ia tidak terlalu berharap pemilik butik itu menyukai karyanya, jika tidak suka pun tidak jadi masalah, yang penting Alula sudah berusaha membuat karya yang terbaik. yang menjadi masalahnya adalah Gweny yang sampai saat ini belum mengabarinya, terlebih buku gambar kecilnya dibawa oleh Gweny.
Alula masih fokus pada buku gambar ditangannya, ketika tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara seseorang yang datang.
"Dek, lu kalo lagi fokus suka jadi budeg." sungut Mirza yang kini duduk disampingnya. bukan tanpa sebab, sejak tadi ia memanggil Alula, namun yang dipanggil malah tak acuh, tetap fokus pada lembaran kertas yang dipegangnya. menyebalkan.
"Abang," ucap Alula dengan dahi yang mengernyit.
"Iya, lagi apasih ?" Mirza menengok kearah kertas yang Alula pegang. belum sempat Alula menjawab, dering handphone mengalihkan perhatiannya.
"Kak Gweny." gumam Alula pelan, namun masih terdengar dengan jelas oleh Mirza. mendengar nama Gweny disebut, Mirza hanya melirik dengan malas.
"Hallo kak," sapanya pada Gweny diseberang telepon.
"Oh ya? yang bener Kak?" tanya Alula, terdengar nada tak percaya ketika Gweny mengatakan bahwa Tante Nuning -sipemilik butik- menyukai hasil gambarnya.
"Iya, maaf ya baru ngabarin. aku sampai lupa loh. untung aja Tante Nuning telepon aku. beliau bilang beberapa hari yang lalu pegawainya nyoba jahit salah satu design kamu, simple dan gak ribet. tapi hasilnya bagus." ucap Gweny panjang lebar menjelaskan.
"Syukur deh kalo gitu, aku seneng banget Kak. terima kasih banyak ya kak, udah bantuin aku." Alula menghela napas, ia merasa lega karena jalan mimpinya kini menemukan titik terang. semoga saja berawal dari tukang gambar baju, berakhir sebagai pemilik sebuah butik baju. itu adalah keinginannya sejak dulu, mewujudkan mimpi Ibu.
"Ih apaan sih, aku gak bantu banyak." sanggah Gweny.
"Kalau gitu, nanti aku kirim alamat butiknya yah. Tante Nuning pengen ketemu sama kamu." setelah mengobrol sebentar, akhirnya panggilanpun terputus.
Mirza yang sejak tadi duduk disebelah Alula, hanya menatap heran padanya. sejak kapan Alula menjadi seakrab itu dengan Gweny? pikirnya. dan pertanyaan 'sejak kapan' itu terus saja berputar dipikirannya. hingga tak terasa dahinya mengkerut berkali lipat.
"Ada urusan apa sama dia?" tanya Mirza dengan ketus.
"Pekerjaan." jawab Alula singkat.
"Apa?"
__ADS_1
"Masih sekolah, lu mau kerja apa?"
"Aku jual hasil gambarku."
Dahi Mirza kembali mengkerut "Buat apa?"
"Buat tabungan dimasa depan, karena aku punya mimpi dan cita-cita." Alula tersenyum, membayangkan keberhasilannya dimasa depan. akankah semuanya akan seperti yang diharapkan? entahlah, hanya tuhan yang tahu. ia hanya bisa berusaha.
"Kan ada pa Abhi, ada Mama. kenapa mesti repot-repot kerja."
"Kalau semuanya pengen instan, kita gak akan tahu rasanya perjuangan." ucap Alula dengan yakin.
"Mie instan aja harus direbus dulu baru bisa dimakan." imbuhnya, membuat Mirza melongo mendengarnya.
"Lagian juga cuma gambar, gak akan mengganggu sekolah aku."
Sejurus kemudian Mirza tersenyum, gadis dihadapannya ini memang berbeda, tak pernah kenal menyerah. selalu memperjuangkan apapun yang menurutnya patut diperjuangkan.
"Adek gue bijak sekali." Mirza menggelengkan kepalanya, lalu dengan gemas mengacak rambut Alula yang sudah sedikit berantakan akibat terpaan angin.
"Abang ih, kan makin berantakan." kesal Alula sambil merapikan kembali rambutnya yang kusut.
Hening..
"Bang," panggil Alula dengan mata tetap fokus pada gambar.
Mirza menoleh "Hmmm." sahutnya.
"Abang kenapa kayaknya gak suka sama kak Gweny?" lagi-lagi Alula menanyakan hal yang sama seperti waktu itu. namun kali ini Mirza tak bisa mengalihkan perhatiannya.
"Kak Gweny orangnya baik, Dia temen abang 'kan?"
Yah, Mirza mengakui bahwa Gweny adalah perempuan yang baik. awalnya Mirza berpikir, ia berbeda dengan kebanyakan perempuan yang terang-terangan mengungkapkan perasaanya pada Mirza. Mirza menganggap kedekatannya dengan Gweny adalah murni, hanya sebatas teman.
Namun nyatanya Gweny pun menyimpan perasaan pada Mirza. jika saja dulu Gweny tidak mengatakan bahwa ia menyukai Mirza, mungkin sampai saat ini mereka masih berteman baik.
"Apa abang benci sama kak Gweny?"
Mirza menggelengkan kepalanya,
__ADS_1
"Gue gak pernah benci sama siapapun," ucapan Mirza membuat Alula menghentikan aktivitasnya, ia menatap lekat wajah pria disampingnya.
"Gue cuma menjaga jarak, membatasi diri. gak mau terlalu dekat dengan perempuan."
"Gue gak mau mereka kecewa, karena gue gak bisa menjadi apa yang mereka harapkan." entah mengapa, bayangan wajah sedih Inara ketika merajuk padanya masih teringat dalam ingatan. ia tak ingin mengulangnya lagi, karena keegoisannya ia kehilangan orang yang begitu ia sayang.
"Lalu, abang anggap aku apa? aku juga perempuan, 'kan?"
"Kalau aku bilang, aku suka sama abang. apa abang juga akan menjaga jarak sama aku?"
"Lu adek gue." tegas Mirza sambil menoleh pada Alula. sesaat pandangan mereka saling bertemu, membuat Alula menunduk. perih rasanya hati Alula yang lagi-lagi mendengar kata 'adek' keluar dari mulut Mirza.
"Mau sampai kapan bang?" lirih Alula. ia mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Abang gak bisa seterusnya seperti ini, abang harus memulai menjalani hidup yang baru. suatu saat nanti, abang juga membutuhkan kehadiran perempuan."
"Ada Mama, ada Lu dek." sanggah Mirza dengan mata nanar menatap kolam dengan air yang tenang.
Alula menggeleng tak setuju "Buat masa depan abang."
Mirza membuka mulut, hendak menanggapi, namun urung karena Alula lebih dulu berkata,
"Bukannya abang sendiri yang bilang, rasa takut bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi. gak selamanya Abang bisa bersembunyi dibalik rasa takut dan bersalah."
"Inara sudah tenang disana bang." imbuhnya.
Alula menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan, sebelum kembali berkata
"Setidaknya.. buka hati abang, biarkan seseorang masuk dalam kehidupan abang."
"Kak Gweny misalnya?" ia mendongak, menatap Mirza dengan perasaan ingin tahu.
"Kak Gweny orang yang baik, cantik dan anggun. dia sangat sempurna buat abang. atau setidaknya, cobalah untuk kembali berteman dengannya bang." jujur ia menahan perih saat mengatakan ini. namun dibanding dengan dirinya, Gweny jelas lebih sempurna untuk menjadi pasangan Mirza.
Mirza terdiam, bukannya ia tidak mau membuka hati untuk perempuan. kepergian Inara juga bukan satu-satunya alasan ia bersikap seperti itu. tapi, tatapan mata sendu milik si anak berwajah cantik dan bergigi ompong itu begitu melekat dihatinya. Mirza tak ingin berterus terang, lucu saja rasanya jika ia mengatakan telah jatuh hati pada gadis kecil sejak bertahun-tahun yang lalu..
.
.
__ADS_1
.
Happy reading.. 😊