
Malam semakin larut ketika Alula menyusuri jalanan Ibu kota, entahlah sudah berapa lama dan berapa jauh ia berjalan. ia mengedarkan pandangannya, sepi. tidak ada satupun kendaraan yang lewat disana.
Kakinya mulai lemas, pandangannya mulai kabur, keringat dingin mulai membasahi dahinya. bagaimana tidak, ia sudah melewatkan makan malamnya tadi.
Sejenak ia duduk mengistirahatkan tubuhnya didepan ruko kosong yang sepertinya sudah lama sekali tak terpakai, pencahayaan yang minim serta keadaan yang sepi membuatnya bergidik ngeri. ia duduk menyelonjorkan kakinya yang sudah mulai gemetar,lalu menyandarkan punggungnya pada tembok.
Alula memejamkan matanya, mengulas kembali kejadian malam dimana ia pergi melarikan diri dari ayah tirinya, ia seperti dejavu. pergi tengah malam tanpa ada seorangpun yang tau. bedanya, sekarang ia berada ditengah ibu kota. bukan ditengah perkebunan, ketakutan yang kini Alula alami pun berbeda.
Jika dulu ia takut diserang binatang buas, malam ini hal yang paling ia takutkan adalah manusia-manusia buas yang sering keluyuran tengah malam. yah, ia hanya takut jika ia bertemu dengan seseorang yang berniat jahat padanya.
Alula kembali menegakkan tubuhnya lalu beranjak berdiri hendak pergi mencari tempat yang sedikit ramai. belum sempat ia melangkahkan kaki, hujan kembali turun deras, dan semakin deras dari sebelumnya. kilatan-kilatan dan suara petir menyambar memekakkan telinganya. suara angin bergemuruh berhembus kencang membuat Alula mengurungkan niatnya untuk pergi.
Alula kembali duduk di teras pertokoan itu, ia sedikit masuk kedalam pojokan tembok agar tidak ada yang menyadari kehadirannya. ia duduk memeluk lutut dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. jika dulu waktu kecil Alula selalu senang jika hujan turun membasahi tubuhnya. namun untuk saat ini Alula benci dengan datangnya hujan.
"kenapa disaat seperti ini dia datang" rutuknya pada hujan yang tiba-tiba turun sangat deras. seketika ia memikirkan kembali apakah keputusannya ini salah ?
Lama ia duduk dalam keheningan malam, hujan pun tak juga menunjukan akan reda, Alula semakin ketakutan ditengah keadaan ini. ia mengeratkan kembali pelukan di kakinya. lalu ia memegangi perutnya yang sudah terasa lapar. dinginnya malam membuat tubuhnya semakin lemas dan seakan membeku. wajah cantiknya mulai pucat pasi, ia seperti telah kehabisan tenaga. untuk sekedar mengangkat kepala pun rasanya tak sanggup.
tak..
tak..
tak..
Samar-samar ia mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat padanya ditengah derasnya hujan. semakin lama semakin jelas dipendengarannya, bau minuman keras sedikit mengusik indera penciumannya. demi apapun ia tak ingin apa yang ada dipikirannya saat ini terjadi.
"Manis... "
Panggilan seorang pria dengan suara berat, dan sepertinya ia sedang tidak dalam keadaan tak sadar atau mabuk berat.
"Kenapa sendirian disini ?"
Alula diam tak bergerak sedikitpun, ia hanya mengeratkan pelukannya. demi apapun ia tak punya tenaga untuk melawan saat ini.
"Ikut yuk !"
__ADS_1
Alula masih bergeming, tak bergerak sedikitpun, tubuhnya yang bergetar, bahunya nampak naik turun dan air mata yang keluar menandakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. ia hanya bisa berteriak dalam hati "siapapun tolong aku.."
Pria itu mulai melangkah semakin mendekati Alula.
Grep..
Pria itu menarik tangan Alula, seketika itu Alula mendongakkan kepalanya lalu menggeleng cepat. matanya membulat, ia terkejut ketika melihat siapa yang ada di hadapannya. seseorang yang selama ini ia hindari, seseorang yang telah merusak kehidupan keluarganya, seseorang yang bahkan tidak ingin ia temui lagi selamanya.
"Pa.. paman Leon.." Ucapnya lirih. yah, pria yang ada dihadapannya kini adalah ayah tirinya.
"Kita ketemu lagi anak manis." Pria itu sedikit terkejut lalu menyeringai lebar menandakan keberhasilannya menemukan Alula.
"Aku tidak menyangka bisa menemukan mu disini." Pria itu menarik paksa tangan Alula hingga ia jatuh tersungkur. Alula yang merasa lemas tidak bisa melakukan perlawanan apapun.
"Tttoloooong... "sekuat tenaga ia mencoba berteriak meminta tolong, meskipun ia tau itu akan sia-sia karena keadaan jalanan sangat sepi tak ada kendaraan satupun.
"Ayo ikut aku !" seru pria itu dengan tegas, ia menarik-narik tangan Alula dengan kasar. berulang kali Alula terjatuh lalu kambali berdiri. pria itu terus menyeret Alula hingga tubuhnya kuyup dibawah guyuran hujan.
"Tolong jangan lakukan ini pada Lula paman, tolong lepasin." Alula terus meronta-ronta ia berteriak meminta pertolongan pada siapapun dengan tenaganya yang tersisa.
"Tidak paman, Lula tidak mau."
"Salahkan saja ibumu yang tidak berguna itu !"
"Kenapa paman jahat sekali pada kami, apa salah kami Paman?"
"DIAM... " bentak pria itu. amarahnya mulai memuncak, terlihat jelas dari matanya yang memerah dan tatapan matanya yang tajam pada Alula.
Alula hanya menangis sesegukan, sesekali ia menendang-nendang kaki pria itu. namun gagal. pria itu terlalu kuat jika hanya mendapatkan tendangan Alula yang lemah.
BUGG..
BUGG..
BUGG..
__ADS_1
Seorang pemuda datang melumpuhkan pria itu dari arah belakang. ia memukul bagian belakang kepala dan punggung pria itu, seketika pria itu jatuh tersungkur.
Sesaat kemudian pria itu kembali bangkit dengan tangannya yang mengepal menahan amarah, kakinya melangkah dan hendak memukul pemuda itu, namun..
BUGG..
Seketika itu pula ia kembali terjatuh karena mendapatkan tendangan keras dari Pemuda itu.
"Gak sia-sia belajar bela diri." gumamnya.
Alula tak kuasa menyaksikan perkelahian itu , tubuhnya gemetar dan melemas, ia kembali terduduk dengan posisi tangan yang mendekap lututnya, ia kembali menenggelamkan kepalanya. terlihat bahunya naik turun menandakan ia kembali terisak ditengah ketakutannya.
Pemuda itu menepuk bahu Alula dengan lembut "Hey, lu ga apa-apa kan ?" tanya pemuda itu pada Alula. suara itu nampak tak asing baginya.
Alula diam tak bergeming...
"Hey, pria itu sudah pingsan. sebaiknya cepat lu pergi."
Alula masih diam, hanya terdengar suara isakan yang memilukan.
"Ayo cepet pergi, sebelum dia bangun lagi."
Pemuda itu mencoba membantu Alula berdiri. namun Alula malah jatuh tak sadarkan diri dipangkuannya, ia mulai panik. berulang kali ia menepuk-nepuk pipi Alula mencoba untuk menyadarkannya.
"Hey bangun, aduhhh malah pingsan." gumamnya.
"elahhh gimana nih." ia tak henti menggerutu.
"Hey ayo bangun, udah tengah malem nih, gue takut.lu mau gue diculik mak kunti ?" ditengah kepanikannya ia masih bisa berpikir seperti itu,
Pemuda itu mengedarkan pandangannya hendak meminta bantuan. percuma, tidak ada satupun orang ataupun kendaraan disana.
Ia berlari kearah mobilnya, membuka pintu depan penumpangnya lalu kembali pada Alula. dengan sekuat tenaga ia mengangkat tubuh Alula dan membawanya ke dalam mobil.
"Elahhh.. kecil-kecil berat banget ni bocah. kebanyakan dosa apa ya ?" keluhnya. meskipun begitu ia tetap membawa Alula pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Lama dalam perjalanan, ia bingung memikirkan akan membawa gadis ini kemana, mengingat malam semakin larut dan hujan yang juga belum reda. tidak mungkin ia membiarkannya sendirian di jalanan terlalu berbahaya bagi seorang gadis. dan sudah ia putuskan untuk membawanya kerumah, perihal tanggapan orang-orang dirumah, akan ia pikirkan nanti saja.