Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Kacau Balau


__ADS_3

Rasanya baru saja ia menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya, pergi menghabiskan waktu berdua bersama Mirza membuat suasana hatinya mendadak dipenuhi bunga-bunga. begitu indah dan menyenangkan.


Namun keriaanya tentu tak berlangsung lama, ketika tiba-tiba ia melihat Gweny membuka pintu rumah dengan senyum yang mengembang. disusul Mama Indri, Pa Sanjaya juga seorang pria paruh baya yang ia yakini adalah Ayah dari Gweny.


"Hai La." sapa Gweny padanya.


Alula tak menjawab, ia hanya diam. masih terkejut akan kehadiran Gweny disana. untuk tersenyum pun rasanya begitu sulit.


"Abis pada jalan yah ?" ia hanya mengangguk tak berbicara sedikitpun. begitu terpana, karena Gweny berpenampilan sangat cantik.


Begitupun dengan Mirza, ia terpaku dengan dahi yang mengernyit menatap Gweny yang berdiri didepan pintu. mengapa bisa Gweny ada dirumahnya.


Bahkan saat Gweny berpamitan hendak pulang pun, keduanya masih sama-sama terpaku. benar-benar terkejut karena kehadiran Gweny disana.


"Ko' malah pada bengong, Gweny pamit loh itu." suara Mama Indri meleburkan keterkejutannya.


"Eh, i.. iya Kak." Alula tergagap, sedangkan Mirza hanya mengangguk kearah Gweny yang tengah melambaikan tangan didalam mobil.


"Kenapa Gweny bisa ada disini Ma ?" sayup- sayup ia mendengar pembicaraan Mirza bersama Mama Indri diruang tamu.


Alula yang telah pamit untuk masuk kedalam kamar, seketika menghentikan langkah kakinya. merasa ikut penasaran mengapa Gweny bisa ada disini.


"Gweny itu anaknya Handoko, teman baiknya Papa." hanya itu yang bisa ia dengar, karena sudah dipastikan ia tidak akan mampu mendengarkan pembicaraan selanjutnya.


Apalagi saat Mama Indri berbisik padanya tadi,


"Gweny itu ... yang kamu ceritakan waktu itu kan ? anaknya cantik yah, baik lagi. Mama suka."


Ia yang baru saja masuk kedalam rumah, hanya menatap Mama Indri yang tengah tersenyum bahagia.


Bisa dipastikan orang tua angkatnya itu menyukai sosok Gweny. tidak salah memang Alula memilih Gweny untuk menjadi pendamping Mirza.


Setelah mengganti pakaian, ia pergi kepaviliun. melihat keadaan Ayah yang seharian ini tidak ia lihat keberadaannya, karena sibuk menemani Pa Sanjaya.


Alula menatap wajah lelah ayah yang tengah tertidur dengan lelap di atas tempat tidur. Ia berjalan mendekat lalu duduk bertumpu pada lututnya dihadapan Ayah.


"Terima kasih sudah bekerja keras buat Lula, Ayah." ucapnya pelan, tak ingin membangunkan Ayah yang tengah terlelap.


"Sudah waktunya Ayah istirahat, dan berhenti bekerja." lalu ia mencium pipi Ayah tercintanya.


Ia kembali kedalam kamarnya, merebahkan tubuhnya yang terasa penat. menaiki beberapa wahana yang memacu adrenalin dan berteriak sepuasnya, nyatanya membuat tenaganya habis terkuras. hingga tak terasa, ia terlelap ditempat tidur.


Pagi hari, setelah menemani Mirza berolah raga di halaman belakang, Alula hendak pergi ke kamarnya. namun langkahnya terhenti saat mendengar pembicaraan Pa Sanjaya bersama Mama Indri dan Mirza diruang televisi.


"Kenapa Pa?" itu suara Mama Indri.

__ADS_1


"Papa berniat menjodohkan Emir sama anaknya Handoko."


DEG..


Alula terpaku, tiba-tiba sudut hatinya terasa perih. ia merasa oksigen disekitarnya mendadak hilang, hingga napasnya terasa sesak. dan ia merasakan matanya mulai memanas. bahkan air mata tak dapat ia tahan, mengalir begitu saja.


Dijodohkan ?


Apakah secepat ini ia harus merelakan Mirza ?


Ia menyeka sudut matanya yang basah, lalu berlari menuju kamar. ia mengunci rapat pintu kamarnya agar tidak ada orang lain yang masuk.


"Bodoh," umpatnya pada diri sendiri.


"Kenapa kamu nangis ?" Alula duduk ditepian ranjang, ia mengusap air mata yang terus mengalir dipipinya.


"Harusnya kamu senang ! abang sudah menemukan perempuan yang sempurna." lalu ia tersenyum pahit. mendengar kenyataan bahwa Mirza akan dijodohkan dengan Gweny, membuatnya merasa semakin tak diharapkan.


"Tapi kenapa rasanya sakit seperti ini." air matanya kembali mengalir.


Entahlah, perasaanya kini tidak bisa digambarkan. kacau balau. satu sisi, ia ingin terus bersama Mirza. namun disisi lain, ia tidak memiliki apapun untuk ia banggakan dihadapan orang tua Mirza.


Satu-satunya jalan untuk menenangkan hatinya, adalah menghindar. Tapi, bukankah ia pernah melakukannya ? saat tak sengaja melihat Mirza membonceng Gweny waktu itu.


Bukannya menjauh, ia justru semakin tenggelam pada perasaannya sendiri.


Berjalan sambil menggandeng tangannya, bahkan tanpa sungkan merangkul bahunya. hal yang jarang sekali seorang abang lakukan pada adiknya.


Apakah ia akan sanggup merelakan Mirza untuk Gweny, apakah ia akan sanggup meninggalkan orang-orang yang ia sayangi ditempat ini.


Alula menghela napas panjang, meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melakukan apa yang ia inginkan.


Hingga saat malam tiba, ia yang baru saja merapikan buku-bukunya diatas meja belajar beranjak mendekati Ayah Abhi yang tengah duduk termenung di ruang tamu, memandang nanar ke luar jendela.


"Lagi apa yah ?" Ayah Abhi menoleh padanya.


Sesaat Ayah Abhi tertegun, memandangi Alula yang masih berdiri didepan pintu kamar dengan memasang senyum terbaiknya.


Ayah Abhi tersenyum lembut, lalu menarik Alula untuk duduk disebelahnya. Ayah Abhi menatap lekat wajah cantik putrinya sebelum berkata,


"Pantas saja Leon begitu menginginkanmu, kamu tumbuh persis seperti Ibumu." tatapan Ayah Abhi berubah sendu. ia mengerti, mungkin Ayah merindukan Ibu.


"Apa Ayah sedang merindukan Ibu ?" tanya Alula dengan hati-hati, tak ingin membuat Ayah Abhi merasa sedih.


Ayah Abhi tersenyum lalu mengusap puncak kepala Alula dengan sayang.

__ADS_1


"Dari dulu, Ayah selalu merindukan Ibumu."


Alula balas tersenyum lalu memeluk Ayah Abhi. ia bersyukur memiliki Ayah yang sangat mencintai dan menjaga cintanya untuk Ibu.


Bahkan saat Ayah Abhi tahu, jika Ibu terpaksa mengkhianatinya. Ayah Abhi tetap memaafkan ibu dan tetap mencintai Ibu dengan begitu tulus.


Ia berharap semoga suatu saat nanti, iapun akan menemukan pria seperti Ayah. yang melindunginya, dan memperlakukannya dengan baik. yang mencintainya dan menyayanginya dengan penuh ketulusan.


"Ayah ..." Alula mendongakkan kepalanya. namun ia merasa ragu untuk mengatakan keinginannya.


"Ada apa?" dahi Ayah Abhi nampak mengernyit.


"Apa rumah kita yang dulu masih milik kita ?"


"Apa kita bisa tinggal disana lagi ?" lanjutnya dengan kepala menunduk.


Ayah Abhi hanya diam memperhatikan Alula yang mendadak gugup.


"Kenapa tiba-tiba menanyakan rumah kita ?" dahi Ayah Abhi kembali mengernyit.


"Lula ... Lula hanya kangen rumah kita Ayah." jawab Alula yang masih menundukkan kepala.


"Sejak Ayah pulang waktu itu, Ayah menyuruh seseorang untuk menjaga dan memelihara rumah itu. karena Ayah berharap, kita akan kembali berkumpul disana lagi."


"Ayah tidak akan mungkin menjual rumah yang penuh dengan kenangan bersama Ibu dan adikmu Dwi."


"Karena disana, Ayah hidup dan berjuang hingga mencapai kesuksesan bersama Ibu. disana juga Ayah mengalami keterpurukan dengan ditemani Ibu."


"Tapi Ayah tidak tahu, apa orang itu masih menjaga rumah kita atau tidak."


Alula tersenyum, namun sudut hatinya terasa perih. mungkin dengan memilih pergi, ia bisa melupakan perasaannya pada Mirza. mungkin dengan pergi, Mirza akan lebih mudah menerima Gweny.


.


.


.


Happy reading... 😊


Jangan lupa like and commentnya yah... 👍


Oiya otor cuma mau mengucapkan :


Selamat Hari Raya Idul Adha, bagi readers yang menjalankannya. 🙏

__ADS_1


Disaat orang lain berkurban sapi dan kambing, dedek Lula malah mengorbankan perasaannya. 😢


__ADS_2