Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Secangkir Kopi


__ADS_3

Mereka masih asik menikmati dinginnya udara malam hari di halaman belakang, sambil bermain gitar dan menyantap jangung bakar ketika tiba-tiba saja gerimis turun. hingga memaksa mereka untuk masuk kedalam villa.


"Masuk yu! gerimis nih." ajak Martin sambil membereskan alat panggangan. Marko beranjak menggulung tikar yang masih diduduki oleh Marsha.


"Pelan-pelan kenapa sih." sembur Marsha ketika tubuhnya sedikit oleng karena Marko sengaja menarik tikar dengan kasar. ia berdiri sambil mengomel-ngomel pada Marko.


"Kasar banget sih sama cewek, sebel deh." gerutunya.


"Ya Lu bukannya berdiri malah anteng duduk-duduk, udah tahu hujan." ucap Marko dengan nada kesal.


Mirza mengambil air dari dalam ember kemudian menyiramkannya pada api unggun yang masih menyala.


Setelah tikar digulung, dan api unggun padam hingga semuanya kembali rapi, merekapun berjalan masuk kedalam villa.


Alula yang selalu senang dengan turunnya hujan berjalan dengan lambat. ia menengadahkan wajahnya keatas langit, meresapi setiap tetesan air hujan yang jatuh pada wajahnya.


Marsha yang melihat tingkah Alula hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. rupanya, kebiasaannya sejak kecil tidak pernah berubah.


"Bang, coba jalannya dibelakang si Lala." ucap Marsha kepada Mirza dengan setengah berbisik.


Dahi Mirza mengernyit "kenapa?" tanyanya dengan wajah keheranan. lalu ia menoleh pada Alula, dahinya semakin mengkerut mendapati Alula yang berjalan dengan wajah menengadah.


"Udah sana, jalan dibelakang si Lala." Marsha menggerak-gerakan tangannya.


Mirza pun menurut, meski sedikit aneh dengan permintaan Marsha, ia tetap berjalan dibelakang Alula. dan tanpa diduga tubuh Alula terhuyung, karena kakinya tersandung batu yang cukup besar.


Mirza dengan sigap merengkuh tubuh Alula kedalam dekapannya. membuat Alula terkejut karena tubuhnya tiba-tiba dipeluk dari belakang.


Iapun reflek menoleh "Abang," lirihnya dengan wajah bersemu merah. merasa malu karena tingkahnya sendiri.


"Lu tuh dek, kalo jalan liat depan!" seru Mirza tanpa melepaskan rengkuhannya.


"Abang, lepasin bang." Alula merasa gugup, ia mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Mirza. sungguh, ia merasa tak nyaman berada dalam posisi seperti itu. apalagi, dengan jantungnya yang mendadak berdetak tak beraturan.


"Diamah kebiasaan, dari dulu gak pernah berubah. jalan gak pernah nunduk kalo lagi hujan." ucap Marsha dengan menahan tawa.


"Dulu juga pernah hampir masuk got, hampir nambrak tiang listrik, bahkan hampir nabrak bapak-bapak gendut gara-gara gak liat jalan." kini Marsha tertawa, kembali membayangkan masa kecilnya bersama Alula.


"Diem Sa! kamu mah buka aib orang." ucap Alula sambil berlalu meninggalkan semuanya. sungguh, ia merasa wajahnya memanas karena malu.


...****************...


"Dek, belum tidur?" tanya Mirza ketika tengah malam ia melihat Alula duduk dimeja makan.


Alula menggeleng "belum ngantuk." ucapnya sambil meniup secangkir cokelat panas yang masih mengepulkan asap.


"Mau minum cokelat panas gak ?" tawarnya kepada Mirza saat ia mendudukan diri dihadapannya.


Namun Mirza menggeleng "Kopi aja."


"Nanti gak bisa tidur loh."


"Udah biasa, cepet bikinin! dingin nih."

__ADS_1


Dan kopi hitam dengan sedikit gula yang diseduh dengan air yang baru mendidih telah selesai Alula buat. seringnya ia membuat kopi untuk Mirza, membuatnya hapal dengan kebiasaan Mirza.


"Kenapa sih kalo nyeduh kopi tuh harus air yang baru banget mendidih ? kan ada dispenser." ucapnya sambil terus mengaduk kopi didalam cangkir.


"Terus ini lagi, kenapa diaduknya harus lama?" kini ia telah duduk ditempatnya semula.


"Gak enak tau, beda rasa." ujar Mirza sambil mengambil secangkir kopi dari tangan Alula.


"Sama-sama item, gak berubah jadi merah."


Mirza berdecak "Lu mah gak bakalan tau."


Alula hanya mencibirnya.


"Dek," panggil Mirza.


Alula yang tengah meminum cokelat panasnya mendongak "hemm?"


"Lu mau denger cerita gue gak?" Mirza meniup kopi yang masih mengepulkan uap panas.


"Apa?"


"Dulu nih ya, mungkin sekitar setahun yang lalu, atau lebih kayaknya. kita sekeluarga lagi liburan disini." Alula yang penasaran, memperhatikan Mirza dengan wajah yang serius.


"Mama nyuruh ke Endorsemart buat beli peralatan mandi, karena dulu kita datangnya dadakan jadi si Mamang gak bikin persiapan."


"Lu tau gak dek, dijalan abang tiba-tiba dicegah sama cewek." mendengar kata 'cewek' Alula semakin serius mendengarkan cerita Mirza.


"Uhukkk." Alula yang baru saja meminum cokelatnya tersedak.


"Lu tuh dek kalo minum hati-hati." ucap Mirza sambil meraih gelas, lalu menuangkan air putih kedalamnya.


"Nih minum air putih, pelan-pelan!" serunya sambil menyodorkan gelas pada Alula.


Hening...


tak ada yang bersuara. namun tiba-tiba saja pertanyaan Mirza membuat Alula membelalakkan matanya.


"Jadi, waktu itu bener, Lu abis kabur dari rumah?" tanya Mirza ketika Alula tak lagi terbatuk-batuk.


"Abang tau, itu aku?" tanyanya tak percaya, sebab waktu itu ia sudah berusaha tak menampakkan wajahnya.


Mirza hanya mengangguk sebelum berkata,


"Luka lebam di wajah waktu itu, ayah tiri Lu yang buat?"


"Hem," Alula mengangguk lalu menundukkan kepalanya.


"Jarak dari jalan itu cukup jauh dari daerah tempat tinggal kamu dek. dan lu senekat itu keluar dari rumah malam-malam ?" tanya Mirza tak percaya.


"Aku gak punya pilihan lain, selain kabur bang." lirihnya.


"Tapi itu bahaya banget dek." Mirza menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tak percaya jika gadis bertubuh mungil dihadapannya ini memiliki keberanian seperti itu.

__ADS_1


"Abang gak tau, dirumah itu aku lebih membahayakan nyawaku sendiri. juga masa depanku." Alula tertunduk membayangkan hal mengerikan yang akan terjadi, jika ia tetap berada disana.


"Aku lebih memilih pergi, melanjutkan hidupku sendiri. tanpa tau arah tujuan, tanpa tahu kemana aku harus pergi. aku hanya ingin terbebas, meninggalkan tempat yang lebih terasa seperti neraka dari pada sebuah rumah. disana aku kehilangan Adik juga kehilangan Ibu. dan aku gak mau menyia-nyiakan hidupku dengan tetap bertahan disana."


Mirza hanya diam mendengarkan. kini ia tahu sisi rapuh dari perempuan yang selalu ingin terlihat kuat ini.


"Lalu malam itu, kenapa lu ada ditempat sepi seperti itu dek? bukannya waktu itu Lu tinggal dipanti asuhan?"


Alula mendongak "Abang tau dari mana?" bukankah waktu itu Mirza tidak melihatnya disana.


"Mama."


Alula tersenyum pahit sebelum berkata "Aku cuma gak mau karena kehadiran aku disana, membuat seseorang merasa tersaingi." ucapnya pelan. ia teringat Risma yang selalu memasang wajah masam ketika berpapasan dengannya.


"Siapa?" dahi Mirza mengernyit.


"Abang gak perlu tahu." lirih Alula.


Mirza nampak menarik napas pelan.


"Pa Abhi memang benar, kamu selalu memikirkan perasaan orang lain. Dan kamu lagi-lagi membahayakan diri kamu sendiri, dengan pergi dari panti tengah malam seperti itu?"


"Kita gak pernah tahu, hal apa saja yang akan kita lalui. begitupun aku, jika saja aku tahu malam itu akan kembali bertemu dengan pria jahat itu, aku gak akan pergi kesana."


"Tapi, mungkin tuhan sudah mengatur waktu untuk aku bertemu dengan abang, lalu membawaku bertemu kembali dengan ayah."


Alula tersenyum sebelum berkata,


"Terima kasih ya bang, jika saja waktu itu abang gak nolongin aku, aku gak tahu, malam itu aku masih hidup atau udah lewat."


"Lu tuh dek ngomongnya." protes Mirza.


"Sekarang, aku gak perlu khawatir lagi. aku sudah bahagia hidup berdua bersama ayah, punya teman-teman yang baik. apalagi, sekarang aku punya keluarga yang sayang sama aku. ada mama, sama Pa Jaya."


"Gue?"


"Emang abang sayang sama aku?" Alula terkejut, tak pernah menyangka jika pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


"Sayang," ucap Mirza yakin


"Lu kan adek gue." tambahnya, tak ingin membuat Alula salah paham.


Adik?


Ya, ia memang harus menerima jika Mirza hanya menganggapnya sebagai adik, tidak lebih. baginya mengagumi Mirza secara diam-diam sudah lebih dari cukup. ia tak pernah berharap Mirza memiliki perasaan yang sama terhadapnya. siapalah dirinya, yang hanya anak seorang supir. bersanding dengan anak majikan hanya ada didalam dunia mimpi.


.


.


Happy Reading.. 😊


Jangan lupa like and comment ...

__ADS_1


__ADS_2