Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Rasa Bersalah


__ADS_3

Sepulangnya dari pemakaman, sebenarnya Mirza ingin menemani Gweny bersama Mama Indri dan Pa Sanjaya. Menghibur dan memberikannya semangat agar Gweny tak merasa sendiri.


Tapi, ia juga merasa butuh waktu untuk itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk naik kelantai atas, dan masuk kedalam kamarnya lalu menenangkan diri disana. Pernikahan dadakannya dengan Gweny belum bisa ia terima begitu saja, untuk sementara waktu ia ingin menghindari Gweny.


Sesaat ia memutuskan untuk tidur diatas tempat tidur, namun ia ingat bahwa Gweny akan menjadi penghuni baru di kamarnya. Akhirnya, Mirza memilih keluar menuju balkon kamarnya.


Ia duduk termenung diatas sofa yang berada di balkon kamarnya, mengingat kembali saat sang Papa membisikan sesuatu ketika mereka tengah menunggu Om Handoko yang saat itu tengah ditangani diruang operasi.


"Papa gak mau, kamu bikin Papa kecewa Mir," bisik Pa Sanjaya yang saat itu duduk disampingnya.


"Papa takut, ini akan menjadi permintaan terakhir Handoko."


"Pah," Mirza menatap tak percaya pada Sang Papa, mengapa sampai memikirkan hal yang belum terjadi.


"Kamu, sudah berulang kali memundurkan pernikahan. Untuk saat ini ... Papa mohon, penuhilah permintaan Handoko."


Mirza tak mampu menyanggahnya, ini memang kesalahannya. Ia selalu mengulur waktu untuk sebuah pernikahan.


Jika saja dulu ia jujur pada perasaannya sendiri, mungkin pernikahan dadakan ini tidak akan terjadi. Tapi, demi mempertahankan harga diri juga nama baik sang Papa, Mirza rela memendamnya dalam hati.


Mirza berdiri ditepian balkon, ia menatap nanar kolam renang dengan air yang nampak tenang di halaman belakang. Kenangan indah saat ia masih bersama Alula tiba-tiba saja melintas dalam benaknya.


Mirza menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Jika saja ia tak ingat ada keluarga yang masih ia sayangi, ingin sekali rasanya ia terjun sekarang juga dari balkonnya.


Senja datang begitu cepat, sedangkan rindunya terasa semakin berat. Alula, gadis yang malam kemarin tidur bersamanya, kini tak lagi ia ketahui keberadaannya.


Lagi-lagi Mirza menghela napas dalam, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Kepalanya terasa berat, memikirkan cinta membuatnya seperti orang sekarat.


"Kenapa kamu memilih pergi dari hidupku La ?" Mirza menatap nanar bangunan paviliun yang dulu pernah menjadi tempat tinggal Alula.


Tempat yang didalamnya penuh dengan kenangan, meski sekarang hanya menjadi angan.


"Sampai kapanpun, aku akan merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan besar padamu." Tanpa terasa buliran bening meluruh dari pelupuknya.


Mirza terduduk di atas sofa, dengan tubuh yang terasa lemah, kepalanya terasa semakin berat, ia semakin kalut. Entah mengapa, bayangan Alula terus berputar dipikirannya. hingga tanpa sadar ia tertidur dengan lelapnya.


...****************...


Sejak malam dimana ia bertemu dengan Alula, Mirza merasa tidurnya tak pernah merasa nyenyak. Ketika ia mencoba memejamkan matanya, bayangan Alula terus saja muncul menghantui ketenangannya.

__ADS_1


Hampir satu minggu setelah pernikahan sederhananya dengan Gweny digelar, tak pernah sekalipun Mirza menyentuh Gweny. Bahkan mereka tidur ditempat yang berbeda. Gweny tidur diatas spring bad, sedangkan Mirza memilih tidur diatas sofa di kamarnya.


Bukan, bukan karena ia tak menerima Gweny sebagai istrinya. Akan tapi, saat ia baru saja menatap wajah Gweny, yang muncul justru wajah sendu Alula.


Entah karena rasa bersalah, atau karena dihatinya masih tersimpan bayangan wajah putih cantik Alula, sehingga setiap ia berusaha untuk menyentuh Gweny, Alula selalu hadir dalam bayangannya.


Seperti malam ini, Mirza baru saja pulang dari kantor usai menghadiri rapat penting bersama rekan kerjanya. Ia melihat Gweny baru saja keluar dari kamar mandi dengan balutan piyama berwarna merah menyala. Gweny tersenyum menyambut kedatangannya, ia berusaha menjadi istri yang baik untuk Mirza, meski terkadang sikap Mirza masih dingin terhadapnya.


"Baru pulang?" tanya Gweny saat melihat Mirza membuka jas hitam yang dipakainya. Mirza hanya mengangguk sebagai jawaban.


Gweny beranjak naik pada tempat tidur, tubuhnya terasa lelah seharian ini. Padahal ia mengerjakan semua pekerjaannya didalam rumah.


"Gwen," panggil Mirza membuat Gweny yang saat itu tengah memainkan handphone menoleh.


"Aku ... akan mencobanya malam ini," ucapnya penuh arti.


Gweny terhenyak, ada rasa tak percaya dalam hatinya. Apakah malam ini ia akan menjadi milik Mirza seutuhnya ? Apakah mulai malam ini Mirza akan menerima dan menganggapnya sebagai seorang istri ?


Dengan gemetar, Gweny berusaha tersenyum.


"Mandi dulu," ucapnya pada Mirza yang masih berdiri menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


Gweny memakaikan lipgloss di bibirnya agar terlihat lebih segar, parfume dengan aroma mawar ia semprotkan ke sebagian tubuhnya. berharap Mirza akan terkesan malam ini.


Tak butuh waktu lama, Mirza telah kembali setelah membersihkan diri. Ia beranjak naik keatas tepat tidur dimana Gweny tengah menunggunya dengan hati yang resah, bahagia, tak percaya, dan mendamba menjadi satu dalam benaknya.


Mirza berusaha sekuat mungkin mengenyahkan bayangan Alula dalam pikirannya. Ia menutup matanya, tak berani menatap wajah Gweny. Ia mencoba melakukannya dengan hati-hati, tak ingin melukai hati dan perasaan Gweny.


"Apa sakit?" tanya Mirza pada Gweny yang terlihat meringis saat ia baru saja melakukan kewajibannya pada Gweny.


"Perih," keluh Gweny.


"Maaf," ucap Mirza dengan napas yang masih terengah.


"Gak apa-apa, mungkin efeknya memang seperti ini." Gweny masih terlihat meringis, namun ia mencoba untuk tetap tersenyum.


"Terima kasih, sudah mau menunggu." Mirza menatap Gweny yang kini tersenyum padanya.


"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih. Karena kamu sudah menerimaku," ucap Gweny tulus.

__ADS_1


"Sekarang tidur !"


Mirza beranjak dari tempat tidur, ia memakai kembali semua pakaiannya.


"Mau kemana?" tanya Gweny dengan dahi yang mengkerut.


"Aku tidur disini." Mirza menunjuk sofa dihadapannya.


Terlihat raut wajah kecewa diwajah Gweny. Bagaimana bisa Mirza tidur di sofa sedangkan mereka baru saja melakukan hal yang biasa dilakukan oleh suami dan istri.


Apakah Mirza masih belum bisa menerima Gweny sepenuhnya, sehingga ia memilih untuk tetap tidur ditempat yang terpisah. Lagi, Gweny merasa kecewa pada pemikirannya sendiri. Kini ia tahu, Mirza hanya melakukan kewajibannya saja, bukan karena ia telah menerima Gweny seutuhnya.


Mirza memperhatikan Gweny yang kini tertidur dengan gelisah diatas tempat tidur. Mirza berpikir, apakah Gweny tengah merasakan sakit dibagian tubuhnya, hingga ia sering mengganti posisi tidurnya.


"Apakah sesakit itu?" batin Mirza. Ia memandang tubuh Gweny yang tertidur dengan memunggunginya. Namun, tiba-tiba saja ia teringat kejadian dimana ia mengambil setengah paksa sesuatu yang sangat berharga dalam diri Alula.


"Apakah aku juga menyakitimu La ?" lirihnya hampir tak terdengar.


Mirza merutuki dirinya sendiri, karena bisa-bisanya ia memikirkan Alula, disaat ia baru saja melakukannya dengan Gweny. Mungkin, pikirannya sudah rusak saat ini.


"Maafkan aku," ucapnya seraya menutup mata.


Berharap rasa bersalahnya bisa terkikis hanya dengan memejamkan mata.


.


.


.


Happy Reading 😊


Mohon maaf, lagi-lagi otor buat kecewa reader semua. 🙏


Karena Otor juga sedang menulis satu cerita lagi, perhatian Otor jadi terbagi dua. Jadi, untuk Up lebih cepat itu sepertinya belum bisa Otor lakukan.


Otor berharap semuanya tetap sabar menanti kisah Neng Peri sama kang Semir ya.. 🙏


Jangan lupa, like, comment and votenya 👍

__ADS_1


__ADS_2