
Kehadiran Marko dan Martin ternyata membuat suasana menjadi penuh tawa. Alula yang biasanya hanya tertunduk, kini sudah berani berbaur dengan yang mereka. sifat humoris ketiga pria tampan itu mampu mengubah Alula menjadi sering tertawa.
"Neng peri mau es krim gak? abang traktir." ucap Marko dengan sungguh-sungguh.
Alula hanya menggeleng "Engga bang, makasih." tolaknya.
"Buat cuci mulut." Marko tidak menyerah, terus membujuk Alula.
Mirza mencibir "Gaya lu cuci mulut pake es krim. biasanya juga pake aer kobokan lu." membuat semuanya tertawa. Mirza memang pintar sekali membuat suasana hatinya down.
"Diem lu."sembur Marko setelah tawa semuanya mereda.
Setelah perut terasa kenyang dan pipi terasa kebas karena Marko yang terus saja mengundang gelak tawa, dengan gombalan recehnya. Mirza mengajak Alula pulang karena malam sudah semakin larut.
Sebelumnya, Mirza sudah mengajak Alula pulang, namun hujan turun dengan deras membuat Mirza mengurungkan niatnya untuk pulang, dan kembali bergabung dengan teman-temannya.
"Udah, neng peri bareng abang aja, abang bawa mobil." ujar Marko ketika Mirza berpamitan pulang.
"Enak aja, ntar adek gue lu apa-apain lagi." elak Mirza sambil berjalan dan menarik tangan Alula dari hadapan Martin dan Marko. Alula tersenyum senang, Mirza selalu menjaganya dengan baik.
Ditengah perjalanan, Mirza membelokkan sepeda motornya ke minimarket untuk membeli beberapa makanan instan, mengingat persediaan dirumah telah habis. namun, sebelum keluar dari parkiran, tiba-tiba saja motor Mirza terhenti.
"Ada apa bang?" tanya Alula dibalik punggungnya.
"Didepan macet." jawabnya pelan.
"Pak ada apa yah? ko' macet gini?" tanya Mirza pada seorang pedagang asongan yang berjalan didekatnya.
"Oh itu, ada motor kelindes truk mas. kayaknya bakal lama macetnya." ujar tukang asongan.
"oh gitu, terima kasih Pak." tukang asongan itu mengangguk mengiyakan. lalu meninggalkan Alula dan Mirza.
"Kita cari jalan pintas aja ya." Mirza membalikan kemudi mencari jalan pintas menuju rumah agar sampai dengan cepat dan selamat.
Kini mereka tengah melewati jalanan yang gelap, sepi, dan jarang sekali motor atau mobil yang lewat disana. tanpa diduga, hujan kembali membasahi jalanan ibu kota , diiringi kilat dan suara petir yang silih menyambar.
Alula mengedarkan pandangannya, merasa tidak asing dengan tempat itu. matanya membeliak saat melewati deretan ruko kosong yang sepertinya sudah lama tidak terpakai.
Ingatannya kembali pada malam itu, malam dimana ia duduk sendirian ditengah hujan, malam dimana dirinya kembali bertemu dengan ayah tirinya, dan malam dimana Mirza datang menyelamatkannya.
Alula tertunduk, merapatkan wajahnya pada punggung Mirza yang kini basah dengan air hujan. ia mencengkram erat jaket Mirza. entah mengapa tiba-tiba saja tubuhnya terasa gemetar.
__ADS_1
"Dek, lu kenapa?" Mirza merasa Alula tidak baik-baik saja. ia menghentikan motornya, tepat ditempat Alula mendudukan dirinya disana waktu itu.
Alula menggeleng, namun semakin mengeratkan pegangannya pada jaket Mirza.
"Kenapa Abang bawa aku kesini." suaranya terdengar gemetar dan sedikit terisak. seperti tengah menahan rasa takut.
Dahi Mirza mengernyit merasa tak mengerti dengan apa yang Alula ucapkan. namun ia tersadar , di tempat ini ia menemukan tubuh lemas Alula yang tengah diseret-seret seseorang yang belakangan ini ia ketahui adalah ayah tirinya. dan tempat ini pastinya mempunyai kenangan buruk untuk Alula.
"Maaf dek, gue lupa." ucapnya sebelum melajukan kembali sepeda motornya. meninggalkan tempat paling mengerikan untuk gadis yang kini ia panggil adek.
"Tenang, ada gue." Mirza mencoba menenangkan Alula yang tengah membenamkan wajah dipunggungnya.
"Lu boleh peluk gue, kalo lu ngerasa takut." lanjutnya.
Tanpa sadar, Alula memeluk erat tubuh laki-laki yang kini ia panggil abang. mencoba menenangkan diri, menghilangkan rasa takut yang tiba-tiba saja menyerang dirinya.
Mirza segera melihat kondisi Alula, sesaat setelah mereka sampai dihalaman rumah. wajah cantik yang tadi dilihatnya begitu merona, kini berubah pias. dengan rambut yang lusuh dan baju yang kuyup karena terguyur hujan.
"Lu gak apa-apa kan dek ?"Mirza meraih kedua bahu Alula. meneliti wajah pucat gadis itu.
Alula menggeleng lemah "Gak apa-apa bang." ucapnya sambil mencoba tersenyum.
Tubuh Alula terpaku ditempatnya, napasnya terasa berhenti. bertepatan dengan degup jantungnya yang semakin tak beraturan. ia merasakan gelenyar aneh berada dalam pelukan Mirza.
Ini tidak benar .
Alula melepaskan pelukan Mirza dengan cepat.
"A.. aku ngantuk bang." ucapnya mencoba mengalihkan perhatian.
Mirza tersenyum simpul, lalu mengacak rambutnya pelan "Cepet tidur ! jangan lupa ganti baju dulu." serunya.
Alula masuk kedalam rumah, disusul Mirza setelah memberikan kunci motornya pada satpam. tak lupa ia membawa barang belanjaannya.
Kini setelah mengganti pakaiannya, Alula merebahkan dirinya diatas tempat tidur berukuran dua kali lipat dari tempat tidurnya di paviliun.
Matanya terpejam namun pikirannya melayang pada kejadian beberapa saat lalu. ketika Mirza tiba-tiba saja memeluk dirinya. ia menggelengkan kepalanya mencoba mengendalikan perasaan aneh yang kini muncul secara tiba-tiba. bukan, sejak lama. namun semakin lama semakin terasa.
"Apa aku menyukainya?" gumamnya pelan.
"Tidak, tidak." sanggahnya cepat.
__ADS_1
"Aku hanya mengaguminya. iya, aku hanya mengaguminya. sebagai seorang kakak, juga sebagai seseorang yang pernah menolongku."
"Lagi pula punya hak apa aku menyukainya. bisa tinggal dengan nyaman, dan dianggap keluarga dirumah ini saja seharusnya aku bersyukur. aku tidak boleh mengharapkan apapun yang lebih dari ini."
Alula menepis semua rasa yang melanda. tapi, bukankah cinta bisa datang pada siapa saja? kapan saja dan dimana saja ? tanpa memandang dia siapa, hartanya, kastanya.
Namun Alula yang selalu merasa dirinya tak layak, enggan untuk membenarkan perasaannya. kini matanya benar-benar terpejam, setelah lelah dengan perasaan yang berkecambuk dalam dada.
Ternyata tak hanya Alula, didalam kamar, Mirza tengah duduk termenung menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidur. ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. bisa-bisanya ia kehilangan kendali dengan tanpa sadar membawa tubuh Alula kedalam pelukannya.
Sebelumnya, ia tidak pernah seperti ini. bahkan kontak fisik secara langsung dengan perempuan pun seingatnya tidak pernah. tapi dengan Alula, gadis yang saat ini ia akui sebagai Adik. entah mengapa ia bisa langsung begitu saja memeluknya. itu benar-benar bukan dirinya.
"Aku hanya kasihan padanya. mata sendunya mengingatkanku pada Nara." gumamnya dengan mata menerawang, membayangkan wajah adik kecilnya yang telah lama tiada.
"Tapi, dia lebih mirip seperti gadis kecil yang pernah ketemui dulu." tiba-tiba saja senyumnya mengembang.
Ah ya, gadis kecil itu. gadis yang ia temui sebelum Papa memanggilnya untuk pulang, karena mendengar kabar duka atas kecelakaan Mama dan berakhir dengan meninggalnya Inara.
Gadis yang telah berhasil mencuri perhatiannya, gadis yang menangis saat ia menolongnya berteduh dari hujan. mata sendunya mengingatkan Mirza pada Inara yang saat ia pergi merengek ingin ikut bersamanya.
Perasaan bersalah kembali menyelimutinya.
"Aku hanya takut terjadi sesuatu pada Alula. aku hanya takut dia pergi seperti Inara yang pergi meninggalkanku. aku takut kehilangan adik untuk kedua kalinya."
.
.
.
Happy readding.. 😊
selamat berakhir pekan.
Oh iya, othor mau nanya nih, kelanjutan ceritanya gimana. mau dipanjangin apa dipendekkin aja ?
Othor cuma takut readers semua merasa bosan dengan cerita dedek Lula 🙄
othor pendekin jadi 10tahun kemudian gak apa-apa kali yah 😅
Jangan lupa like and comment nya yah...
__ADS_1