Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Tidak Terima


__ADS_3

"Maaf ya bang, gak bisa ngajak mampir dulu." Alula meringis malu.


Ia sadar, bukan ranahnya mengajak seorang tamu masuk kedalam rumah. terlebih ia pun hanya menumpang. sangat tidak enak rasanya mengajak tamunya masuk, sedangkan yang punya rumah tidak mempersilahkan.


"It's Oke, nyantai aja." Dito tersenyum dengan mata yang menyipit.


"Besok ... aku jemput, boleh?" tanyanya sedikit hati-hati, sebab tak ingin terlihat berlebihan dihadapan Alula. apalagi ia tidak mau, membuat Alula risih dengan perlakuannya.


"Siapa tahu, butuh ojek online." seloroh Dito sambil terkekeh. namun ia juga berharap Alula mau menerima tawarannya.


"Sama aku gratis, gak usah bayar. langsung sampai tujuan." ucap Dito yang kali ini mencoba memasang wajah serius.


"Apaan sih bang." Alula terkekeh demi melihat mimik wajah Dito yang dibuat-buat.


"Tapi, terima kasih udah nganterin aku, udah dibawa jalan-jalan juga tadi."


"Aku serius, mau dijemput gak?" namun Dito masih kukuh dengan pertanyaannya.


"Gak ngerepotin?"


"kalo ngerepotin, ngapain nawarin."


Setelah Dito beranjak pulang, Alula lebih memilih masuk lewat halaman belakang. ia pikir mungkin lebih baik, saat ini ia menghindari Mirza.


Menenangkan hati dan pikirannya seorang diri didalam paviliun sepertinya bukan ide yang buruk.


Setelah mengganti pakaiannya, Ia duduk di tepian jendela. memandangi kolam ikan dengan puluhan ikan koi berwarna-warni yang berenang meliuk-liuk didalamnya.


Angin yang berhembus kencang meniup-niup rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. suara gemericik air yang mengalir dari pipa menambah rasa tenang bagi orang yang mendengarnya.


Sesekali Alula melihat ikan-ikan dengan beragam warna itu berenang beriringan, lalu timbul ke permukaan air seolah tengah berusaha berinteraksi dengannya.


Alula tersenyum, ia merasa senang ketika melihat ikan-ikan itu saling berebut saat melawan arus air yang mengalir dari pipa.


Alula kini menyapu pandangannya keseluruh area halaman belakang. tatapan matanya tertuju pada gazebo dipinggir kolam renang, lalu sesaat tertegun ketika menatap kolam renang dengan air yang tenang. kilasan kebersamaannya dengan Mirza tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya.


"Abang ..." pekiknya, ketika Mirza dengan sengaja menyipratkan air padanya yang saat itu tengah duduk diatas Gazebo, dengan mata menatap fokus pada lembaran kertas dipangkuannya.


Mirza tertawa dengan puasnya, karena telah berhasil membuat rambut panjang Alula yang saat itu tergerai menjadi basah kuyup. entah mengapa ia suka sekali membiarkan rambutnya tergerai.

__ADS_1


Atau, saat Alula tengah bermain air ditepian kolam, tiba-tiba Mirza menarik tangannya dari dalam kolam. sehingga ia pun mau tak mau ikut tercebur masuk kedalamnya, membuat tubuh dan pakaiannya basah kuyup.


Lalu tatapan matanya kini terpaku pada tanaman hias milik Mama Indri, mawar merah yang tengah bermekaran begitu manis. ia ingat saat Mirza memetik satu tangkai bunga paling cantik diantara yang lainnya.


"Bunga cantik, buat adek abang yang tak kalah cantik." ucap Mirza waktu itu dengan senyum mengembang menampilkan lesung pipit yang selalu terlihat manis dimata Alula.


Mirza menyodorkan setangkai mawar merah itu, yang langsung diterima olehnya. Tiba-tiba saja Mama Indri datang dari arah belakang, membuat Alula tergelak. karena Mama Indri menjewer telinga anak semata wayangnya, yang telah seenaknya saja memetik bunga kesayangannya.


Sudut bibir Alula mengembang, rasanya begitu menyenangkan. melewati hari-hari bersama dengan orang yang ia sayangi, walaupun ia hanya menyimpannya sendiri didalam hati.


Namun tiba-tiba saja wajahnya berubah murung, saat mengingat kembali kedekatan Gweny dengan sang Abang.


Alula menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan.


Bukankah semakin dekat, hatinya akan semakin berkarat?


mungkinkah saat ini ia benar-benar harus menjaga jarak.


...****************...


"Si adek kemana Ma, dari kemarin gak kelihatan." tanya Mirza yang pagi ini baru saja turun dari kamarnya.


Mirza meletakkan tas ransel yang dibawanya di kursi kosong yang berada disampingnya. kebetulan hari ini ia ada jadwal kuliah pagi.


Dahi Mirza mengernyit, "*A*da apa dengan anak itu. tidak biasanya dia tidur dipaviliun. padahal Pa Abhi lagi nemenin Papa di Bandung." batin Mirza.


"Terus sekarang kemana, tumbenan belum sarapan. biasanya suka pagi banget?" tanya Mirza yang saat ini sudah mendudukkan diri di kursi meja makan.


Mama Indri yang saat itu tengah berada didapur, berjalan menuju meja makan dengan membawa secangkir teh manis yang baru saja dibuatnya.


"Loh, kan dari tadi udah berangkat. kamu gak tahu?" Mama Indri menyesap teh manis hangat ditangannya.


Mirza mendongakkan kepalanya "Udah berangkat?" tanyanya dengan dahi yang mengernyit dan mulut penuh dengan makanan.


"Sama siapa?" dahinya semakin mengkerut, seingatnya selama ini Alula belum pernah berangkat sekolah sendirian.


"Tadi ada yang jemput." ucapan Mama Indri berhasil membuat Mirza menghentikan kunyahannya.


"Kemarin juga dianterin pulang."

__ADS_1


Mirza menatap tajam Mama Indri yang tengah mengolesi roti gandum dengan selai cokelat.


Bukankah kemarin anak itu mengabarkan ada urusan sebentar, hingga menyuruhnya untuk tidak menjemput. lalu, urusan seperti apa yang anak itu maksud? apakah ia kencan kemarin? apakah sekarang anak itu sudah memiliki kekasih?


Mirza menggelengkan kepalanya dengan cepat, dugaan-dugaan itu tiba-tiba saja membuat dadanya terasa panas. ia menghembuskan napasnya dengan kasar. merasa kesal, dan merasa dibohongi. ada rasa tidak terima, jika Alula diantar jemput oleh laki-laki lain.


"Anaknya ganteng loh Mir."


"Mama senang, Alula sudah bisa dekat dengan laki-laki. tadinya Mama pikir dia bakalan jadi trauma. atau ... apalah itu."


"Mama lihat juga anaknya baik."


"Tadi juga sempat pamit sama Mama, anaknya sopan." Mama Indri terus saja berceloteh, tanpa memperhatikan raut wajah Mirza yang memberengut kesal.


"Kayaknya pacaran deh sama adek kamu."


Uhukk.. Uhukk..


Ucapan Mama Indri yang terakhir membuat Mirza tersendak makanannya sendiri. dengan cepat ia meraih segelas air putih dihadapannya, lalu meneguknya hingga tandas.


"Apa? pacarnya? enak saja!" rutuknya dalam hati.


Ia menyelesaikan acara makan paginya dengan tergesa. lalu melangkahkan kakinya dengan kesal kearah garasi, dimana motor hitam kesayangannya telah siap dipakai, setelah satpam gerbang depan terlebih dulu memanasi mesin motornya tadi.


Mirza bahkan tidak menanggapi teriakan Mama Indri yang terus memanggilnya.


"Emiiirr... " teriakan Mama Indri dari dalam rumah masih terdengar jelas ditelinganya. namun ia tak peduli.


"MIRZA, kamu pergi gak salim dulu sama orang tua."


"Dasar calon pengusaha kamu!" gerutu Mama Indri yang tetap mendo'akan yang terbaik untuk anaknya, saat ia melihat anak semata wayangnya pergi dengan terburu-buru. bahkan Mirza dengan cepat kilat melajukan sepeda motornya seperti orang kesetanan.


"Ya ampuun, anak Pa Sanjaya kemasukan jurig ban sigana (kayaknya)." Mama Indri hanya menggelengkan kepalanya.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading.. 😊


Jangan lupa like and comment nya yah..


__ADS_2