
Mirza berdiri dari tempat duduknya dengan wajah yang tak terbaca. Dan itu membuat perhatian semua orang tertuju ke arahnya. Seolah bertanya ada apa?
Dada Mirza bergemuruh, perasaannya tak menentu, seluruh tubuhnya terasa gemetar. Ia begitu kalut. Takut, jika Alula benar-benar menghilang lagi dan meninggalkannya begitu saja.
Tidak, Alula tidak akan melakukannya, bukan? tapi ia benar-benar takut. Ya, setakut itu Mirza kehilangan Alula. Dan ia tidak ingin hal itu terulang lagi.
Mirza ingin beranjak pergi, namun ia malah terpaku pada kehadiran dua anak kembar yang berjalan ke arahnya. Kedua anak kembar itu tersenyum lebar, terlihat begitu tampan dengan balutan kemeja putih yang dipadukan dengan celana katun hitam. Dasi kupu-kupu terpasang rapi di leher mereka. Gemas, Mirza melihat kedua anaknya itu.
Perlahan, perasaan Mirza mulai tenang. Apalagi saat ia tak sengaja melihat seluet yang mulai mendekat. Tatapan matanya benar-benar terpaku pada kehadiran wanita cantik yang berjalan anggun diapit oleh Marsha juga Risma di sisi kanan dan kirinya. Itulah dia, Alula.
Dengan balutan kebaya putih –hasil rancangannya sendiri– yang bertabur swarovski indah memenuhi area dada, tangan dan seluruh pinggiran kebaya yang menjuntai ke bawah menyapu lantai beralaskan karpet merah.
Kain jarik dengan warna dan corak yang serupa dengan yang dikenakan Mirza melilit membentuk tubuh bagian bawahnya. Sedangkan di bagian kepala, wanita itu tampil sangat cantik dan memukau dengan menggunakan singer sunda berwarna silver dengan motif bunga berwarna emas di bagian depan. Sebagian rangkaian bunga melati menghiasi berapa sisi kepalanya, sebagian lagi menjuntai di sisi kanan dan kirinya.
Mirza sampai tak berkedip dibuatnya, ia lega. Benar-benar lega. Senyumnya kini merekah, bahkan lesung pipinya sampai muncul di sana.
Kekhawatirannya beberapa saat yang lalu tidak benar-benar terjadi. Dan ia harus buat perhitungan dengan sahabat sengkleknya itu, Marko. Ah ya, masihkah pantas pria itu disebut sebagai sahabat setelah hampir membuatnya mati ketakutan?
Mirza masih mematung mengagumi kecantikan wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu, ia baru tersadarkan ketika mendengar,
"Nak Mirza." Suara penghulu membuyarkan kekagumannya pada Alula.
"Sampe gak denger dipanggil dari tadi, saking terpesona sama istrinya, ya?" seloroh Pa penghulu yang sejak tadi memanggil nama Mirza namun diabaikan oleh pemilik nama itu.
"Cantik," gumam Mirza tak henti memandangi wajah istrinya.
Semua orang yang hadir tampak tertawa karena Mirza terlihat bodoh saat itu. Alula hanya menunduk dengan wajah yang terasa panas.
"Digandeng tangan istrinya, biar duduk di sini!" seru Pa penghulu.
Mirza beranjak, lalu ia menuntun Alula untuk duduk di kursi kosong di sampingnya.
"Nah, sekarang sudah gak kosong kan kursinya? hatinya juga gak kosong lagi toh?" semua orang kembali tertawa dengan selorohan Pa penghulu, terlebih menertawakan Mirza yang meringis malu.
Mirza menyematkan cincin perak dengan berlian motif hati dijari Alula, Pa penghulu menyuruhnya untuk mengecup kening Alula. Namun, alih-alih mengecup kening, Mirza dengan sengaja mencium pipi Alula.
Suara tawa juga teriakan membuat suasana menjadi riuh, Alula menundukkan kepalanya. Sungguh, rasanya ingin sekali menenggelamkan dirinya. Pa Sanjaya sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putra semata wayangnya itu.
"Lihat itu kelakuan anakmu, Pah," bisik Mama Indri, sejurus kemudian ia tertawa geli.
Setelah sesi penandatanganan surat nikah, acara dilanjutkan dengan sungkeman. Dimana kedua pengantin meminta do'a juga restu kepada kedua orang tua masing-masing, lalu bergantian dengan orang tua baru atau biasa di sebut dengan mertua.
Pernikahan Alula dan Mirza mengusung tema adat Sunda, karena Alula sendiri lahir dan tinggal di Bandung, Mama Indri sangat antusias, karena ia pun berasal dari Sunda.
__ADS_1
"Ayah, maafkan Lula ... selama ini Lula sudah banyak mengecewakan ayah," ucap Alula ketika ia duduk bersimpuh dihadapan sang ayah.
"Nggak, Nak. Enggak. Kamu kebanggaan ayah. Kamu ... anak kuat, anak hebat. Kamu anak mandiri, kamu banyak menyimpan luka sendirian. Sekarang ... bahagialah, Nak." Cairan hangat jatuh membasahi pipi ayah Abhi, tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluruh dengan begitu saja.
Ibu Indah yang duduk di samping Ayah Abhi pun ikut menangis, tak kuasa menahan haru juga bahagia.
Suara lagu instrumental yang diputar, juga MC yang membacakan kalimat penuh kata mutiara menambah suasana menjadi khidmat dan syahdu. Air mata pun meluruh dengan begitu derasnya.
"Janji sama Ayah! Lula harus bahagia ... Nurut sama suami selama itu baik dan benar buatmu. Jadi ibu yang baik buat Shaka, Shaki juga keturunanmu yang lain nantinya. Ayah gak bisa kasih nasihat banyak, karena ayah pun sudah gagal menjadi suami yang baik buat ibumu."
Alula menggeleng, "Ayah gak pernah gagal, Ayah adalah ayah terbaik." Ayah Abhi memeluk Alula dengan begitu erat. Alula mengusap air mata yang mengalir di pipinya dengan menggunakan tisu.
Sementara di sepasang bangku sisi kiri, Mirza pun melakukan hal yang sama, duduk bersimpuh dihadapan kedua orangtuanya. Entah apa yang disampaikan Pa Sanjaya juga Mama Indri, sesekali pria berkacamata itu memukul bahu Mirza pelan, sesekali Mama Indri pun mencubit lengan anaknya itu. Mirza hanya meringis, lalu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya, patuh menerima setiap petuah dan nasihat dari kedua orang tuanya.
Setelah sesi sungkeman selesai, kedua mempelai kembali duduk di pelaminan, menyambut tamu yang hadir untuk bersalaman dan memberikan sebuah ucapan selamat.
"Sengaja banget tadi, mau ngerjain aku?" tanya Mirza saat mereka baru saja duduk di pelaminan.
"Ngerjain apa?" dahi Alula mengernyit.
"Tadi, lama banget keluarnya."
"Ya ampun, Abang ... tadi singer aku nyangkut kena kain background, harus dibenerin dulu. Jadi lama keluarnya," tutur Alula.
"Kok jadi ke Bang Marko?"
"Dia bilang tadi, kamu ngilang. Aku benar-benar takut, La."
Alula terkekeh melihat raut wajah Mirza. "Mana mungkin, Abang sayang" Hati Mirza berdesir, mendengar panggilan Alula untuknya.
"Bilang apa barusan?" tanya Mirza tersipu.
Bersamaan dengan itu, dua orang laki-laki dan satu orang perempuan menghampiri mereka.
"Giman shock terapinya? mantep kan?" Marko menarik turunkan alisnya.
Jika bukan karena hari ini adalah hari pernikahannya, sudah dipastikan Marko mengalami patah tulang.
"Sialan, kalo bukan lagi acara kawinan, gue pites lu."
"Haha, sory Bro. gatel banget gua gak ngerjain elu. By the way, selamat sekali lagi." Marko meninju lengan Mirza pelan. Lalu memeluk sahabatnya itu.
"Sorry, gua baru bisa dateng," ucap Martin dengan wajah menyesal setelah Mirza melepaskan pelukannya dari Marko. "Gue ikut bahagia, Mir. selamat ya, Bro." Martin pun ikut memeluk sahabatnya.
__ADS_1
"Brengsek emang Lu," Mirza membalas pelukan sahabatnya itu. "Thanks ya, Lu udah sempetin dateng. Gue tau, Lu tuh lagi tersesat sampe gak tau jalan pulang," ucap Mirza setelah melepas pelukannya. Ia meninju pelan lengan Martin. Marko, Mirza dan Martin pun kemudian tertawa.
"La, selamat ya. akhirnya ...." Marsha memeluk sahabatnya. "Gak nyangka, bahagia terus ya, La."
"Makasih ya, Sa. Selama ini udah banyak bantu aku."
"Jangan lupa, ntar malem live streaming ya!" seru Marko.
"Emangnya ada apa ntar malem, Bang?" tanya Marsha dengan wajah polosnya.
"Ada pertandingan sepak bola."
"Ish ... ish ... kasian banget kamu, La. Baru nikah udah ditinggal nonton bola." Semua tertawa dengan kepolosan Marsha.
"Gak cape lu, punya cewek kayak dia?" ejek Martin.
"Nah elu gak cape jomblo terus?"
"Brengsek." Mereka kembali tertawa.
Saat itu, Risma datang bersama dua anak kembar dengan wajah muram.
"La, Shaka sama Shaki pengen ke kalian terus, nih. Udah dibilangin bapak sama emaknya lagi sibuk."
"Shaki mau sama Mama." Shaki menghentakkan kakinya
"Shaka juga!"
Saat itulah tatapan Martin dan Risma bertemu, perempuan cantik dengan balutan kebaya berwarna maroon itu tersenyum ramah padanya. Martin pun balas tersenyum.
"Bau-bau kebucinan," sindir Marko, kemudian ia menggamit lengan Marsha untuk segera pergi dari sana.
"Yuk sayang, kita cari kebahagiaan berdua."
"Woy mau kemana? ajakin Shaka sama Shaki," teriak Mirza dari pelaminan.
"Kagak mau, anak-anak elu," gumam Marko.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading 🙂