
Alula masih terpaku, menatap pria dengan setelan jas rapi berdiri di hadapannya. Tatapan pria itu begitu dalam dan lembut, hingga Alula salah tingkah dibuatnya.
"Will you marry me?" tanya Mirza, pria itu mengulang pertanyaannya, karena Alula hanya diam saja.
Alula mengerjapkan matanya, ia mendesah tak percaya. Di hadapannya kini, berdiri dua orang anak laki-laki dan satu orang pria dewasa dengan wajah yang hampir sama, menatapnya dengan tatapan penuh harap.
Bagus! saat ini, Alula merasa tengah dilamar oleh tiga orang sekaligus.
"Jawab Ma!" seru Shaki, yang seolah tak sabar menunggu jawaban dari sang Ibu.
"Mama bilang iya!" Shaka mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah menyuruh Alula untuk melakukan hal yang sama.
Alula masih diam, dengan sorot mata yang sulit diartikan. Pandangannya mulai buram, karena cairan bening mulai memupuk di pelupuk matanya. Ingin sekali berkata tidak, Ia belum siap menata ulang hatinya, Ia belum siap jika lagi-lagi harus menelan kecewa. Namun sebuah tangan kecil yang menarik tangannya, membuat perhatian Alula teralihkan.
"Ma." Itu Shaki, anak itu meraih tangan Alula dengan kedua tangannya. Perlahan, Shaki menganggukkan kepalanya. Sorot mata anak itu nampak memohon, bisa Alula lihat kerinduan Shaki pada hadirnya sosok seorang ayah. Tidak tega rasanya Alula membuatnya kecewa.
Apakah ini saat yang tepat untuk meruntuhkan egonya?
Alula menarik napas dalam, sebelum akhirnya ia berkata, "Ya," ucapnya seiring dengan air mata yang meluruh dengan deras.
"Alhamdulillah."
"Alhamdulillah," ucapan syukur dari beberapa orang yang duduk di balik meja besar di depan sana.
Dapat Alula lihat, Mirza tersenyum penuh kelegaan.
"Terima kasih," ucap Mirza tanpa suara. Alula hanya membalasnya dengan anggukkan kepala.
"Yes," seru Shaki mengepalkan tangannya. "Oke." Lalu anak itu menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya memberi tanda pada seseorang di balik sebuah guci besar tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Sasa!" desis Alula tak percaya. Ia menyeka kedua pipinya yang sudah basah karena air mata.
Rupanya Marsha turut serta dalam acara malam ini. Pantas saja Shaki pintar sekali memainkan perasaan dan mencuri hatinya. Rupanya, ada Marsha di balik sikap anaknya itu.
Marsha keluar dari persembunyiannya bersama Marko. Pria yang sudah satu tahun belakangan menjadi kekasih dari Marsha itu juga ikut bekerja sama dengan kekasihnya.
"Udah napa, berdiri terus di situ, pegel tau!" keluh Marsha sambil cengengesan. Mengalihkan perhatian, agar Alula tak marah padanya.
Mirza mempersilahkan wanita dengan balutan minidress berwarna peach, yang diserasikan dengan sepatu pantofel hitam itu untuk berjalan menuju meja besar di mana semua orang tengah duduk di sana.
"Kamu gak pikir ulang lagi?" tanya Mama Indri saat Alula sampai di meja itu.
"Mah." Tatapan protes dari Mirza menjadi jawaban atas pertanyaan Mama Indri.
__ADS_1
"Mama 'kan cuma nanya." Mama Indri terkikik melihat wajah anak semata wayangnya itu.
"Kalau dia berubah pikiran, repot aku nanti ah. Udah susah-susah bikin rencana."
Semua orang tertawa mendengar gerutuan Mirza, pria dengan setelan jas rapi itu menarik kursi untuk Alula duduki.
"Jadi, ini semua sudah direncanakan?" Alula melirik Mirza, Marsha, Marko dan kedua anaknya secara bergantian.
"Iyalah," sahut Marsha cepat. "Kiki aktingnya kereeen." Marsha mengacungkan ibu jarinya. "Bisa jadi aktor hebat nanti."
Alula berdengus kesal, ia merasa dicurangi.
"Gak bisa gitu dong—."
"Gak ada siaran ulang yah, kamu udah jawab iya tadi." Mirza memotong protes Alula dengan cepat. Pria itu menggulum senyum, melihat wajah kesal Alula karena ucapannya terpotong begitu saja.
"Tapi Mama seneng, akhirnya kamu beneran mau jadi anak Mama." Mama Indri meraih tangan Alula yang saat itu duduk di sampingnya. Ia tidak pernah menyangka, jika rasa sayangnya begitu besar pada Alula.
"Ma—."
"Kamu janji yah, gak akan pergi-pergi lagi!"
Alula hanya tersenyum menanggapi ucapan Mama Indri.
"Kalau dia pergi, anak Mama yang asli itu bisa gila beneran," sindir Pa Sanjaya, dengan senyum mengejek.
"Bisa-bisa dia pergi lagi ke luar negri, dengan alasan ngambil es bonbon," ejek Marko.
"Kenapa es bonbon, Bang?" Dahi Marsha sampai mengkerut.
"Kan, waktu dulu keluar negri dia ngambil S2, sekarang ngambil apa? S2 udah lewat, jadinya es bonbon." Marko terbahak dengan candaanya.
"Ck, kagak gitu juga." Mirza berdecak kesal, menanggapi candaan Marko.
"Kalau Mama sama Papa nikah, kita bisa tidur bareng 'kan Onty?" Pertanyaan polos itu keluar dari mulut Shaki. Tentu saja, sejak dulu anak itu nampak paling semangat menyatukan kedua orang tuanya.
"Bisa dong, sayang." Marsha mengelus kepala Shaki. Lalu dengan gemas mencubit salah satu pipinya.
"Sakit, Onty." Protes Shaki, yang hanya dibalas dengan cengiran oleh Marsha.
"Oh, bukan hanya itu. Nanti Shaka sama Shaki bisa punya buaaanyak adik bayi." Marko terkikik saat melihat wajah berbinar kedua anak kembar itu.
"Wah ... aku mau lima." Shaka mengacungkan kelima jarinya.
__ADS_1
"Aku sepuluh." Shaki tak kalah antusias, anak itu bahkan sampai mengacungkan kedua tangannya ke udara.
"Sebelas deh, biar bisa main bola." Marko terbahak-bahak dengan ucapannya sendiri.
"Astaga ... Lo ajarin apa anak gue." Mirza memukul bahu Marko yang duduk tak jauh darinya, hanya terhalang oleh Shaka.
"Abang!" protes Alula pada Mirza. Ia tidak suka Mirza melakukan itu, terlebih di depan anak-anaknya.
"Punya pawang," ledek Marko, ketika melihat Mirza diam tak melanjutkan pukulannya.
"Sekarang 'kan sudah jelas hubungan kalian seperti apa, rasanya kurang pantas kalau kamu tidak meminta izin dulu pada Pa Abhi, Mir."
Ah ya, Mirza lupa bahwa ia belum meminta izin juga restu secara resmi pada Ayah Abhi. Saking senangnya, ia sampai lupa pada hal sepenting itu.
Mirza berdehem, untuk membuang rasa gugupnya.
"Pa Abhi, sebelumnya saya minta maaf, karena tidak mengadakan acara yang sakral untuk malam ini."
Ayah Abhi hanya tersenyum, lalu mengangguk sebagai jawaban. Ia paham, bahwa perjuangan Mirza untuk sampai di titik ini tidaklah mudah. Alula, bukanlah perempuan yang gampang untuk diraih hatinya. Bisa mengangguk dan mengucapakan kata 'Iya' saja, Ayah Abhi ikut merasa lega.
"Tadinya, saya hanya ingin mengadakan acara makan malam saja. Tapi, malah seperti ini." Mirza menggulum senyum. terlihat sekali raut wajah bahagia di sana.
"Mungkin, ini memang bukan yang pertama untuk saya. Sudah jadi rahasia umum, bagaimana kehidupan saya di masa lalu."
Pernikahan pertamanya dengan Gweny tidak semulus yang dibayangkan, Ia merasa gagal menjadi seorang kepala keluarga.
"Tapi jujur, ini adalah pengalaman pertama saya melamar seseorang."
Tidak bisa dipungkiri, Pernikahan Mirza dan Gweny dulu, tanpa persiapan apapun, tanpa proses lamaran yang sakral, meski duanya telah terikat lama dalam sebuah pertunangan. Hanya digelar secara sederhana, dan bertempat di rumah sakit pula.
Mirza menjeda ucapannya, ia butuh ruang dan waktu untuk meredakan degup jantungnya yang mendadak berdebar dengan hebat.
"Saya minta restu dari Pa Abhi, saya ingin menikahi putri Bapak secepatnya," ucap Mirza tegas dan jelas.
"Setelah ini, saya janji. Bahwa sesulit apapun cobaan yang akan datang nanti, saya akan tetap berada di samping putri Bapak, saya akan membahagiakan putri Bapak, menjaga juga melindungi kedua cucu Bapak."
"Dan ... satu lagi, saya berjanji, akan menjadi suami untuk Alula juga ayah yang baik untuk anak-anak saya nanti."
Bukan hanya Mama Indri, bahkan Pa Sanjaya sampai terbengong-bengong mendengar Mirza berbicara. Tidak pernah sekalipun mereka mendengar Mirza berkata semanis itu. Bahkan pada mendiang istrinya, Gweny. Mereka menilai Mirza terlalu kaku dan terlalu dingin, sehingga tidak bisa menciptakan sebuah hubungan yang harmonis.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading 🙂