
Alula POV
Usiaku waktu itu memang masih lima tahun, tapi entah mengapa aku masih mengingat dengan jelas kata-kata terakhir yang anak laki-laki itu ucapkan.
"Rlrrain... panggil aku Rlrain."
Setelah meneriakkan namaku, dia terlihat tersenyum lalu melambaikan tangannya.
"Jaga baik-baik bonekanya, agar nanti aku bisa menemukanmu lagi." ucapnya sebelum mobil melaju dari hadapanku. anak laki-laki itu tersenyum dengan lesung pipit yang manis dipipinya.
Sejak hari itu, aku menyimpan dan menjaga baik-baik boneka itu didalam lemari. bahkan, saat Dwi merengek pada Ibu untuk membujukku meminjamkan boneka itu, aku tidak peduli.
Dan aku berjanji akan menyimpannya dengan baik, sesuai dengan apa yang anak laki-laki itu ucapkan.
Seandainya saja keadaanku masih seperti dulu, mungkin aku sudah mengakui bahwa anak perempuan bergigi ompong yang menangis ditengah hujan waktu itu adalah aku, dan anak perempuan yang menerima boneka barbie itupun adalah aku.
Tapi keadaanku sekarang sudah berubah, aku bukan lagi anak seorang pengusaha percetakan. perbedaan diantara kami sangat membentang luas, bagaikan langit dan bumi. sekali lagi ku tekankan pada diri sendiri, aku tidak akan pantas bersanding dengan abang.
Abang dengan segala kehidupan sempurnanya sebagai putra satu-satunya pengusaha ternama, tidak bisa disandingkan dengan putri seorang supir yang hidup menumpang pada majikannya.
Aku juga tidak tahu alasan apa yang membuat abang mengingat pertemuan itu, apakah abang merasakan hal yang sama dengan ku ?
Tidak, mungkin itu hanya kebetulan saja.
Ya, kebetulan saja abang masih mengingatnya. Jikapun abang memiliki perasaan yang sama, aku tetap tidak akan mengungkapkan perasaanku.
Abang hanya akan menganggapku sebagai adik, cukuplah untukku menyimpan nama abang dihati yang paling dalam.
Hari ini, abang mengajakku pergi jalan-jalan. alih-alih berkeliling mall, abang justru mengajakku ke sebuah pasar malam yang hanya diadakan dalam setahun sekali.
Sedikit aneh memang, disaat anak orang kaya yang lain pergi hangout ke tempat-tempat mahal, abang justru antusias mengajakku pergi ke pasar malam.
Satuhal yang kusukai dari abang, dia selalu tampil sederhana. tidak ada brand mewah dengan harga melimpah yang dia pakai. Aku ingat, abang pernah berkata.
"Buat apa beli barang mahal kalau fungsinya tetap sama."
__ADS_1
Seperti hari ini, dia hanya memakai kaos putih dengan corak stripe di bagian tangan, yang dipadukan dengan celana jeans biru tua dengan warna yang sedikit pudar. tak lupa dia memakai hoodie berwarna navy, warna kesukaannya.
Abang menuruni anak tangga dengan bibir yang tak berhenti menyunggingkan senyum. dia menyugar rambut klimisnya ketika beberapa helai rambut jatuh menutupi dahinya.
Ah, entah mengapa rasanya dadaku terasa sesak. aku tidak bisa bernapas dengan benar. bahkan, aku tidak sadar ketika tiba-tiba dia sudah berdiri dihadapanku.
"Woy bengong, gue tahu kalo gue ganteng." dia tersenyum menggoda.
Aku hanya mencibir, namun dalam hati membenarkan perkataan abang. ish menyebalkan.
"Udah cepetan jalan ! jangan pulang larut malam !" tak terhitung sudah berapa kali Mama mewanti-wanti untuk tidak pulang malam. terkadang, rasanya panas juga telinga mendengar celotehan Mama. ampun.
Kita tiba dipasar malam ketika waktu menunjukkan pukul tujuh malam. karena hari ini merupakan hari sabtu, suasana pasar malam nampak ramai dipenuhi dengan pengunjung.
Lampu kerlap-kerlip berwarna-warni yang dipasang pada setiap wahana permainan memenuhi pandanganku. suara teriakkan orang-orang yang menaiki wahana permainan yang memicu adrenalin begitu memekakkan telinga, membuat suasana semakin meriah.
Diantara banyaknya pengunjung, beberapa diantaranya adalah pasangan muda mudi yang tengah dimabuk asmara. ada yang berjalan berdampingan, saling menggenggam tangan, bahkan ada juga yang saling merangkul tanpa malu memperlihatkan kemesraan mereka.
Namun Aku lebih tertarik pada seorang Ibu yang kerepotan menuntun dua anak balita dengan wajah sama persis. kedua anak itu menangis, sedangkan Ibu itu terlihat celingukan seperti tengah mencari seseorang.
"Nah, itu ayah." Ku dengar Ibu itu berbicara dengan riang kepada kedua anaknya. Ibu dengan dua anak itu tersenyum ketika seorang pria menghampiri mereka.
Waktu itu kami masih tinggal di Bandung, usiaku masih 7 tahun. setiap hari libur tiba, Ayah sering mengajak kami jalan-jalan. Dwi selalu menempel pada Ibu, tidak pernah sedetikpun melepaskan genggaman tangannya pada Ibu.
Sedangkan aku, aku berlarian kesana kemari sendirian. Ayah sampai harus berteriak memanggil namaku ketika menyadari aku tidak ada disampingnya. aku memang tidak bisa diam, selalu penasaran dengan apa yang aku lihat.
Kenangan yang masih aku ingat adalah, ketika Ayah mengajak kami, aku dan Dwi untuk naik keatas punggung gajah.
Aku tertawa-tawa saat melihat wajah pucat Dwi yang menjerit-jerit ketakutan sambil memeluk Ayah. aku tidak takut, karena aku adalah anak yang pemberani. Ibu hanya bisa berteriak, menenangkan Dwi dari bawah.
"Ayah ..." teriakkan salah satu anak balita itu membuyarkan lamunanku. anak itu melompat ketika sang ayah berjongkok menyamakan tinggi badannya.
"Dek, mau nyoba maen kora-kora?" tepukan tangan dibahu membuatku menoleh pada abang yang sedari tadi berdiri disampingku.
Aku tak langsung menjawab, lebih memilih menyeka sudut mataku yang tiba-tiba terasa basah.
__ADS_1
"Kenapa ? lu nangis ?" Abang memandangiku dengan dahi yang mengkerut.
"Gak apa-apa bang. lihat mereka aku jadi kangen sama Ibu dan Dwi." ucapku dengan mata menunjuk sepasang orang tua dengan dua balita kembar yang kini tengah tertawa dengan riang.
"Hey .. don't be sad ! time to have fun with me." ucap Abang dengan senyum yang begitu menawan. dan entah mengapa akupun langsung tersenyum melihatnya.
Dan malam ini, abang benar-benar membuatku merasa senang. menghabiskan waktu berdua di pasar malam, berteriak saat menaiki wahana yang ekstrim, dan tertawa-tawa dengan riang. hal yang tak pernah ku rasakan sebelumnya bersama abang.
Rasanya sedikit aneh, karena sepanjang kami berjalan, abang tidak pernah melepaskan genggaman tangannya.
Malam semakin larut ketika tiba-tiba saja gerimis turun. dan seperti biasa, aku akan menengadahkan kepalaku keatas, menatap lagit malam dengan tetesan air hujan yang jatuh membasahi wajahku.
BRUK
"Aduhhh."
Tubuhku terhuyung saat kakiku tersandung sebuah batu yang lumayan besar. aku terjatuh dengan lutut dan telapak tangan menyentuh tanah yang lumayan keras.
Aku meringis, saat ku rasa telapak tangan dan lututku terasa perih. selalu saja seperti ini. namun entah mengapa aku suka sekali melakukan itu saat hujan turun.
"Kalau jalan lihat ke depan !" serunya dengan dahi yang mengkerut.
Aku menoleh saat tangan seseorang tiba-tiba merangkul bahuku dengan penuh kelembutan untuk membantuku berdiri.
Mata kami saling bersitatap, sesaat aku terpaku menatap si pemilik wajah dengan mata tajam itu. ini seperti dejavu. mengulang kembali saat pertemuan pertama kami tiga belas tahun yang lalu.
Namun ucapan abang selanjutnya berhasil membuatku tiba-tiba dilanda rasa gugup.
"Dek, apa kita pernah bertemu sebelumnya ?"
.
.
.
__ADS_1
Happy reading... 😊
Jangan lupa like and commentnya.... 👍