
Merasa sendiri di tengah keramaian, itulah yang Mirza rasakan saat ini. Banyaknya orang yang berlalu lalang dihadapannya tak ia hiraukan. Bahkan, suara telepon yang sejak tadi berdering tak mengalihkan perhatiannya.
Ia duduk terpaku menatap nanar bangunan putih yang menjulang dihadapannya. Perlahan, ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya, yang hari ini terasa semakin kusut tanpa jalan keluar yang berarti.
Masih terngiang ditelinganya, suara lirih Om Handoko sesaat setelah beliau tersadar dari koma.
"Om percayakan Gweny sama kamu," ucap Om Handoko dengan napas terengah. Selang oksigen dan alat pemicu detak jantung masih terpasang ditubuhnya yang lemah.
"Om takut, tidak bisa menjaganya lagi." Tatapan mata sendu penuh harap itu tak bisa membuat Mirza berkata-kata.
"Om ingin melihat Gweny bahagia ... dengan orang yang dicintainya." Suara Om Handoko terdengar semakin lirih ditelinga Mirza.
"Mir ...," Om Handoko menjeda ucapannya.
"Bolehkah Om meminta satu permintaan?" tangan Om Handoko perlahan bergerak. Ia meraih tangan Mirza yang saat itu tengah duduk disamping ranjangnya. Hanya Mirza dan Om Handoko saja yang berada disana, karena Om Handoko ingin berbicara hanya empat mata.
"Apa Om ?" tanyanya dengan dahi yang mengernyit.
"Menikahlah dengan Gweny." satu kalimat yang membuat Mirza ternganga.
Mirza meremas rambut nya, ia merasa frustasi. Kepalanya semakin terasa berdenyut nyeri. Bagaimana bisa ia berjanji untuk menikahi Gweny, sedangkan seharusnya ia bertanggung jawab atas kesalahannya pada Alula.
Ia tidak mau dianggap sebagai laki-laki breng sek yang tidak mau bertanggung jawab. Tapi, ia juga tidak mau dianggap sebagai laki-laki yang ingkar janji. Lalu, apa yang harus ia lakukan saat ini.
Jika Mirza jujur, mengakui kesalahan yang sudah ia lakukan pada Alula, ia takut kondisi Om Handoko menjadi semakin buruk.
Dan yang lebih ia takutkan adalah reaksi Mama Indri ketika mengetahui anak semata wayangnya melakukan kesalahan besar. Ia takut akan membuat Mama Indri kecewa, hingga anfal, dan berakhir di rumah sakit karena terlalu terkejut.
Tapi, jika ia menikahi Gweny, akan sangat tidak adil bagi Alula. Hanya karena cemburu butanya pada Yanuar, Mirza sampai melakukan kesalahan yang fatal.
"Argh ..., " erang Mirza. Ia mengusap kasar wajahnya.
"Kamu gak perlu penuhi keinginan Papaku Mir !" suara Gweny terdengar dari arah belakang. Mirza menoleh, mendapati Gweny tengah berdiri sambil menatapnya.
"Aku gak mau menjadi beban buat kamu." sambung Gweny dengan tatapan sendunya.
Gweny yakin, jika sang Papa pasti telah membicarakan perihal perjodohan mereka. Gweny tidak mau, jika Mirza menikahinya karen sebuah keterpaksaan.
"Gwen," panggil Mirza pada Gweny yang masih mematung ditempatnya.
__ADS_1
Mirza menatap wajah sendu Gweny, terlihat sekali kesedihan yang mendalam dari matanya.
"Aku ..., " Gweny tak melanjutkan kata-katanya. Air matanya kini sudah meluruh dari pelupuknya.
Mirza mengajak Gweny untuk duduk disebelahnya, ia mengerti perasaan Gweny saat ini. Kehilangan orang yang paling disayangi membuatnya lebih peka terhadap perasaan orang lain.
"Aku ... aku cuma takut kehilangan Papa ku Mir." Gweny tak kuasa membendung kesedihannya, akhirnya ia menangis dalam pelukan Mirza.
Belum juga tangisnya mereda, suara dering telepon mengalihkan perhatian keduanya. Mirza mengambil handphone didalam saku celananya.
Ia terhenyak, saat mendengar suara gemetar bercampur isakkan sang Mama diseberang telepon.
"I ... iya Ma," jawab Mirza dengan suara tercekat.
Mirza beralih menatap Gweny dengan tatapan tak terbaca, sebelum akhirnya berkata,
"Gwen, kita harus segera ke ruangan Om Handoko," ucapnya pada Gweny yang tengah menatapnya dengan penuh tanya.
...****************...
"Sah?"
"SAH."
Meski dalam keadaan sederhana, serba mendadak, juga diadakan di dalam kamar rumah sakit. Dan hanya dihadiri oleh beberapa staf dokter sebagai saksi, seorang ustadz, juga seorang penghulu. Akan tetapi, suasana pernikahan sederhana itu berlangsung dengan khidmat.
Rasa haru, sedih, juga kehilangan yang mendalam bercampur menjadi satu dalam hati Gweny. Yah, Ia terharu karena akhirnya ia bisa menikah dengan laki-laki yang ia cintai.
Disisi lain, Gweny juga merasa sedih. Karena saat itu pula ia harus kehilangan sang Papa sebagai cinta pertama untuknya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika Gweny harus kehilangan orang yang paling ia cintai secepat itu.
Jika boleh memilih, tentu Gweny akan melepaskan Mirza dari pada harus kehilangan sosok Papa yang sejak kecil merawat dirinya tanpa kenal lelah.
Namun takdir mempermainkan dirinya. Karena disaat Gweny benar-benar ingin melepaskan Mirza, ia justru terikat dalam pernikahan dadakan sebelum sang Papa pergi.
Gweny pasrah, tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menangis, ketika mendengar sang Papa lagi-lagi meminta Mirza untuk menikahinya. Akan tetapi, ia akhirnya merasa lega karena inilah wujud permintaan terakhir dari sang Papa sebelum beliau pergi untuk selamanya.
Prosesi pemakaman telah usai, orang-orang yang ikut mengantarkan jenazah Om Handoko ke peristirahatan terakhir juga sudah membubarkan diri. Termasuk Pa Sanjaya dan juga Mama Indri yang sejak hari pertama Om Handoko dirawat dirumah sakit terus membersamai Gweny.
Gweny masih terdiam, menatap sendu bilah kayu dengan ukiran nama sang Papa. Meski sudah merasa tenang, namun ia masih menangis dalam diam. Sulit rasanya menerima kenyataan pahit yang baru saja ia alami.
__ADS_1
Mirza duduk disamping Gweny, menemaninya dalam diam. Ia mengelus pundak Gweny yang kini berstatus sebagai istrinya. Memberikan kekuatan juga semangat untuknya. Sedingin apapun sikap Mirza, ia tetaplah pria yang tidak pernah bisa melihat seorang perempuan menangis.
"Sudah sore, kita pulang," ucap Mirza lirih tepat ditelinga Gweny.
Gweny sempat tertegun, saat Mirza mengucapkan kata 'kita'. Ia lupa, bahwa mulai hari ini, ia adalah istri seorang Mirza Permana Mahesa. Laki-laki yang ia cintai sejak duduk di bangku sekolah.
Bukankah seharusnya ia bahagia ? tapi, entah mengapa rasanya begitu tak berarti. Karena seharusnya, sang Papa ikut bahagia dengan adanya hari ini. Hari yang paling Gweny nantikan sejak bertahun-tahun yang lalu.
"I ... iya," ucap Gweny dengan kaku saat Mirza membantunya untuk berdiri.
Mereka pulang ke rumah kediaman Mahesa, Mama Indri juga Pa Sanjaya menyambut hangat kehadiran Gweny sebagai menantu dirumah mereka.
Namun tidak dengan Mirza, ia masih dengan sikap yang sama. Dingin, dan tidak peduli. Ia lebih memilih masuk kedalam kamarnya, dan meninggalkan Gweny bersama Mama Indri begitu saja.
Suasana duka masih Gweny rasakan, ditambah ketidak pedulian Mirza membuat hatinya semakin terasa tertekan.
Mama Indri mengantarkan Gweny ke kamar putranya, kamar yang mulai saat ini menjadi milik Gweny juga.
"Kamu kenapa sih Mir, istri sendiri ditinggal gitu aja." Gerutu Mama Indri saat membuka pintu kamar putranya. Namun, Mirza tak terlihat didalam kamarnya.
Setelah kepergian Mama Indri, Gweny merasa bingung harus melakukan apa. Rasanya begitu canggung, sebab ini adalah pertama kalinya ia masuk kedalam kamar Mirza.
Gweny mengedarkan pandangannya, meneliti ke setiap sudut kamar. Namun ia tak mendapati Mirza dimana pun. Kemana pria itu pergi ? Mungkinkah Mirza tengah menghindarinya ?
Gweny menoleh pada kain gorden yang tersingkap karena tertiup angin, ia melihat pintu menuju balkon terbuka.
Perlahan, Gweny melangkah menuju pintu. Ia terhenyak saat mendapati Mirza tengah tertidur diatas sofa yang berada di balkon kamarnya, sudut matanya terlihat basah. Apakah Mirza baru saja menangis ?
Namun air mata Gweny tiba-tiba saja meluruh, saat tak sengaja mendengar suara lirih Mirza ditengah lelap tidurnya.
"Maafkan aku, La," ucap Mirza dengan mata yang terpejam. "aku ... sayang kamu."
.
.
Happy Reading 😊
Maaf banget kalau alurnya gak sesuai ekspektasi. tapi otor seneng, akhirnya yang gak pernah ngomen jadi tiba-tiba muncul. 😁
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih sudah setia bersama Dedek Lula ❤️
Jangan lupa like, comment and votenya 👍