Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Kekhawatiran Mirza


__ADS_3

"Udah deh, Lu tuh ngaku aja kalo sebenarnya elu tuh suka sama si Lula." ujar Marko yang tengah mengemut permen loli kesukaannya. mereka kini tengah berada dikamar Marko. karena tadi, dosen mengabarkan hari ini tidak ada jadwal mata kuliah.


Mirza hanya melirik Marko sekilas lalu menghembuskan napasnya dengan kesal.


"Ba cot Lu." maki Mirza pada Marko yang tengah menyeringai menggodanya.


"Emang beneran kan, elu tuh sebenarnya cemburu lihat si Lula dianterin pulang sama cowok lain." Marko tetap bersikukuh.


"Gue gak cemburu," elak Mirza, mana ada cemburu sama adek sendiri. begitu pikirnya.


"Kalo gitu, jadiin gue adek ipar lu aja gimana." goda Marko.


"Ih najis." ucap Mirza sambil menepis tangan Marko yang mencoba meraihnya. Marko hanya mencibirnya.


"Gue cuma khawatir, gue nungguin dia gak pulang-pulang. elu berdua tau sendiri kan kejadian yang menimpa gue akhir-akhir ini." Mirza memang menceritakan semua yang ia alami pada teman-temannya. karena merasa dirinyapun ikut berada dalam bahaya.


"Kalo elu khawatir, kenapa lu diemin dia nyampe berhari-hari." ujar Martin sambil menyandarkan diri pada sisi meja.


"Ya karena gue kesel lah. gue dirumah khawatir, dia malah enak-enakan pergi sama cowok lain." ucap Mirza dengan berapi-api. Marko dan Martin saling menatap. merasa benar dengan dugaan mereka.


"Elu tuh kalo suka, ngomong aja kali." celetuk Martin.


"Dia adek gue!" tegas Mirza, tak ingin membuat teman-temannya berasumsi lain. sebab ia merasa hatinya telah berlabuh pada si anak bergigi ompong. Hmmmm


"Nih ya, dari cara elu memandang dia, memperhatikan dia, elu ketawa bareng dia, gue tuh udah tau kalo elu ada rasa sama adek lu." Martin merasa kesal, karena Mirza terus saja mengelak.


"Elu tuh emang bener-bener gak peka tau gak. boro-boro peka sama orang lain, sama perasaan Lu sendiripun Lu gak tau." ucapnya lagi.


Entahlah, Mirza memang tidak tau apa yang dirasakannya saat ini. tapi saat ia melihat Alula pulang bersama Dito waktu itu, ia merasa kesal. dadanya tiba-tiba saja terasa panas. tidak suka melihat Alula bersama pria lain.


"Serahhh.." ucap Mirza dengan malas.


"Nih ya, gue bilangin. Elu tuh sebenarnya ada rasa sama adek Lu itu. cuman elu terus bersembunyi dibalik status adek kakak Lu itu." Marko tak menyerah, terus berusaha membuat Mirza sadar akan perasaanya pada Alula.


"Gue bakalan buktiin kalo gue gak ada rasa sama adek gue." Mirza tetap mengelak, tak mau mendengarkan perkataan teman-temannya.


"Caranya?" tanya Martin dan Marko bersamaan.


Mirza nampak berpikir, seperti tengah mempertimbangkan sesuatu.


"Gue bakalan nembak Gweny." ucapan Mirza berhasil membuat Martin seketika menoleh.

__ADS_1


"Maksud Lu apa?" tanya Martin dengan nada kesal. bagaimanapun juga ia tidak mau, sampai Gweny hanya dijadikan pelarian.


Dahi Mirza mengernyit, "Ko' elu panik?" tanyanya.


"Apa jangan-jangan elu suka sama Gweny." Mirza menatap tajam kearah Martin.


"Astagaa... " desah Marko tak percaya, sebab temannya yang satu ini memang tak pernah peka. bahkan dari dulu Marko sudah tahu jika Martin menyukai Gweny. sialnya, Gweny malah menyukai Mirza, si pria dingin dengan segala ketidak pekaannya.


"Terserah apa kata elu deh. yang jelas, kenapa harus elu libatin Gweny?" Martin seperti kehilangan kendali, ingin menelan hidup-hidup sahabatnya itu.


"Karena Gweny suka sama gue, apa salahnya gue berusaha buat buka hati gue." ucap Mirza santai, ia tak tahu saja jika Martin tengah merasakan perih dihatinya.


"Kenapa sih, elu tuh gak bilang aja kalo elu suka sama adek lu." kini, Martin menatap Mirza dengan tajam, saling bersikukuh dengan pendapat masing-masing.


"Udah gue bilang, dia adek gue." tegas Mirza.


"Yaudah terserah elu. tapi, kalo sampai elu nyakitin Gweny. gue gak mau temenan lagi sama elu."


"Ko, elu ngegas sih."


"Udah deh udah, elu berdua udah kayak anak kecil tau nggak." dengan gemas Marko menjitak kepala kedua sahabatnya, mencoba melerai. bukan tanpa alasan, ia hanya takut kamar tercintanya ini dipenuhi darah, jika kedua sahabatnya ini sampai saling bertikai.


...****************...


Bahkan, saat guru menjelaskan didepan kelas tadi, Alula tak berkonsentrasi. seolah diterima telinga kanan, keluar telinga kiri. pikirannya dipenuhi wajah Mirza yang terlihat marah waktu itu. jatuh cinta memang separah itu ternyata.


"Elu tuh gak mikir apa dek, gue nungguin Lu dirumah sampe khawatir, karena lu gak pulang-pulang." cerca Mirza dengan nada dinginnya, saat Alula berhasil menghentikan langkah Mirza waktu itu.


Alula benar-benar takut, ia menunduk tak berani memandangi wajah Mirza.


"Setidaknya elu kasih kabar, telepon dulu kalo mau jalan bareng tuh LAKI." lanjutnya lagi masih tanpa ekspresi. dan ini lebih mengerikan, dari pada harus berhadapan dengan setumpuk soal matematika.


"Maaf bang." ucap Alula lirih tanpa mengangkat wajahnya. Ia benar-benar lupa tidak memberi kabar terlebih dahulu. tapi ia tidak menyangka jika Mirza akan mengkhawatirkannya seperti ini.


"Kamu tuh kenapa sih La, dari tadi bengong mulu." Marsha duduk dihadapan Alula yang saat ini masih mengaduk-aduk es teh manisnya.


"Gak apa-apa." jawabnya malas.


"Dih, Keliatan banget tahu, kamu tuh lagi potek hatinya." ujar Mulan.


Alula terkekeh "apaan tuh potek hati, baru denger."

__ADS_1


"Masih marahan sama bang Emir?" terka Marsha.


"Enggak, siapa yang marahan." elaknya.


"Terus kenapa?"


"Gak tahu, sejak aku pulang sama bang Dito waktu itu, Abang diemin aku terus. gak enak tau." keluhnya.


"Cemburu tuh." celetuk Mulan yang tengah melahap siomay diatas meja. membuat Alula seketika menoleh.


"Bicara sembarangan." ucap Alula. namun entah mengapa hatinya merasa berdesir saat mendengarnya.


"Bisa jadi tau La. aku tahu, kamu juga suka kan sama abangmu?" Marsha tak mau kehilangan kesempatan. ia ingin menanyakan ini sejak lama.


"Apa sih Sa." Alula menunduk menyembunyikan wajahnya yang tersipu.


"Aku tahu kamu dari kecil La, kamu gak mudah deket sama temen laki-laki. tapi kedekatan kamu sama abang kamu itu beda dimata aku." ujar Marsha.


"Semacam ada tarikan magnet." imbuhnya.


"Perasaan kamu ke abang kamu itu bukan cuma sekedar kagum, tapi sudah lebih dari itu."


Alula masih tertunduk. ia membenarkan perkataan Marsha. sejak pertama kali bertemu dengan Mirza, ia menyukainya. dimatanya tidak ada Mirza yang dingin dan ketus. Mirza adalah sosok laki-laki yang baik, penyayang, juga memiliki rasa empati yang tinggi. itulah mengapa ia merasa jatuh cinta saat pandangan mereka pertama kali bertemu.


Apalagi saat Alula tahu, bahwa Mirza adalah anak laki-laki yang menolongnya waktu kecil dulu, saat ia menangis karena terjatuh dibawah hujan. anak laki-laki yang dengan sukarela memberikan satu diantara dua boneka yang dipegangnya waktu itu.


Awalnya ia tak tahu jika rekan bisnis yang akan ditemui ayah waktu itu adalah Pa Sanjaya. ia baru tahu saat ia menanyakannya pada ayah. sesaat setelah ia tak sengaja melihat sebuah boneka didalam lemari kaca dikamar Mirza. terlihat rapi, seperti tak pernah tersentuh.


"Boneka itu untuk Inara," ucap Mama Indri, ketika ia mematung menatap lekat boneka yang sangat dikenalinya itu.


"Mirza yang membelinya, saat ikut Papanya ke Bandung dulu. tapi sayang, dia tidak sempat memberikannya langsung pada Nara. karena Nara keburu meninggal." terang Mama Indri dengan mata yang hampir basah.


Alula tak pernah menyangka, jika cinta pertamanya adalah Mirza. orang yang sama yang disukainya saat beranjak dewasa.


.


.


.


Happy reading.. 😊

__ADS_1


Jangan lupa like and comment nya.. 🤗


__ADS_2