
Pintu kedatangan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta terlihat ramai pagi ini. Dua orang laki-laki dan perempuan muda duduk menunggu kedatangan sahabat juga tunangannya datang.
Marko dan Gweny, beranjak dari kursi ketika melihat Mirza keluar dari kerumunan orang-orang yang juga tengah menunggu kedatangan penumpang yang lain.
"Woy," Marko melambaikan tangannya pada Mirza yang tengah celingukan mencari keberadaan mereka.
"*W*elcome to Jekardah brother." Marko mengangkat kepalan tangannya.
"So' Inggris lu." namun tak lama Mirza membalas kepalan tangan Marko. Lalu mengangguk dan tersenyum samar ke arah Gweny yang berdiri tak jauh dari Marko. Gweny membalas dengan senyum manisnya.
"Lah, kan elu datang dari Inggris." ujar Marko seraya tertawa.
"Eh selamat ya Bro." Marko meninju lengan Mirza, "Sorry, gue gak bisa dateng kesana. bisanya cuma jemput disini."
"Oke, thanks. Ngapain juga elu kesana. malu gue, yang ada elu nanti sepik-sepik bule sana." ujar Mirza sambil berjalan menuju parkiran. Koper besarnya ia kerek melewati beberapa pengunjung Bandara.
"Sialan." gerutu Marko.
"Woy, tunangan elu ditinggal ?" teriak Marko saat melihat Mirza telah menjauh.
Mirza berbalik, ia menunggu Marko juga Gweny yang berjalan ke arahnya.
"Elu mah gak ada romantis-romantisnya, masa calon bini ditinggalin." bisik Marko pada Mirza, namun masih bisa terdengar di telinga Gweny.
"Capek gue, pengen cepet-cepet istirahat." ujar Mirza acuh, lalu melanjutkan kembali perjalanannya menuju parkiran. entahlah, mendengar kata 'calon bini' membuat hatinya tiba-tiba merasa nyeri.
Gweny menatap Marko dengan lekat, dan menepuk pundaknya seolah berkata bahwa ia baik-baik saja. Lalu, ia berjalan menyusul Mirza.
Marko hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Mirza yang masih saja belum berubah pada Gweny. tetap dingin dan acuh. padahal, ia tahu jika Mirza dan Gweny akan menikah dalam waktu dekat.
Jika saja Martin tahu, ia pasti akan menegur Mirza karena sudah membuat hati Gweny terluka.
Mobil MPV berwarna hitam mengkilat itu melaju, meninggalkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mirza memilih duduk didepan bersama supir, sedangkan Marko dan Gweny duduk di bangku belakang.
"Elu ngapain duduk didepan sih, harusnya kan disini." protes Marko ketika ia masuk kedalam mobil.
"Gue capek mau tidur." jawab Mirza sekenanya. Ia bersandar pada sandaran mobil lalu memejamkan matanya.
"Kan dibelakang juga bisa, ditemenin lagi sama calon bini." goda Marko.
"Berisik lu, si Gweny aja gak protes. Kenapa elu yang bawel sih." kesal Mirza karena Marko terus saja menggodanya.
"Gue kan ngomong apa adanya."
"Lu ngomong sekali lagi, gue turunin lu." ancam Mirza. Marko hanya mencibir dibalik punggungnya.
"Kalian ini kenapa sih, baru ketemu udah berantem." ujar Gweny mencoba melerai.
"Laki lu tuh," tunjuk Marko dengan dagunya.
"Dia butuh istirahat Ko." Gweny mencoba memberikan pengertian.
__ADS_1
"Denger tuh pake telinga lu." sembur Mirza di kursi depan.
Dan sepanjang perjalanan hanya terdengar bunyi klakson yang saling bersahutan. Padatnya kendaraan diakhir pekan, membuat jalanan penuh dengan kendaraan pribadi yang hendak bepergian.
Mereka tiba di kediaman Mahesa setelah menempuh waktu selama satu jam. Mama Indri dengan senyum cerianya berdiri diambang pintu, menunggu kedatangan putra semata wayangnya.
"Welcome back anak Mama." Mama Indri merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Mirza.
"Kenapa semua orang jadi so Inggris gini sih." Mirza membalas pelukan Mama Indri, lalu mencium pipinya.
"Harus dong, kan kamu pulang dari Inggris." Mama Indri terkekeh "Mama kangen deh sama kamu." lanjutnya sambil berjalan menuju ruang tamu, menggandeng tangan Gweny untuk ikut bersamanya.
"Yaelah Ma, baru ketemu kemaren juga." jawab Mirza setelah mendaratkan tubuhnya diatas sofa.
"Papa mana?" tanyanya kemudian.
"Papa belum pulang, lagi keluar kota." jawab Mama Indri. bersamaan dengan datangnya Mbak Sri yang membawa nampan berisi air minum.
"Terima kasih ya Mbak." ucap Mama Indri pada Mbak Sri.
"Sama-sama Bu."
"Ealah Den Emir nih, kok yo makin guanteng yo Bu." Mbak Sri terkikik "Makin terlihat dewasa gituloh Bu." lanjutnya sambil menutup sebagian wajahnya dengan nampan, karena merasa malu.
"Guantengan juga aku Mbak." celetuk Marko yang baru saja bergabung setelah ia pergi ke toilet.
"Percuma kalo jomblo Mas." cibir Mbak Sri sambil berjalan menuju dapur. dan semua orang tergelak mendengar celetukan Mbak Sri.
"Sialan lu." Saat seperti ini, ia merindukan Martin yang pastinya akan tertawa paling keras. Sayangnya, Martin masih berada di negri Jiran, Malaysia.
...****************...
Pernikahan Mirza dan juga Gweny yang sudah direncanakan sebelumnya, terpaksa harus di undur. dan itu terjadi bukan hanya sekali, berulang-ulang kali hingga Om Handoko merasa heran dengan sikap Mirza yang terkesan plin-plan.
Mirza selalu beralasan bahwa dirinya kini tengah disibukkan dengan beberapa proyek baru. Ia yang baru bergabung kembali dengan perusahaan sang Papa, mengaku tengah fokus pada pekerjaannya.
Apalagi, sekarang Mirza sudah memulai usaha barunya dalam bidang properti. semakin sibuk saja Mirza dengan pekerjaan barunya.
"Aku gak akan pernah bosan nunggu kamu Mir." begitu kata Gweny, ketika Mirza mengatakan bahwa ia belum siap untuk menikahinya.
"Sampai kapanpun, aku akan tetap nunggu kamu, sampai kamu siap." jawaban yang diterima Mirza, ketika lagi-lagi ia mengundur acara pernikahannya.
Sakit, mungkin itulah perasaan Gweny saat ini. ketika ia terjebak dalam hubungan yang rumit dengan laki-laki yang dicintainya, namun tak pernah memandangnya ada.
Ia ingin menyerah, namun entah mengapa egonya terlalu tinggi. dengan susah payah ia mendapatkan Mirza, lalu ia harus melepaskannya begitu saja? tidak, Gweny akan tetap berusaha, bersikap lebih baik lagi dihadapan Mirza. ia tetap berharap, bahwa Mirza akan luluh dengan perlakuannya.
Namun pikirannya salah, nyatanya sampai saat ini sikap Mirza masih belum berubah. Sudah satu tahun berlalu sejak Mirza kembali dari Inggris, namun ia masih belum bisa mendapatkan hati Mirza sepenuhnya.
"Aku capek gini terus Mir," ujar Gweny saat mereka tengah makan malam disebuah cafe didekat kantor Mirza.
"Bukannya kamu sendiri yang bilang mau nunggu aku?" waktu merubah Mirza menjadi semakin dewasa, bahkan ia kini merubah panggilannya pada siapapun. tak ada lagi gue-elu. tapi aku-kamu. namun itu tak berlaku pada Marko dan Martin.
__ADS_1
"Aku memang mau nunggu kamu, sampai kamu siap. tapi, enggak selama ini Mir."
Mirza tak menjawab, ia lebih memilih diam.
"Kenapa kamu mau menerima perjodohan ini, kalau akhirnya kamu cuma mempermainkan aku?" tanya Gweny dengan mata yang berkaca.
"Aku cuma menghormati Om Handoko." ujar Mirza tanpa basa-basi.
"Mir, coba kamu buka hati kamu buat aku ! buang jauh pikiran kamu tentang si Alula. dia udah pergi Mir, dia udah gak ada."
Perkataan Gweny membuat Mirza menatapnya dengan tajam.
"Maksud kamu apa ngomong gitu ?" wajah Mirza berubah dingin, rahangnya yang mengeras menandakan jika Mirza kini tengah menahan amarah. entah mengapa terlihat begitu menakutkan bagi Gweny.
"Aku tahu kamu cinta kan sama si Alula." Gweny menelan ludahnya, merasa gugup dan takut mengatakan hal itu pada Mirza. tapi ia tidak mau diam saja, ia hanya ingin mengatakan seluruh isi hatinya.
"Lupain dia Mir, dia udah gak ada. coba kamu lihat aku, Aku ini tunangan kamu. Aku cinta sama kamu sejak kita masih sekolah." ujar Gweny dengan air mata yang mulai meluruh dipipinya.
"Kamu jangan mengada-ada Gwen, aku ini masih sibuk sama pekerjaanku." sanggah Mirza tak terima.
"Dan satu lagi, jangan pernah bawa-bawa Alula dalam masalah ini."
"Kamu gak akan pernah bisa ngerasain gimana rasanya kehilangan orang yang kamu cintai selama belasan tahun. Lalu dipaksa menerima cinta yang baru."
"Gak akan pernah bisa Gwen." lirih Mirza.
Dengan wajah sendu Mirza beranjak pergi meninggalkan Gweny yang masih terpaku, mencerna setiap kalimat yang Mirza ucapakan padanya.
"Mirza mencintai Alula selama belasan tahun ?" tanyanya pada diri sendiri.
"Tidak mungkin." Air mata Gweny semakin meluruh beserta kenyataan bahwa ia tak akan pernah bisa menggantikan posisi Alula didalam hati Mirza.
Aku mencintaimu tanpa celah,
Namun kau memberi jarak agar aku menyerah,
Aku menyayangimu tanpa henti,
Namun kau memberiku rasa yang tiada arti.
.
.
.
Happy Reading... 😊
Buat yang nanya kapan Up,
Jangan lupa like, coment and votenya juga. okehh ! 👍
__ADS_1