Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Liburan


__ADS_3

"Dek.. " Panggil Mirza diambang pintu. namun Alula tak menoleh.


"Dek, Woy.." panggilnya sekali lagi. Alula tetap tak menoleh, membuat Mirza berdecak kesal.


"Ya ampun, ni anak kemasukan setan budeg kayaknya." iapun masuk kedalam paviliun.


Dilihatnya Alula tengah melamun sambil mendengarkan musik dari handphonenya. entah tengah menghayati lagu atau memang sengaja tak menghiraukannya. karena Alula tak sedikitpun menyadari kehadiran Mirza disana.


Mirza menundukan kepalanya disamping Alula yang tengah duduk diatas kursi, ia menepuk bahunya dan berniat untuk mengejutkan Alula dengan meniup telinganya. namun yang terjadi, justru dirinyalah yang terkejut. karena saat ia menepuk bahu Alula, Alula langsung menoleh dan akhirnya..


CUP..


sebuah kecupan mendarat dipipinya.


Sesaat mata mereka saling bertemu,


"Abang.. " lirih Alula dengan pipi bersemu merah. lalu ia menundukkan kepalanya.


Suasana mendadak canggung, tak menyangka jika keisengannya berakhir mengejutkan seperti itu.


"So.. Sorry dek." ucap Mirza dengan tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.


"Ehm.. "Alula hanya berdehem, mencoba menghilangkan perasaan yang tak nyaman.


"Abang dari kapan disini?"


"Dari tadi, gue panggil lu gak noleh-noleh. lagi ngapain sih?" Mirza melihat banyak kain perca berceceran diatas meja.


"Ini punya lu dek?" tunjuknya pada mesin jahit portable multifungsi dihadapannya.


Alula mengangguk "hadiah dari ayah kemarin, aku lagi belajar menjahit bang."


Mirza mengernyit "Bisa?"


"Dikit," sambil menyatukan jari jempol dan telunjuknya.


"Abang ngapain kesini?" karena tidak biasanya Mirza menghampirinya ke paviliun, jika tidak ada sesuatu yang mendesak.


"Tadi gue denger Pa Abhi minta izin sama Papa mau ke Bogor_"


"Idih, abang nguping yah." potong Alula.


"Kedengaran elahh..." sergahnya,


"Lagian Pa Abhi ngomongnya pas ada gue." sungut Mirza


"terusin gak nih?"


Alula terkekeh lalu menjawab "Iya apa?"


Mirza menyandarkan tubuhnya pada meja disampingnya.


"Gue mau ikut kesana, sekalian kita liburan. kita nginep divillanya Papa, gimana? nanti Abang ajak Marko sama Martin juga."


Mendengar kata 'liburan' Alula membulatkan matanya. ya, karena selama ini ia tak pernah pergi kemanapun. hanya pulang pergi dari rumah ke sekolah, begitupun sebaliknya dari sekolah pulang ke rumah. jikapun keluar rumah ia hanya pergi ke kafe ataupun restoran dan itupun jika Mirza mengajaknya.


"Beneran?" tanyanya dengan riang dan senyum yang mengembang, melupakan suasana canggung yang baru saja mereka rasakan.


"Beneran lah."

__ADS_1


"Aku boleh ajak teman?" tanyanya lagi, tidak mungkin kan ia pergi bersama teman-teman Mirza sedangkan ia hanya perempuan satu-satunya.


"Iya boleh," Mirza mengangguk.


"Oke, nanti aku ajak Sasa sama Mulan ya bang," Ujar Alula dengan senyum merekahnya.


"Hmm.. siap-siap aja telinga lu berdengung denger keributan temen lu sama si Marko." semenjak pertemuan Marsha dengan Marko waktu itu, mereka tidak pernah bisa berdamai. selalu saja ada hal yang diributkan oleh mereka.


"Jadi kapan kita kesana?" tanya Alula.


"Besok?"


"Oke, nanti aku hubungin teman-temanku dulu."


"Oke, sekarang ikut gue." Mirza menarik tangan Alula untuk mengikutinya.


"Abang ih, mau kemana?"


"Temenin gue renang."


"Dih renang aja sendiri, akukan lagi belajar menjahit abang." ujarnya setengah merengek.


"Temenin, atau gak jadi liburan." ancam Mirza.


Dan dengan bersungut-sungut Alulapun terpaksa mengikuti Mirza yang berjalan menuju kolam renang. tak butuh waktu lama Mirza menceburkan dirinya kedalam kolam.


"Aku duduk disini aja ya bang." tunjuknya pada Gazebo. Mirza hanya mengacungkan jempol nya.


Alula harus menelan ludahnya berkali-kali karena Mirza berenang hanya menggunakan celana boxernya. ya ampuuun.


Namun tak lama kehadiran Mama Indri merubah suasana tak nyaman itu.


"Jadi liburannya?" tanya Mama Indri sambil mendudukan diri disamping Alula, lalu meletakkan piring yang berisi cemilan di antara mereka.


"Tadinya Mama pengen ikut, cuman ga enak ah. takut mengganggu acara anak-anak muda." ujar Mama Indri.


"Mending Mama dirumah aja berduaan sama Papanya Emir, siapa tau si Emir dikasih adik lagi." celetuk Mama Indri, Alula hanya melongo mendengarnya.


"MA, Emir denger ya Ma." teriak Mirza yang duduk dipinggir kolam.


"Mama udah tua masih aja genit, ish." lanjutnya lagi.


Mama Indri tertawa dengan puasnya, ia tau bahwa Mirza paling tidak suka Mama Indri bercanda soal adik baru. menyebalkan.


...****************...


Dan, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, hari ini Alula bersama kedua sahabatnya yaitu Marsha dan Mulan, juga Mirza, Marko dan Martin, tak lupa ayah Abhi. tengah dalam perjalanan menuju Bogor, tempat peristirahatan terakhir Ibu dan juga Dwi.


Perjalanan Jakarta-Bogor yang biasanya hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam, hari ini mereka tempuh selama 2 jam lebih. padatnya kendaraan dalam suasana libur panjang menyebabkan jalanan macet. mobil MVP yang dikemudikan oleh supir keluarga Martin pun terjebak dalam padatnya arus lalu lintas.


Ditengah perjalanan mereka tak henti-hentinya menertawakan jokes receh Marko. Ayah Abhi sampai menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali mendengar kekonyolan Marko. tak hanya itu, keributan antara Marko juga Marsha terus saja terjadi. seperti..


"Heh anak beo, Lu ngapain ikut juga." ucapnya ketika melihat Marsha berada didalam mobil.


"Akukan sahabatnya Lala, kamu rentenir abal-abal ngapain ikut?"


"Lah, gue temennya si Emir." begitulah mereka saling membela diri merasa paling berhak untuk ikut liburan bersama.


"Mir, ni anak beo jangan dikasih kamar. biarin dia tidur di pohon sekalian." ujar Marko ketika mereka berada ditengah kemacetan.

__ADS_1


Keplakk..


Sebuah botol kosong mendarat dibahu Marko. Marsha pelakunya.


"Enak aja, kamu aja sana tidur diluar. temenin nyamuk malam, ga ada pasangan kan?" ucap Marsha yang duduk dibangku belakang bersama Alula dan Mulan.


"Kayak Lu punya aja." cibir Marko sambil mengusap bahunya.


"Kalian berdua tuh dari tadi gak pernah bisa diem. satu bilang rentenir, satunya bilang anak beo. sebenarnya kalian tuh punya masalah apa sih ? tiap ketemu pasti gak akur." ujar Martin yang mulai jengah dengan tingkah keduanya.


"Lu inget gak, pas waktu kita pulang dari kafe malam itu?" Martin mengangguk mengiyakan. Alula, Mulan dan Mirza hanya mendengarkan.


"Gue bilang mau ke swalayan buat beli makanan, nah tiba-tiba ni anak beo teriak-teriak dari dalem, ngaku-ngaku pacar gue. terus minta buat bayarin belanjaan sopteknya dia. gila aja."


"Terus lu tolongin?" tanya Martin sambil menahan tawa. ia tahu Marko tak semudah itu mengeluarkan uang dengan cuma-cuma.


"Yaiyalah, gengsi lah gue depan kasir. mana cantik-cantik lagi. gue juga kasian sama ni anak takut dia kebanjiran, entar berdarah-darah." ujar Marko dengan bersungut-sungut.


"Tapi ni anak beo gak tau terimakasih. gue kira cuman sekantong, ternyata belanjaan dia segudang dong. bikin seret dompet gue aja, udah gitu gak mau ganti lagi. sebel gue." mereka hanya tertawa, terkecuali Marsha yang hanya meringis menahan malu.


"Gimana mau ganti coba, orang dia mintanya 5kali lipat. kalo bukan rentenir, terus apa? seenaknya aja minta ganti 5kali lipat" Marsha mencerocos mencoba membela diri.


"Gak ada kasian-kasiannya sama cewe." cibirnya lagi.


"Cewe macem lu mah gak perlu dikasihanin, bikin jebol dompet gue." mereka kembali tergelak. sampai tak terasa mereka melewati jalanan yang lengang, tak banyak kendaraan berlalu lalang.


Alula memejamkan matanya, lalu ia tersenyum. mengingat kembali kejadian yang sudah berlalu dijalan ini. begitupun dengan Mirza yang menoleh kearahnya, kemudian ia ikut tersenyum.


Mereka tiba divilla keluarga Mirza menjelang siang hari. penjaga Villa menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


"Silahkan masuk den," ujar penjaga Villa sambil menurunkan barang-barang nya. "eh, biar saya saja Pa." cegahnya pada Ayah Abhi yang ikut menurunkan barang.


"Ayo masuk saja, saya sudah menyiapkan lima kamar tamu." lanjutnya.


Dahi Mirza mengernyit "Banyak amat Kang?"


"Soalnya kata Ibu, teman-teman aden banyak yang datangnya."


"Kita bertiga tidur sekamar aja yah." seru Alula pada kedua temannya, yang dibalas dengan anggukkan keduanya.


"Cape gak den dijalannya?" tanya penjaga Villa ketika berjalan masuk.


"Cape nya gak seberapa. tapi kuping yang sakit dari tadi denger dua orang yang ribut mulu." gerutu Mirza yang tertuju pada Marko dan Marsha.


"Pa Abhi, istirahat dulu saja yah, nanti menjelang sore kita berangkat ziarahnya." ujar Mirza. Ayah hanya mengangguk mengiyakan.


.


.


.


Happy readding 😊


Mohon dimaafkan jika cerita kali ini sedikit hambuarrr.. 😁


Mohon dimaafkan juga jika ceritanya berbelit-belit .. 😁


Mohon dimaafkan juga karena otor gak rajin upnya.. 😁

__ADS_1


Intinya...


Mohon maaf lahir dan batin 🙏😊


__ADS_2