
Sementara dirumah singgah sepulang dari kediaman Mahesa, Alula nampak melamun menahan sebuah rasa yang entah apa diatas tempat tidurnya. ia duduk melipat kakinya ke depan dada dengan kepala bersandar pada dinding kamarnya. sebuah buku tulis didekapnya, sepertinya ia sedang menuliskan sesuatu. namun ia buru-buru menutupnya ketika melihat Jeni mendekat.
"Ka, ibu pasti marah baget ya tadi sama Kakak?" Jeni duduk ditepi ranjangnya, ia merasa bersalah atas apa yang menimpa Alula tadi siang.
Alula hanya menggelengkan kepala lalu tersenyum "engga tuh" jawabnya.
Jeni memeluk Alula "Maafin kita ya Kak." melihat Jeni memeluk Alula, Tata pun turun dari ranjangnya dan ikut memeluk Alula.
"Iya ka, maafin kita. Ibu pasti kecewa." ucap Tata sambil mengeratkan pelukannya.
"Udah-udah, bukan salah kalian ko." Alula mencoba melepaskan pelukan kedua anak tak kembar itu.
"Kita kaya tingky wingki yah, berpelukaaan." Tata malah kembali memeluk Alula. dengan gaya teletubies.
"Udah ah, engap nih." Alula melepaskan pelukan Tata sambil menahan tawa.
"Tapi Kak, dari mana Ibu tau yah tadi pagi kita nyanyi di taman." Jeni melipat tangannya didada,
"entahlah." Alula menaik turunkan bahunya.
Ya, sepulangnya Alula, Jeni dan Tata dari taman tadi siang, Ibu Indah tengah duduk diruang tamu menunggu kepulangan mereka dengan wajah yang nampak kecewa.
"Sudah berapa kali Ibu bilang, kalian tidak boleh ngamen. tapi kenapa masih kalian lakukan juga ?" ucap bu Indah dengan nada halus, namun terdengar begitu mengintimidasi.
"Kita gak ngamen ko bu." elak Jeni
"Lalu apa? bukannya kalian tadi ditaman ngamen? gimana dapet banyak uangnya?" tanyanya beruntun.
Namun sebelum mereka menjawab, Alula menyuruh kedua anak itu masuk kedalam kamar. "Jeni sama Tata ke kamar dulu gih!"
"Maafin Lula bu, Lula yang salah." ucap Alula setelah melihat kedua anak itu masuk kedalam kamar. ia mendekat pada bu Indah lalu meraih tangan bu Indah. "Tadi Lula yang ajak mereka ke sana, maafin Lula ya bu."
__ADS_1
"Ibu ga suka kalian ngamen-ngamen ga jelas, kalau kalian suka bermain musik silahkan. tapi tunjukan dengan prestasi kalian. bukan dengan cara ngamen dijalanan seperti itu. jangan diulangi lagi ya !" jawabnya dengan lembut namun tegas. Alula mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bukan tanpa sebab Ibu melarang kalian, Ibu hanya khawatir. ini Jakarta Nak. berada dijalanan seperti itu berbahaya untuk kalian, apalagi kalian perempuan." Alula mengerti sekali dengan kekhawatiran Ibu Indah.
"Ya sudah kamu masuk juga, tolong jangan diulangi lagi." ucapnya. Alula kembali melangkahkan kakinya ke kamar.
Yang terjadi sebelumnya, Risma yang baru pulang kerumah usai berbelanja , mendapati ibunya tengah duduk diteras rumah memperhatikan anak-anak bermain dihalaman depan. kemudian ia menceritakan bahwa dirinya melihat Alula, Jeni dan Tata ditaman. mereka sedang bernyanyi sambil dikelilingi orang-orang yang menonton pertunjukan mereka, nampak juga beberapa dari mereka memberikan uang. Yah, memang itu kenyataannya. tapi cara penyampaian Risma pada Bu Indah terlalu dilebih-lebihkan, sehingga sengaja menimbulkan kesalahpahaman.
"Sebenarnya kalian dapet gitar itu dari mana sih, gak mungkin kalian beli sendiri kan?" Alula bertanya pada Jeni dan Tata yang masih duduk di samping tempat tidurnya.
Jeni dan Tata saling berpandangan "Dari ka Dodit." jawabnya kompak.
"Dodit?" Alula mengerutkan dahinya.
Jeni dan Tata mengangguk "Dulu Kak Dodit sering kesini bersama Oma nya. dia sering dengerin kita nyanyi, terus ngajarin kita main gitar, ehh dikasih gitar juga." Tata menceritakan pertemuannya dengan Dodit
"Ibu tau? "
Jeni dan Tata kembali mengangguk "Dulu kita deket banget sama Kak Dodit, kita suka nyanyi bareng. tapi gatau kenapa sekarang ga pernah ikut kesini lagi." wajah Jeni berubah sendu ia merasa kehilangan sosok Kakak laki-kaki nya.
"Maksudnya ?" dahi Alula mengernyit, ia masih belum mengerti ceritanya.
"Iyaa dulu Kak Dodit dibesarkan disini juga , tapi gatau kenapa tiba-tiba ada yang jemput dia, terus bilang beliau keluarga dari ka Dodit." Alula merasa tengah berada di posisi itu saat ini, ia berharap ayahnya juga akan menjemputnya ditempat ini.
"Udah malem, kalian cepet tidur !" Alula mengubah topik pembicaraannya. Jeni dan Tata pun beranjak pergi ke tempat tidur masing-masing.
...****************...
Semilir angin malam membawa perasaan semakin dalam kedalam lamunan. Alula duduk meringkuk memeluk lututnya didepan teras rumah singgah.
Gemerincik air hujan membawanya kedalam kenangan, aroma tanah yang basah tergenangi air hujan terendus menenangkan hatinya. hari ini tepat 40 hari kepergian sang Ibu, kalimat terakhir yang diucapkannya selalu terngiang ditelinga "Jadilah wanita yang kuat." satu kalimat yang selalu menjadi penyemangat.
__ADS_1
Selama ini Alula tidak pernah memperlihatkan rasa sedihnya pada siapapun, ia selalu bisa menahan air matanya manakala rindu itu datang, tapi tidak dengan hari ini.
Ibu Indah baru saja keluar dari kamar salah satu penghuni panti, ia mendapati pintu depan setengah terbuka. ia memeriksa keluar rumah dan mendapati Alula sedang asik dengan lamunannya hingga tak menyadari kehadiran Ibu Indah disana.
"Sudah malam nak, kenapa belum tidur?" ia mengusap pelan bahu Alula.
Alula terlonjak kaget dan segera menyeka air matanya, ia tidak mau orang lain melihatnya menagis termasuk Ibu Indah "Eh Ibu, belum tidur ?" ia balik bertanya.
"Kenapa ?"seolah mengerti dengan perasaannya, bu Indah mencoba menenangkannya.
Alula menggeleng pelan "gak apa Bu " jawabnya.
"Kangen sama keluargamu?"
Alula terdiam lalu mengangguk pelan "Hari ini tepat40 hari kepergian ibu." Alula menunduk mencoba menahan air matanya agar tidak keluar lagi.
Ibu Indah memeluk Alula, erat.
"Menagislah ! Ibu tau kamu sedang sedih." tanpa disadari air mata Alula mulai menetes kembali semakin lama semakin deras.ia menumpahkan semua kesedihannya dipelukan Ibu Indah. kesedihan yang selama ini ia pendam sendirian.
Berada didekapan bu Indah Alula sedikit merasa lega, sesaat ia dapat melepaskan rindunya pada sang Ibu didalam pelukan bu Indah.
"Terimakasih bu." setelah merasa tenang, Alula melepaskan pelukannya.
"Jangan menyimpan kesedihanmu sendirian Nak ! berbagilah dengan temanmu, atau dengan Ibu. Ibu tau kamu tidak sekuat itu."
"Kesedihan Lula tidak ada apa-apanya dibandingkan kesedihan mereka Bu. setidaknya Lula pernah merasakan bahagianya berkumpul bersama keluarga. sedangkan mereka? sejak kecil. bahkan sejak dilahirkan mereka tidak pernah tau bagaimana sosok ibu dan ayah mereka. terlalu egois rasanya hanya memikirkan diri sendiri. dari mereka Lula belajar banyak hal bu." Alula mencoba tegar
Ibu Indah meraih kedua pipi Alula "Ibu tidak tau, kamu bisa setegar ini Lula." Bu Indah memeluk kembali tubuh Alula.
"Sudah ya jangan menangis lagi !" pinta bu Indah. ia menjauhkan sedikit tubuh Alula lalu menyeka air mata dipipinya "Kirimkan do'a untuk Ibumu, biar ibumu tenang disana."
__ADS_1
Alula mengangguk "kita kedalam bu, udaranya sudah mulai dingin." Ajaknya kemudian.
Alula kembali kedalam kamarnya, dilihatnya Jeni dan Tata yang sudah sedari tadi berlayar dipulau bernama mimpi, Alula mengulas senyum "aku tidak pernah sendirian" ucapnya dalam hati.