Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Perasaan Lain


__ADS_3

Awalnya Marsha, Mulan dan Alula berencana akan pergi ke toko buku pagi ini, membeli buku untuk referensi tugas kelompok mereka. tapi, tiba-tiba saja Marsha mendapat telepon dari Alula yang mengabarkan bahwa dirinya tidak bisa ikut bersama Marsha dan Mulan.


"Hallo Sa," sapa Alula diseberang telepon.


"Ya La, kenapa?" Jawab Marsha ketika panggilannya telah tersambung.


"Sa, maaf banget. kayaknya hari ini aku gak bisa ikut kalian deh." Dengan lemas Alula mencoba menjelaskan.


"Kamu kenapa La, ko' suaranya lemes gitu."


"Aku gak enak badan Sa, jadi gak bisa ikut kalian."


"Yaudah gak apa-apa, istirahat aja La. aku sama Mulan aja yang pergi."


Setelah mematikan telpon dari Alula, Marsha yang sudah berpenampilan rapi pagi itu, segera mengabari Mulan tentang Alula yang tidak bisa ikut dengan mereka.


"Sa, kita kerumah Lula aja yuk! jengukin dia." ujar Mulan yang baru saja mendudukan diri di sofa ruang tamu Marsha.


"Hmm, boleh juga. soal tugas, urusan belakangan." lalu Marsha melirik pada seseorang yang baru saja datang.


"Kan ada Bang Dito, ya kan Bang?" ia menaik turunkan alisnya .


Dito yang baru saja masuk kedalam rumah setelah berolah raga nampak mengerutkan dahi. "kenapa?" tanyanya.


"Ya ampuuun bang Dito, keringetan aja keren loh." ucap Mulan dengan mata berbinar, mendapati Dito yang pulang dengan memakai kaos oblong dan celana joger. dengan handuk kecil yang menggantung dibahunya.


Marsha memutar bola matanya mendengar ucapan Mulan.


"Kita bertiga kan tadinya mau nyari buku buat ngerjain tugas," terang Marsha setelah Dito mendudukan dirinya disofa.


"Tapi Alula nya sakit, jadi gak bisa_"


Dito memotong ucapan Marsha "Dia sakit?" tanyanya dengan dahi mengernyit, Marsha dan Mulan hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Bang Dito mau gak bantuin kita ngerjain tugasnya? sekarang kita mau nengokin Alula dulu." pinta Marsha.


"Boleh aja sih," Dito nampak berpikir, kemudian berkata


"Tapi, boleh gak bang Dito anterin kalian kerumahnya."


Marsha dan Mulan saling berhadapan, merasa aneh dengan sikap Bang Dito yang antusias mengantarkan mereka.


"Boleh lah bang, asal tugas beres." Marsha tersenyum dengan lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Kalo gitu Bang Dito mandi dulu bentaran yah." Dito berlalu dari hadapan Marsha dan Mulan, ia masuk kedalam kamar dan segera membersihkan diri.


Dan mereka kini telah sampai dihalaman rumah kediaman Mahesa. Dito yang membawa kemudi merasa ragu masukan mobilnya kedalam gerbang.


"Bener Alula tinggal disini dek?" tanya Dito pada Marsha yang duduk disebelahnya.


"Gak salah kan sa?" sambung Mulan dikursi belakang.

__ADS_1


"Bener lah, akukan pernah nganterin dia pulang, coba tanya satpam aja."


Setelah bertanya pada satpam, Dito pun membawa mobil yang ia kendarai masuk kedalam gerbang.


"Wahhh... Gede banget Sa... " ujar Mulan dengan mata berbinar memandangi bangunan rumah mewah dihadapannya.


"Alula beneran tinggal disini?" lanjutnya merasa tak yakin.


"Udah, yuk masuk aja. aku yang tanyain." ucap Marsha yang berjalan paling depan. disusul Mulan dan Dito yang telah memarkirkan mobilnya dengan sempurna.


Namun sebelum sampai didepan pintu, Marsha melihat pintu dalam keadaan terbuka. terdengar suara gelak tawa laki-laki dari dalam rumah. semula ia ragu, namun dengan sedikit keberanian akhirnya ia mengucapkan salam sebelum masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum,"


"Permisi, Alula nya ada?" tanya Marsha yang berdiri di ambang pintu. namun matanya membulat ketika mendapati seseorang yang tidak ingin ia temui lagi berada didalam rumah.


"Elu? lu bukannya.. ngapain lu kesini?" sembur seorang pemuda yang Marsha temui di sebuah swalayan beberapa hari yang lalu.


Marsha menelan ludahnya,


"Eh Om.. Kak.. eh Bang," ia merasa gugup ditatap tajam oleh pemuda itu.


"Am, Om, Am, Om.. ngapain lu kesini?" rupanya Marko, pemuda yang Marsha temui beberapa hari yang lalu.


Semuanya nampak mengerutkan dahi mendengar percakapan Marko dan Marsha.


Bahkan Mirza dan Martin sempat berhadapan lalu menaik turunkan bahu mereka, merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan keduanya.


"Itu.. anu.. eum.. " makin gugup saja Marsha melihat semua mata mengarah padanya.


"Kenapa sih lu Ko, ada masalah apa sama temennya adek gue ?" tanya Mirza yang merasa kesal dengan tingkah Marko. yah, setelah beberapa kali bertemu, Mirza tau bahwa yang datang itu adalah teman-temannya Alula.


"Lala nya ada Kak?" Marsha memilih mengalihkan pembicaraan.


"Ada dikamar lagi istirahat, duduk dulu!" seru Mirza. meskipun sikapnya dingin, demi menghormati tamu ia bersikap biasa saja. namun tetap tidak memasang senyum ramah.


Marsha dan Mulan kemudian mendudukan dirinya disofa, disusul Dito yang merasa canggung dengan para pemuda yang kini menatapnya tanpa ekspresi.


"Rival gue?" bisik Marko pada Mirza yang berdiri disampingnya.


Dahi Mirza mengernyit "elu?" tanyanya pada Dito.


"Dia abangku Kak." jawab Marsha. sedangkan Marko terus saja menatap tajam padanya. membuat Marsha seketika menundukan kepala.


"Tunggu dulu, gue kedalem dulu." Mirza berlalu menuju dapur. ia menyiapkan cemilan dan minuman untuk para tamunya.


Pemuda mana yang dengan suka rela masuk dapur hanya untuk menjamu para tamu. yah Mirza, tanpa rasa malu ia menyiapkan semuanya. apalagi ketiadaan Mbak Sri dirumah mau tak mau membuatnya harus turun tangan sendiri.


"Ko, sini dulu bentar !" teriak Mirza dari arah dapur. tak lama Marko datang menghampirinya.


"Paan?" jawabnya malas.

__ADS_1


"Bantuin gue bawa itu." Mirza menunjuk nampan berisi cemilan diatas meja.


"Gue? mana bisa elahh.. " keluhnya.


"Bisa. kalo ngga, Lu gak boleh ketemu adek gue." ancam Mirza. dan dengan terpaksa dan mau tak mau Marko mengekori Mirza membawa nampan berisi dua buah toples cemilan keruang tamu demi bertemu dengan neng peri pujaan hatinya.


"Abangnya Lula keren ya Sa." bisik Mulan pada Marsha demi melihat Mirza yang berjalan sambil membawa nampan berisi air minum. Marsha hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ko' cuma tiga, kan tamunya lima?" tanya Martin.


"Lu berdua tamu tak diundang." ujar Mirza dengan tangan menurunkan gelas dari nampan keatas meja. "Diminum !" serunya.


"Makasih Bang." ucap Marsha dan Mulan bersamaan.


Hening..


Semua sibuk dengan pikiran masing-masing, Marsha ingin sekali bertemu dengan Alula sedangkan Mirza tidak jua memberikan izin untuknya masuk ke kamar Alula.


Tak lama suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian semuanya. Alula sesaat tertegun diambang pintu, ketika mendapati diruang tamu banyak orang yang ia kenal.


Alula keluar dari kamar setelah mengganti pakaiannya yang penuh dengan keringat. Setelah Mirza keluar dari kamarnya tadi, ia sempat tertidur. Namun tak lama ia kembali terbangun saat mendengar suara gelak tawa dari luar.


ia merasa tubuhnya mulai membaik. entah efek dari obat yang ia minum, atau efek dari perhatian Mirza yang membuatnya tersanjung.


Kini semua mata tertuju padanya.


"Lala.. " girang Marsha.


"Lula.. "


"Neng peri.."


Alula tersenyum, ia berjalan menuju sofa yang diduduki Marsha, Mulan dan Dito. namun tanpa disangka Mirza menarik tangan Alula hingga ia duduk disampingnya.


Mirza menangkup kedua pipi Alula yang masih terlihat sedikit pucat. lalu ia menempelkan punggung tangannya didahi Alula.


"Lu udah sembuh dek?" tanya Mirza dengan lembut.


Pertanyaan sederhana namun entah mengapa membuat pipi Alula merona.


Hal itupun membuat Martin dan Marko saling menatap. pasalnya perhatian yang Mirza berikan pada Alula tidak pernah mereka lihat pada siapapun.


Martin semakin yakin, ada perasaan lain yang mereka rasakan. hanya saja, keduanya tidak ada yang menyadari. atau lebih tepatnya tidak mau mengakui.


.


.


.


Happy readding.. 😊

__ADS_1


Jangan lupa like and comment nya yah !


*salam halu dari otor... 😅


__ADS_2