Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Aku Suka Kamu


__ADS_3

"Abaang." pekik Alula ketika baru saja Mirza hampir menabrak gerobak ketoprak dipinggir jalan. saat ini mereka tengah berkendara diatas motor, menerobos lalu lintas demi sampai disekolah dengan tepat waktu.


"Hati-hati abang." ucapnya lagi, dengan tangan mencengkram erat jaket orang yang kini ia panggil abang. jantungnya hampir saja terlepas beberapa detik yang lalu.


"Maaf pak, Maaf." Mirza menunduk, meminta maaf pada Bapak penjual ketoprak tersebut. yang dibalas anggukan dan senyuman yang sedikit dipaksakan.


Pagi tadi Mirza bangun hampir kesiangan, karena semalam ia bermain game sampai larut malam. jadi, ketika Mama Indri membangunkannya, ia masih terlelap dengan mulut sedikit terbuka dan tangan memeluk erat guling kesayangannya.


"Emiiirr, ya Alloh gustiiii bangun Emir." teriak Mama Indri dari ambang pintu ketika ia masuk kedalam kamar putra kesayangannya.


"Mirza bangun, nanti kesiangan." Mama Indri menggoyang-goyangkan tubuh Mirza yang tengah terlelap.


Mirza menggeliat "Paan sih Ma, Emir udah solat ko." ucapnya dengan tetap menutup mata seakan berat untuk membukanya.


"Iya tapi ini udah siang Emir, nanti bisa terlambat."


"Emir kan gak ada kelas hari ini Ma."


Ia lupa jika aktivitasnya kini bertambah menjadi tukang antar-jemput kesekolah. Hmmm menyebalkan bukan?


"Bukan kamu, tapi adek kamu yang hampir terlambat. buruan bangun ih. dari subuh dia udah nunggu kamu."


Mendengar kata Adek yang diucapkan Mama Indri, seketika membuat Mirza langsung terbangun.


Mata sipit yang tadinya sulit sekali terbuka, kini membulat sempurna. pikirannya mulai mengingat gadis cantik bertubuh mungil yang ia nobatkan sebagai adiknya beberapa hari yang lalu.


Dengan bersungut-sungut ia beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju pintu tanpa mencuci wajahnya terlebih dahulu.tak lupa ia menyambar jaket yang selalu tergantung dipintu kamar. membuat Mama Indri menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak bujang satu-satunya itu.


Mirza keluar dari kamar menuju ruang makan, dimana Alula tengah menunggunya.


Alula sempat tertegun, ketika melihat penampilan Mirza pagi ini. Ia yang selalu tampil dengan pakaian rapi, kini turun dari lantai atas dengan kaos oblong yang sedikit lusuh dan celana joger berwarna dark grey yang mulai memudar. dengan wajah bantal serta rambut yang sedikit semerawut. namun tidak sedikitpun mengurangi kadar ketampanannya. definisi pria yang sempurna memang. hmmm


"Buruan! " Serunya pada Alula yang kini tengah berdiri menunggunya. dengan malas ia berjalan keluar rumah sambil mengenakan jaket yang ia bawa tadi.


Alula mengekori pemuda yang ia panggil abang itu, telinganya tak henti mendengar gerutuan Mirza sepanjang jalan menuju halaman depan.tak lupa iapun menyambar dua helm yang telah disiapkan diatas meja.


"Ganggu acara rebahan gue aja."


"Lagi enak-enaknya gue tiduran."


"Mulai sekarang, gue pecat juga dia jadi adek."


Namun bukannya takut, Alula malah terkekeh mendengar celotehan Mirza. karena ia tahu Mirza tidak benar-benar serius mengatakannya.

__ADS_1


"Abang." langkah Mirza terhenti karena Alula memanggilnya.


"Aku naik ojek aja deh kalau gitu." ujar Alula tanpa rasa bersalah sedikitpun karena telah mengganggu acara rebahannya.


"Enak aja."elaknya,


"Lu mau bikin Mama motong uang jajan gue lagi." ucapnya dengan bibir mengerucut dan mata setengah mengantuk. membuat Alula ingin sekali tertawa detik itu juga.


Dan puncaknya, ketika Mirza hendak memakai helm, Alula kembali memanggilnya.


"Bang."


"Apaan lagi?" Mirza menoleh dengan helm siap pakai ditangan.


"Helm nya ketuker." Alula mengacungkan helm di tangannya.


Mirza mengalihkan pandangannya, kini matanya fokus pada helm yang ia pegang. bukan helm fullface miliknya, melainkan helm bogo yang biasa Alula kenakan.


Mirza beredengus kesal sambil menukarkan helmnya pada Alula. seketika Alula tertawa begitu lepas, membuat Mirza tak henti memandanginya.


"Puas banget ketawanya lu dek." sindirnya. Alula menghentikan tawanya, lalu dengan tergesa ia naik keatas motor.


Dan dengan kecepatan kilat, kini Mirza melajukan sepeda motornya seperti tengah tikung menikung dengan Valentino Rossy. jarak yang biasanya ia tempuh selama setengah jam, kini ia lalui hanya 15 menit saja. lebih cepat 15 menit bukan?


"Baek-baek lu disekolah! "serunya pada Alula ketika baru saja turun dari motor. entah mengapa ia masih belum terbiasa ber-aku-kamu.


Alula mengangguk dan tersenyum, sedetik kemudian Mirza mengacak rambut gadis yang tengah berdiri disampingnya itu. namun sebelum ia benar-benar pergi, Alula memanggilnya.


"Bang," membuat Mirza menoleh.


"Hati-hati, gerobaknya jangan ditabrak lagi !" serunya. membuat mereka tergelak, karena teringat kembali kejadian beberapa menit yang lalu.


"Nanti gue beli ketopraknya si Bapak, sebagai permintaan maaf." ucap Mirza sebelum melajukan sepeda motornya.


Alula baru saja sampai didalam kelas, dahinya mengernyit karena lagi-lagi ia mendapatkan sebatang cokelat dari penggemar rahasianya yang disimpan diatas meja.


"Dari siapa sih ini." ia merasa jengah dengan seseorang yang sering mengirimnya cokelat.


"Sengaja gak kita ganggu, biar kamu liat dulu La." ujar Marsha yang duduk disampingnya.


"Gak jelas tau gak sih." gerutunya dengan dahi masih mengernyit.


"Yaudah si makan aja, kalau gak suka biar aku yang makan." ujar Mulan dari bangku belakang.

__ADS_1


"Yaudah buat kamu aja, aku gak mau." ucapnya sambil menyodorkan sebatang cokelat pada Mulan. membuat seorang laki-laki melihatnya dengan tatapan kecewa.


"Dih keenakan banget, tiap hari makan cokelat gratisan." ledek Marsha pada Mulan, namun Mulan tak menghiraukannya.


Dan ketika siang ini, Alula hendak menyusul Mulan dan Marsha yang telah lebih dulu pergi ke kantin. seseorang menghampirinya.


"Kenapa cokelatnya gak dimakan? gak suka?" tanya seseorang itu pada Alula.


"Eh?" dahi Alula mengernyit tak mengerti.


"Iya, cokelat itu dari Aku. sengaja aku dateng pagi-pagi buat kasih ke kamu." ujar Yanuar, yang tak lain adalah teman sekelas Alula.


"Aku suka sama kamu." ucapnya lagi tanpa tedeng aling-aling.


Tunggu, apakah sekarang aku sedang di tembak? tapi Yanuar? ko'bisa. batinnya.


Alula menelan ludahnya, setelah beranjak dewasa ini kali pertama ia berada diposisi seperti ini. entahlah, ia tak tau harus mengatakan apa, yang pasti saat ini ia hanya ingin segera pergi menjauh dari hadapan seseorang yang baru saja mengungkapkan rasa suka nya pada Alula.


Alula masih terdiam, ia memikirkan cara bagaimana agar bisa terbebas dari situasi saat ini.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Dan getaran ponsel yang berasal dari saku baju, menyelamatkannya dari situasi canggung itu.


"Iya Sa ?" jawabnya pada Marsha disebrang telepon.


"Iya tunggu, aku kesana sekarang." ucapnya lagi.


"Tungguin lah." iapun mematikan panggilannya.


"Maaf, aku udah ditunggu teman-temanku." ucapnya dengan gugup pada Yanuar yang masih berdiri dihadapannya.


Dengan langkah cepat Alula berlari keluar kelas, namun telinganya masih mendengar teriakan Yanuar yang bertanya.


"Jadi gimana, diterima enggak ?"


Alula tak menghiraukan teriakan Yanuar, ia terus saja berjalan ke arah kantin dimana Marsha dan Mulan telah menunggunya.


.


.


Happy readding 😊

__ADS_1


jangan lupa like and comment nya ya!


__ADS_2