
Sementara dikediaman Sanjaya Mahesa, sejak matahari terbit pagi hari semua orang sibuk untuk mempersiapkan acara pengajian yang akan dilaksanakan sore hari. Mama Indri yang tidak mau memakai jasa katering harus ikut turun tangan di dapur, membuat beberapa macam kue untuk hidangan nanti sore.
Beberapa asisten rumah tangga nampak merapikan setiap sudut ruangan. membuat ruangan lebih luas dan menggelar karpet disana untuk tempat duduk anak-anak panti dan tamu lainnya. dan beberapa orang membantunya di dapur, merapikan box makanan untuk konsumsi anak-anak panti nanti. tak hanya rumah singgah ibu Indah, mama Indri juga mengundang beberapa panti asuhan untuk acaranya nanti.
"Papa udah mau berangkat?" Mama Indri melihat suaminya berjalan menuju meja makan di dapur, ia terlihat sudah rapi dengan setelan jas kerjanya.
"Iya ma, Papa berangkat dulu yah. kalau bukan tamu penting, Papa juga ga akan keluar kota. " pa Sanjaya memberi pengertian pada sang istri.
"Ga sarapan dulu Pa?" tanyanya kemudian.
"Takut ga keburu ma, nanti terlambat." Pa Sanjaya menatap jam yang melingkar ditangannya.
"Yasudah Papa hati-hati yah, hari minggu gini masih saja kerja."gerutunya.
"Mama kalo marah makin cantik deh." goda Pa Sanjaya pada mama indri yang sedang merajuk. "Papa usahakan pulang cepat yah."ucapnya kemudian.
"Papa bisa aja ngerayunya." Mama Indri hendak meraih pipi Pa sanjaya untuk ia cium terpaksa menghentikannya. ketika Pa Sanjaya meraih tangannya .
"Mama mau pakein Papa bedak sama tepung ini." ia menunjuk tangan mama Indri yang penuh dengan tepung terigu.
Mama Indri terkikik "Maaf pa lupa, ya sudah Mama anter ke depan." mereka berjalan kearah pintu depan, disana sudah ada pa Abhi supir pribadi Pa Sanjaya yang sudah siap dengan mobilnya. ia berdiri disamping mobil Pajero sport keluaran terbaru milik sang majikan.
"Pa, nanti ingetin lagi suami saya ini yah, biar dia ga telat pulang." Mama Indri memberi wejangan pada sang supir. Pa Abhi hanya menunduk dan tersenyum, bisa-bisanya istri majikannya ini menjadikannya alarm, tentu saja ia segan pada majikannya. sedangkan Pa sanjaya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hati-hati dijalannya, jangan ngebut-ngebut Pa !" Mama Indri menempelkan tangannya disamping mulutnya
"Jangan belok kiri nanti kerumah janda." ucapnya dengan berpura-pura berbisik pada sang supir, ia menirukan suara gugel maps ketika mencari lokasi.
__ADS_1
"Jangan khawatir bu, nanti saya belok kanan biar kerumah perawan." balasnya dengan pura-pura berbisik juga Pa Abhi kemudian terkikik, sedangkan Mama Indri langsung memasang raut galak mode on.
"Sudah-sudah ! kalian ini sama saja, ayo Pa kita cepet pergi, biar cepet belok kanan." ucap Pa Sanjaya.
"Eh??"
...****************...
Semua persiapan sudah selesai dengan sempurna, Mama Indri sudah mengganti pakaiannya dengan longdres berwarna putih dan jilbab yang senada dengan bajunya.
"Mau kemana kamu? "tanyannya pada Mirza yang terlihat sudah rapi dan membawa sebuah kunci ditangannya.
"Mau jemput Martin, tadi katanya mau kesini tapi mobilnya lagi dipake sama Papanya."
"Bentar lagi Bu Indah dateng loh sama anak-anaknya." setelah beberapa saat lalu Bu Indah menghubungi Mama Indri dan mengatakan sedang dalam perjalanan.
"Jangan lama ya Mir, mama ga enak sama yang lain. papa kamu belum pulang juga dari tadi, sekarang kamu juga mau pergi." terlihat raut wajah cemas sang Mama.
"Janji ma, nanti Emir pake jurus Ninja Hatori biar cepet nyampe." Jawabnya membuat Mama Indri terkekeh, anaknya ini memang selalu bisa membuatnya tertawa.
"Yaudah ma, Emir pergi dulu. oh iya nanti Marko juga mau nyempetin dateng katanya." ucapnya sebelum membalikan badan dan pergi berjalan kearah garasi disamping rumahnya.
"Yahh palingan numpang makan doang diamah, udah tau deh gelagatnya datang diakhir acara, buat ngambil konsumsi doang. belum lima menit katanya sambil masukin kue ke keresek." Mama Indri menggerutu sambil berjalan mengantarkan anaknya ke garasi.
"Hahaa iya ma, diamah suka gitu, mubadzir bilangnya, padahal modus doang biar dapet gratisan." ucap Mirza sambil membuka pintu mobil putih milik mama tercintanya.
"Temen kamu itu !" mama Indri menunjuk kening Mirza lalu melipat tangannya didada. "horang kaya macam apa dia, makan aja pengen gratisan, malu-maluin tau gak." ucapnya kemudian.
__ADS_1
Membuat Mirza terkekeh melihat wajah Jutek mamanya, Ia tau sang mama sangat menyayangi kedua temannya Marko dan Martin. bahkan sang mama tidak pernah sungkan memarahi kedua temannya itu jika berbuat salah, beliau menganggap Martin dan Marko seperti anaknya sendiri. kehilangan seorang anak menjadikan mama Indri sosok yang penyayang terhadap anak-anak.
"Anak mama kan itu." mama Indri terbelalak, benar juga pikirnya.
"Ya sudah Emir pamit, assalamualaikum." ucapnya,
"Wa'alaikumsalam."jawab mama Indri.
kemudian Mirza menyalakan mobil dan meninggalkan halaman rumahnya.
Mobil yang Mirza kendarai berpapasan dengan mobil yang membawa rombongan Ibu Indah dan anak-anak rumah singgah Anugerah. mama Indri yang hendak kembali kedalam rumah menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah mobil travel masuk ke dalam garasi rumahnya.
Mobil yang ditumpangi bu Indah dan yang lain terhenti di lahan parkir cukup luas dan mungkin masih bisa menampung beberapa kendaraan roda empat disana. terlihat jelas rumah mewah dua tingkat dan bercat putih dengan pilar-pilar besar berdiri kokoh. halamannya sangat luas, terdapat sebuah taman dengan beberapa pohon hias berjejer dengan rapi dan kolam ikan dengan air mancur ditengahnya menambah kesejukan siapapun yang melihatnya.
Sebelum turun dari mobil, Alula terhenyak. bukan karena melihat rumah yang mewah dihadapannya, melainkan ia melihat sesosok laki-laki yang tak asing dipenglihatannya keluar dari halaman rumah tersebut beberapa saat lalu.
"laki-laki itu."gumamnya dalam hati. ia terdiam dalam lamunannya sesaat.
"Kak ayo turun !" lamunannya terhenti saat Jeni menarik tangannya untuk keluar.
Setelah semuanya turun dari mobil, mereka menghampiri mama Indri yang menyambut kedatangan mereka dengan ramah. semua anak-anak termasuk Alula bergantian menyalami dan mencium punggung tangan mama Indri.
"Ayo semuanya masuk ! sebentar lagi ustadznya datang." mama Indri mempersilahkan semua anak-anak masuk. tak lama kemudian sang Ustadz datang disusul dengan beberapa mobil yang membawa rombongan anak panti yang lain.
Mama indri masih menunggu kedatangan sang suami dan anaknya , sudah setengah jam berlalu tapi belum ada satupun dari mereka yang datang. ia mencoba menghubungi keduanya, dan keduanya memiliki alasan masing-masing hingga menyuruh mama Indri untuk memulai acaranya saja.
Karena merasa tidak enak hati dengan tamu-tamunya, akhirnya mama Indri pun memulai acaranya tanpa kehadiran sang suami juga anaknya. acara pengajian ini dilaksanakan untuk mengenang dan mengirimkan do'a untuk almarhum anak perempuannya yang sudah tiada.
__ADS_1