
Suara langkah kaki seseorang yang tergesa menggema dilobby rumah sakit. waktu menunjukkan pukul setengah 12 malam saat itu.
Pengunjung rumah sakit pun tak banyak yang berlalu lalang. hanya ada beberapa keluarga pasien, yang mungkin tengah menunggu kerabat mereka yang dirawat.
Sejak mendengar kabar bahwa Alula selamat, tanpa menunggu lama Mirza bergegas mengendarai sepeda motornya sendiri. dan langsung pergi ke rumah sakit yang diinformasikan oleh Om Tio.
Ia tidak peduli, walaupun malam sudah larut. tanpa menunggu Pa Sanjaya, Mama Indri, bahkan Pa Abhi sebagai Ayah kandungnya.
Mirza begitu lega mendengar kabar jika Alula baik-baik saja. namun tentu belum benar-benar lega jika ia belum melihat keadaan Alula secara langsung.
Ceklek...
Pintu kamar ruang perawatan terbuka. ruangan bernuansa putih nampak sunyi sepi. hanya ada sofa di sudut ruangan, lemari kecil, juga kasur pasien.
Sesaat Mirza tertegun, ia mendapati gadis mungil itu terlelap di atas kasur, dengan berbalut seragam berwarna hijau khas rumah sakit.
Mirza berjalan mendekat, ia membetulkan selimutnya yang sedikit tersingkap. ia menatap lekat wajah cantik gadis mungil itu. nampak sedikit pucat, juga ada raut ketakutan yang masih terpancar.
Perhatiannya sedikit teralihkan, pada luka memar di pergelangan tangan Alula. bayangan saat dirinya melihat Alula diseret-seret oleh ayah tirinya malam itu tiba-tiba saja melintas dipikirannya.
Sudut hatinya terasa nyeri, mengapa gadis ini bisa hidup dalam situasi yang menakutkan. namun dengan begitu cepat, ia bisa berubah ceria seperti telah melupakan rasa takutannya.
Mirza mengusap pelan kepala Alula, merasa bersalah atas apa yang menimpanya hari ini.
Andai saja ia tidak egois, mencari alasan agar orang lain percaya ia tidak memiliki perasaan lebih pada gadis ini. andai saja ia masih memberikan perhatiannya pada Alula, tentu hal ini tidak akan terjadi.
"Maafkan Abang dek.. " ucap Mirza dengan suara yang tercekat. lalu tanpa sadar mengecup dahi Alula.
"Pasien masih dalam pengaruh obat penenang," terang Suster penjaga saat Mirza menanyakan keadaan Alula.
"Tadi sempat teriak-teriak memanggil Ayahnya."
"Kalau bisa, jangan terlalu banyak diajak bicara."
"Biarkan adeknya istirahat dulu." Suster muda itu tersenyum ramah, melihat raut wajah penuh kekhawatiran itu.
Kini ia menggenggam erat tangan Alula, tak mampu menyembunyikan perasaannya lagi. ia merasa takut, jika ia benar-benar kehilangan Alula.
...****************...
Baru saja Mirza akan terlelap disamping ranjang pasien, namun suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Kamu tuh pergi gak bilang-bilang, bikin orang tua khawatir saja." dengan mencak-mencak Pa Sanjaya masuk kedalam ruang perawatan.
Mirza hanya meringis, "Panik Pah" ucapnya sambil mengusap tengkuk. ia bahkan tidak sadar telah meninggalkan helmnya dirumah.
"Panik sih panik, seenggaknya bilang kek kalo mau pergi tuh." Mama Indri menghadiahi sebuah jeweran ditelinga Mirza.
"Mana perginya gak pake helm lagi."
"Kita udah panik Alula diculik, kamu lagi ikutan bikin panik." lanjut Mama Indri tanpa melepaskan tangannya dari telinga Mirza.
"Ampuun Mama ih, sakit. lepasin." Mirza mengaduh sambil mengusap telinganya yang terasa panas setelah Mama Indri melepaskan tangannya.
"Nak, sayang ... " perhatian mereka teralihkan pada suara lirih Ayah Abhi.
Ia mengusap kepala putrinya dengan sayang, lalu mengecup lembut dahi sang putri. terlihat Ayah Abhi begitu sangat mengkhawatirkan putrinya.
"Terima kasih Pa." ucap Ayah Abhi pada Pa Sanjaya, namun tatapannya tak beralih pada wajah pucat putrinya. sungguh, teriris sekali rasanya melihat harta satu-satunya yang ia miliki harus memgalami hal buruk seperti ini.
"Kenapa dia tidak pernah puas, menyiksamu nak ... " gumam Ayah Abhi, namun masih terdengar dengan jelas.
Pa Sanjaya mengusap punggung Ayah Abhi, memberinya kekuatan. juga menenangkan Ayah Abhi yang kini terlihat geram.
Ayah Abhi menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Saya ... sudah terlalu banyak merepotkan anda dan keluarga Pa." ucapnya dengan kepala menunduk, merasa tak enak hati karena terus merepotkan keluarga ini.
"Sekali lagi ... " Ayah Abhi mendongakkan kepalanya, kini matanya menatap lekat Pa Sanjaya yang berdiri disampingnya.
"Kamu ini ngomong apa sih Bhi," potong Pa Sanjaya dengan cepat.
"Bukankah kamu menganggap saya ini Kakak kamu, kenapa masih saja sungkan."
"Tapi ... "
"Sudah, sekarang fokus saja sama kesembuhan Alula."
Entah mengapa, rasanya ia begitu terharu. merasa beruntung karena mengenal keluarga baik seperti keluarga ini. sejak dulu, Pa Sanjaya sudah banyak membantunya.
Membuatnya bangkit dari keterpurukan, merangkulnya ketika kehilangan arah. bahkan sekarang, beliau juga Bu Indri sangat menyayangi dan memperlakukan Alula seperti putrinya sendiri. entah dengan apa Ayah Abhi membalas kebaikan mereka.
"Kamu gak usah khawatir, penculiknya sudah ku pastikan mendekam dipenjara."
__ADS_1
Mendengar kata penculik disebut, Ayah Abhi jadi teringat sesuatu.
"Apa dia akan dihukum seberat-beratnya?" tatapan Ayah Abhi berubah dingin, ada nada kebencian yang terlontar dari mulutnya.
"Selain penculikkan, dia juga terkena kasus lain. dapat dipastikan pria itu akan lebih lama berada disana (jeruji besi)."
"Bisakah ... saya menemuinya?" sudah lama sekali Ayah Abhi ingin bertemu dengan Leon. namun keberadaan pria itu sulit untuk dicari.
"Ya bisa, Saya akan mengantarkan kamu besok." namun Ayah Abhi menggeleng dengan cepat.
"Saya akan pergi sen ..."
"Saya tidak suka dibantah Abhi." potong Pa Sanjaya dengan cepat, membuat AyahAbhi terdiam. ia memang tidak pernah bisa menolak apapun yang Pa Sanjaya katakan.
...****************...
Alula tersadar, namun matanya masih terpejam. entah mengapa susah sekali rasanya untuk terbuka. lidahnya terasa kelu, bahkan untuk memanggil Ayahpun rasanya berat sekali.
Dalam ingatannya, ia tengah melambaikan tangan pada Marsha di depan gerbang saat seseorang tiba-tiba saja menarik tangannya dengan kasar.
Ia berteriak, berusaha meminta pertolongan. namun, tidak ada satu orangpun yang menolongnya. lalu ia ditarik masuk kedalam mobil asing dan setelah itu ia tidak mengingat apapun lagi.
Hal terakhir yang ia ingat, adalah saat dirinya berada diatas tempat tidur. ia mendengar suara orang tengah tertawa puas. dadanya bergemuruh mendengar suara itu. perasaan marah, benci juga takut bercampur menjadi satu.
Perlahan ia membuka mata, dilihatnya sosok yang ia benci berdiri dengan wajah menyeringai. ia berteriak sekeras mungkin, namun tetap tidak ada yang mendengarnya.
Ia terus berteriak, sampai tenggorokannya kering dan terasa pahit. ia terus meneriakkan nama Ayah. yah Ayah, satu-satunya orang yang ia harapkan mampu menyelamatkannya dari mimpi buruk itu. sampai akhirnya pandangannya mulai kabur, dan perlahan mulai terasa gelap.
Semua masih terasa gelap, rasanya takut untuk membuka mata. namun sayup-sayup ia mendengar suara Ayah memanggil namanya.
"Lula sayang ... " ia merasakan tangan Ayah mengusap dahinya yang penuh dengan peluh.
"Bangun nak... " bahkan iapun mendengar Ayah menyuruhnya bangun. namun entah mengapa, rasanya ia terlalu takut untuk membuka mata.
.
.
.
Happy Reading .. 😊
__ADS_1
Stay safe and healty .... 🤗
*salam halu dari otor ....