
"Kalian pulang bareng?" tanya Gweny setelah mereka menghabiskan makanan hingga semua piring kosong tak bersisa. rasa lelah rupanya membuat perut mereka terasa lapar berkali-kali lipat, sehingga mereka menghabiskan makanan dengan lahapnya.
"Aku kayaknya dijemput, tadi bang Dito nanyain lagi dimana soalnya." ujar Marsha dengan kepala celingukkan seperti tengah mencari seseorang diluar sana.
"Pacar?" tanya Gweny ingin tahu.
"Bukan, abang aku."
"Nah, itu bang Dito." tunjuknya pada sepeda motor yang baru saja menepi di area parkir. Dito membuka helmnya, pandangannya langsung tertuju pada meja mereka yang memang berada didekat kaca.
"Lama gak ketemu, bang Dito makin ganteng aja." ucap Mulan tanpa mengalihkan perhatiannya pada pemuda yang masih duduk diatas jok motor itu.
"Kumat penyakitnya," sebuah toyoran mendarat dikepalanya.
"Aku duluan gak apa-apa kan?" Marsha meringis, merasa sungkan karena harus pulang lebih dulu.
"Oke gak apa-apa." Alula memaklumi, pasti Bunda khawatir karena Marsha belum juga pulang.
"Duluan yah." Pamitnya pada Alula, Mulan dan Gweny yang masih duduk disana.
Marsha adalah anak satu-satunya, karena dari pernikahan Bunda dengan ayah baru Marsha belum dikaruniai seorang anak. sehingga Bunda merasa harus menjaga Marsha dengan sangat baik. terkadang Alula iri dengan Marsha, ia masih bisa bermanja-manja dengan Ibu kandungnya, memiliki teman curhat diusianya yang memasuki masa pubertas.
Masa-masa seperti ini peran Ibu justru akan dibutuhkan, karena Ibu merupakan sumber informasi yang nyata dan tidak tergantikan. terutama saat kita memasuki perubahan besar dalam hidup kita. menentukan arah disaat kita bimbang harus melakukan apa, terkadang pendapat Ibu justru menjadi solusi yang tepat.
Alula ingin sekali memiliki teman bicara dan teman berkonsultasi perihal masalah perempuan, Ayah jelas tidak akan bisa mengerti keadaanya. kehadiran Mama Indri memang sedikitnya bisa menggantikan peran Ibu untuknya. namun untuk membicarakan hal yang pribadi, seperti masa periodenya yang tidak lancar, bagaimana mengatasi nyeri dan sanitasi saat masa periode datang, ia masih merasa sungkan untuk menceritakannya.
Memang, ada yang lebih pintar dari pada seorang Ibu, yaitu mesin pencarian. namun hanya membaca saja tidak akan cukup untuk mengedukasi. perlu informasi yang nyata, dan Ibu akan berbicara sesuai fakta dan pengalaman yang ada.
Tetapi Alula beruntung, Mama Indri berperan sebagai Ibu yang baik. beliau selalu mengerti dan memperhatikannya ketika masa periodenya datang. pernah waktu itu Alula pulang dari sekolah dengan wajah yang sedikit pucat, dan dahi yang dipenuhi dengan keringat. Mama Indri yang saat itu tengah duduk menikmati teh hangat di halaman depan menghampirinya.
"Kamu sakit? ko' pucet?" tanyanya dengan raut wajah khawatir. Alula yang baru saja turun dari motor hanya meringis.
"Kenapa, lagi M yah?" tebak Mama yang dibalas dengan anggukkan. Mirza hanya menatap tak mengerti pembicaraan kedua perempuan itu.
"Ayo masuk, nanti Mama kompres air anget. biar sedikit kurang sakitnya." Mereka masuk kedalam rumah, Mama Indri langsung mengantarnya kedalam kamar.
__ADS_1
Namun bukan hanya air hangat untuk mengompres perutnya saja yang Mama bawa, melainkan segelas air kunyit untuk Alula minum. karena saat itu Mama bilang,
"Kurkumin dapat membantu meredakan gejala sindrom pramenstruasi (PMS), kunyit mampu mengatasi rasa nyeri saat kram perut. karena kandungan kurkumin bisa menghambat produksi prostaglandin berlebihan dirahim." ucap Mama sambil mengompres perut Alula yang terasa kram. perlahan pucat diwajah Alula sedikit memudar.
"Nanti diminum air kunyitnya," Mama menunjuk dengan dagu gelas berisi air kunyit diatas nakas.
"Nanti kamu mandinya pake air anget yah!" seru Mama. Alula hanya menatap Mama Indri dengan perasaan haru, tak pernah menyangka jika ia akan menerima perlakuan sehangat ini dari orang lain.
"Kamu pulang sama siapa La?" pertanyaan Gweny meleburkan lamunannya tentang Mama Indri.
"Eh aku, kayaknya naik taxi. abang dari tadi gak bisa ditelepon, mungkin handphonenya lagi diisi daya." Alula kembali menghubungi Mirza, namun tetap tidak bisa terhubung.
"Yaudah bareng aku aja yuk, aku anterin."
Meski sedikit canggung, namun Alula menerima ajakan Gweny. dengan senang hati, karena selain merasa sedikit takut jika pulang sendirian, ia juga bisa mengirit uang sakunya. Lumayan..
Setelah Marsha pulang, beberapa menit kemudian mobil yang menjemput Mulan tiba dicafe. Mulan awalnya menawarkan diri untuk mengantarkan Alula, namun ia menolaknya, karena rumah Mulan dengan kediaman Sanjaya berbeda arah.
...****************...
"Bukannya tadi lu izin mau ke perpustakaan? ko' pulang sama dia? dan sejak kapan lu akrab sama dia?" Mirza langsung memberondong Alula dengan pertanyaan, sesaat setelah Alula menutup pintu. ia terperanjat karena tiba-tiba saja Mirza sudah ada dibelakangnya.
"Kenapa lu pulang sama dia?" Mirza mengekori Alula, merasa pertanyaannya diabaikan.
"Tadi aku gak sengaja ketemu dicafe."
"Terus kenapa lu pulang bareng dia, kenapa gak telepon abang?"
"Karena abang gak bisa aku telepon." Alula duduk disisi ranjang, ia membuka simpul dasi berwarna abu-abu dilehernya.
"HP gue mati dek, ini baru liat Hp!" Mirza yang kini duduk dikursi dekat meja belajar menunjukkan handphone ditangannya.
Alasan yang sebenarnya adalah Mirza lupa jika ia harus menjemput Alula, ia sengaja mematikan handphonenya karena tidak mau acara tidur siangnya terganggu. karena ia tahu duo pengacau Martin dan Marko pasti akan mengganggu kenyamanan tidurnya.
"Yaudah kenapa abang jadi ngomel-ngomel."
__ADS_1
"Ya maaf. tapi, kenapa juga lu pulang sama dia?"
Dahi Alula mengernyit "Kak Gweny?"
Mirza hanya melirik dengan malas.
"Bukannya dulu kalian temenan yah? ko' Abang gitu sama temen sendiri."
Mirza masih diam tak menanggapi. pandangannya kini fokus ke arah kaca jendela, yang langsung menampakkan area halaman belakang.
Alula menghela napas panjang sebelum berkata,
"Kak Gweny orangnya baik, ramah banget. gak banyak gaya, kayak kebanyakan perempuan-perempuan kaya raya diluar sana."
"Dia orangnya apa adanya, aku suka sama kak Gweny. dia cantik." dengan ragu Alula melirik pada Mirza, penasaran dengan ekspresi Mirza ketika ia membicarakan kelebihan Gweny. namun Mirza tetap bergeming, tetap fokus menatap keluar jendela.
"Abang.. suka gak sama Kak Gweny?" Alula menatap dalam pria disampingnya.
"Bang," panggilnya.
"Hmmm."
"Abang," panggilnya lagi.
"Hmmm." arah pandangan Mirza tetap sama, namun kali ini ia tersenyum. semakin lama semakin lebar.
"Abang sakit gigi yah." Alula kesal, karena dari tadi Mirza mengabaikannya, malah bergumam-gumam persis seperti suara sapi.
"Apaan sih lu dek, berisik." namun sejurus kemudian, Mirza tertawa dengan terbahak-bahak. Alula yang penasaran ikut menoleh pada arah pandangan Mirza.
Dilihatnya mang Ujang tengah lari terbirit-birit sambil menepis-nepiskan tangannya mengelilingi pohon mangga yang sedikit rimbun. diikuti beberapa ekor tawon yang mengejarnya dari belakang. rupanya Mirza dari tadi tengah fokus melihat mang Ujang yang akan membuang sarang tawon di pohon mangga yang selama ini diurusnya. namun bukannya terbuang, sang tawon malah keluar dari sarangnya dan menyerang balik mang Ujang yang telah mengganggu acara membuat madunya.
"Abang ih, orang lagi kesusahan malah diketawain." dengan kesal Alula memukul Mirza dengan gulingnya. merasa diabaikan, juga merasa kasihan pada mang Ujang yang sedari tadi di tertawakan oleh pria paling menyebalkan namun juga menyenangkan ini.
.
__ADS_1
.
Happy Reading.. 😊