
Sejak Alula mengetahui jika Mirza akan dijodohkan dengan Gweny, ia sudah membulatkan tekad, dan meyakinkan diri untuk pergi dari rumah kediaman Mahesa.
Mungkin dengan menjauh, ia bisa melupakan segala perasaannya.
Karena jika masih terbiasa bersama, ia takut tidak bisa mengendalikan perasaannya. dan akhirnya menjadi masalah yang akan timbul dikemudian hari.
"Aku takut, jika kita semakin lama bersama, akan semakin sulit untuk mengakhirinya. untuk itu, sebaiknya aku pergi." lirih Alula saat ia selesai menggambar sketsa wajah sang Abang didepan teras paviliun waktu itu.
Ia terperanjat saat Mama Indri tiba-tiba saja datang dan mendudukkan dirinya disamping Alula.
"Lagi apa sayang ?"
"Eh Ma, i .. ini lagi buat desain pesanan dari butik." jawabnya sedikit gugup, sambil menyembunyikan buku yang didalamnya terdapat kertas bergambar wajah sang abang.
"Oh ya, coba deh Mama lihat." Mama Indri dengan antusias mengambil buku miliknya.
"Sebentar Ma," namun ia mengelak, dan mengambil salah satu kertas tanpa sepengetahuan Mama Indri.
"Ish makin kesini kamu makin jago yah gambarnya. cantik-cantik desainnya." ujar Mama Indri saat membuka lembar demi lembar kertas dalam buku di pangkuannya.
"Kamu bisa bantu Mama?"
"Bantu apa Ma ?" tanya Alula dengan dahi yang mengernyit.
"Buatin Mama desain baju couple buat acara resmi."
Ia sempat tertegun mendengarnya, teringat perkataan Pa Sanjaya pada Mama Indri beberapa hari yang lalu.
"Syukurlah kalau Emir setuju, kita siapkan pesta pertunangan secepatnya."
Apakah baju couple yang Mama Indri maksud ini adalah ....
Tidak !
Membayangkan apa yang ada didalam pikirannya, tiba-tiba dadanya terasa sesak. ia menghela napas panjang, menetralisir kegugupannya saat Mama Indri menatapnya wajahnya dengan lekat. seperti tengah memperhatikan sesuatu, entah apa.
Dan apa yang dipikirkannya benar, karena malam sebelum acara wisuda, Mama Indri kembali menghampiri Alula didalam kamar.
"Sayang," panggil Mama Indri setelah membuka pintu.
"Ya Ma," sahut Alula saat ia duduk di meja belajar tengah menyelesaikan satu buah desain baju pengantin.
"Duduk sini sebentar." Mama Indri menepuk kasur disebelahnya dan mengajaknya duduk disampingnya.
"Mama mau minta tolong." lanjutnya setelah Alula ikut duduk disampingnya.
Dahi Alula mengernyit, "ada apa Ma?"
__ADS_1
"Besok, setelah acara wisudanya Abang kamu selesai, jangan ajak dia pulang dulu yah !"
"Sebisa mungkin kamu tahan, kalau bisa sampai malam."
"Memangnya kenapa Ma?" tanya Alula dengan dahi yang semakin mengkerut.
Dan hatinya benar-benar tersayat, saat Mama Indri berkata,
"Besok, Papa mau mengadakan acara syukuran kelulusannya Emir, sekaligus tunangannya sama Gweny."
Alula terdiam, sudut hatinya terasa perih. ingin sekali ia menangis saat itu juga, jika tak ingat dikamarnya masih ada Mama Indri.
Namun yang keluar dari mulutnya justru "Oya ? seru dong pasti." ia tersenyum getir, meski hatinya perih bagai disayat sembilu.
Ia sempat melihat Mama Indri tertegun, sebelum kembali berkata "Kamu ... gak apa-apa?"
"Gak apa-apa gimana Ma ? aku seneng, berarti sebentar lagi aku punya kakak ipar kan." ucapnya masih memaksakan senyum.
Mama Indri menghela napas panjang "ya sudah, tapi jangan bilang apa-apa dulu sama Abang kamu yah !"
"Ini kejutan." Mama Indri menempelkan telunjuknya dibibir.
Alula kembali duduk dimeja belajarnya setelah Mama Indri keluar dari kamar. ia menatap nyalang kertas putih dengan gambar desain gaun pengantin pesanan dari butik yang baru saja diselesaikannya.
"Besok, akan jadi hari istimewa buat Abang. aku janji, besok gak akan buat Abang marah ataupun kecewa."
"Sebagai hari perpisahan kita. yah, aku dan abang."
Alula tersenyum getir, membayangkan akan hidup berjauhan dengan Mirza, apakah ia akan sanggup ?
Namun yang tak pernah disangka, justru dirinya terkejut dengan sikap manis Mirza. saat Mirza membawanya kesebuah restauran romantis, hanya berdua tanpa siapapun.
Dan yang lebih tak disangka adalah ketika Mirza mendekapnya dalam pelukan, mengalirkan perasaan hangat yang selama ini ia rindukan. ia menyerah, ingin sekali rasanya membalas pelukannya dan berkata,
"Iya ... aku merasakan apa yang Abang rasakan."
Namun ia tak kuasa, hanya air mata yang menjadi bukti bahwa ia menyimpan perasaan yang sama. namun terhalang keadaan, hingga ia tidak berani mengatakannya.
Dan malam ini, ia harus benar-benar menguatkan hatinya ketika melihat Mirza turun dari tangga setelah mengganti pakaiannya.
Ia sempat tertegun, karena Mirza tak memakai baju yang telah didesain olehnya. melainkan memakai kemeja panjang berwarna hitam dan celana katun panjang yang juga berwarna hitam.
Alula menatap dirinya sendiri yang juga memakai gaun berwarna hitam, warna senada dengan yang Mirza pakai.
Ia terkesiap saat tiba-tiba Mirza menarik tangannya, dan membawanya masuk kedalam kamar. lalu menutup rapat-rapat pintu kamarnya.
"Abang," ia menatap Mirza dengan dahi yang mengernyit. mengapa Mirza malah membawanya kedalam kamar, sebab semua orang kini tengah menunggunya di di ruang tamu.
__ADS_1
"Jadi, lu udah tahu semuanya ?" tanya Mirza sambil mengungkung dirinya dibalik pintu. tangannya tak lepas menggenggam tangan Alula.
Alula menunduk, tak berani menatap Mirza. Yah benar, ia sudah tahu semua rencana yang disusun oleh Pa Sanjaya, ia ingin acara malam ini berjalan dengan lancar, sehingga ia tidak memberi tahu apapun pada Mirza.
"Kasih gue jawaban La!"
"Bilang kalau lu juga merasakan hal yang gue rasakan." desak Mirza, tak ingin membuang waktu lama.
"Gak ada yang harus aku katakan bang," Alula tercekat. ia menelan ludahnya, sulit rasanya untuk bicara.
"Semuanya udah ngumpul bang, sekarang semua orang lagi nunggu Abang diluar." ucap Alula masih menundukkan pandangannya.
"Jangan buat Pa Sanjaya kecewa sama Abang." Alula mendongak, menatap manik mata cokelat yang tengah menatapnya dengan lekat.
"Jadi ... lu gak ngerasain apa-apa La?" tanya Mirza dengan nada kecewa.
Alula menggelengkan kepalanya, bertepatan dengan suara ketukan pintu dari luar.
"Lula sayang, ayo ikut ayah." itu suara Ayah Abhi, ia menyusul Alula agar ikut bergabung bersama seluruh keluarga.
Namun Ayah Abhi terhenyak, saat melihat Mirza yang keluar dari kamar putrinya.
"Loh, nak Emir ?" ayah Abhi menatap Mirza dengan dahi yang mengernyit.
Mirza tak menjawab, lebih memilih pergi tanpa mengatakan apapun. membuat Alula gugup karena Ayah beralih menatapnya.
"Tadi ... Abang cuma nanyain penampilannya Ayah." ucapnya dengan gugup.
"Ayo yah, semuanya udah ngumpulkan?" Alula menuntun tangan Ayah Abhi, mencoba mengalihkan perhatiannya.
Tanpa disangka, Marko dan Martin pun ikut serta dalam acara malam ini. Pa Sanjaya yang mengundang mereka saat acara wisuda siang tadi. beliau bilang, akan mengadakan pesta makan malam dikediamannya.
Namun Mereka tak menyangka, jika makan malam yang dimaksud adalah pesta untuk merayakan pertunangan Mirza dan juga Gweny.
Tak hanya Alula yang merasakan sakit, saat menyaksikan orang yang dicintainya menyematkan cincin dijari manis perempuan lain. ada Martin, yang juga merasa hatinya teriris saat melihat Gweny memakaikan cincin di jari Mirza.
Alula tertunduk, ia menggigit sudut bibirnya. menahan air mata yang sudah menggenang, agar tak meluruh dari pelupuknya.
Sejak jauh hari, ia sudah mempersiapkan hatinya untuk malam ini. namun ia tak menyangka jika sakitnya akan lebih sakit dari yang ia bayangkan sebelumnya.
.
.
.
Happy Reading... 😊
__ADS_1
Jangan lupa like and comment nya... 👍