
Sudah beberapa hari ini Mirza bolak-balik ke rumah singgah hanya untuk menjemput ataupun mengantarkan Shaka dan Shaki. Sejak mereka bertemu dan mengetahui bahwa mereka adalah saudara kembar, mereka sama sekali tidak ingin dipisahkan satu sama lain. Kadang, Shaka yang menginap di rumah Alula, atau kadang juga Shaki yang ikut menginap di kediaman Sanjaya.
Tidak hanya sekali, bahkan sering sekali Shaka dan Shaki mempertanyakan mengapa mereka tidak bisa tidur bersama kedua orang tuanya? mengapa mereka harus tinggal terpisah, tidak bisa satu rumah. Dan itu membuat Alula sampai pusing, bingung bagaimana harus menjelaskannya, kedua putranya itu terlalu pintar untuk mempertanyakan sesuatu.
Seperti siang ini, Shaka dan Shaki yang semalam tidur bersama Alula, malam ini mereka akan tidur di rumah Kediaman Sanjaya. Mirza akan menjemput mereka setelah ia pulang dari kantor tempatnya bekerja.
Shaki, sejak tadi pagi tak henti bertanya apakah sang Ibu akan ikut mereka ke sana? Apakah Alula akan tidur bersama mereka? namun Alula selalu memberikan alasan bahwa ia harus menemani kakek mereka di sini. Dengan wajah muram, akhirnya Shaki berhenti bertanya.
Waktu menunjukkan pukul 16.00 sore, saat Mirza menapakkan kaki di halaman rumah Alula yang masih berada di kawasan rumah singgah Anugerah. Dahi Mirza mengernyit, saat melihat satu mobil asing terparkir di sana. Siapa yang tengah bertamu di rumah Alula?
Dengan tergesa ia berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti saat mendengar tawa kedua anaknya yang terdengar begitu riang dan gembira. Bahkan, rasanya ia tidak pernah mendengar Shaka tertawa sampai selepas itu. Mirza berdiri di ambang pintu, ia melihat kedua anaknya begitu ceria bermain bersama seorang pria berkemeja biru yang duduk membelakanginya.
"Om kenapa baru ke sini lagi? Om gak kangen sama Shaki? Om gak sayang lagi sama Shaki yah?" terdengar celotehan Shaki pada pria itu.
Pria itu tertawa samar, "Om sibuk sayang, maaf yah baru bisa ke sini lagi." Suara pria itupun terdengar tak asing ditelinga Mirza.
"Om, Shaki seneng deh, Shaki punya kakak. Om lihat, mirip kan?" Shaki mengajak Shaka untuk berdiri, memperlihatkan wajah dan tubuh mereka yang terlihat begitu sama.
Namun saat berdiri, pandangan Shaki justru tertuju pada Mirza yang saat itu masih berdiri di ambang pintu memperhatikan mereka.
"Papa sudah pulang?" pekik Shaki dengan wajah berbinar. Pria berkemeja biru itu pun menoleh, mengikuti arah pandang Shaki.
Mirza hanya mengangguk lalu tersenyum, namun senyumannya langsung surut ketika ia melihat wajah pria berkemeja biru itu.
Ya, itu Dito, kakak tiri Marsha. Pria yang dulu pernah bertamu ke rumahnya saat Alula sakit. Pria yang dulu pernah mengantar jemput Alula saat masih sekolah. Dokter tampan yang selama ini ikut membantu proses penyembuhan Ayah Abhi. Pria itu juga yang pertama kali mengetahui tentang kehamilan Alula, saat dirinya dan Marsha tak sengaja menemukan Alula tak sadarkan diri usai mendatangi kediaman Sanjaya beberapa tahun lalu.
Sialnya, Dito sekarang jauh terlihat semakin dewasa dan mempesona, tubuhnya tegap dengan senyum manis tersemat di wajahnya. Bahkan Dito lebih rupawan dibandingkan dengan Yanuar—pria yang bersama Alula di cafe beberapa tahun lalu.
"Shaka, Shaki mandi dulu sa–yang," ucapan Alula terhenti saat melihat Mirza di sana.
"Abang, sejak kapan datang?" tanya Alula yang terlihat gugup, merasa tidak enak hati melihat kedatangan Mirza.
"Baru aja," jawab Mirza dengan suara yang terdengar begitu dingin. Dan itu membuat Alula merasakan ada sesuatu yang berbeda.
__ADS_1
"Bang, apa kabar?" Dito, pria berkemeja biru itu mengulurkan tangannya bermaksud untuk bersalaman.
Sesaat Mirza hanya diam, menatap uluran tangan Dito, seolah ragu untuk menerima uluran tangan itu. Namun ia tidak ingin terlihat buruk di depan anak-anaknya, sebab itulah Mirza menyambut uluran tangan Dito.
"Baik," jawabnya singkat, padat dan tidak ada pertanyaan balik setelahnya.
Tidak ada percakapan basa-basi lainnya setelah itu, mereka kemudian duduk di kursi menunggu Shaka dan Shaki dengan suasana yang begitu canggung. Baik Mirza ataupun Dito hanya saling diam, berpura-pura sibuk dengan urusan masing-masing.
"Sudah mandinya, Nak?" tanya Mirza saat melihat Shaka dan Shaki menghampirinya.
"Sudah dong Pah, kita mandinya lama banget ya?" jawab Shaka seraya duduk di pangkuan Mirza.
"Maaf ya Pah, Shaki gerah soalnya," sahut Shaki.
Mirza hanya tersenyum, lalu mengusap kepala Shaki. "Kita pergi sekarang?" tanya Mirza pada kedua anaknya, yang di balas anggukkan oleh keduanya.
"Pamit dulu sama Mama kalian!" seru Mirza pada kedua anaknya.
Setelah Shaka dan Shaki berpamitan pada Alula dan Dito yang juga masih berada di sana, Mirza mengajak keduanya untuk segera masuk ke dalam mobil.
...****************...
Dinginnya angin malam tak membuat Alula beranjak dari tempat duduknya. Masih teringat dengan jelas, saat Mirza bersama kedua anaknya pergi meninggalkan rumah sore tadi. Tatapan Mirza begitu dingin, tak seperti biasanya.
Tatapan itu mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun lalu, saat ia tak sengaja bertemu dengan Yanuar dan memilih pergi bersamanya dari pada menemui Mirza.
Apakah Mirza tengah merasakan hal yang sama seperti waktu itu? apakah saat ini Mirza tengah cemburu padanya? tidak.
Alula bergidik ngeri, membayangkan sorot mata tajam Mirza saat itu. Begitu menakutkan, namun entah mengapa ada rasa lega jika Mirza benar-benar cemburu padanya. Alula menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran aneh dari otaknya.
Alula meraih sebuah figura di meja kerjanya, foto dirinya bersama Shaka dan Shaki saat mengunjungi sebuah tempat bermain beberapa hari yang lalu. Alula menghela napas berat, entah mengapa pikirannya terasa begitu rumit.
"Lula." Alula dikejutkan dengan suara Ayah Abhi yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Ayah?" Alula sedikit terhenyak dalam lamunannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?" tanya Ayah Abhi yang seperti tahu kerisauan yang kini tengah melanda Alula.
"Apa? tidak ada apa-apa, Ayah," elak Alula.
"Ayah tahu, anak Ayah sekarang lagi bingung 'kan?"
Ingin mengelak, tapi rasanya Alula tidak bisa. Ia menundukkan kepalanya lalu menghela napas berat.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini?" pertanyaan Ayah Abhi membuat Alula mendongak.
"Maksud Ayah?"
Ayah Abhi tak langsung menjawab, ia tersenyum kecil melihat kegugupan Alula.
"Lula, Ayah tahu, apa yang sekarang sedang kamu pikirkan. Memilih diantara dua pilihan memang terlalu berat."
"Ayah–."
"Sampai kapan kamu bersembunyi dibalik rasa takut? bukannya anak Ayah seorang pemberani? Nak Dito dan Nak Emir sama-sama pria yang baik, dan Ayah tahu mereka menyukaimu. terutama... Nak Emir."
"Ayah–."
"Shaka dan Shaki butuh orang tua yang lengkap Lula."
Lagi-lagi Alula tertunduk, membenarkan perkataan sang Ayah. Bagaimanapun Shaka dan Shaki berhak bahagia dengan keluarga yang lengkap, dan orang tua yang utuh.
"Lula terlalu takut untuk memulai sesuatu, Ayah," lirih Alula.
"Pelan-pelan, semua memang butuh waktu. Tapi, Ayah yakin kamu mampu melewati semuanya. bersama siapapun."
.
__ADS_1
.
Happy Reading . . . 🙂