
Keputusan Alula untuk memberi tahu Mama Indri tentang kedekatan Mirza dengan Gweny rupanya membuatnya semakin jauh dari sang abang. karena setelah malam itu, Mirza tidak lagi menegur bahkan mengajaknya bicara.
Mereka kembali seperti menjadi dua orang asing. bahkan Mirza sudah seperti tukang Ojek sungguhan saja, hanya sekedar mengantar atau menjemput Alula. selebihnya tak banyak yang Mirza lakukan.
Alula termenung, matanya nampak menerawang. perkataan Mirza kembali berputar dalam ingatannya.
"Lu ngapain bilang ke Mama soal Gweny?" cerca Mirza saat masuk kedalam kamar Alula tanpa mengetuk pintu. Alula yang saat itu tengah fokus dimeja belajar dibuat terkejut. pasalnya, Mirza berbicara dengan nada setengah teriak.
"Abang?" ucapnya ketika menoleh dan mendapati wajah Mirza yang menatapnya dengan tajam.
"Itu... Aku..." Alula tergagap, ia berdiri mengahadap pria yang memasang wajah tanpa ekspresi.
"Apa?" sentak Mirza.
"Aku gak sengaja Bang." Alula menunduk menyembunyikan matanya yang mulai terasa panas. ia meremas kedua tangannya, mencoba menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba saja melanda.
"Halah.. kalo gak sengaja, mana mungkin Mama tau kalo gue nganterin Gweny pulang." Mirza masih memasang wajah tanpa ekspresinya.
"Aku cuma pengen lihat Mama seneng Bang." ucap Alula lirih,
"Abang gak liat tadi, Mama begitu antusias... "
"Tau apa lu tentang Mama?" potong Mirza dengan cepat.
Mirza memang sengaja mendekati Gweny hanya untuk membungkam mulut Marko dan Martin agar berhenti menyudutkan dirinya tentang perhatiannya pada Alula. tapi, jika hal itu sampai terdengar langsung oleh telinga Mama Indri, akan beda lagi ceritanya. Mama pasti akan terus-terusan mendesaknya untuk dipertemukan dengan Gweny.
"Gue gak suka Lu ikut campur masalah pribadi gue yah!" ucap Mirza dengan penuh penekanan, meninggalkan Alula yang masih mematung ditempatnya.
Alula menyentuh dadanya yang terasa sesak, karena untuk pertama kalinya ia melihat Mirza sampai semarah itu.
Apakah Alula salah? ia hanya ingin melihat Mama Indri senang. pasalnya tidak hanya sekali, Mama Indri bahkan sering kali menyuruhnya untuk mencarikan perempuan yang baik untuk sang abang. ia hanya ingin yang terbaik untuk Mirza., dan Gweny adalah yang terbaik menurutnya.
"Gak bisa gitu dong La," protes Marsha dengan setengah teriak saat Alula menceritakan perihal kemarahan Mirza padanya waktu itu. tanpa mempedulikan siswa lain yang berlalu lalang disekitar mereka.
"Ssstt.. " Alula menempelkan telunjuknya di bibir. akan sangat memalukan jika semua orang mendengarnya.
"Kamu gak bisa menilai sesuatu itu baik menurut kamu, belum tentu juga menurut bang Emir itu yang terbaik." ucap Marsha dengan nada pelan, namun semakin menyudutkan Alula.
"Kak Gweny cantik sih menurut aku." Mulan ikut bersuara dengan wajah yang tampak menerawang, mengingat kembali wajah Gweny.
"Cantik aja gak cukup Lan." sanggah Marsha,
__ADS_1
"Aku yakin ada alasan lain kenapa bang Emir gak suka kamu jodohin sama kak Gweny La." ujar Marsha yang beberapa saat lalu meminum es jeruknya hingga tandas. berdebat soal laki-laki rupanya membuat kerongkongannya dilanda kekeringan.
"Apa jangan-jangan bang Emir sengaja mau bikin kamu cemburu?" perkataan Marsha kini membuat Alula terdiam. ia menatap Marsha dengan dahi yang mengkerut, mana mungkin bisa seperti itu.
...****************...
Ditempat lain, Martin dan Marko tengah memperhatikan raut wajah Mirza yang ditekuk. merasa aneh, karena akhir-akhir ini Mirza juga sering uring-uringan. kadang marah, ketus, bahkan diam, tak bicara sepatah katapun. ada apa dengan pria ini.
"Lu kenapa ? marah, gara-gara gosip yang beredar dikampus?" tanya Marko setelah mendudukkan dirinya disamping Mirza. ia merasa jengah dengan sikap sahabatnya akhir-akhir ini.
Dahi Mirza mengernyit, bahkan ia saja tidak tahu gosip apa yang sedang hangat, panas atau bahkan sudah basi dikampus. ia tidak peduli dan tidak mau tahu tentang itu. memangnya dirinya ini tim ghibah apa.
"Gosip apaan?" namun tetap saja ada rasa penasaran dan ingin tahu. Hmmm.
"Lu kemaren boncengan sama Gweny, bikin geger kampus tau gak." ujar Marko dengan antusias.
Mirza menoleh, menatap Marko dengan dahi yang mengkerut "Apalagi ini." pikirnya.
"Tuh banyak grup cewek-cewek yang lagi ghibahin elu." Marko menunjuk beberapa perempuan yang tengah berkumpul diarea taman kampus.
"Mereka bilang elu udah jadian sama Gweny." imbuhnya.
Pantas saja sejak Mirza datang tadi, ia merasa banyak orang yang memandanginya dengan tatapan penuh selidik. ia merasa risih, karena sepanjang jalan menuju ruangannya ia merasa jadi pusat perhatian. tak hanya perempuan, bahkan beberapa laki-laki pun sama. sial.
"Itukan yang elu mau?" ucap Martin dengan senyum sinis serta meremehkan.
"Percuma Lu bikin gosip kayak gitu, kalo hati lu sebenarnya bukan buat Gweny." ujarnya lagi, merasa kesal karena Mirza seperti sengaja ingin memberi harapan pada Gweny.
Mirza hanya melirik Martin, tak mengatakan apapun.
"Kalo sampe gue lihat Gweny nangis gara-gara elu, gue gak akan maafin elu."
Apa boleh buat, lagi pula ia yang sengaja mendekati Gweny. Mama Indri juga sudah tahu tentang Gweny. apa salahnya mencoba menjalin hubungan 'kan? toh, teman-temannya juga pasti akan menganggap Mirza memang tidak memiliki perasaan untuk Alula. begitu pikirnya.
"Oke, gue bakalan nyoba buat deket sama Gweny." ucap Mirza meyakinkan.
Marko dan Martin saling melirik, memang tidak mudah mematahkan kekeras kepalaan Mirza. padahal dari sudut pandang mereka jelas terlihat Mirza begitu menyayangi Alula.
"Gue bakalan ngajak Gweny jalan." ucapnya lagi, tanpa memandang kedua sahabatnya yang tengah menggeleng-gelengkan kepala. sungguh, Mirza ini memang tidak peka terhadap perasaannya sendiri.
Hingga akhirnya, siang itu Mirza melihat Gweny tengah berjalan menuju gerbang Kampus. tiba-tiba saja muncul sebuah ide, untuk mengantarkannya lagi.
__ADS_1
"Mobil masih belum bisa dipake?" tanya Mirza setelah menghentikan sepeda motornya disamping Gweny.
Gweny menoleh, ia terkejut mendapati Mirza tengah menatapnya.
"Eh, i.. iya Mir. kemaren udah bener sih. cuman tadi pagi aku masukin bengkel buat chek mesin aja. ini niatnya mau ke bengkel."
"Naik. gue anterin!" seru Mirza sambil menghidupkan mesin motor yang beberapa saat lalu ia matikan.
"Tapi..." Gweny terlihat celingukan, ia mengedarkan pandangannya takut-takut jika orang-orang tengah memperhatikan mereka. namun yang ia lihat, beberapa mahasiswa tengah sibuk membaca buku, juga tengah asik mengobrol, entah membicarakan apa.
"Udah naek! gak usah peduliin orang lain."
"Tapi, aku gak enak sama gosip... "
"Biarin ajalah mereka mau ngomong apa." potong Mirza cepat.
Gweny terkejut melihat reaksi Mirza yang bahkan terlihat biasa saja. tidak merasa terganggu apalagi risih dengan gosip yang beredar dikampus, yang mengatakan bahwa mereka kini tengah menjalin hubungan. apa ini sesuatu yang baik untuk hubungannya dengan Mirza. Apa Mirza sudah mulai menerima perasaannya yang sempat ingin ia lupakan.
"Udah cepet naek!" Seru Mirza yang melihat Gweny hanya diam saja.
"Tapi gue gak bawa helm lain, gak apa-apa kan?" Gweny hanya mengangguk seraya tersenyum sebelum naik keatas motor.
Jangankan tidak membawa helm, tidak membawa motorpun ia rela berjalan kaki, asalkan berdua bersamamu. Hmm
Mirza kembali melajukan sepeda motornya, membelah jalanan Ibu kota yang terasa panas siang ini. untuk kedua kalinya Mirza mengantarkan Gweny pulang.
Gweny tersenyum senang dikursi belakang. ia memandangi punggung pria yang telah disukainya sejak lama. ia bahagia bisa berada sedekat ini. bahkan, aroma maskulin pria bertubuh tegap ini begitu menguar di indera penciumannya. ingin sekali rasanya menghentikan waktu, agar ia bisa lebih leluasa untuk mendekap dan memeluk tubuh pria dihadapannya. tanpa canggung, dan tanpa rasa takut jika sipemilik tubuh akan marah.
.
.
.
Happy Reading.. 😊
Mohon maaf untuk keterlambatan upnya 🙏
Karena disini, banyak sanak saudara otor yang sedang jatuh sakit. mohon do'a untuk kesembuhan semuanya.
Semoga readers semua selalu dalam keadaan baik, juga sehat wal'afiat.. 🙏
__ADS_1