
Satu buah cincin perak bertahtakan berlian yang mengkilau telah bertengger cantik di jari manis Alula. Siapa lagi yang menyematkannya, selain pria bersetelan jas rapi dengan rambut klimis yang disisir menyamping. Pria yang sejak pandangan pertama membuat Alula terpana.
Alula mengusap pelan jari manis yang telah dilingkari sebuah cincin itu.
"Cantik," ucap Alula tanpa suara. ia mendongak, menatap dalam manik mata pria di hadapannya. "Terima kasih," lanjutnya, yang hanya dibalas oleh anggukkan.
Alula tersenyum haru, tak percaya jika dengan sekejap ia meruntuhkan dinding pertahanannya. Ia yang bertahun-tahun menyimpan pedih sendirian, ia yang bertahun-tahun mencoba kuat di hadapan semua orang, kini telah memasrahkan hatinya pada pria yang sudah disukainya sejak kecil.
Bukankah ini yang ia inginkan? Hidup bahagia dengan orang yang di cintainya. Ini bukan mimpi yang Alula buat sendiri, ini adalah kenyataan yang sebentar lagi akan terealisasi.
Alula tersentak dari lamunannya, ketika mendengar suara teriakkan Marsha dan riuh tepuk tangan orang-orang di sana. Tak lupa, siulan keras Marko yang begitu memekakkan telinga, hingga mendaratnya sebuah gulungan tisu yang Mama Indri lemparkan kepada pria itu.
"Berisik," ucap Mama Indri yang sesaat lalu bertepuk tangan, lalu melemparkan sebuah gulungan tisu pada Marko.
"Yeay ... akhirnya," pekik Marsha ketika Mirza selesai menyematkan cincinnya di jari Alula.
Untung saja malam itu tidak ada pengunjung lain yang datang, karena seluruh kafe sudah dibooking oleh Mirza. Jika tidak, tentu saja Alula akan merasa malu karena akan menjadi pusat perhatian.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Mama Indri setelah Alula duduk kembali di kursinya.
"Besok." Bukan Alula yang menjawab, melainkan Mirza. Pria itu masih berdiri di belakang Alula.
"Jangan ngadi-ngadi kamu, Mir!" sembur Mama Indri. ia ingin memukul bo kong anak laki-lakinya itu, akan tetapi Mirza buru-buru berlari mengitari meja untuk kembali ke kursinya yang berada di seberang Alula.
"Seenaknya saja, memangnya nikah itu gampang." Pa Sanjaya pun ikut buka suara, ia sampai menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Mirza.
"Hehehe, becanda Pah." Mirza cengengesan, sementara Shaka dan Shaki ikut menertawakan kelakuan sang ayah beserta yang lain.
"Papa dimarahin Opa," bisik Shaka pada saudara kembarnya. Mirza hanya tersenyum, lalu mengelus kepala Shaka.
"Secepatnya, Ma," ujar Mirza yang kali ini memasang wajah serius. "Lebih cepat 'kan lebih baik."
"Udah gak kuat, Om." Marko terkikik sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri.
Mirza hanya melirik sekilas pada sahabatnya itu, lalu mengarahkan pandangannya pada ayah Abhi.
"Bagaimana menurut Bapak?
"Loh, Bapak ikut saja. Kapanpun kalian akan menikah, Bapak do'akan semoga dilancarkan dan diberi berkah."
"Amin."
"Mau Ibu siapkan tempatnya?" Ibu Indah yang sejak tadi diam, ikut bersuara. Kakak dari ibu kandung Alula itu ikut merasa bahagia dengan rencana pernikahan ini.
"Lula mau menyelenggarakan akad di panti boleh kan, Bu?"
"Boleh dong, sayang. Biar nanti Ibu siapkan."
__ADS_1
"Oke, untuk akad biar Ibu Indah yang atur tempatnya. Tapi, kalau untuk resepsi biar Mama yang mengurus semuanya, ya?"
"Haruskah ada resepsi?" Alula menoleh pada wanita yang pernah menjadi ibu angkatnya, wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu mertuanya.
"Oh harus dong! serahkan semuanya sama Mama."
Alula mengangguk patuh.
"Pokoknya harus meriah ya, Tante." Marsha menatap Mata Indri seraya menarik turunkan alisnya.
"Oh sudah pasti," jawab Mama Indri dengan yakin.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan penuh canda tawa. Alula tidak menyangka, jika jawaban 'iya' nya itu akan berefek membahagiakan seperti ini. Ia terus menatap orang-orang di sekelilingnya bergantian, merasa bersyukur karena berada di tengah-tengah orang yang menyayanginya.
...****************...
Satu bulan lagi, pernikahan akan segera di laksanakan, semua orang sibuk membantu persiapan pernikahan itu. Termasuk sang calon mertua yang sejak ditentukan tanggal acara sudah merancang sederet rencana.
"La, nanti souvenir pas resepsi mau apa?"
Alula menggelengkan kepalanya, tidak tahu apa yang akan ia berikan sebagai souvenir pada tamu-tamu undangannya. Ia tidak tahu, seperti apa nanti tamu-tamu undangan yang akan hadir di acara resepsi pernikahannya. Tapi yang pasti, orang-orang itu bukanlah orang sembarangan, mengingat calon suami dan calon mertuanya itu adalah seorang pengusaha ternama.
"Mama pilihkan boleh?" tanya Mama Indri, calon ibu mertua Alula itu begitu antusias ingin memberikan yang terbaik untuk dirinya dan anak semata wayangnya.
"Boleh Ma, Lula gak tahu dan bingung, harus ngasih apa."
Alula sampai menghentikan pekerjaannya, lalu menatap wanita di sampingnya.
"Kenapa?"
"Berapa banyak tamu yang akan datang nanti?"
Alula harus menghitung jumlah tabungannya, memberikan emas sebagai souvenir pastilah akan membuat keuangannya terkuras.
"Mungkin bisa lebih dari lima ratus," jawab Mama Indri sekenanya.
Otak Alula mulai berputar, menjumlahkan sekian ratus orang yang akan datang, dikalikan dengan harga emas yang akan di jadikan souvenir pernikahannya.
Tak lama kemudian, terdengar suara tawa yang tertahan. "Kamu kenapa? sampai tegang gitu?."
Alula hanya menggelengkan kepalanya.
Mama Indri meraih kedua bahu Alula, lalu mengusapnya pelan. "Kamu tenang saja, jangan banyak pikiran. Semua keperluan pernikahanmu kami yang menanggung. Kamu tidak perlu mengeluarkan biaya apapun."
Alula bisa bernapas lega. Ah ya, ia lupa bahwa ia akan menikah dengan orang kaya dan akan menjadi menantu orang ternama. Alula tersenyum bahagia.
"Kamu lagi bikin apa itu?"
__ADS_1
"Desain gaun, Ma." Alula mengambil gambar yang tadi di simpannya di atas meja. Lalu memperlihatkannya pada Mama Indri.
"Cantik sekali," puji Mama Indri. "Ini cuma gambar loh, apalagi kalau nanti aslinya."
"Ini gaun impian Lula, Ma."
Mama Indri tersenyum haru, lalu tak lama kemudian ia berkata, "Kalau nanti pakai dua baju, gimana?"
"Maksudnya?"
"Mama pengen liat kamu pakai baju India." Mata Mama Indri memelas.
"Baju India?"
Mama Indri mengangguk, "Ya, baju pengantin wanita India. Kamu tahu 'kan, dari dulu Mama suka nonton Bollywood?" Kini giliran Alula yang mengangguk. "Mama pengen banget liat kamu jadi pengantin seperti wanita India, pasti cantik banget."
"Boleh," jawab Alula, seraya tersenyum.
Alula kembali pada alat gambarnya, ia harus segera menyelesaikan gambarnya sebelum nanti memulai proses selanjutnya.
"Kamu yakin ini akan selesai tepat waktu? satu bulan lagi loh ini."
Alula terkekeh pelan, "Yakin, Ma. Mama tahu gak? bahkan aku pernah menyelesaikan satu gaun dalam waktu satu minggu. Padahal gaun itu rumit banget, customerku kayak ngajak berantem."
"Hebat! Mama gak tahu kamu sepintar itu."
"Yah, aku cuma gak mau mengecewakan customer, Ma." Obrolan mereka terus berlanjut, topik yang mereka bicarakan hanya seputar pernikahan.
Sejak ditentukan tanggal pernikahan, mereka, terutama Mama Indri, langsung menghubungi tim WO yang pernah menangani acara resepsi pernikahan Mirza dengan Gweny dulu. dan mempercayakan segala sesuatunya pada tim WO tersebut. Dari gedung, dekorasi, katering, bahkan hal-hal kecil lainnya.
"Wah, Pak Mirza sudah mau gelar resepsi lagi, ya?" seloroh salah seorang perempuan dari tim WO tersebut, saat Mama Indri menghubunginya. "Saya sekali pun belum." Ia pun terkekeh.
"Do'akan, kali ini yang terakhir," ujar Mama Indri dengan senyum bahagianya, seolah dirinya yang akan menjadi pengantinnya.
"Pasti, Bu. Semoga semuanya dilancarkan. Dan terima kasih sudah kembali mempercayakan semuanya pada kami."
"Ya, jangan lupa pesan saya tadi. Saya mau yang paling mewah dan gak ada duanya."
Perempuan dengan seragam serba hitam itu pun tertawa pelan, "Pasti, Bu. Ini akan menjadi pesta dengan tema Bollywood paling spektakuler," ucap perempuan itu dengan yakin.
Waktu pernikahan sudah semakin dekat, semua disibukkan dengan berbagai macam persiapan. Bahkan Mirza sering kali pulang malam hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Karena sesudah pernikahan nanti, ia tidak mau terbebani dengan urusan kantor. Sebisa mungkin, sebelum acara pernikahan, semua pekerjaannya telah selesai.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading.. 🙂