
Alula baru saja menyelesaikan tugas sekolahnya ketika ia merasakan perutnya keroncongan meminta jatah makanan. hari ini, ia tinggal kembali dirumah utama. karena Ayah pergi bersama Mama Indri dan Pa Sanjaya.
Ia keluar dari kamarnya menuju dapur. setelah beberapa kali tinggal disana, Alula sudah merasa tak sungkan lagi. apalagi Mama Indri selalu bilang padanya 'anggaplah rumah sendiri', menjadikan Alula lebih leluasa tanpa harus bertanya terlebih dahulu jika memerlukan sesuatu.
Alula membuka tutup saji dimeja makan, tidak ada makanan. hanya ada roti gandum dengan dua selai yang masih bersegel. ia juga membuka kulkas dua pintu yang tingginya melebihi ukuran tinggi badannya. tidak ada bahan makanan yang bisa ia masak. hanya ada snack, susu dan beberapa biskuit. Mbak Sri yang biasanya sibuk didapur pun kini tak kelihatan batang hidungnya.
"Bang, sepi banget sih. Mbak Sri kemana?" tanya Alula pada Mirza yang kini tengah asyik didepan layar televisi.
Mirza mendongakkan kepalanya "Lah, kan si Mbak izin pulang kampung kemaren, katanya anaknya sakit."jawab Mirza, sambil merubah posisi duduknya disofa menjadi rebahan.
"Berarti dirumah cuma kita berdua dong?" tanyanya tak percaya.
"Enggak lah," jawabnya cepat.
"Ada kecoa, tikus, kucing_" ucapan Mirza terhenti saat Alula menyela nya.
"Abang ih," potong Alula.
"Ya masa dirumah mewah gini ada kecoa sama tikus sih. suka aneh-aneh aja." Alula mendudukan dirinya tak jauh dari Mirza.
"Biasanya kalo Mama ikut Papa keluar kota, abang suka sendirian gini dirumah ?"
"Enggak, Marko sama Martin suka nginep disini." jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari layar televisi yang tengah menayangkan trailer film action.
Dahi Alula mengernyit "Apa sekarang juga?"
"Ya enggak lah dek. kan ada elu, masa iya gue ngundang kucing kesini."
"Kucing?"
"Iya mereka kucing, dan lu ikan segar yang bakalan jadi sasaran mereka. terutama si Marko." Alula tersenyum senang mendengar jawaban Mirza, abangnya ini memang pengertian dan menjaga dirinya dengan baik.
"Abang, aku laper." rengeknya pada Mirza sambil memegangi perutnya yang terasa perih.
"Kalo laper ya makan, bukannya curhat."ketus Mirza, sambil merubah posisinya menjadi duduk.
"Gak ada makanan abang, cuma ada snack sama susu." Jawab Alula sambil tertunduk lesu.
"Ck, Mbak Sri kebiasaan deh, kalo pergi suka lupa belanja dulu." gerutu Mirza.
"Tunggu disini !"seru Mirza sambil berlalu meninggalkan Alula sendirian didepan televisi.
Lama Alula menunggu, akhirnya Mirza kembali setelah mengganti baju dan celana rumahannya dengan celana jeans. tak lupa ia memakai jaket bomber berwarna navy blue, warna pavoritnya.
Dahi Alula mengernyit "Abang mau kemana?" tanyanya keheranan demi melihat penampilan Mirza yang kini sudah rapi.
"Katanya lu laper, ayo keluar. kita cari makanan." Mirza berlalu, melangkah keluar rumah.
Senyum Alula mengembang mendengar jawaban Mirza. tanpa Alula minta, Mirza selalu tahu apa yang ia mau.
"Tapi bang, ini gak adil." ucapan Alula menghentikan langkah Mirza yang telah sampai diambang pintu.
__ADS_1
"Apaan?" dahi Mirza mengernyit.
"Abang keren gitu, masa aku cuma pake baju kaya gini."
Mirza memperhatikan penampilan Alula yang hanya mengenakan kaos polos dan celana jeans dengan warna yang sedikit pudar. wajah tanpa polesan serta rambut yang ia ikat asal. namun tak bisa dipungkiri, Alula tetap terlihat cantik.
"Udah gitu aja. gue gak mau lu keliatan cantik." seru Mirza sambil menarik tangan Alula agar mengikuti langkahnya.
Entah apa maksud pria yang kini ia panggil abang ini. apakah Mirza ingin mempermalukannya didepan umum ? yang benar saja.
"Setidaknya aku pake jaket dulu bang, dingin tau." wajah Alula memelas, membuat Mirza menjadi gemas.
"Lima menit !" seru Mirza sambil mengangkat lima jari kanannya ke udara.
Meski sedikit menggerutu namun Alula tetap menuruti Mirza, ia berlari menuju kamar dan kembali setelah mengenakan jaketnya.
...****************...
Kini mereka tengah berada di sebuah kafe, tempat pavorit Mirza. malam ini adalah malam minggu, malam yang panjang untuk para lajang. namun pengunjung cafe ternyata tidak sebanyak biasanya. mungkin karena malam belum terlalu larut.
Mirza mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk mereka berdua. Dan mereka memilih duduk dimeja paling dekat dengan dinding yang keseluruhannya terbuat dari kaca. membuat pemandangan malam diluar cafe terlihat lebih jelas.
"Karena ini pertama kalinya kita makan malam diluar, lu boleh pesen apapun. bebas. sepuasnya." Ujar Mirza sambil menyodorkan menu makanan pada Alula.
Senyum Alula mengembang, namun seketika surut kembali ketika Mirza berkata,
"Asal jangan lebih dari lima puluh ribu."
"Canda elaah." ucap Mirza sambil mengacak pelan rambut Alula. kebiasaan baru untuk Mirza, tapi entah mengapa Alula selalu menyukainya.
Suasana malam yang sunyi, dengan lampu-lampu berwarna temaram memenuhi sekeliling kafe, menjadikan kafe lebih terasa nyaman untuk para muda-mudi seperti mereka. serta alunan musik Life yang dinyanyikan diatas panggung kecil dengan versi acoustik semakin membuat suasana menjadi semakin romantis. sangat cocok untuk pasangan yang berkunjung ke kafe tersebut.
Lama sudah tak kulihat
Kau yang dulu kumau
Kadang ingat kadang tidak
Bagaimana dirimu
Kau cantik hari ini
Dan aku suka
Kau lain sekali
Dan aku suka..
"Abang emang suka makan disini ya sampe pelayannya aja kenal sama abang." tanya Alula saat mereka menunggu pesanan mereka datang.
"Ini tempat pavorit gue." jawab Mirza dengan santainya.
__ADS_1
"Berarti sering kesini dong, sama siapa, pasti cewek." terka Alula.
Mirza terkekeh "Lu tuh ternyata banyak ngomong juga yah."
Bertepatan dengan datangnya pelayanan yang mengantarkan pesanan mereka "Silahkan.. "ucap pelayan dengan ramah. Alula dan Mirza hanya membalasnya dengan anggukkan.
"Udah, makan! " serunya.
"Jangan ngomong mulu, katanya laper." lanjut Mirza dengan tangan mengambil satu porsi makanan yang dipesannya.
Alula mengangguk pelan dan mulai menyantap makanan yang telah tersaji dihadapannya.
Dan, satu porsi Choky Spaghetti telah habis Alula makan dengan lahapnya. dengan Ice lychee tea yang hanya tersisa setengahnya.
Mirza menggelengkan kepalanya "Lu laper banget ya dek?"
Alula hanya meringis malu, rasa lapar membuatnya lupa diri. hingga tak terasa menghabiskan satu porsi Choky Spaghetti dalam sekejap.
"Lu makan kaya anak kecil banget sih dek." seru Mirza dengan tangan mengambil sebuah tisue, lalu tanpa sadar mengelapkannya pada bibir Alula yang menyisakan bumbu Spaghetti.
Dalam hitungan detik pandangan mereka saling bertemu. bersamaan dengan terdengarnya suara peyanyi yang masih melantunkan lagu yang sama.
Kau cantik hari ini
Dan aku suka
Kau lain sekali
Dan aku suka...
Alula diam membisu, tiba-tiba saja jantungnya berdegup tak beraturan. mendapat perlakuan seperti itu membuatnya salah tingkah.
"Ekhm.. " Mirza berdehem, mencoba menghilangkan suasana yang mendadak canggung. karena keduanya tiba-tiba saja menjadi gugup.
"Sorry.. " ucap Mirza ketika menyadari apa yang dilakukannya salah. yah, tak seharusnya ia melakukan itu bukan?
Namun ditengah suasana yang masih canggung itu, suara orang yang tidak diharapkan kedatangannya justru terdengar nyaring ditelinga mereka.
"Hayoloh.. ketahuan mojok disini lu berdua." Marko dan Martin datang mengagetkan keduanya.
"Ngapain Lu bedua disini?"
Yah.. Mirza lupa, jika kafe pavoritnya ini juga tempat pavorit teman-temannya.
"Heh siapa juga yang mojok. orang kita duduk dipinggir, bukan dipojok." kilah Mirza sambil berusaha menetralisir rasa gugup dan keterkejutannya.
.
.
Happy readding.. 😊
__ADS_1