
Mirza baru saja keluar dari kamar mandi setelah ia mengganti kostum basket nya dengan kaos oblong dan celana jeans yang tadi ia kenakan sebelumnya. tak lupa ia juga kembali mengenakan jaket bombernya.
Ia memang sengaja membawa baju ganti dari rumah, mengingat teman-temannya selalu mendesaknya untuk ikut latihan basket. dan akhirnya hari ini ia mengajak teman-temannya untuk berlatih basket.
"Gue duluan ya !" pamitnya pada teman-temannya yang lain, termasuk Martin dan Marko. mereka mengangguk mengiyakan , lalu sibuk kembali dengan obrolan masing-masing.
"Mau kemana sih lu buru-buru amat?" Tanya Marko, sesaat sebelum Mirza benar-benar beranjak pergi.
"Mau ke PuBa dia, ngapain lagi." bukan Mirza, namun Martin yang menjawab.
"Gue jadi semakin yakin, kalo lu bener-bener punya gebetan." Marko meninju pelan lengan Mirza yang duduk disampingnya.
"Bukan, elaaah.. " elaknya.
"Terus ngapain Lu bulak-balik ke PuBa, kalo gebetan lu gak sekolah disana?" Marko menyunggingkan senyumnya.
"Gue antar-jemput adek gue!" serunya pelan , namun masih terdengar dengan jelas ditelinga Marko dan Martin.
Dahi Marko mengeryit, "Adek?"
"Adek?" Martin memastikan kembali telinganya memang tidak salah mendengar tadi. Mirza memang betul-betul menyebut kata adek.
"Iya, adek gue." ucapnya yakin.
"Adek dari mana?"tanya Martin penasaran.
"Adek ketemu gede, ya kan ?" ledek Marko.
"Panjang ceritanya,"
"Nanti kapan-kapan gue kenalin, sekarang gue buru-buru, takut dia nunggu." Mirza merapikan ranselnya kemudian menyampirkannya dibahu.
"Kalian gak balik?" tanyanya sebelum benar-benar pergi.
"Hallo.. nunggu satnigh Bro ! anak bujang mah bebas." ujar Marko dengan senyuman yang lebar.
"Punya cewek lu?" ledek Martin.
"Kagak! " Mereka pun tergelak.
"Yaudah jalan sono berdua lu, cocok !" tawa Mirza kembali menggema.
"Sialan ! pergi sono lu cepet. eunek gue liat bujang lapuk kaya lu." Marko menendang bo kong Mirza, namun tendangannya melayang diudara karena Mirza berhasil menghindarinya.
Mirza melambaikan tangannya pada teman-temannya yang lain. Ia berjalan kearah parkiran dimana motor kesayangannya terparkir disana.
namun sebelum ia sampai diparkiran, Mirza kembali bertemu dengan Gweny yang baru saja keluar dari kelasnya.
"Baru pulang Mir?" Sapa nya pada Mirza. namun Mirza tetap acuh, tak menghiraukan keberadaannya.
__ADS_1
"Mir, " Langkah Mirza terhenti karena Gweny memanggilnya.
Mirza menoleh, tatapan matanya dingin, membuat Gweny hampir membeku ditempatnya. kata-kata yang telah ia rangkai pun kini berhamburan entah kemana.
"A.. aku." entah mengapa lidahnya tiba-tiba saja terasa kelu. Mirza masih diam, menunggu Gweny yang hendak mengatakan sesuatu. tatapan matanya masih tajam, membuat Gweny beberapa kali menelan ludahnya.
"Kemarin pagi, aku liat kamu bonceng cewek di PuBa." ia kembali menelan ludahnya sebelum berkata,
"Dia siapa?"
"Bukan urusan lu." jawab Mirza dengan wajah datarnya. ia tak tau saja jika Gweny benar-benar mengumpulkan keberanian sebelum bertanya seperti itu.
Mirza kembali melangkahkan kakinya "Mir, " Lagi-lagi langkahnya terhenti saat Gweny memanggilnya.
"Apa lagi sih."
"Bisakah kita kembali menjadi teman?" tatapan Gweny penuh harap. yah, hanya berteman.
Dahi Mirza mengernyit, Hehh teman?
Dulu saat masih SMA, Mirza memang berteman baik dengan Gweny, ia satu-satunya teman perempuan yang dekat dengannya. meskipun tidak terlalu akrab seperti Marko dan Martin, namun ia tidak pernah membuat jarak dengan Gweny. karena ia yakin, Gweny tulus hanya ingin berteman dengannya.
Namun tiba-tiba saja sikap Mirza berubah menjadi dingin dan kaku, saat Gweny secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya pada Mirza.
Sejak saat itu, Mirza mulai menjauh, ia menjaga jarak dengan Gweny. tidak pernah bertegur sapa, bahkan selalu menghindar saat tak sengaja berpapasan, atau saat Mirza, Marko dan Martin sedang berkumpul. ia selalu pergi jika Gweny tiba-tiba datang menghampiri mereka.
Alasannya tetap sama, Mirza tidak mau memberikan harapan pada siapapun. ia tidak mau orang lain berharap lebih padanya. karena ia selalu takut jika perempuan yang dekat dengannya akan kecewa dan pergi, seperti Inara. adik tersayangnya yang tiba-tiba pergi untuk selamanya.
Sesaat ia terdiam,
"Tidak ada pertemanan yang benar-benar tulus antara laki-laki dan perempuan Gwen." ujar Mirza yang kemudian pergi meninggalkan Gweny yang mematung ditempatnya.
Yah, Gweny membenarkan apa yang dikatakan Mirza. sudah sejak lama ia mencoba meredam perasaannya. mencoba membatasi hatinya, bahwa mereka hanyalah teman biasa. tapi itu tidak semudah yang ia pikirkan. ia bahkan menjadikan Martin sebagai pelariannya hanya untuk mengenyahkan perasaannya pada Mirza. Lagi-lagi tetap tidak bisa.
Bahkan Martin yang sudah sejak lama menyukainya pun tidak bisa mengambil hatinya. pertemanan antara Gweny, Martin dan juga Mirza memang tidak benar-benar tulus, ada perasaan lain yang tumbuh diantara mereka.
Mirza melajukan sepeda motornya meninggalkan parkiran kampus. sementara Gweny, ia mendudukan dirinya dikursi kosong yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. sungguh, tubuhnya terasa lemas saat ini.
"Ngapain Lu disini? " tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya pelan. ia terperanjat ditengah lamunannya.
"Kamu gak liat aku lagi duduk, ngagetin aja." ujar Gweny dengan nada ketus pada Marko.
"Hey.. santai.. santai.." Marko menggerakkan tangannya menenangkan.
Marko mendudukan dirinya disamping Gweny. dahinya mengernyit melihat raut wajah Gweny yang ditekuk.
"Kenapa lu?" tanyanya, namun Gweny hanya diam, sama sekali tidak berminat untuk menjawab.
"Orang kalo nanya tuh dijawab napa !" gerutunya.
__ADS_1
"Aku gak apa-apa." namun wajah Gweny tak penampilkan jika ia baik-baik saja.
Marko menghela nafas panjang "cewek kalo bilang gak apa-apa tuh pasti kenapa-napa." ucapnya yakin.
"So' tau banget sih."
"Pakar wanita." ucapnya sambil menepuk-nepuk dadanya bangga.
"Tapi jomblo." ledek Gweny. membuat Marko menghela nafas kesal.
"Eh, aku mau tanya, boleh?" Gweny merubah posisi duduknya, kini ia berhadapan dengan Marko.
"Kagak!"
"Serius ko."
"Apa?"
"Ekhm.." ia harus berdehem dulu sebelum berkata,
"Kemarin pagi aku liat Mirza lagi di PuBa. dia bonceng cewek. eum apa itu pacarnya?" tanyanya sedikit ragu.
Marko teringat percakapannya tadi dengan Mirza, ketika ia bertanya tentang seseorang yang sering Mirza antar jemput. Mirza menjawab,
"Panjang ceritanya." Marko menirukan suara Mirza tadi.
"Yaudah pendekin! " seru Gweny yang memang penasaran akan sosok yang Mirza bonceng.
"IYA !"
"Hah?"
Gweny terkejut bukan kepalang, benarkah kini Mirza telah membuka hatinya untuk perempuan lain? sedangkan ia yang sudah lama menyukai Mirza tidak pernah diberi kesempatan.
"Iya, ya gue gak tau lah. orang dia juga belum cerita." ujar Marko yang membuat Gweny seketika memukul bahunya.
"Yang bener dong kalo ngasih informasi tuh !"
"Ya lu tanya sendiri lah. ribet amat."
Gweny menghela nafas panjang. entahlah harus dengan cara apa lagi ia membuka komunikasi yang baik dengan Mirza.
.
.
.
Happy readding.. 😊
__ADS_1
Jangan lupa like and Comment !
*salam halu... 😅