Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Badai Setelah Hari Bahagia


__ADS_3

Dua bulan sudah Mirza menjalani pernikahannya dengan Gweny. Perlahan, Mirza mulai mencoba menerima Gweny di hidupnya, memperlakukan Gweny dengan baik sebagaimana semestinya seorang suami berlaku baik terhadap istrinya. Akan tetapi, perasaannya untuk Gweny tidak pernah berubah.


Mirza hanya ingin bertanggung jawab sebagai seorang laki-laki yang telah mengikrarkan janji suci didepan para saksi. Dan bagaimanapun juga, ia tahu bahwa ia akan tetap dimintai pertanggung jawaban kelak diakhirat atas apa yang ia perbuat. Ia tidak mau menambah dosanya yang sudah cukup berat.


Sudah dua bulan ini pula, pencariannya terhadap gadis yang sudah tak lagi gadis itu tak membuahkan hasil. Mirza sudah menyuruh orang menyelidiki dan meminta pemilik cafe tempat pertemuannya dengan Alula waktu itu untuk memberikan informasi tentang Alula, namun ia tidak pernah mendapatkan informasi apapun tentang perempuan itu.


Setidaknya ia bisa bernapas lega jika sudah bertemu dan meminta maaf secara langsung pada Alula. Ia sangat terpukul, hidup dalam penyesalan yang setiap hari selalu saja muncul.


Besok, Mirza akan menyelenggarakan pesta resepsi pernikahannya dengan Gweny. Meski sempat menolak, namun Mama Indri kukuh dengan keputusannya.


"Mama sekarang cuma punya satu anak, anak Mama yang satu lagi udah ninggalin Mama," ucap Mama Indri dengan wajah sendunya. Bahkan, mata bulatnya nampak berkaca. "Jadi, cuma kamu satu-satunya harapan Mama buat ngadain pesta resepsi pernikahan Emir. Lagian, kalian cuma nikah dirumah sakit, Mama mau kita punya kenangan indah. Siapa tahu Mama nyusul Handoko setelah ini, kamu juga yang akan nyesel Mir."


Akhirnya dengan segala bujuk rayu Mama Indri, Mirza menyetujui adanya pesta itu. ini sekaligus menjadi berita yang paling mengejutkan di dunia bisnis. Karena putra semata wayang pengusaha besar sekelas Sanjaya Mahesa bersanding dengan putri semata wayang Handoko Wiguna yang juga sama-sama dari golongan pengusaha ternama.


Entah bagaimana jadinya, jika semua orang tahu bahwa sebelum menikah dengan Gweny, Mirza terlebih dulu tidur dengan wanita lain. Bagaimana reaksi kedua orang tuanya jika sampai mereka tahu perbuatannya itu. Terlebih, bagaimana reaksi Pa Abhi saat ia mengetahui Mirza telah merusak putri kesayangannya dan malah menikahi wanita lain. Mirza tak sanggup lagi membayangkan itu semua.


Resepsi pernikahan akan dilakukan di ballroom Hotel bintang lima di daerah ibu kota Jakarta. Semua persiapan telah selesai, tinggal menunggu esok hari untuk pelaksanaan resepsi.


Mirza dan Gweny menginap di kamar hotel VIP yang berada dilantai paling atas. Suasana kamar dihias begitu romantis layaknya kamar pengantin.


"Wah..., cantik banget." Gweny terkagum-kagum saat pintu kamar hotel terbuka. Dengan langkah pelan ia memasuki kamarnya bersama Mirza.


Ribuan kelopak mawar merah berserakan dilantai, seakan menyambut kedatangan mereka berdua. Lilin-lilin kecil dengan nyala yang redup, menghiasi setiap sudut kamar. Ditengah ruangan, terdapat meja bundar sedikit lebar yang diapit dua kursi berhiaskan pita putih disamping kanan dan kiri. Diatas meja, terdapat berbagai macam menu makan malam yang tersaji dengan begitu cantik.


Gweny menyapu seluruh ruangan, tatapannya kini tertuju pada tempat tidur berukuran king size yang juga terdapat taburan ribuan kelopak mawar merah yang segar. Diujung tempat tidur, ada sepasang angsa putih yang tengah beradu kepala, membentuk simbol cinta. Gweny tersenyum simpul, raut wajahnya menampakkan semburat malu. Ini adalah malam ter-romantis yang pernah ia rasakan sejak menikah dengan Mirza.


"Ini semua ide kamu?" tanya Gweny. Mirza hanya mengangkat bahunya. ia benar-benar tidak tahu dengan hal ini.


"Paling kerjaan Mama," ucap Mirza yakin. Karena selama ini sang Mama lah yang terlihat antusias mendekatkan mereka.


Masih teringat dalam pikiran Mirza, saat dirinya pulang dari kantor sedikit larut. Malam itu ia melihat Mama Indri tengah duduk sendirian di kursi meja makan didapur. Mirza mendekati Mama Indri untuk mencium tangannya, setelah itu Mama Indri menyodorkan segelas minuman yang sedikit aneh menurutnya.


"Ini jamu, biar kamu gak gampang capek," ucap Mama Indri waktu itu.

__ADS_1


Karena lelah usai bekerja seharian, Mirza lekas meminum air tak jernih didalam gelas yang Mama Indri berikan untuknya agar ia bisa segera beristirahat. Akan tetapi, tak lama setelah ia berpamitan dan masuk kedalam kamar, tiba-tiba saja badannya terasa panas, padahal AC di kamarnya masih menunjukkan suhu yang normal. Gairahnya semakin lama semakin meningkat, apalagi saat ia melihat Gweny tertidur dengan anggun berbalut gaun malamnya. Jiwa laki-lakinya tak mampu menampik perasaan ingin miliki saat itu juga.


Rupanya, Mama Indri sengaja memasukkan sesuatu kedalam minuman Mirza. Itu bukan jamu, melainkan minuman penambah gairah. Hingga akhirnya malam itu, Mirza tak bisa mengendalikan diri.


"Sengaja, biar Mama cepet dapet cucu," ucap Mama Indri dengan wajah tanpa dosa saat pagi hari Mirza menanyakan perihal minuman yang semalam diberikan padanya.


Mirza hanya menggelengkan kepalanya, mengingat kelakuan sang Mama selalu membuatnya kesal sendiri.


...****************...


Ratusan kursi tamu berhiaskan pita putih, telah berjejer rapi ditengah ballroom. Ribuan bunga segar juga telah menghiasi setiap sudut ballroom hotel yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan Mirza dan Gweny.


Suasana pesta yang dibuat begitu megah dan mewah itu bahkan membuat para tamu undangan nampak terkagum-kagum melihatnya.


"Emang bukan sultan biasa," ucap salah seorang tamu yang hadir di pesta itu.


"Orang kaya emang beda. Gila ! kita kaya lagi di istana gak sih ?" Salah satu teman kampus Mirza bahkan sampai ternganga melihat suasana ballroom itu.


Sepanjang perjalanan menuju pelaminan, Gweny tak henti mengembangkan senyum bahagianya didepan ratusan tamu undangan. Ia tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya dihadapan semua orang. Beda halnya dengan Mirza, ia terlihat sangat resah. Dalam pikirannya, ada seseorang yang mungkin akan merasa kecewa melihat pesta pernikahan ini.


Pesta telah usai satu jam yang lalu, Gweny kini telah mengganti gaun pengantinnya dengan piyama. Banyaknya tamu undangan yang hadir membuatnya tak bisa beristirahat, bahkan sekedar duduk saja ia tidak bisa.


"Belum tidur?" tanya Mirza saat ia baru saja masuk kedalam kamar setelah menemani rekan kerjanya yang baru datang dari luar negeri.


"Sebentar lagi, aku lagi buka kado dari temen aku." Gweny mengangkat satu bungkus kado ditangannya.


Mirza hanya mengangguk, lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Malam ini, mereka masih menginap di kamar hotel yang sama.


Pagi Hari, Mirza dan Gweny bersiap untuk pulang ke kediaman keluarga Mahesa. Semua barang-barang sudah dimasukkan kedalam mobil yang akan mengantarkan mereka menuju rumah.


Sudah lima hari berlalu sejak pesta resepsi pernikahan di lakukan, akan tetapi kado dan hadiah terus saja berdatangan untuk Gweny dan Mirza. Seperti saat ini, Gweny tengah mengambil air minum didapur, ia menoleh saat Mbak Sri memanggilnya.


"Ada apa Mbak?" tanya Gweny pada Mbak Sri.

__ADS_1


"Apa Den Emir udah tidur?"


"Udah Mbak, kenapa?"


"Ini Non ...," Mbak Sri nampak ragu untuk berkata. "Pas waktu acara resepsi kemarin, Pa Taryo -penjaga pintu gerbang- bilang, kalau Neng Alula datang kesini," ucap Mbak Sri sedikit sungkan, karena ia tahu kedekatan Mirza dengan Alula sering kali membuat Gweny merasa cemburu.


"Tapi Neng Lula nya langsung pergi lagi, dipanggil-panggil sama Pa Taryo kayak gak denger. Pa Taryo lihat kotak ini jatuh dari tasnya Neng Lula. Mungkin, ini kado buat Den Emir. Tolong dikasihkan ya Non." Mbak Sri menyodorkan kotak hitam berukuran kecil dengan pita berwarna navy.


Gweny mengambil kotak itu dari Mbak Sri, kemudian pergi ke kamar setelah mengucapkan terima kasih.


Sudah lama ia tidak bertemu dengan Alula. Bahkan keberadaannya saja tidak ada yang tahu. Tiba-tiba Alula datang saat mereka melangsungkan acara resepsi pernikahan, apakah itu sebuah kebetulan ?


Rasa penasaran tiba-tiba saja muncul dibenak Gweny, ia menatap nanar kotak hitam ditangannya. Dengan hati yang berdebar, perlahan ia membuka tali pita yang membungkusnya.


Hampir saja Gweny terhuyung, tubuhnya melemas seiring dengan terbukanya penutup kotak itu. Ia menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar saat melihat benda kecil yang ada didalam kotak. Rasa tak percaya, takut, marah dan hancur ia rasakan saat itu juga. Apa ini ? Baru saja ia berbahagia karena telah berhasil dengan acara resepsinya, tiba-tiba badai datang menghancurkan segalanya.


.


.


.


Happy Reading ... 😊


Ketemu lagi sama Otor Soleha yang Up nya gak bisa banyak-banyak 😂


Mohon maaf yang sebesar besarnya karena otor sering sekali menggantung readers semua🤧


Mungkin, cerita Dedek Lula sama Bang Emir gak lama lagi akan berakhir. Tapi, itu juga masih kemungkinan.😅


Sekali lagi Otor mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena kalian masih setia sama Neng Peri dan Kang Semir. 🙏


Jangan lupa like, comment and votenya 👍🙏

__ADS_1


__ADS_2