
Risma saat itu tengah berjalan menuju halte bus, kelas XII memang menjadi kelas terakhir yang keluar dari pintu gerbang. suasana diluar sekolah sudah mulai sepi, tidak banyak siswa yang berlalu lalang disekitar sekolah. satpam penjaga gerbangpun telah pulang setelah mengunci pintu gerbang.
Risma mendudukkan dirinya disebuah kursi kayu panjang, sambil menunggu bus nya datang. tiba-tiba ia dikejutkan dengan seseorang yang berjalan mendekat kepadanya.
Ia mendongakkan kepalanya, dahinya mengernyit mendapati seorang pria paruh baya, tetapi masih terlihat bugar diusianya. postur tubuhnya tinggi tegap, dengan pakaian yang serba hitam juga topi hitam yang bertengger dikepalanya.
"Siapa?" tanya Risma pada pria itu, karena pria itu kini telah berdiri dihadapannya.
"Gak penting. saya cuma mau tanya, apa kamu kenal anak ini?" pria itu menyodorkan sebuah foto. Risma menatap foto itu, seorang gadis belia berwajah cantik dan juga sangat ia kenali.
Hemh, bisa-bisanya nyeramahin orang, dia nya sendiri dicariin sama om-om. Risma tersenyum sinis menatap pria dihadapannya.
"Ada perlu apa nyari dia?" tanyanya dengan ketus.
"Apa dia sudah pulang?" tapi pria itu mengabaikannya.
"Tadi saya lihat, dia masih berdiri didepan gerbang." tiba-tiba seringai licik tersungging dibibir Risma.
"Om, siapanya Alula?"
Tanpa menjawab pertanyaan Risma, pria itu naik kedalam kendaraannya, Risma mendengus kesal. karena pertanyaanya diacuhkan.
Sementara dipintu gerbang yang telah tertutup rapat, Alula tengah menunggu pesanan ojeknya datang. beberapa saat yang lalu Mulan berpamitan untuk pulang lebih dulu.
"La, aku anterin deh ya. aku khawatir kalo kamu pulang sendirian." Ujar Marsha sebelum ia masuk kedalam mobil yang menjemputnya.
"Ya ampuun, udah deh pulang duluan aja. lagian udah biasa kan dari kemaren naik ojek." terang Alula, tak ingin membuat Marsha mengkhawatirkannya.
"Seandainya Bang Dito belum berangkat ke Jogja." Marsha menghela napas panjang.
Sejak Dito menjemputnya waktu itu, Dito berpamitan padanya akan melanjutkan kuliah di Jogja. jadi, sudah beberapa hari ini Alula pulang pergi ke sekolah dengan menggunakan ojek Online.
"Kamu juga sih, kenapa malah menghindar dari Bang Emir." keluh Marsha.
"Apaan sih Sa, aku juga gak mau segala sesuatu bergantung sama abang. lagian abang akhir-akhir ini sibuk, aku gak mau nambah beban buat dia."
Walaupun sebenarnya ia sangat merindukan hari-harinya bersama Mirza. tapi, menghindar mungkin cara yang lebih baik agar dirinya tak terlalu merasa sakit.
__ADS_1
Baru saja Alula melihat mobil yang ditumpangi Marsha melaju, tiba-tiba ia dikejutkan dengan tangan seseorang yang menariknya dengan kasar.
Alula menoleh pada sipemilik tangan, matanya hampir saja keluar saat menyadari siapa orang itu.
"TOLONG..... " teriak Alula saat pria itu menyeretnya masuk kedalam mobil MPV hitam yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. ia tak lagi bisa berteriak, karena dengan cepat pria itu membekap mulut Alula.
Marsha yang saat itu masih memperhatikan Alula dari dalam mobil, melihat secara jelas bagaimana Alula ditarik masuk kedalam mobil. ia segera turun saat mobil yang ditumpanginya berhenti.
"LALAA..." teriak Marsha, ia seperti dejavu. merasakan kembali apa yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, saat Alula pergi meninggalkannya.
Marsha segera meraih handpone disaku baju, kemudian dengan tangan gemetar ia segera mengambil gambar mobil yang membawa Alula pergi, juga plat nomernya. ia bukan anak kecil seperti dulu, sekarang ia harus menolong sahabatnya.
"Pa, tolong kejar mobil itu Pa!" pinta Marsha pada sang supir.
Dalam keadaan bingung, satu-satunya orang yang bisa ia hubungi adalah Mirza. untung saja ia menyimpan kontak si pria dingin itu di handphonenya.
Panggilan pertama terabaikan, panggilan kedua pun sama. Marsha mulai kesal, kenapa disaat seperti ini pria itu susah sekali dihubungi.
Sekali lagi, panggilan ketiga mulai terangkat. ia yang kesal langsung saja berteriak.
"BANG EMIR KEMANA AJA SIH" dengan sedikit terisak ia berteriak.
"CEPETAN TOLONG LALA!" teriaknya sekali lagi.
...****************...
Berbekal foto sebuah mobil, plat nomor, ciri-ciri pria yang membawa Alula, juga GPS yang terpasang dihandphone Alula. Mirza segera menghubungi Om Tio, saudara Pa Sanjaya yang bekerja dikepolisian.
Dengan kalut, ia mendesak Om Tio untuk segera mencari Alula.
"Tolong Emir Om, adek Emir diculik." pintanya pada Om Tio. tak lupa ia juga menceritakan perihal kejanggalan-kejanggalan yang dialaminya beberapa waktu yang lalu. takut-takut itu merupakan taktik dari sang penculik.
Yah, ia sampai lupa jika Alula tengah dalam pengawasan orang lain. apakah orang itu sengaja membuat Mirza lengah, lalu dengan mudah membawa Alula pergi.
Mirza merasa bersalah, ia menyesal mengapa akhir-akhir ini ia terlalu mengabaikan Alula.
"Kamu tenang saja, Om akan berusaha menemukan adek kamu." Om Tio menepuk pundak Mirza yang tengah tertunduk.
__ADS_1
"Tapi Om, adek Emir dalam bahaya." ucapnya dengan gemetar juga mata yang hampir basah. Mirza memohon pada Om Tio.
"Iya, Om tahu. tapi semua ada prosesnya. Om janji akan menemukan adek kamu secepatnya."
Waktu sudah menjelang tengah malam, namun Om Tio belum juga memberi kabar apapun. Mirza terus berjalan mondar-mandir diruang tamu, ditemani Mama Indri yang sedari tadi juga merasa cemas akan kabar putri angkat kesayangannya.
Mirza menatap wajah sang Papa yang juga terlihat khawatir, meminta bantuan agar Pa Sanjaya bisa menyampaikan berita itu pada Pa Abhi. bagaimanapun juga Pa Abhi berhak tahu kondisi anak kandungnya.
Namun sebelum Pa Sanjaya meninggalkan mereka untuk pergi ke paviliun, suara dering telepon dari saku celananya membuat Pa Sanjaya mengurungkan niatnya.
"Ya.. Hallo Tio, ada kabar apa?" desak Pa Sanjaya.
"Erwin Leonardo. seorang residivis juga DPO kepemilikan barang terlarang berupa g*nja. dengan berkedok pabrik teh, tersangka melancarkan aksinya." terang Om Tio di seberang telepon. rupanya Leon tengah diburu petugas karena kasus yang lain.
"Orang itu sering berpindah-pindah tempat, dan juga sering memalsukan data diri. membuat kami kesulitan untuk melacak keberadaannya."
"Saya mengucapkan terima kasih banyak. karena kasus penculikan ini, membuat kami dengan mudah menemukan Erwin Leonardo."
"Sekarang, tersangka sudah kami ringkus ke polda dan akan menjalani pemeriksaan. sementara korban, kami temukan dengan selamat. tapi kami membawanya ke rumah sakit. dia mengalami shock, juga kelelahan. mungkin akibat terlalu banyak menangis."
Ada perasaan lega ketika mendengar Alula ditemukan selamat. Mirza berjanji, tidak akan lengah lagi. ia akan menjaga Alula dengan lebih baik lagi.
"Tolong segera dampingi dia. dia membutuhkan suport dari orang-orang terdekatnya."
"Terutama Ayahnya. karena korban sejak tadi mengigau memanggil-manggil ayahnya."
"Oke, terima kasih banyak atas bantuannya Tio. saya minta pelakunya dihukum seadil-adilnya." rahang Pa Sanjaya nampak mengeras. ia tak terima jika Alula diperlakukan seperti itu.
"Tenang saja Mas, semua akan berjalan sesuai proses."
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Pa Sanjaya segera memberi tahu Pa Abhi dan mengajaknya segera ke rumah sakit. Pa Abhi nampak tercenung mendengar kabar ini, bagaimana bisa ia tidak tahu jika putrinya dalam bahaya.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading.. 😊
Tenang... Dedek Lula selamat ko'...🤗