
Dihari kedua liburan ini, mereka memutuskan untuk mengawali hari dengan berolah raga. semalam tadi, para pria dengan semangatnya mengagendakan acara jogging pagi kali ini. namun pada kenyataannya, mereka masih bergulung didalam selimut dan belum keluar dari kamar sampai waktu subuh hampir saja habis.
"Gue masih ngantuk, elaah... " gerutu Mirza dengan mata setengah terpejam, ketika Alula membangunkannya subuh tadi.
Alula sempat tertegun, menatap pria dihadapannya. dengan wajah yang masih setengah mengantuk juga rambut yang tidak punya bentuk, pria itu tetap terlihat mempesona.
Ia menggelengkan kepalanya, mengenyahkan perasaan aneh dari pikirannya.
"Udah matanya gak usah disipit-sipitin gitu bang, udah sipit juga." omelnya.
"Bangun ! katanya mau lari pagi." Alula menarik tangan Mirza, lalu mendorong-dorong tubuhnya agar segera masuk kedalam kamar mandi.
"Cepetan mandi abang!" serunya ketika melihat Mirza masih berdiri didepan pintu kamar mandi.
"Males gue ketemu aer dek. lagi marahan, dingin banget dia sama gue!"
"Dih, abang ngereceh." ucapnya sambil terkekeh.
"Cepetan mandi!"
Mirza berdecak sebelum berkata "ya lu ngapain juga masih disini? mau ngintipin gue mandi?" Mirza berkacak pinggang, sebelum masuk kedalam kamar mandi.
"Enak aja" elaknya dengan gugup.
"Aku cuman mastiin abang gak tidur lagi di dalam bathup." sambil berlalu pergi keluar dari kamar.
Mirza keluar dari kamarnya dengan menggunakan kaos oblong berwarna putih yang dibalut hoodie biru muda, juga celana training panjang berwarna abu muda. sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.
Marko dan Martin yang tidur satu kamarpun menyusul keluar dari kamar, setelah sebelumnya Alula menggedor-gedor pintu kamar mereka.
"Neng peri jangan bawel yah, nanti abang nikahin baru nyesel loh." ucap Marko sambil membuka pintu, karena Alula terus saja menggedor-gedor pintu kamar mereka.
Alula hanya mencibirnya, ia tak pernah menganggap serius celotehan Marko.
Dan kini mereka telah berkumpul diruang tengah, Alula telah rapi memakai setelan joggingnya, rambut yang semula tergerai kini ia ikat diatas kepala. begitupun dengan Marsha, sedangkan Mulan yang memiliki rambut model bob membiarkan rambutnya tergerai.
"Selamat pagi...." sapa Marko dengan senyum semringah pada para perempuan yang tengah duduk diatas sofa.
"Jangan lupa bernapas! karena percuma tersenyum jika tidak bernapas." lanjutnya.
"Mati Pe'a." ujar Martin yang muncul dari belakang punggung Marko.
"Oke, udah siap semua?" tanya Mirza, yang dibalas oleh anggukkan kepala.
Mereka keluar dari halaman villa, menyusuri jalan beraspal dengan sisi kanan dan kiri banyak berdiri villa-villa pribadi yang mewah, juga beberapa penginapan sederhana untuk para wisatawan yang berdarma wisata kesana.
Hujan yang turun semalam, menyebabkan suasana pagi ini sedikit gelap karena berkabut. udara pun terasa lebih dingin, karena sinar matahari masih tertutupi kabut tebal. namun bukan Marko namanya jika ia tidak bisa membuat suasana menjadi lebih hangat, karena ada saja lelucon yang membuat mereka tertawa hingga melupakan hawa dingin yang menusuk pori-pori.
__ADS_1
"Mir, mau kemana lu, kenceng amat larinya. udah kayak dikejar masa lalu." ujar Marko yang melihat Mirza lari dengan semangatnya.
Mirza tak merespon, tetap asik berjalan dengan cepat didepan.
"Neng peri, boleh Abang pinjam tangannya?" ucap Marko yang berjalan mundur, menghadap pada Alula yang berjalan dibelakangnya.
"Buat apah?" tanya Alula dengan napas tersengal.
"Buat abang gandeng menuju masa depan." ucapnya yakin dengan senyum yang menggoda.
Alula hanya terkekeh, sama seperti biasanya, ia tak pernah menganggap serius celotehan Marko.
"Nih tangan aku aja yang gandeng bang, hudah chape akuh." ucap Mulan dengan napas tersengal sambil menyodorkan tangannya untuk Marko raih.
Namun Marko malah menghempaskan tangan Mulan
"Gandengan aja sono lu bedua tuh sama si beo." Marsha hanya meliriknya dengan malas tak ingin menimpali si rentenir abal-abal itu. kejadian semalam membuatnya jadi banyak diam.
Yah, setelah menceritakan perihal hubungannya dengan Romi pada Alula, tiba-tiba saja handphonenya berdering, menandakan sebuah panggilan masuk. Marsha meraih handphonenya, dahinya mengernyit mendapati nomor baru yang tidak ia kenal.
Namun ia langsung terkejut mendengar suara seseorang yang mengaku sebagai kekasih Romi. tak hanya itu, nomor lain juga mengirimkan file foto kebersamaan dirinya dengan Romi. betapa sakitnya hati Marsha tadi malam, saat mengetahui bahwa Romi sudah selingkuh darinya. tidak, lebih tepatnya menjadikannya selingkuhan.
"Aku tertipu kediamanamu
Yang kuanggap semuanya baik-baik saja.
Kau tigakan cintaku yang hanya kepadamu."
"Potek hati adek, bang." ejek Marko setelah menyanyikan sebuah lagu.
Semakin kesal saja Marsha pada Marko, namun lagi-lagi ia tak peduli, ia hanya mendengus sebal lalu berjalan lebih cepat meninggalkan yang lainnya.
"Abang ih, kasihan tau." ucap Alula dengan nada kesal. bagaimanapun juga Marsha tetaplah sahabatnya. walaupun ia baru tahu ternyata Marsha dengan gampangnya menerima ungkapan cinta dari laki-laki buaya seperti Romi. hmmm miris.
Setelah melewati sederet penginapan, Mirza mengajak semuanya berbelok pada jalanan lebih sempit. permukaan jalan tak lagi beraspal, melainkan tanah berbatu. mereka harus berjalan dengan hati-hati, karena jika meleng sedikit saja mereka bisa terpeleset karena menginjak batu kerikil.
"Ini kayaknya sengaja dikasih batu, biar tanahnya gak licin kalo keinjek." ujar Martin dengan napas sedikit tersengal, ia memimpin barisan dengan berjalan paling depan.
"Iya"
Mirza menoleh pada para perempuan yang berjalan dibelakangnya "hati-hati kalian jalannya. pelan-pelan aja." Mirza berbalik memunggungi mereka lagi.
Mereka kini berjalan di jalur setapak ditengah hamparan perkebunan teh. udara segar pagi hari bercampur dengan harum khas perkebunan memenuhi rongga hidung, begitu menenangkan.
"Terus jalan keatas Tin!" seru Mirza pada Martin yang berjalan dibarisan paling depan.
"Ayo semangat, menuju puncak!"
__ADS_1
"Pucuk, pucuk, pucuk!"
Begitulah ucapan semangat dari Marko ketika mereka berjalan pada jalur yang menanjak, otot-otot betis terasa pegal karena mereka sudah berjalan cukup jauh.
Namun, saat mereka tiba diatas puncak bukit, mereka disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa. sejauh mata memandang, hamparan perkebunan teh yang meliuk-liuk dan berbukit-bukit membuat mata mereka terpana.
Pancaran sinar matahari yang datang menambah panorama indah pagi itu. perlahan kabut yang menyelimuti berganti dengan sinar matahari pagi yang mulai menghangatkan. Alula duduk diatas batu besar, menyelonjorkan kakinya yang terasa kebas tak memiliki rasa.
Ia memejamkan matanya, meresapi setiap oksigen yang masuk menggantikan karbondioksida. ia menoleh pada seseorang yang tengah mengambil gambarnya.
"Abang?" panggilnya.
"Diem dulu, viewnya bagus disitu." ucap Mirza sambil memfokuskan lensa kameranya pada objek yang menarik dimatanya.
"Abang ngambil gambar aku?" tanya Alula penasaran. pantas saja ia tadi melihat Mirza membawa tas selempang kecil, rupanya ia membawa kamera DSLR miliknya.
Namun Mirza tak menjawab, malah asik memperhatikan hasil gambarnya dengan bibir yang melengkung.
"Coba disini!" seru Mirza pada Alula, ia menunjuk satu sisi dimana ia bisa mengambil gambar dengan view yang bagus. menampakkan pemandangan hamparan perkebunan teh dan dua gunung yang saling bersisian, juga sinar matahari yang akan mempercantik hasil gambarnya.
Alula menurut, ia berdiri ditempat yang Mirza tunjuk lalu ia tersenyum pada kamera yang mengarah kepadanya.
"Coba lihat." ucapnya sambil meraih kamera conon dari tangan Mirza.
Alula membulatkan matanya "Abang, ini bagus banget." pekiknya kagum. Mirza hanya diam lalu tersenyum samar.
"Abang fotografer juga?"
"Enggak, iseng aja." jawabnya singkat.
"Tapi ini bagus banget." Alula terus menggeser beberapa foto yang telah Mirza ambil.
"Biasa aja kali, gak usah lebay."
"Serius bang, ini bagus." Mirza tak peduli, ia mengambil kembali kameranya. lalu mencari objek lain yang menarik untuknya.
Alula menatap punggung pria yang kini tengah asik memotret tetesan embun diatas daun. ia tersenyum, mengingat betapa ia sangat mengagumi pria dihadapannya ini.
.
.
.
Happy reading.. 😊
Bonus foto abang Emir si muka kinclong dengan lesung pipitnya... 😅
__ADS_1