
Sudah satu minggu Alula tinggal di kediaman Mahesa. ajakan Mama Indri untuk tinggal bersamanya didalam rumah utama, selalu ia tolak dengan alasan tidak mau meninggalkan Ayah sendirian. sampai saat ini, Alula masih belum bisa berinteraksi dengan siapapun. selain Ayah, Mbak Sri dan Mama Indri tentunya. Alula masih merasa takut jika bertemu atau sekedar bertegur sapa dengan orang lain, terlebih itu laki-laki. meskipun Ayah selalu berkata bahwa orang-orang disini baik. namun tetap saja Alula merasa tidak nyaman.
Seperti hari ini Alula sedang duduk diteras paviliun ketika Ayah datang setelah bekerja.
"Lagi apa Nak?" sapa Ayah pada Alula yang sedang menatap puluhan ikan didalam kolam.
"Eh Ayah, sudah pulang? "Alula mencium punggung tangan Ayah.
"Lula gak bosan disini sendirian terus?"
Alula menggelengkan kepalanya "enggak Ayah"
Ayah menghela napas panjang, lalu bertanya
"Lula mau sekolah?" pertanyaan Ayah berhasil membuat raut wajah Alula berubah ceria.
Alula mengangguk "Mau Ayah." jawabnya dengan cepat. Ayah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu tersenyum.
"Maaf yah, kemarin-kemarin Ayah sibuk kesana kemari mengantarkan Pa Jaya. Ayah sampai lupa kalau putri Ayah juga butuh Ayah." Ayah mengusap kepala putri tersayangnya.
"Ayah sudah meminta izin sama Pa Jaya, besok kita cari sekolah sama-sama yah !" Alula mengangguk lalu memeluk erat tubuh Ayah.
"Terima kasih Ayah." ucapnya.
Ayah menjauhkan tubuh Alula sedikit kemudian merangkum wajah putrinya "Sudah kewajiban Ayah sayang. maafkan Ayah untuk tahun-tahun sebelumnya, karena Ayah tidak bisa mendampingimu."
"Tidak apa-apa Ayah, semuanya sudah berlalu. Lula sayang sama ayah." Alula kembali memeluk Ayah.
"Apa Lula masih merasa takut bertemu orang lain?" tanya Ayah setelah melepaskan pelukan putrinya.
Alula hanya menunduk, tidak menjawab pertanyaan Ayah.
"Ibu selalu bilang kalo Lula anak yang kuat kan? Lula anak Ayah dan Ibu yang paling berani." Alula mengangguk.
"Apa Lula pernah dengar bahwa manusia terkuat setelah Ibu, katanya anak perempuan pertama?" Alula kembali mengangguk.
"Anak perempuan pertama, bahunya harus kokoh. jangan rapuh hanya karena sesuatu yang bisa merugikan kita sendiri. "
"Ayah tau, saat ini Lula masih belum bisa melupakan apa yang sudah pria itu lakukan. tapi sampai kapan ? masa depanmu masih panjang Nak ! banyak hal yang belum Lula lakukan bukan? bukankah Lula juga punya cita-cita? dan ingat, masih banyak orang-orang yang sayang sama Lula. Lula jangan takut yah!" Alula tertunduk, bulir cairan bening berhasil lolos dari matanya.
__ADS_1
"Sekarang, Ayah tanya. bagaimana Lula bisa sekolah kalau Lula sendiri masih tidak berani bertemu orang lain?" Alula menggelengkan kepalanya, ia tidak tau lagi harus berkata apa.
"Percaya sama Ayah. kalau Lula baik sama orang lain, orang lain juga bakalan baik sama kita. " Ayah meraup wajah cantik putrinya.
"Lula dengerin ayah! kebaikan akan dibalas kebaikan. begitu juga sebaliknya, keburukan akan dibalas keburukan."
"Seseorang yang sudah berbuat buruk pada Lula, pasti akan menerima balasannya sendiri. Lula jangan takut lagi yah ! Ayah akan selalu bersama Lula." Ayah menyeka air mata Alula dan memeluk tubuh putrinya dengan sayang.
Yah, Ayah memang benar.
Aku tidak boleh terus seperti ini. aku harus lebih berani dihadapan orang lain. tidak ada gunanya terpuruk dalam keadaan. Aku harus bangkit, demi Ayah. hanya Ayah satu-satunya yang ku miliki. dan aku ingin membahagiakan Ayah.
Secercah harapan mulai menyelimuti hatinya. Ayah memang orang yang paling mengerti isi hatinya.
"Ayah, Mama.. eh Ibu Indri.." Ayah tersenyum mendengarkan putrinya yang salah tingkah.
"Kenapa?" Ayah menuntut jawaban.
"Ibu Indri orang yang baik Lula. jangan takut padanya!"
"Lula tau Ayah, Lula hanya merasa tidak enak. karena Mama.. eh Ibu... "ucapan Alula melayang diudara karena Ayah lebih dulu menyela.
"Ibu Indri yang minta Lula memanggilnya Mama?"
"Tidak apa-apa, mungkin Ibu Indri suka sama Lula. Ibu Indri pernah kehilangan anak perempuannya. mungkin karena itu Ibu Indri jadi sayang sama Lula."
"Tapi Ayah, Lula ngerasa gak enak. Ibu Indri kan istrinya majikan Ayah."
"Mereka orang-orang baik Lula, meskipun Ibu itu.. -sedikit bawel." bisiknya pada Alula.
Alula hanya terkekeh, kemudian berkata "Kalau suaminya Ibu Indri?"
"Pa Sanjaya sudah Ayah anggap kakak sendiri. Lula ingat tidak? dulu, Pa Sanjaya juga pernah ke rumah kita yang di Bandung. waktu usaha Ayah masih maju, beliau adalah salah satu client Ayah."
"Oyah ? ko' Lula gak inget ya."
"Mungkin karena Lula masih kecil, gigi Lula masih ompong."
Alula tertawa, entah mengapa kata 'Ompong' yang baru saja ayah ucapkan begitu tak asing ditelinganya. ia teringat pada seseorang dimasa kecilnya.
__ADS_1
"Kalau anaknya Ibu Indri Yah?" rasa penasaran Alula pada keluarga Mahesa ternyata belum terhenti.
" Mirza? "Yaa jelas siapa lagi.
"Dia itu anak yang sopan. meskipun kadang-kadang sikapnya dingin, bahkan terkesan cuek. tapi dia tetep baik dan perhatian."
"Oh iya, Lula sudah bilang terima kasih belum sama Emir?"
"Emir?" Alula mengernyit, siapa yang Ayah maksud?
"Mirza anaknya Pa Jaya, dia sering dipanggil Emir."
Alula menggelengkan kepalanya "Lula gak berani Ayah. Lula masih takut.. "
"Percaya sama Ayah, dia anak yang baik Lula. kita beruntung bertemu dengan orang-orang baik dari keluarga ini. Lula harus bisa jaga sikap didepan mereka yah. jangan bertindak tidak sopan pada mereka.
"Iya Ayah, nanti Lula akan bilang terima kasih sama Ka Mirza."
Aya tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Oh iya, besok sebelum berangkat Ibu Indri bilang Lula harus kesana dulu, minta izin sama beliau."
"ko' Lula kaya punya Ibu baru ya Yah" Alula terkekeh geli.
"Itu artinya Ibu Indri beneran sayang sama Lula."
"Jadi, anak Ayah yang cantik ini gak boleh melamun terus ! Ayah kangen anak Ayah yang bawel, anak Ayah yang periang, gak bisa diem."
Alula tertawa lepas sambil memeluk Ayah nya erat.
"Iya Ayah, Lula janji. mulai sekarang Lula akan lebih berani. Lula kan pernah belajar bela diri yah. jadi nanti kalau tiba-tiba ada yang jahat, Lula tendang aja bokongnya." Alula dan Ayah pun tertawa dengan lepas.
"Ayah senang liat senyuman Lula. tetap seperti ini ya! Lula jelek kalau nangis." Aluka hanya tersenyum lalu mengangguk sebagai balasan.
Entah mengapa lagi-lagi ucapan Ayah membawa ingatannya kembali pada masa kecilnya.
.
.
__ADS_1
.
Happy readding 🤗